Seperti biasanya Jali selalu bangun siang
karena itu sudah jadi kebiasaan. Kebiasaan yang lama-kelamaan jadi budaya
sehingga sulit sekali berubah. Dan seperti biasanya Juleha istrinyalah yang
selalu membangunkannya.
Juleha ingin sekali Jali berubah seperti
kebanyakan suami – suami lain di Kelurahannya yang selalu bangun pagi, lalu
mandi dan berpakaian rapi, makanya dia berusaha pelan-pelan agar suami
tercintanya ini berubah tanpa ada sedikitpun kesan memaksa, karena dia tahu
jika kesannya memaksa maka pertengkaranlah yang akan terjadi.
“ Jal, elu bangun deh dah siang tuh “, kata
Juleha membangunkan Jali pelan-pelan.
Saat itu Jali tidur sambil mendekap guling.
“ Ntar “, kata Jali sambil merubah posisi tidur
dan kembali mendekap guling.
“ Masak elu kalah sama ayam, ayam aja udah pada
cari makan tuh “, kata Juleha lagi.
“ Biarin deh, ayam ya ayam gue ya gue “, kata
Jali cuek tanpa merubah posisi tidur nya.
“ Ya udah deh, mau
bilang apa udah dasarnya elu hobi bangkong dan males mandi “, lanjut Juleha
dengan bahasa orang putus asa.
Ketika mendengar kata mandi Jali langsung kaget sambil bilang “ Subhanallah,
gue harus mandi “, kemudian dia bangun dengan semangat 45 dan buru – buru
mengambil handuk yang ada di pegangan Juleha.
“ Mari handuknya cepetan, gue harus mandi
biar jadi Subhanallah”, kata Jali kemudian.
Juleha heran melihat Jali kali ini, karena
biasanya dia selalu cari alasan untuk tidak mandi.
“
Mimpi apa kagak gue hari ini ya ? “, tanya Juleha pada dirinya sendiri sambil
mencubit tangannya untuk memastikan dia bermimpi atau tidak.
“ Kagak, gue nggak mimpi “, lanjutnya
pula ketika dia merasakan sakit ketika lengannya di cubit.
“
Udah deh, pokoknya mulai sekarang gue mau jadi Jali yang Subhanallah “, lanjut
Jali sambil berangkat ke kamar mandi.
Juleha makin penasaran apa bener Jali langsung
mandi lalu dia ikuti terus Jali yang berangkat mandi dengan menempelkan
telinganya ke pintu kamar mandi.
Byur…byur…terdengar suara dari kamar mandi
dengan gencarnya dan Juleha yakin Jali mandi kali ini.
Ketika telah selesai mandi Jali langsung
berangkat ke kamar dengan memakai pakaian yang bagus dan berpakaian rapi sekali
dan Juleha terus saja memperhatikan Jali tanpa berkedip sedikitpun di depan pintu
kamarnya ketika dia melihat Jali asyik berkaca untuk menilai cara
berpakaiannya.
“ Elu mimpi apa tadi malem Jal ?, selama gue
jadi bini elu baru kali ini elu semangat banget untuk mandi, trus berpakaian
rapi dan emmm, wangi lagi “, tanya Juleha sambil menghirup badan Jali yang kali
ini memakai minyak wangi setelah habis dari rasa keheranannya dari tadi.
“ Sayang, mulai hari ini suamimu tercinta akan
menjadi suami yang Subhanallah, jadi Jali yang Subhanallah “, kata Jali bangga
pada dirinya sendiri.
“ Jadi suami yang Subhanallah ?, Jali yang
Subhanallah ? “, apaan tuh kata Juleha nggak ngerti.
“ Elu nggak naksir cewek lain kan ?”, tanya
Juleha curiga.
“ Ya nggak dong sayang, dalam kamus hidup Jali
nggak ada istilah yang namanya selingkuh, cukup sama elu aja “, Jali mentoel
dagu Juleha.
“ Masak Jali mau selingkuh punya istri secantik
ini “, rayunya lagi membuat Juleha tersipu-sipu.
“ Ya udah deh gue percaya sama elu, memang
Subhanallah itu apaan Jal ? “, tanya Juleha.
“ Bukankah Subhanallah itu zikir yang sering di
sebutin sama orang-orang sehabis sholat “ kata Juleha lagi yang memang hanya
mengerti sedikit dari ajaran-ajaran Islam itupun dari pergaulannya bukan dari
mengaji atau apa.
“ Kata pak Darwis orang pinter yang baru gue
kenal, Subhanallah itu artinya suci dan bersih, makanya gue mau jadi orang yang
suci dan bersih mulai sekarang “, Jali menjelaskan ke Juleha karena itulah
penafsirannya tentang Kalimah Tasbih yang di ajarkan pak Darwis kepadanya.
“ Ooo..., ya bagus deh kalo gitu semoga aja elu
selalu rapi dan wangi kayak gini selamanya “, kata Juleha sambil tersenyum
karena apa yang di inginkannya tercapai di hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar