Minggu, 19 Januari 2014

32. JALI MENGARANG LAGU PREMAN DAN USTAD.



Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan orang – orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri – istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka  sesungguhnya dalam hal ini tiada tercela ( QS Al Mu’minuun ( 23 ) ayat 1 – 6 ).
Ayat Qur’an di atas khususnya ayat 6 tentang budak bagi orang-orang yang tidak suka pada Islam menganggap bahwa Islam memperbolehkan melakukan hubungan seksual dengan para budak bahkan mengolok – oloknya.
Sekarang mari kita bahas sebentar. Istri kita adalah kemaluan kita atau harga diri bagi laki-laki karena kita telanjang bersamanya sehingga istri kita tahu kelebihan dan kelemahan kita baik fisik maupun mental begitu pula sebaliknya.
Sebagai seorang laki-laki yang di takdirkan sebagai pemimpin dan pelindung kaum perempuan, biasanya yang kita ambil menjadi istri adalah orang yang cantik dan kaya juga dari keluarga terpandang untuk mengangkat gengsi kita, lantas adakah di antara kita sekarang yang mau mengambil istri pada budak-budak kehidupan di zaman sekarang ?.
Budak-budak kehidupan akan ada sepanjang hidup manusia di muka bumi ini yaitu kemiskinan, kebodohan, pelacuran dan lain sebagainya.
Karena gengsi, biasanya kita malu untuk mengangkat harkat dan martabat para budak kehidupan di zaman sekarang. Aib atau cela bagi kita dan keluarga besar kita untuk memerdekakan mereka. Padahal suami dan juga laki-laki obsesinya bukan hanya masalah seks semata tapi lebih dari itu yaitu melindungi, mendidik, menyayangi dan memimpin kaum perempuan, itulah makna ayat di atas tentang budak – budak yang kamu miliki.
Sangat mustahil Allah SWT menghalalkan perzinahan hanya karena kita menang perang lantas menyetubuhi para budak yang suaminya tidak tertawan oleh kita, Allah Maha Tahu lantas apakah kita mau membohongi Allah SWT hanya karena nafsu kita ?.
Ayat suci Alqur’an yang di turunkan saat nabi Muhammad SAW hidup tidak lepas dari keadaan, adat istiadat dan budaya masyarakat arab saat itu makanya kita harus tahu Asbabun Nuzul atau latar belakang ayat tersebut turun.
Kalau kita bicara dalam konteks ilmu Tata Negara, Pemerintah atau Eksekutif membuat perundang-undangan tentu ada permasalahan sehingga perlu di buat pegangan hukum yang mengikat semua warga negara dan di syahkan oleh wakil rakyat yang ada di Legislatif. Kalau tidak ada masalah mustahil Undang-Undang tersebut di buat dan masalah penafsiran pada Undang-Undang tersebut biasanya menjadi permasalahan karena setiap manusia hidup pasti punya kepentingan dan memplintir bahasa yang tertulis di Undang-Undang tersebut untuk kepentingannya.
Lantas penafsiran siapakah yang paling benar, Wu Allah Hu Alam, hanya Allah yang tahu karena manusia hanya bisa berpikir sesuai dengan kemampuan dan penalaran otaknya jadi jangan pernah sedikitpun terbersit di pikiran kita bahwa penafsiran kitalah yang paling benar dengan mengkafir-kafirkan penafsiran orang lain.
Kembali ke cerita kita, tentang Jali yang di beri Alqur’an oleh pak Darwis. Jali membuka ayat – ayat suci Alqur’an tersebut dan membacanya. Jiwa kritis Jali timbul setiap membaca arti dari ayat suci Alqur’an karena Jali tidak bisa berbahasa arab, jangankan berbahasa arab untuk membaca huruf hijaiyah saja dia tidak bisa.
Tiba-tiba Jali tertarik pada sebuah ayat dalam Qur’an sebagai berikut :
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.( QS. Alam Nasrah ( 94 ) ayat 5-6 ).
Jali teringat kepada sahabat - sahabatnya di pos ronda dan ntah kenapa dalam dirinya ada niat untuk mengajak sahabat – sahabatnya untuk mengikuti jalan yang telah di ajarkan pak Darwis padanya lalu Jali mengambil gitar yang ada di sudut kamarnya.
Dia ingat proses pencarian jati dirinya yang sulit sebelum dia bertemu pak Darwis, jiwanya tidak tenang karena dia tidak tahu untuk apa dia di ciptakan sebagai manusia, tercetus ide di pikirannya lebih baik menjadi mantan preman dari pada mantan Ustad dengan harapan kawan-kawannya bisa mendengarkan lagu suara hatinya.

Dia petik gitarnya lalu dia tulis syair-syairnya sebagai berikut :
Lebih baik mantan preman dari pada mantanUstad                                                              
 Lebih baik bekas penjahat dari pada bekas kiai
Lebih baik mantan preman dari pada mantan Ustad                                                               Lebih baik bekas penjahat dari pada bekas kiai
Sesungguhnya yang terakhir
Lebih baik dari awal
Tapi kita nggak tau kapan terakhir itu
                        Makanya pintu tobat belum tertutup
Selama maut belum menjemput.
Lebih baik mantan preman dari pada mantan Ustad                                                               Lebih baik bekas penjahat dari pada bekas kiai

Jali memberi judul lagunya PREMAN DAN USTAD.
Jali telah menemukan inspirasi ketika dia membaca ayat – ayat suci Al - Qur’an seperti yang di sarankan oleh pak Darwis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar