Minggu, 19 Januari 2014

10. TUMBEN ELU MANDI DAN RAPI JAL ?



Seperti biasanya Jali selalu bangun siang karena itu sudah jadi kebiasaan. Kebiasaan yang lama-kelamaan jadi budaya sehingga sulit sekali berubah. Dan seperti biasanya Juleha istrinyalah yang selalu membangunkannya.

Juleha ingin sekali Jali berubah seperti kebanyakan suami – suami lain di Kelurahannya yang selalu bangun pagi, lalu mandi dan berpakaian rapi, makanya dia berusaha pelan-pelan agar suami tercintanya ini berubah tanpa ada sedikitpun kesan memaksa, karena dia tahu jika kesannya memaksa maka pertengkaranlah yang akan terjadi. 

“ Jal, elu bangun deh dah siang tuh “, kata Juleha membangunkan Jali pelan-pelan.

Saat itu Jali tidur sambil mendekap guling.

“ Ntar “, kata Jali sambil merubah posisi tidur dan kembali mendekap guling.

“ Masak elu kalah sama ayam, ayam aja udah pada cari makan tuh “, kata Juleha lagi.

“ Biarin deh, ayam ya ayam gue ya gue “, kata Jali cuek tanpa merubah posisi tidur nya.

“ Ya udah deh, mau bilang apa udah dasarnya elu hobi bangkong dan males mandi “, lanjut Juleha dengan bahasa orang putus asa.

Ketika mendengar kata mandi Jali  langsung kaget sambil bilang “ Subhanallah, gue harus mandi “, kemudian dia bangun dengan semangat 45 dan buru – buru mengambil handuk yang ada di pegangan Juleha.

      “ Mari handuknya cepetan, gue harus mandi biar jadi Subhanallah”, kata Jali kemudian.

Juleha heran melihat Jali kali ini, karena biasanya dia selalu cari alasan untuk tidak mandi.

            “ Mimpi apa kagak gue hari ini ya ? “, tanya Juleha pada dirinya sendiri sambil mencubit tangannya untuk memastikan dia bermimpi atau tidak.

            “ Kagak, gue nggak mimpi “, lanjutnya pula ketika dia merasakan sakit ketika lengannya di cubit.

         “ Udah deh, pokoknya mulai sekarang gue mau jadi Jali yang Subhanallah “, lanjut Jali sambil berangkat ke kamar mandi.

Juleha makin penasaran apa bener Jali langsung mandi lalu dia ikuti terus Jali yang berangkat mandi dengan menempelkan telinganya ke pintu kamar mandi.

Byur…byur…terdengar suara dari kamar mandi dengan gencarnya dan Juleha yakin Jali mandi kali ini.

Ketika telah selesai mandi Jali langsung berangkat ke kamar dengan memakai pakaian yang bagus dan berpakaian rapi sekali dan Juleha terus saja memperhatikan Jali tanpa berkedip sedikitpun di depan pintu kamarnya ketika dia melihat Jali asyik berkaca untuk menilai cara berpakaiannya.

“ Elu mimpi apa tadi malem Jal ?, selama gue jadi bini elu baru kali ini elu semangat banget untuk mandi, trus berpakaian rapi dan emmm, wangi lagi “, tanya Juleha sambil menghirup badan Jali yang kali ini memakai minyak wangi setelah habis dari rasa keheranannya dari tadi.

“ Sayang, mulai hari ini suamimu tercinta akan menjadi suami yang Subhanallah, jadi Jali yang Subhanallah “, kata Jali bangga pada dirinya sendiri.

“ Jadi suami yang Subhanallah ?, Jali yang Subhanallah ? “, apaan tuh kata Juleha nggak ngerti.  

“ Elu nggak naksir cewek lain kan ?”, tanya Juleha curiga.

“ Ya nggak dong sayang, dalam kamus hidup Jali nggak ada istilah yang namanya selingkuh, cukup sama elu aja “, Jali mentoel dagu Juleha.  

“ Masak Jali mau selingkuh punya istri secantik ini “, rayunya lagi membuat Juleha tersipu-sipu.

“ Ya udah deh gue percaya sama elu, memang Subhanallah itu apaan Jal ? “, tanya Juleha.

“ Bukankah Subhanallah itu zikir yang sering di sebutin sama orang-orang sehabis sholat “ kata Juleha lagi yang memang hanya mengerti sedikit dari ajaran-ajaran Islam itupun dari pergaulannya bukan dari mengaji atau apa.

“ Kata pak Darwis orang pinter yang baru gue kenal, Subhanallah itu artinya suci dan bersih, makanya gue mau jadi orang yang suci dan bersih mulai sekarang “, Jali menjelaskan ke Juleha karena itulah penafsirannya tentang Kalimah Tasbih yang di ajarkan pak Darwis kepadanya.

“ Ooo..., ya bagus deh kalo gitu semoga aja elu selalu rapi dan wangi kayak gini selamanya “, kata Juleha sambil tersenyum karena apa yang di inginkannya tercapai di hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar