Minggu, 19 Januari 2014

41. BEDA ITU SUNNAHTULLAH


Masalah perbedaan masih sering di perdebatkan sekarang padahal perbedaan itu sebuah keniscayaan yang tak mungkin dapat di hindari. Perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, perbedaan ras, perbedaan antar golongan juga perbedaan pemikiran adalah sebual hal yang mustahil untuk dapat di satukan.
  
Masalah perbedaan sebaiknya di mengerti sebagai kebesaran Tuhan yang Maha Kaya dan Maha Pencipta bukan di besar-besarkan apalagi di pertentangkan.

Lantas mengapa kita selalu sibuk dengan perbedaan ?, bukankah perbedaan itu sebuah keniscayaan. Bukankah perbedaan itu di ciptakan Tuhan untuk menunjukkan kebesaran NYA.

Banyak orang yang alergi pada perbedaan apalagi perbedaan agama. Terkadang sikap toleran kita kepada agama lain di anggap kita berpandangan menyatukan semua agama.

Katakan “ tidak “ pada pluralisme agama tapi katakan “ ya “ pada pluralis sosial kemasyarakatan . Pluralisme agama adalah pemikiran yang menyatakan bahwa semua agama sama, kalau ada yang berpikiran seperti itu dia telah melupakan esensi iman. 

Ke imanan adalah cara pandang kita tentang Tuhan. Cara pandang umat Muslim tentang Tuhan pasti sangat berbeda dengan umat Kristiani, Budha, Hindu, Yahudi, Zoroaster dan sebagainya, tapi bukan berarti karena perbedaan cara pandang tersebut kita menciptakan permusuhan.

Manusia yang bisa memahami perbedaan dan menghargainya itulah manusia-manusia pluralis sosial dan kemasyarakatan karena kenyataan Tuhan menciptakan perbedaan.

Masalah perbedaan inilah yang kali ini di bahas di Musholla tempat Jali tinggal, dan seperti biasa terjadi perbedaan pendapat yang tajam antara Ustad Faisal dan Rustam.

     “ Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh “, kata Ustad Faisal membuka pengajian di hari ini.
   “ Kali ini kita diskusi, karena saya nggak mau Islam terpecah belah seperti tempo hari, karena perbedaan adalah Sunnahtullah “, Ustad Faisal melanjutkan kata-katanya.

    “ Bagaimana kalau yang menjadi moderator kita kali ini adalah Rustam biar yang muda-muda siap mengantikan yang tua? “, usul Ustad Faisal. 

Para jama’ah tertawa dengan gaya bahasa Ustad Faisal yang berbeda dari biasanya tapi mereka sangat setuju usul tersebut biar terjadi penyegaran pikir mereka.

     “ Waduh, Subhanallah…saya merasa tersanjung di beri kepercayaan sebagai moderator di diskusi kita kali ini, tapi saya belum selevel dengan Ustad Faisal “, kata Rustam merendah membuat jama’ah lainnya kembali tertawa.

     “ Baiklah, berhubung Ustad Faisal telah membuka diskusi kita kali ini tentang perbedaan, bagaimana kalau kali ini kita membahas tentang beda dalam pandangan saya ? “, usul Rustam.

     “ Tam…, kenapa elu katakan pandangan saya bukan pandangan Islam ?“, tanya Jali .

     “ Bagus sekali pertanyaan nya bang Jali “, kata Rustam lalu dia melanjutkan penjelasannya.

    “ Bang Jali, setiap manusia punya pemikiran dan pemikiran saya belum tentu benar karena kebenaran hanya milik Allah SWT…, bisa jadi pemikiran saya salah tapi pemikiran kita sebagai manusia jangan sampai menabrak Alqur’an dan Al-Hadist “.

    “ Ya, gue sangat setuju dengan pemikiran elu Tam “, kata Bahar yang kali ini jadi suka ke Musholla.

    “ Memang seharusnya kita jangan gampang mengatakan dari Islam padahal itu adalah pemikiran kita atau yang kita baca dari pemikiran para ulama-ulama sebelumnya “, kata Bahar selanjutnya karena dia mulai tertarik untuk membaca buku-buku masalah ke Islaman.

    “ Islam yang saya ketahui sebenarnya mengajar pluralis seperti tertulis dalam ayat suci Alqur’an  Surah Al-Hujurat ( 49 ) ayat 13  sebagai berikut :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 

Juga dalam Al-Ruum ( 30 ) ayat 22 sebagai berikut :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya yang pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui 

    “ Jadi dalam segala hal kita bisa berpikir tentang kekuasaan Allah SWT termaksud masalah plural atau perbedaan “, kata Rustam.

     “ Tapi jangan sampai karena kita berpandangan pluralis kita menyamakan semua agama, seharusnya sebagai Muslim kita harus Haqqul Yakin bahwa ajaran Islamlah yang paling benar “, kata salah seorang peserta jama’ah menimpali.

       “ Benar “, kata Ustad Faisal selanjutnya.

      “ Makanya saya mengatakan pluralis atau plural bukan pluralisme karena kalau di akhiri dengan kata isme berarti sudah menjadi faham pemikiran yang menyamakan semua perbedaan “ kata Rustam.

      “ Mari kita lihat sekeliling kita, dunia ini indah karena ada perbedaan, coba bayangkan kalau isi dunia ini satu warna…, nggak indah lagi kan ? “, tanya Rustam kepada seluruh jama’ah pengajian.

         “ Ya “, kata seluruh jama’ah sekalian serentak.

       “ Seharusnya kita menghargai perbedaan sebagai kekuasaan Allah SWT seperti yang tertulis dalam Surah Al-Ruum ayat 22 “, kata Rustam melanjutkan pemikirannya.

          Bujang yang saat itu ikut pengajian juga bertanya pada Rustam.

       “ Rustam, aku mau tanya…, dalam keluargaku ada yang Islam dan ada pula yang bukan Islam, bagaimana menurut kau ? “.

      “ Selama di dunia ini dia masih saudara kita maka bina hubungan baik dengannya sebagai silaturahim kepada sesama umat manusia “, jawab Rustam.

        “ Tapi bagaimana dengan Aqidah kita ? “, tanya Ustad Faisal yang kali ini tampaknya kurang setuju dengan pendapat Rustam.

          “ Ma’af Ustad Faisal, apakah Aqidah Rasullulah terganggu ketika beliau membina hubungan baik dengan pamannya Abi Thalib yang sampai wafatnya paman Rasullulah tersebut tidak memeluk agama Islam “, jawab Rustam sambil memberikan pertanyaan balik ke Ustad Faisal.

Ustad Faisal diam karena dia tahu Abi Thalib paman Rasullulah sendiri yang selalu membela Rasullulah tidak pernah menganut agama Islam.

         “ Pintu hidayah adalah urusan Allah SWT, tugas manusia hanyalah memberikan dakwah, maka berdakwalah secara lemah lembut dan sabar “, jawab Rustam selanjutnya.

Ustad Faisal tidak mau kalah dari pemikiran anak muda seperti Rustam.

           “ Rustam, coba baca ayat Qur’an surah Ali Imran ayat 85 sebagai berikut :

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan di terima agamanya itu, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi “,  kata Ustad Faisal selanjutnya.

         “ Ayat itu merupakan ayat yang bicara tentang ajaran Tauhid kita sebagai umat Muslim Ustad Faisal, bagi umat non Muslim pasti berpikiran bahwa agama kitalah yang tidak di terima karena itu sudah masuk dalam dimensi Iman “, jawab Rustam selanjutnya.

          “ Jadi kamu sudah meragukan kebenaran Islam  seperti yang tertulis di Alqur’an? “, tanya Ustad Faisal dengan suara meninggi.

          “ Saya tidak mengatakan seperti itu karena toh saya mengucapkan dua kalimah syahadat dalam  sholat saya…, saya juga sholat, puasa, zakat dan Insya Allah saya punya niat untuk berangkat haji ke tanah suci “, jawab Rustam.

          “ Itulah cara kita melaksanakan Rukun Islam seperti  di ajarkan Rasullulah dengan meyakini enam Rukun Iman seyakin-yakinnya untuk menjadi Islam atau orang-orang yang berserah diri “, jawab Rustam selanjutnya.

          “ Apakah umat-umat non Muslim melaksanakan seperti yang tertulis dalam Rukun Islam ?, tidak kan ?” Rustam kembali bertanya balik kepada Ustad Faisal.

Ustad Faisal terdiam kemudian dia berkata

          “ Tapi kamu juga harus tahu Surah Albaqarah ( 2 ) ayat 120 sebagai berikut :

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka, Katakanlah : “ Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung penolong bagimu “, kata Ustad Faisal tersenyum dengan penuh kemenangan.

          “ Pak Ustad Faisal, sebagai mana kita ketahui bahwa agama Nasrani dan Yahudi adalah agama Samawi atau agama Wahyu makanya mereka di katakan sebagai Ahli Kitab, dan dalam ajaran mereka juga ada ajaran dakwah seperti dalam ajaran Islam makanya pelajarilah Islam secara benar, pergunakan akal pikiran dan ilmu kita untuk mengungkap kebenaran ajaran Islam, bila perlu pelajari perbandingan agama agar keyakinan kita semakin mantap pada Islam, itulah salah satu cara agar kita tidak mengikuti agama mereka, tapi sebuah perbedaan sangat mustahil untuk dapat di satukan, makanya hargai dan maklumi sebuah perbedaan “, jawab Rustam dengan suara merendah.

           “ Memaklumi sebuah perbedaan dan menyikapinya secara arif, itulah kemenangan yang sejati “, kata Rustam selanjutnya.

Itulah manusia hidup yang tidak pernah lepas dari kepentingannya, baik kepentingan pribadi, negara atau kepentingan agama dan keyakinan. Ajaran Yahudi dan Kristiani juga berkepentingan untuk mengembangkan agama dan keyakinannya seperti agama Islam makanya kita harus perkuat ke imanan dan pengetahuan ke Islaman kita tanpa perlu membatasi dan menghalangi syiar agama lain.

Pada dasarnya umat Yahudi, Nasrani dan Islam bersumber dari Tuhan yang sama, penafsirannyalah yang berbeda seperti yang tertulis dalam ayat Qur’an sebagai berikut :

“ Katakanlah : “ Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang di turunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang di berikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri “.( QS. Ali Imran ( 3 ) ayat 84.

Nabi Ibrahim atau Abraham itulah bapak dari agama-agama Samawi.

Kita juga dapat melihat penjelasan lain dalam Alqur’an sebagai berikut :

Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati ( QS Al-Baqarah ( 2 ) ayat 62 juga QS Al-Maaidah ( 5 ) ayat 69.

Sebuah kenyataan dalam hidup kita sehari-hari seorang yang benar-benar beriman pada agama yang di yakininya maka hidupnya akan tenang karena mereka yakin ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini dan mereka tidak akan pernah bersedih hati terhadap cobaan hidup, apapun agama dan keyakinannya hidupnya.

Makanya mari kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan sebagai umat manusia seperti pesan yang tertulis dalam ayat Qur’an surah Al’Ashr ( 103 ) ayat 1 s/d 3 sebagai berikut :

Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat – menasehati supaya menetapi kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar