Bila manusia sudah benci pada seseorang, apapun
yang di buat orang yang di benci selalu salah di matanya. Begitulah yang
terjadi dengan Minah di mata Butet.
Minah
sekarang telah menikah dengan Bujang dan mereka tinggal di rumah Butet seperti
permintaan Butet ke Bujang saat dia mengizinkan Bujang menikahi Minah untuk
menghindari zinah yang berkelanjutan. Hal ini di lakukan Butet karena dia
sangat sayang kepada keponakannya dan dia menganggap bahwa Minah hanya menipu
Bujang saja.
Minah
tahu Bujang sangat cinta padanya dengan menerima dia apa adanya walaupun si
Bujang tahu anak yang ada dalam rahimnya sekarang bukan dari benih Bujang, maka
dia tidak pernah menuntut terlalu banyak pada Bujang yang telah menyelamatkan
diri dan keluarganya dari aib dan malu.
Minah
saat itu sedang hamil tua akibat hubungannya di luar nikah dengan Anton dan
Derri, dan dia tidak tahu anak siapa yang ada dalam rahimnya sekarang.
Kehamilan
Minah inilah yang menjadi bulan-bulanan bagi Butet untuk membenci Minah.
“
Hei Minah, jangan tidur aja kerja kau, dasar pemalas”, kata Butet kepada Minah
saat Minah istirahat setelah membantu Butet berjualan seharian.
Minah
hanya diam karena dia tidak dapat berbuat apa-apa atas kebencian Butet padanya
akibat pernikahannya dengan Bujang.
“
Kau itu tidak ada bedanya dengan pelacur, makanya kau jebak si Bujang keponakan
ku “, kata Butet selanjutnya.
Minah
menangis mendengar perkataan Butet yang menusuk hatinya.
Sebagai
seorang perempuan biasa yang butuh tempat mengadu, Minah mengadu pada suaminya
di malam itu saat mereka berdua dalam peraduan di kamar mereka.
“ Bang Bujang, sampai kapan aku harus
mendengar kata-kata makian dari Bujing “, katanya.
“
Sabarlah sayang, Bujing itu orangnya baik, nanti dia akan tahu kau cinta sama
aku, bukan karena kau menipu aku “, kata Bujang lembut sambil membelai perut
Minah.
“
Aku sekarang sedang berusaha cari kerja sebagai supir sambil kadang-kadang juga
ngamen, karena hanya itu yang aku bisa, kau tahu sendiri kan..nggak gampang
cari kerja di zaman sekarang ini “, kata Bujang selanjutnya.
Tiba-tiba
benih dalam perut minah menendang tangan Bujang yang membelai perut Minah.
“
Eh…kau tendang ayahmu ya ?, besar nanti kau jadi pemain bola ya ? “, tanya
Bujang dengan gayanya yang jenaka ke perut Minah.
Minah
tertawa mendengar pertanyaan Bujang ke perutnya, tiba-tiba perutnya terasa
sakit sekali.
“
Aduh bang…perutku sakit sekali nih “, kata Minah
“
Bagaimana ya…mungkin si pemain bola ini mau keluar “, kata Bujang ke bingungan.
“
Bang…”, Minah menangis sambil teriak karena perutnya terasa sakit sekali.
Teriakan Minah membangunkan Butet yang saat itu sedang tidur.
“
Ada apa ini…, eh Bujang…si Minah mau melahirkan cepat kau bawa dia kerumah
sakit “, kata Butet setelah dia tahu Minah mau melahirkan.
Bujang
buru-buru keluar mencari taxi untuk membawa Minah ke rumah sakit, taxi di
dapatkan lalu Minah di bawa ke rumah sakit oleh Bujang di dampingi oleh Butet.
Ketika
telah sampai di rumah sakit, Bujang dan Butet menunggu di ruang tunggu dan raut
muka Bujang sangat cemas tapi tidak bagi Butet, dia santai saja karena dia
tidak suka pada Minah juga pada bayi yang sekarang sedang dalam proses
persalinan.
Butet
memang menyuruh Bujang membawa Minah ke rumah sakit karena alasan kemanusiaan
saja tanpa rasa cinta yang menganggap Minah bagian dari keluarganya.
Terdengar
suara tangisan bayi dari dalam ruangan, Bujang mukanya jadi cerah sekali dan
tidak lama kemudian seorang suster keluar dari dalam ruangan.
“
Bagaimana suster, bagaimana keadaan istri dan anak saya ? “, tanya Bujang tak
sabaran.
“
Selamat pak, anak bapak laki-laki dan istri bapak sehat-sehat saja “, kata
suster tersebut.
“
Alhamdullilah “, kata Bujang kemudian dengan wajah yang berbinar-binar.
“
Bujing, sekarang aku sudah jadi ayah “, kata Bujang ke hadapan Butet dengan gembira.
Butet hanya diam tanpa ekspresi melihat kegembiraan Bujang.
Tiga
hari berlalu setelah Minah melahirkan, tiba saatnya mereka pulang kerumah.
Saat
itu si bayi sedang di gendongan Minah dan dia minta tolong pada Butet untuk
mengendong anaknya sebentar karena dia akan kebelakang untuk buang air kecil.
“
Tolong ya Bujing, Minah mau ke belakang sebentar “, kata Minah ke Butet.
“
Cepatlah kau ke belakang, mari si anak haram itu ku gendong “, kata Butet
ketus.
Butet memperhatikan wajah bayi yang di bencinya sekarang ada dalam gendongannya, dan ntah kenapa ada rasa suka Butet pada bayi Minah ini, tanpa di sadarinya dia di kencingi oleh bayi tersebut dan ini kali pertama dia di kencingi oleh seorang bayi karena dia belum pernah punya anak sebelumnya.
“
Eh…kau kencingi opungmu yah…kau kencingi opungmu ya “, kata Butet kegirangan.
“
Ei Minah..ko tengok lah !, aku di kencingi sama cucuku…aku di kencingi sama
anak kau, anak si Bujang “, kata Butet lagi dengan gembira seperti anak kecil.
Minah
jadi tersenyum karena baru kali ini Butet bertindak ramah padanya sejak dia
menikah dengan Bujang.
“
Cepat kau ganti popoknya, ambilkan pampers di daganganku supaya kulitnya tak
terganggu “, kata Butet selanjutnya.
Sejak saat itu Butet jadi ramah dan baik sekali pada Minah karena kehadiran seorang bayi laki-laki dalam kehidupan mereka.
Memang
terkadang rasa cinta dan suka hadir tak terduga, seperti cintanya Butet pada
anak hasil perzinahan Minah dengan bekas pacarnya.
Kelahiran seorang anak adalah anugerah yang terindah dalam kehidupan manusia karena seorang anak lahir tanpa membawa dosa ayah dan ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar