Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam
sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan
yang tiada berguna, dan orang – orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri – istri mereka atau budak yang
mereka miliki, maka sesungguhnya dalam
hal ini tiada tercela ( QS Al Mu’minuun ( 23 ) ayat 1 – 6 ).
Ayat Qur’an di atas khususnya ayat 6 tentang budak bagi orang-orang
yang tidak suka pada Islam menganggap bahwa Islam memperbolehkan melakukan
hubungan seksual dengan para budak bahkan mengolok – oloknya.
Sekarang mari kita bahas sebentar. Istri kita adalah kemaluan kita atau
harga diri bagi laki-laki karena kita telanjang bersamanya sehingga istri kita
tahu kelebihan dan kelemahan kita baik fisik maupun mental begitu pula
sebaliknya.
Sebagai seorang laki-laki yang di takdirkan sebagai pemimpin dan
pelindung kaum perempuan, biasanya yang kita ambil menjadi istri adalah orang
yang cantik dan kaya juga dari keluarga terpandang untuk mengangkat gengsi
kita, lantas adakah di antara kita sekarang yang mau mengambil istri pada
budak-budak kehidupan di zaman sekarang ?.
Budak-budak kehidupan akan ada sepanjang hidup manusia di muka bumi ini
yaitu kemiskinan, kebodohan, pelacuran dan lain sebagainya.
Karena gengsi, biasanya kita malu untuk mengangkat harkat dan martabat
para budak kehidupan di zaman sekarang. Aib atau cela bagi kita dan keluarga
besar kita untuk memerdekakan mereka. Padahal suami dan juga laki-laki
obsesinya bukan hanya masalah seks semata tapi lebih dari itu yaitu melindungi,
mendidik, menyayangi dan memimpin kaum perempuan, itulah makna ayat di atas
tentang budak – budak yang kamu miliki.
Sangat mustahil Allah SWT menghalalkan perzinahan hanya karena kita
menang perang lantas menyetubuhi para budak yang suaminya tidak tertawan oleh
kita, Allah Maha Tahu lantas apakah kita mau membohongi Allah SWT hanya karena
nafsu kita ?.
Ayat suci Alqur’an yang di turunkan saat nabi Muhammad SAW hidup tidak
lepas dari keadaan, adat istiadat dan budaya masyarakat arab saat itu makanya
kita harus tahu Asbabun Nuzul atau latar belakang ayat tersebut turun.
Kalau kita bicara dalam konteks ilmu Tata Negara, Pemerintah atau
Eksekutif membuat perundang-undangan tentu ada permasalahan sehingga perlu di
buat pegangan hukum yang mengikat semua warga negara dan di syahkan oleh wakil
rakyat yang ada di Legislatif. Kalau tidak ada masalah mustahil Undang-Undang
tersebut di buat dan masalah penafsiran pada Undang-Undang tersebut biasanya
menjadi permasalahan karena setiap manusia hidup pasti punya kepentingan dan
memplintir bahasa yang tertulis di Undang-Undang tersebut untuk kepentingannya.
Lantas penafsiran siapakah yang paling benar, Wu Allah Hu Alam, hanya
Allah yang tahu karena manusia hanya bisa berpikir sesuai dengan kemampuan dan
penalaran otaknya jadi jangan pernah sedikitpun terbersit di pikiran kita bahwa
penafsiran kitalah yang paling benar dengan mengkafir-kafirkan penafsiran orang
lain.
Kembali ke cerita kita, tentang Jali yang di beri Alqur’an oleh pak
Darwis. Jali membuka ayat – ayat suci Alqur’an tersebut dan membacanya. Jiwa
kritis Jali timbul setiap membaca arti dari ayat suci Alqur’an karena Jali
tidak bisa berbahasa arab, jangankan berbahasa arab untuk membaca huruf
hijaiyah saja dia tidak bisa.
Tiba-tiba Jali tertarik pada sebuah ayat dalam Qur’an sebagai berikut :
Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan.( QS. Alam Nasrah ( 94 ) ayat 5-6 ).
Jali teringat kepada sahabat - sahabatnya di pos ronda dan ntah kenapa
dalam dirinya ada niat untuk mengajak sahabat – sahabatnya untuk mengikuti
jalan yang telah di ajarkan pak Darwis padanya lalu Jali mengambil gitar yang
ada di sudut kamarnya.
Dia ingat proses pencarian jati dirinya yang sulit sebelum dia bertemu
pak Darwis, jiwanya tidak tenang karena dia tidak tahu untuk apa dia di
ciptakan sebagai manusia, tercetus ide di pikirannya lebih baik menjadi mantan
preman dari pada mantan Ustad dengan harapan kawan-kawannya bisa mendengarkan
lagu suara hatinya.
Dia petik gitarnya lalu dia tulis syair-syairnya sebagai berikut :
Lebih
baik mantan preman dari pada mantanUstad
Lebih baik bekas penjahat dari pada bekas kiai
Lebih
baik mantan preman dari pada mantan Ustad Lebih baik bekas penjahat dari pada bekas kiai
Sesungguhnya yang terakhir
Lebih baik dari awal
Tapi kita nggak tau kapan terakhir itu
Makanya pintu tobat belum
tertutup
Selama maut belum menjemput.
Lebih
baik mantan preman dari pada mantan Ustad
Lebih baik bekas penjahat dari pada bekas kiai
Jali memberi judul
lagunya PREMAN DAN USTAD.
Jali telah menemukan inspirasi ketika dia membaca ayat – ayat suci Al -
Qur’an seperti yang di sarankan oleh pak Darwis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar