Masalah perbedaan masih sering di perdebatkan sekarang padahal perbedaan itu sebuah keniscayaan yang tak mungkin dapat di hindari. Perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, perbedaan ras, perbedaan antar golongan juga perbedaan pemikiran adalah sebual hal yang mustahil untuk dapat di satukan.
Masalah perbedaan sebaiknya di mengerti sebagai kebesaran Tuhan yang Maha Kaya dan Maha Pencipta bukan di besar-besarkan apalagi di pertentangkan.
Lantas
mengapa kita selalu sibuk dengan perbedaan ?, bukankah perbedaan itu sebuah
keniscayaan. Bukankah perbedaan itu di ciptakan Tuhan untuk menunjukkan
kebesaran NYA.
Banyak
orang yang alergi pada perbedaan apalagi perbedaan agama. Terkadang sikap
toleran kita kepada agama lain di anggap kita berpandangan menyatukan semua
agama.
Katakan
“ tidak “ pada pluralisme agama tapi katakan “ ya “ pada pluralis sosial
kemasyarakatan . Pluralisme agama adalah pemikiran yang menyatakan bahwa semua
agama sama, kalau ada yang berpikiran seperti itu dia telah melupakan esensi
iman.
Ke imanan adalah cara pandang kita tentang Tuhan. Cara pandang umat Muslim tentang Tuhan pasti sangat berbeda dengan umat Kristiani, Budha, Hindu, Yahudi, Zoroaster dan sebagainya, tapi bukan berarti karena perbedaan cara pandang tersebut kita menciptakan permusuhan.
Manusia
yang bisa memahami perbedaan dan menghargainya itulah manusia-manusia pluralis
sosial dan kemasyarakatan karena kenyataan Tuhan menciptakan perbedaan.
Masalah
perbedaan inilah yang kali ini di bahas di Musholla tempat Jali tinggal, dan
seperti biasa terjadi perbedaan pendapat yang tajam antara Ustad Faisal dan
Rustam.
“
Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh “, kata Ustad Faisal membuka
pengajian di hari ini.
“
Kali ini kita diskusi, karena saya nggak mau Islam terpecah belah seperti tempo
hari, karena perbedaan adalah Sunnahtullah “, Ustad Faisal melanjutkan
kata-katanya.
“
Bagaimana kalau yang menjadi moderator kita kali ini adalah Rustam biar yang
muda-muda siap mengantikan yang tua? “, usul Ustad Faisal.
Para jama’ah tertawa dengan gaya bahasa Ustad Faisal yang berbeda dari biasanya tapi mereka sangat setuju usul tersebut biar terjadi penyegaran pikir mereka.
“
Waduh, Subhanallah…saya merasa tersanjung di beri kepercayaan sebagai moderator
di diskusi kita kali ini, tapi saya belum selevel dengan Ustad Faisal “, kata
Rustam merendah membuat jama’ah lainnya kembali tertawa.
“
Baiklah, berhubung Ustad Faisal telah membuka diskusi kita kali ini tentang
perbedaan, bagaimana kalau kali ini kita membahas tentang beda dalam pandangan
saya ? “, usul Rustam.
“
Tam…, kenapa elu katakan pandangan saya bukan pandangan Islam ?“, tanya Jali .
“
Bagus sekali pertanyaan nya bang Jali “, kata Rustam lalu dia melanjutkan
penjelasannya.
“ Bang Jali, setiap manusia punya
pemikiran dan pemikiran saya belum tentu benar karena kebenaran hanya milik
Allah SWT…, bisa jadi pemikiran saya salah tapi pemikiran kita sebagai manusia
jangan sampai menabrak Alqur’an dan Al-Hadist “.
“
Ya, gue sangat setuju dengan pemikiran elu Tam “, kata Bahar yang kali ini jadi
suka ke Musholla.
“
Memang seharusnya kita jangan gampang mengatakan dari Islam padahal itu adalah
pemikiran kita atau yang kita baca dari pemikiran para ulama-ulama sebelumnya
“, kata Bahar selanjutnya karena dia mulai tertarik untuk membaca buku-buku
masalah ke Islaman.
“
Islam yang saya ketahui sebenarnya mengajar pluralis seperti tertulis dalam
ayat suci Alqur’an Surah Al-Hujurat ( 49
) ayat 13 sebagai berikut :
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal.
Juga dalam Al-Ruum ( 30 ) ayat 22 sebagai berikut :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah
menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.
Sesungguhnya yang pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang mengetahui
“ Jadi dalam segala hal kita bisa berpikir tentang kekuasaan Allah SWT termaksud masalah plural atau perbedaan “, kata Rustam.
“
Tapi jangan sampai karena kita berpandangan pluralis kita menyamakan semua
agama, seharusnya sebagai Muslim kita harus Haqqul Yakin bahwa ajaran Islamlah
yang paling benar “, kata salah seorang peserta jama’ah menimpali.
“
Benar “, kata Ustad Faisal selanjutnya.
“ Makanya saya mengatakan pluralis
atau plural bukan pluralisme karena kalau di akhiri dengan kata isme berarti
sudah menjadi faham pemikiran yang menyamakan semua perbedaan “ kata Rustam.
“
Mari kita lihat sekeliling kita, dunia ini indah karena ada perbedaan, coba
bayangkan kalau isi dunia ini satu warna…, nggak indah lagi kan ? “, tanya
Rustam kepada seluruh jama’ah pengajian.
“
Ya “, kata seluruh jama’ah sekalian serentak.
“
Seharusnya kita menghargai perbedaan sebagai kekuasaan Allah SWT seperti yang
tertulis dalam Surah Al-Ruum ayat 22 “, kata Rustam melanjutkan pemikirannya.
Bujang
yang saat itu ikut pengajian juga bertanya pada Rustam.
“
Rustam, aku mau tanya…, dalam keluargaku ada yang Islam dan ada pula yang bukan
Islam, bagaimana menurut kau ? “.
“
Selama di dunia ini dia masih saudara kita maka bina hubungan baik dengannya
sebagai silaturahim kepada sesama umat manusia “, jawab Rustam.
“
Tapi bagaimana dengan Aqidah kita ? “, tanya Ustad Faisal yang kali ini
tampaknya kurang setuju dengan pendapat Rustam.
“
Ma’af Ustad Faisal, apakah Aqidah Rasullulah terganggu ketika beliau membina
hubungan baik dengan pamannya Abi Thalib yang sampai wafatnya paman Rasullulah
tersebut tidak memeluk agama Islam “, jawab Rustam sambil memberikan pertanyaan
balik ke Ustad Faisal.
Ustad
Faisal diam karena dia tahu Abi Thalib paman Rasullulah sendiri yang selalu
membela Rasullulah tidak pernah menganut agama Islam.
“
Pintu hidayah adalah urusan Allah SWT, tugas manusia hanyalah memberikan
dakwah, maka berdakwalah secara lemah lembut dan sabar “, jawab Rustam
selanjutnya.
Ustad
Faisal tidak mau kalah dari pemikiran anak muda seperti Rustam.
“
Rustam, coba baca ayat Qur’an surah Ali Imran ayat 85 sebagai berikut :
“ Barang siapa mencari agama selain agama
Islam, maka sekali-kali tidak akan di terima agamanya itu, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi “,
kata Ustad Faisal selanjutnya.
“
Ayat itu merupakan ayat yang bicara tentang ajaran Tauhid kita sebagai umat Muslim
Ustad Faisal, bagi umat non Muslim pasti berpikiran bahwa agama kitalah yang
tidak di terima karena itu sudah masuk dalam dimensi Iman “, jawab Rustam
selanjutnya.
“
Jadi kamu sudah meragukan kebenaran Islam
seperti yang tertulis di Alqur’an? “, tanya Ustad Faisal dengan suara
meninggi.
“
Saya tidak mengatakan seperti itu karena toh saya mengucapkan dua kalimah
syahadat dalam sholat saya…, saya juga
sholat, puasa, zakat dan Insya Allah saya punya niat untuk berangkat haji ke
tanah suci “, jawab Rustam.
“
Itulah cara kita melaksanakan Rukun Islam seperti di ajarkan Rasullulah dengan meyakini enam
Rukun Iman seyakin-yakinnya untuk menjadi Islam atau orang-orang yang berserah
diri “, jawab Rustam selanjutnya.
“
Apakah umat-umat non Muslim melaksanakan seperti yang tertulis dalam Rukun
Islam ?, tidak kan ?” Rustam kembali bertanya balik kepada Ustad Faisal.
Ustad Faisal terdiam kemudian dia berkata
“ Tapi kamu juga harus tahu Surah Albaqarah ( 2 ) ayat 120 sebagai berikut :
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka, Katakanlah : “
Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika
kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka Allah
tidak lagi menjadi pelindung penolong bagimu “, kata Ustad Faisal tersenyum dengan penuh
kemenangan.
“
Pak Ustad Faisal, sebagai mana kita ketahui bahwa agama Nasrani dan Yahudi
adalah agama Samawi atau agama Wahyu makanya mereka di katakan sebagai Ahli
Kitab, dan dalam ajaran mereka juga ada ajaran dakwah seperti dalam ajaran
Islam makanya pelajarilah Islam secara benar, pergunakan akal pikiran dan ilmu
kita untuk mengungkap kebenaran ajaran Islam, bila perlu pelajari perbandingan
agama agar keyakinan kita semakin mantap pada Islam, itulah salah satu cara
agar kita tidak mengikuti agama mereka, tapi sebuah perbedaan sangat mustahil
untuk dapat di satukan, makanya hargai dan maklumi sebuah perbedaan “, jawab
Rustam dengan suara merendah.
“
Memaklumi sebuah perbedaan dan menyikapinya secara arif, itulah kemenangan yang
sejati “, kata Rustam selanjutnya.
Itulah
manusia hidup yang tidak pernah lepas dari kepentingannya, baik kepentingan
pribadi, negara atau kepentingan agama dan keyakinan. Ajaran Yahudi dan
Kristiani juga berkepentingan untuk mengembangkan agama dan keyakinannya
seperti agama Islam makanya kita harus perkuat ke imanan dan pengetahuan ke
Islaman kita tanpa perlu membatasi dan menghalangi syiar agama lain.
Pada
dasarnya umat Yahudi, Nasrani dan Islam bersumber dari Tuhan yang sama,
penafsirannyalah yang berbeda seperti yang tertulis dalam ayat Qur’an sebagai
berikut :
“ Katakanlah : “ Kami beriman kepada Allah dan
kepada apa yang di turunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan
anak-anaknya, dan apa yang di berikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan
mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya
kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri “.( QS. Ali Imran ( 3 ) ayat 84.
Nabi
Ibrahim atau Abraham itulah bapak dari agama-agama Samawi.
Kita
juga dapat melihat penjelasan lain dalam Alqur’an sebagai berikut :
Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang
Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara
mereka yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan
menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak pula mereka bersedih hati ( QS Al-Baqarah ( 2 ) ayat 62 juga QS
Al-Maaidah ( 5 ) ayat 69.
Sebuah
kenyataan dalam hidup kita sehari-hari seorang yang benar-benar beriman pada
agama yang di yakininya maka hidupnya akan tenang karena mereka yakin ada
kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini dan mereka tidak akan pernah
bersedih hati terhadap cobaan hidup, apapun agama dan keyakinannya hidupnya.
Makanya
mari kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan sebagai umat manusia seperti
pesan yang tertulis dalam ayat Qur’an surah Al’Ashr ( 103 ) ayat 1 s/d 3
sebagai berikut :
Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat – menasehati
supaya menetapi kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar