Sekarang ini kita semua jadi takut dan khawatir
untuk makan, karena apapun yang kita makan bisa meracuni diri kita, makan nasi takut karena berasnya di kasi tawas agar warnanya
mengkilat, makan bakso takut karena baksonya di kasi formalin agar awet, kecapnya kita takut di kasi borax karena harga kedelai mahal, beli ikan laut kita juga takut di kasi formalin biar awet dan kelihatan segar, makan kerang kita takut di kasi zat pewarna biar warnanya menarik, pokoknya apapun yang kita makan kita takut karena bisa meracuni diri kita padahal kita beli
dengan uang hasil keringat bukan gratis.
Begitulah manusia bila sudah kehilangan cinta
karena di otak dan pikirannya hanya ada uang dan keuntungan, tak ada lagi
nilai-nilai kemanusian sama sekali, pokoknya aku untung dan aku nggak peduli,
mau kamu sakit atau mati aku nggak peduli yang penting daganganku laku, begitu
mungkin yang ada dalam pikiran pedagang yang materialistis.
Inilah buah dari kapitalis yang lebih
mengutamakan materi dari pada cinta dan agama. Ajaran-ajaran luhur dari cinta yang di tekankan agama hanya ada
ketika para pemuka agama baik itu mubaligh, pendeta, biksu juga lainnya
berbicara di atas mimbar sarana ibadah tapi di lupakan ketika kita keluar dari
sana, ibarat pepatah masuk dari kuping kiri tapi membal atau berbalik keluar
lagi ke telinga kiri tanpa pernah lewat ke telinga kanan sama sekali karena di
telinga di sebelah kiri ada semacam penyakit yang namanya “ takut susah “
sehingga kita lupakan tugas utama kita sebagai manusia yang di berikan Tuhan
untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada semua mahluk ciptaanNYA.
Coba kita berpikir sedikit, maukah si pedagang
tersebut memakan makanan yang di jualnya bila dia mengetahui di dalam makanan
yang dia jual mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatannya sendiri, mau
nggak ya ?.
Hal inilah yang terjadi pada Darsono, orang
Jawa yang berasal dari Kebumen Jawa Tengah yang berprofesi sehari-hari sebagai
pedagang bakso di Kelurahan tempat Jali tinggal. Untuk menarik minat
pelanggannya dia menambahkan formalin ke mie bakso dan baksonya agar menarik
bentuknya dan tidak cepat basi juga membeli kecap yang di campur dengan borax
biar harganya murah
.
Kecap menjadi mahal harganya karena harga
kedelai terlalu mahal, padahal kedelai adalah bahan baku dari kecap. Jadi
masalah penambahan zat-zat yang berbahaya ini di sebabkan karena motif ekonomi
yang seperti lingkaran setan dari muara sampai ke hilir.
Yang
pasti pedagang yang tahu ada zat-zat yang berbahaya pada dagangannya tapi tetap
menjualnya di sebabkan karena dia cuek pada hati nuraninya sendiri.
Hati nurani Darsono terusik ketika dia melihat Darmo, anak tunggalnya yang berumur 9 tahun yang saat ini duduk di kelas 3 SD
berusaha mencuri bakso bapaknya karena
Darsono tidak pernah mengizinkan Darmo memakan bakso yang di dagangkannya.
“ Bapak kan wes ngomong toh cah bagus, ojo mangan bakso ne
bapak “, kata Darsono dengan
bahasa jawanya yang medok kepada Darmo anaknya.
“Tapi Darmo kepingin pak, bentuk baksonya bagus dan bentuk mienya juga bagus “, Darmo
mengutarakan rasa inginnya untuk memakan bakso yang di jual bapaknya.
“ Tapi itu nggak baik buat kesehatan kamu cah
bagus “, kata Darsono.
“ Kalau nggak baik buat kesehatan kenapa bapak
jual ? “, tanya Darmo polos.
Pertanyaan polos dari Darmolah yang menyentuh hati nurani Darsono dan dia
merenung sebentar dan berbicara pada dirinya sendiri.
“ Nak, seandainya bapak berterus terang pada kamu bahwa bakso ini
mengandung formalin lalu kamu cerita ke kawan-kawanmu maka nasibmulah yang jadi
korbannya. Bapak lakukan ini karena bapak sayang sama kamu dan inilah hidup, kita harus mau mencari
tumbal atau kita yang menjadi tumbal bagi kerasnya kehidupan ini, hidup ini keras nak “.
“ Darmo minta baksonya ya
pak !”, permintaan Darmo membuyarkan lamunan Darsono.
“ Jangan ya cah bagus ini bapak kasi uang buat beli baksonya pak Soleh sana “, Darsono memberi uang kepada anaknya agar membeli bakso kawannya yang dia
tahu tidak memakai zat-zat berbahaya.
“ Tapi Darmo pengen baksonya bapak “, rengek
Darmo pada bapaknya
“ Jangan ya cah bagus, bakso ini bapak jual
sama orang saja karena pantang di makan sama anak kesayangan bapak “, Darsono
tersenyum pada Darmo sambil membelainya untuk memberi pengertian agar Darmo
tidak makan baksonya.
“ Ya weslah, matur nuwun yo pak “, Darmo
berlari kegirangan karena di beri uang sama bapaknya untuk membeli bakso
padahal bapaknya sendiri adalah pedagang bakso.
Sepeninggalannya Darmo, pertanyaan polos
anaknya tergiang-ngiang di hati sanubari Darsono.
“ Kalau nggak baik buat kesehatan kenapa bapak
jual ? “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar