Minggu, 19 Januari 2014

44. MANUSIA, TUHAN DAN INDONESIA



Subhanallah, Allah Maha Suci, itulah arti dari kalimah Tasbih, maknanya adalah apapun yang kita buat niatkan untuk tujuan yang suci.

Alhamdullilah, Allah Maha Terpuji, itulah arti dari kalimah Tahmid, maknanya setelah kita mempunyai tujuan yang suci maka berusahalah menjadi orang yang terpuji yaitu jujur pada diri sendiri, pada hal yang kita suka dan kita rasa mampu, karena diri kita sendirilah yang tahu kelebihan apa yang kita miliki, dan apa kekurangan kita di bandingkan orang lain. 

Laa Illaha Illallah, Tiada Tuhan Selain Allah, itulah arti dari kalimah Tahlil, maknanya setelah kita jujur pada diri kita sendiri, karena diri kita sendiri yang tahu apa yang kita suka dan kita rasa mampu, maka tetaplah pada cita-cita kita itu dan jangan pernah goyah oleh apapun yang menghalangi.

Allahuakbar, Allah Maha Besar, itulah arti dari kalimah Takbir, maknanya setelah kita mempunyai cita-cita maka kerahkanlah secara total potensi yang kita punya untuk mencapai cita-cita yang kita inginkan.

Laa Haula Walla Quwata Illa Billah, Tiada Daya Upaya Kecuali Dengan Pertolongan Allah, itulah arti dari kalimah Tawakal, maknanya setelah kita kerahkan secara total potensi yang kita punya untuk mencapai cita-cita kita, serahkan hasilnya kepada Allah SWT sebagai ibadah kita, jadi kita nggak peduli cita-cita kita itu berhasil atau gagal karena sama-sama bernilai ibadah, tapi kita terus berusaha dan berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mewujudkan cita-cita kita dalam arti bila gagal kita bangkit lagi, gagal lagi kita coba lagi sampai kita berhasil mewujudkan cita-cita.

 Manajemen zikir inilah yang di ajarkan pak Darwis pada Jali, dan Jali sukses dengan prinsip manajemen zikir dalam hidupnya bahkan kesuksesan tersebut bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk sahabat-sahabatnya yang dahulu di anggap sebagai sampah oleh masyarakat sekitarnya.

Jali walaupun sekarang melaksanakan semua rukun Islam dan yakin pada rukun Iman tapi dia tetap merasa bahwa dia adalah orang Indonesia. Jali tidak pernah mempertentangkan Islam secara keseluruhan dengan pilar bangsanya yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika karena dia bisa membedakan dirinya sebagai bagian dari umat Islam dan dirinya sebagai bagian dari rakyat Indonesia.

 Jali menjadi manusia Indonesia seutuhnya, dia belajar dari cara berpikir Rustam yang masih muda belia.

Cinta dan Kasih Sayang itulah tujuan hidup Jali, sehingga dia tidak begitu perduli pada harta kekayaan atau materi lainnya karena yang di kejarnya adalah Ridha Allah semata karena dia tahu bila harta kekayaan atau materi yang menjadi tujuannya dia akan menghalalkan segala cara yang justru membuat hidupnya lebih hina dari pada binatang.

 Jali mempelajari itu dari orang-orang di Kelurahannya yaitu pak Darsono yang menambahkan formalin dan borax di dagangannya juga persahabatan antara Badrun dan Ahmad, persahabatan yang di dasari pada kepentingan dan keuntungan tapi berkelahi saat ada permasalahan dan kerugian.  

Sesungguhnya dari lingkungan di sekitarnya kita, kita dapat belajar banyak hal, seperti Jali contohnya.

43. JALI MENGARANG LAGU BACALAH QUR’AN.



Al-Qur’an itu adalah petunjuk hidup manusia yang mau bertaqwa, Alqur’an itu adalah kitab suci yang berlaku sepanjang masa, Alqur’an itu tidak ada satupun pertentangan di dalamnya karena Alqur’an adalah cara Allah menyampaikan pesannya kepada seluruh umat manusia. Bacalah Qur’an, renungkan dan pikir dengan hatimu.

Di samping kita rajin membaca Qur’an, kita juga harus rajin membaca tanda-tanda yang ada dalam kehidupan ini. Bukti adanya Allah SWT adalah sempurnanya hasil ciptaanNYA yaitu langit dan bumi maka sebagai hamba Allah pelajarilah sistem-sistem Maha Sempurna yang telah Allah buat, karena pada dasarnya manusia hanya di suruh mencontoh dari sistem kerja yang di buat Sang Maha Kuasa.

Kita kembali ke tokoh kita yaitu Jali sangat termotivasi dengan kata-kata pak Darwis yang menyuruhnya sering-sering membaca Qur’an sebagai petunjuk hidupnya. Seperti biasa bila ada inspirasi Jali mengambil gitar lalu jadilah lagu yang berasal dari suara hatinya.

                        Bila Kau Punya Masalah Bacalah Qur’an
                        Lalu Kau Renungkan Dengan Hatimu
                        Berpikirlah Untuk Kasih Sayang
                        Ingatlah Selalu Prinsip Bismillah

                                                Alqur’an Itu Adalah Petunjuk
                                                Bagi Mereka Yang Mau Bertaqwa
                                                Tak Kan Sesat Sampai Akhir Zaman
                                                Itulah Dia Tujuan Islam

                                                                        Allah Menciptakan Semua Manusia
                                                                        Sebagai KhalifahNYA
                                                                        Dia Memberikan Semua Manusia
                                                                        Celupan Sifat-SifatNYA
                                                                         Untuk Kasih Sayang.
                        Bacalah Qur’an, Renungkanlah
                        Bacalah Qur’an.

Itulah syair lagu yang di tulis Jali kali ini, Jali memberinya judul BACALAH QUR’AN karena terinspirasi dari pembicaraannya dengan pak Darwis.

Jali menyanyikan lagu BACALAH QUR’AN ini pada kawan-kawannya di pos ronda dan kawan-kawannya sangat suka karena irama lagu ini asyik, riang dan menyentuh.

“ Bang Jali, abang yang main rythem, aku yang melodinya “ , kata Bujang karena dia sangat suka pada lagu yang baru di buat Jali “

 “ Okelah “, kata Jali sambil memainkan gitarnya di iringi melodi oleh Bujang dan seluruh sahabat-sahabatnya bernyanyi bersama.

  “ Jal…, mari kita datangi lagi produser yang kemarin, bawa dua lagu yang baru elu buat, mana tahu hari ini kita beruntung “, kata Bahar selanjutnya.

  “ Yah…seperti kata pak Darwis, Laa Haula walla Quwata Illa Billah…mau di terima atau nggak itu nggak penting, yang penting gue buat lagu ini sebagai ibadah gue “, kata Jali selanjutnya.

    “ Kita rekam aja dulu di studio musik, kita buat yang bagus biar produser mau terima “, kata Bujang memberi usul.

    “ Siiiplah, besok kita rekam sekalian kita arransemen “, kata Bahar.

Lalu mereka merekam lagu BACALAH QUR’AN DAN PRINSIP BISMILLAH yang di karang Jali dan di aransemen sendiri oleh mereka.

Keesokan harinya Jali, Bahar dan Bujang mendatangi produser, sangat berbeda dengan lagu PREMAN DAN USTAD kemarin, kedua lagu ini sangat di sukai oleh produser.

    “ Keren, lagu ini bagus banget dan saya yakin jika lagu ini di lempar ke pasar akan laku “, kata produser.

Jali, Bahar dan Bujang tersenyum mendengar pujian dari produser rekaman.

     “ Oke, lagu ini saya beli, saya harap kalian sendiri yang menyanyikannya karena warna lagu ini sangat cocok buat kalian, kalau kalian mau, kalian di bawah manajemen saya, bagaimana ? “, tanya produser tersebut.

       " Oke pak, justru itu yang kami mau “, kata Bahar pula.

Tidak ada yang menduga rejeki orang, itulah yang di alami oleh Jali, Bahar, Bujang dan sahabat-sahabatnya, karena lagu yang di buat Jali dan di nyanyikan oleh mereka laku keras di pasaran sesuai prediksi dari produser rekaman.

 Kalau dulu Jali dan sahabat-sahabatnya yang suka nongkrong di pos ronda tidak pernah di anggap oleh orang-orang di Kelurahan mereka, sekarang justru di bangga-banggakan bahkan tidak sedikit yang mengaku saudara padahal dulu suka menghina.

 Itulah contoh kehidupan, tidak ada yang tahu masa depan seseorang, yang penting kita terus berusaha dan berusaha sesuai manajemen zikir yang di ajarkan pak Darwis pada Jali, sehingga Jali bisa sukses dan kesuksesan itu bukan untuk dirinya sendiri saja tetapi juga untuk orang lain.

 Niatkan usaha kita untuk ibadah kepada Allah, sehingga bilapun kita gagal Allah SWT telah mencatat kebaikan yang kita buat. 

Setiap manusia pasti punya kelebihan pada satu sisi tapi punya kelemahan pada sisi yang lainnya, jadi hanya orang bodoh dan tolol yang berputus asa pada kenyataan hidup yang di alaminya sekarang.

42. JALI INGIN JADI JALI YANG LAA HAULA WALLA QUAWATA ILLA BILLAH



Jali sangat tertarik untuk mempelajari Islam lebih lanjut dan lebih dalam lagi. Sekarang dia tahu dan mengerti bahwa manusia tidak pernah lepas dari kepentingan hidupnya. Suka atau tidak suka, itulah kenyataannya…, selama manusia hidup dia tidak akan pernah lepas dari kepentingan hidup dan cita-citanya.

Sebagai manusia biasa Jali merasa sedikit kecewa karena lagunya yang berjudul PREMAN DAN USTAD tidak dapat di terima oleh produser rekaman karena alasan takut menyinggung para Ustad dan Kiai. Itulah kenyataan pemikiran sebahagian besar manusia Indonesia yang sangat alergi pada kritik tapi sangat suka pada puja dan puji, sering Jali bertanya pada dirinya sendiri…, Apakah Ustad dan Kiai itu sebuah jabatan atau sebuah instansi sehingga sang produser takut para pemuka agama tersebut tersinggung dengan alasan nama baik ?.

Hari ini Jali merenung seorang diri di Musholla Kelurahannya. Dia berpikir kembali apakah syair lagu “ PRINSIP BISMILLAH “ yang baru di tulisnya bisa menyinggung orang lain atau tidak, padahal syair lagu itu adalah suara isi hatinya tentang Islam yang baru dia pelajari. Kembali dia memikirkan dirinya dan pemikirannya sendiri, alangkah susahnya jadi manusia yang harus bermanis-manis muka dan tidak jujur pada dirinya sendiri melihat kenyataan yang ada.

Tanpa di sadari oleh Jali, pak Darwis masuk seorang diri di Musholla itu. Pak Darwis membiarkan saja Jali yang seolah-olah bicara pada dirinya sendiri karena pak Darwis tahu, itulah proses Jali mencari tahu hakikat kehidupan yang dia jalani.

Pak Darwis lalu melaksanakan sholat Sunnah di Musholla itu, ketika telah selesai dia melaksanakan zikir dengan mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha Illallah, Allahuakbar, Laa Haula Walla Quwata Illa Billah “.

Jali sadar ternyata ada orang yang sholat di Musholla itu dan alangkah senangnya ketika dia lihat yang sholat adalah pak Darwis, orang yang telah membuka hatinya tentang Islam, orang yang telah merubah cara berpikirnya.

Dia menunggu sampai pak Darwis selesai melaksanakan zikirnya.

Ketika pak Darwis telah selesai dari zikirnya, Jali mendatangi pak Darwis untuk bertanya tentang permasalahannya.

    “ Pak Darwis, terima kasih karena bapak telah membuka cara berpikir saya tentang Islam “, kata Jali setelah dia menyalami pak Darwis saat bertemu.

Pak Darwis hanya tersenyum sebagai ciri khasnya setelah menyalami Jali.
     “ Tapi Jali ingin bertanya pak, Jali sudah mendapatkan inspirasi dengan membuat lagu dari suara hati Jali sendiri, tapi kenapa produser tidak suka dengan alasan bisa menyinggung orang lain seperti Ustad dan Kiai, saya putus asa pak “, kata Jali.

     “ Pak Jali, itulah kehidupan, menurut kita apa yang kita lakukan baik tapi belum tentu buat orang lain “, jawab pak Darwis.

     “ Tapi pak Jali tidak boleh berputus asa “, kata pak Darwis selanjutnya.

      “ Kenapa pak ? “, tanya Jali.

     “ Pak Jali sudah tahu makna dari kalimah Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbirkan ? “, pak Darwis balik bertanya ke Jali.

        “ Sudah pak, dan makna dari kalimah itu sangat berarti bagi kehidupan Jali “.

      “ Sekarang pak Jali harus belajar dan mempraktekkan kalimah Tawakal yaitu Laa Haula Walla Quwata Illa Billah dalam kehidupan pak Jali “, kata pak Darwis. 

         “ Kalimah Tawakal itu artinya Tiada Daya dan Upaya Selain Dengan Pertolongan Allah maknanya apapun yang pak Jali lakukan niatkan untuk ibadah bapak, mau gagal atau berhasil itulah ibadah bapak kepada Allah SWT yang telah menciptakan bapak sebagai manusia, jangan pernah berhenti untuk bekarya “, kata pak Darwis selanjutnya. 

         “ Bacalah Qur’an pak Jali sebagai petunjuk hidup karena Alqur’an adalah petunjuk hidup manusia dalam suka dan duka di sepanjang masa “, kata pak Darwis lagi.

Jali menatap wajah pak Darwis dan pak Darwis tersenyum teduh menatap tatapan Jali.

           “ Bacalah Qur’an dan terus bekarya, mau gagal atau berhasil itu nggak penting yang penting Jali telah berusaha , begitu pak ?”, tanya Jali.

Pak Darwis menganggukan wajahnya dan tersenyum.

            Senyum dari pak Darwislah yang membuat Jali selalu termotivasi untuk melakukan apa yang di katakannya.

Alangkah indahnya bila apapun yang di lakukan manusia di niatkan untuk ibadah kepada Allah SWT dengan berpedoman kepada Al’Qur’an dan Hadist Rasullulah tanpa pernah berusaha untuk mempertentangkannya dengan ideologi negara.

41. BEDA ITU SUNNAHTULLAH


Masalah perbedaan masih sering di perdebatkan sekarang padahal perbedaan itu sebuah keniscayaan yang tak mungkin dapat di hindari. Perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, perbedaan ras, perbedaan antar golongan juga perbedaan pemikiran adalah sebual hal yang mustahil untuk dapat di satukan.
  
Masalah perbedaan sebaiknya di mengerti sebagai kebesaran Tuhan yang Maha Kaya dan Maha Pencipta bukan di besar-besarkan apalagi di pertentangkan.

Lantas mengapa kita selalu sibuk dengan perbedaan ?, bukankah perbedaan itu sebuah keniscayaan. Bukankah perbedaan itu di ciptakan Tuhan untuk menunjukkan kebesaran NYA.

Banyak orang yang alergi pada perbedaan apalagi perbedaan agama. Terkadang sikap toleran kita kepada agama lain di anggap kita berpandangan menyatukan semua agama.

Katakan “ tidak “ pada pluralisme agama tapi katakan “ ya “ pada pluralis sosial kemasyarakatan . Pluralisme agama adalah pemikiran yang menyatakan bahwa semua agama sama, kalau ada yang berpikiran seperti itu dia telah melupakan esensi iman. 

Ke imanan adalah cara pandang kita tentang Tuhan. Cara pandang umat Muslim tentang Tuhan pasti sangat berbeda dengan umat Kristiani, Budha, Hindu, Yahudi, Zoroaster dan sebagainya, tapi bukan berarti karena perbedaan cara pandang tersebut kita menciptakan permusuhan.

Manusia yang bisa memahami perbedaan dan menghargainya itulah manusia-manusia pluralis sosial dan kemasyarakatan karena kenyataan Tuhan menciptakan perbedaan.

Masalah perbedaan inilah yang kali ini di bahas di Musholla tempat Jali tinggal, dan seperti biasa terjadi perbedaan pendapat yang tajam antara Ustad Faisal dan Rustam.

     “ Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh “, kata Ustad Faisal membuka pengajian di hari ini.
   “ Kali ini kita diskusi, karena saya nggak mau Islam terpecah belah seperti tempo hari, karena perbedaan adalah Sunnahtullah “, Ustad Faisal melanjutkan kata-katanya.

    “ Bagaimana kalau yang menjadi moderator kita kali ini adalah Rustam biar yang muda-muda siap mengantikan yang tua? “, usul Ustad Faisal. 

Para jama’ah tertawa dengan gaya bahasa Ustad Faisal yang berbeda dari biasanya tapi mereka sangat setuju usul tersebut biar terjadi penyegaran pikir mereka.

     “ Waduh, Subhanallah…saya merasa tersanjung di beri kepercayaan sebagai moderator di diskusi kita kali ini, tapi saya belum selevel dengan Ustad Faisal “, kata Rustam merendah membuat jama’ah lainnya kembali tertawa.

     “ Baiklah, berhubung Ustad Faisal telah membuka diskusi kita kali ini tentang perbedaan, bagaimana kalau kali ini kita membahas tentang beda dalam pandangan saya ? “, usul Rustam.

     “ Tam…, kenapa elu katakan pandangan saya bukan pandangan Islam ?“, tanya Jali .

     “ Bagus sekali pertanyaan nya bang Jali “, kata Rustam lalu dia melanjutkan penjelasannya.

    “ Bang Jali, setiap manusia punya pemikiran dan pemikiran saya belum tentu benar karena kebenaran hanya milik Allah SWT…, bisa jadi pemikiran saya salah tapi pemikiran kita sebagai manusia jangan sampai menabrak Alqur’an dan Al-Hadist “.

    “ Ya, gue sangat setuju dengan pemikiran elu Tam “, kata Bahar yang kali ini jadi suka ke Musholla.

    “ Memang seharusnya kita jangan gampang mengatakan dari Islam padahal itu adalah pemikiran kita atau yang kita baca dari pemikiran para ulama-ulama sebelumnya “, kata Bahar selanjutnya karena dia mulai tertarik untuk membaca buku-buku masalah ke Islaman.

    “ Islam yang saya ketahui sebenarnya mengajar pluralis seperti tertulis dalam ayat suci Alqur’an  Surah Al-Hujurat ( 49 ) ayat 13  sebagai berikut :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 

Juga dalam Al-Ruum ( 30 ) ayat 22 sebagai berikut :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya yang pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui 

    “ Jadi dalam segala hal kita bisa berpikir tentang kekuasaan Allah SWT termaksud masalah plural atau perbedaan “, kata Rustam.

     “ Tapi jangan sampai karena kita berpandangan pluralis kita menyamakan semua agama, seharusnya sebagai Muslim kita harus Haqqul Yakin bahwa ajaran Islamlah yang paling benar “, kata salah seorang peserta jama’ah menimpali.

       “ Benar “, kata Ustad Faisal selanjutnya.

      “ Makanya saya mengatakan pluralis atau plural bukan pluralisme karena kalau di akhiri dengan kata isme berarti sudah menjadi faham pemikiran yang menyamakan semua perbedaan “ kata Rustam.

      “ Mari kita lihat sekeliling kita, dunia ini indah karena ada perbedaan, coba bayangkan kalau isi dunia ini satu warna…, nggak indah lagi kan ? “, tanya Rustam kepada seluruh jama’ah pengajian.

         “ Ya “, kata seluruh jama’ah sekalian serentak.

       “ Seharusnya kita menghargai perbedaan sebagai kekuasaan Allah SWT seperti yang tertulis dalam Surah Al-Ruum ayat 22 “, kata Rustam melanjutkan pemikirannya.

          Bujang yang saat itu ikut pengajian juga bertanya pada Rustam.

       “ Rustam, aku mau tanya…, dalam keluargaku ada yang Islam dan ada pula yang bukan Islam, bagaimana menurut kau ? “.

      “ Selama di dunia ini dia masih saudara kita maka bina hubungan baik dengannya sebagai silaturahim kepada sesama umat manusia “, jawab Rustam.

        “ Tapi bagaimana dengan Aqidah kita ? “, tanya Ustad Faisal yang kali ini tampaknya kurang setuju dengan pendapat Rustam.

          “ Ma’af Ustad Faisal, apakah Aqidah Rasullulah terganggu ketika beliau membina hubungan baik dengan pamannya Abi Thalib yang sampai wafatnya paman Rasullulah tersebut tidak memeluk agama Islam “, jawab Rustam sambil memberikan pertanyaan balik ke Ustad Faisal.

Ustad Faisal diam karena dia tahu Abi Thalib paman Rasullulah sendiri yang selalu membela Rasullulah tidak pernah menganut agama Islam.

         “ Pintu hidayah adalah urusan Allah SWT, tugas manusia hanyalah memberikan dakwah, maka berdakwalah secara lemah lembut dan sabar “, jawab Rustam selanjutnya.

Ustad Faisal tidak mau kalah dari pemikiran anak muda seperti Rustam.

           “ Rustam, coba baca ayat Qur’an surah Ali Imran ayat 85 sebagai berikut :

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan di terima agamanya itu, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi “,  kata Ustad Faisal selanjutnya.

         “ Ayat itu merupakan ayat yang bicara tentang ajaran Tauhid kita sebagai umat Muslim Ustad Faisal, bagi umat non Muslim pasti berpikiran bahwa agama kitalah yang tidak di terima karena itu sudah masuk dalam dimensi Iman “, jawab Rustam selanjutnya.

          “ Jadi kamu sudah meragukan kebenaran Islam  seperti yang tertulis di Alqur’an? “, tanya Ustad Faisal dengan suara meninggi.

          “ Saya tidak mengatakan seperti itu karena toh saya mengucapkan dua kalimah syahadat dalam  sholat saya…, saya juga sholat, puasa, zakat dan Insya Allah saya punya niat untuk berangkat haji ke tanah suci “, jawab Rustam.

          “ Itulah cara kita melaksanakan Rukun Islam seperti  di ajarkan Rasullulah dengan meyakini enam Rukun Iman seyakin-yakinnya untuk menjadi Islam atau orang-orang yang berserah diri “, jawab Rustam selanjutnya.

          “ Apakah umat-umat non Muslim melaksanakan seperti yang tertulis dalam Rukun Islam ?, tidak kan ?” Rustam kembali bertanya balik kepada Ustad Faisal.

Ustad Faisal terdiam kemudian dia berkata

          “ Tapi kamu juga harus tahu Surah Albaqarah ( 2 ) ayat 120 sebagai berikut :

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka, Katakanlah : “ Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung penolong bagimu “, kata Ustad Faisal tersenyum dengan penuh kemenangan.

          “ Pak Ustad Faisal, sebagai mana kita ketahui bahwa agama Nasrani dan Yahudi adalah agama Samawi atau agama Wahyu makanya mereka di katakan sebagai Ahli Kitab, dan dalam ajaran mereka juga ada ajaran dakwah seperti dalam ajaran Islam makanya pelajarilah Islam secara benar, pergunakan akal pikiran dan ilmu kita untuk mengungkap kebenaran ajaran Islam, bila perlu pelajari perbandingan agama agar keyakinan kita semakin mantap pada Islam, itulah salah satu cara agar kita tidak mengikuti agama mereka, tapi sebuah perbedaan sangat mustahil untuk dapat di satukan, makanya hargai dan maklumi sebuah perbedaan “, jawab Rustam dengan suara merendah.

           “ Memaklumi sebuah perbedaan dan menyikapinya secara arif, itulah kemenangan yang sejati “, kata Rustam selanjutnya.

Itulah manusia hidup yang tidak pernah lepas dari kepentingannya, baik kepentingan pribadi, negara atau kepentingan agama dan keyakinan. Ajaran Yahudi dan Kristiani juga berkepentingan untuk mengembangkan agama dan keyakinannya seperti agama Islam makanya kita harus perkuat ke imanan dan pengetahuan ke Islaman kita tanpa perlu membatasi dan menghalangi syiar agama lain.

Pada dasarnya umat Yahudi, Nasrani dan Islam bersumber dari Tuhan yang sama, penafsirannyalah yang berbeda seperti yang tertulis dalam ayat Qur’an sebagai berikut :

“ Katakanlah : “ Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang di turunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang di berikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri “.( QS. Ali Imran ( 3 ) ayat 84.

Nabi Ibrahim atau Abraham itulah bapak dari agama-agama Samawi.

Kita juga dapat melihat penjelasan lain dalam Alqur’an sebagai berikut :

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati ( QS Al-Baqarah ( 2 ) ayat 62 juga QS Al-Maaidah ( 5 ) ayat 69.

Sebuah kenyataan dalam hidup kita sehari-hari seorang yang benar-benar beriman pada agama yang di yakininya maka hidupnya akan tenang karena mereka yakin ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini dan mereka tidak akan pernah bersedih hati terhadap cobaan hidup, apapun agama dan keyakinannya hidupnya.

Makanya mari kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan sebagai umat manusia seperti pesan yang tertulis dalam ayat Qur’an surah Al’Ashr ( 103 ) ayat 1 s/d 3 sebagai berikut :

Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat – menasehati supaya menetapi kebenaran.