Minggu, 19 Januari 2014

29. BUJANG MINTA KAWIN.



Tidak ada seorangpun manusia di muka bumi ini yang luput dari dosa dan kesalahan karena selain dia di berikan celupan dari Sifat-Sifat Allah SWT yang ada dalam suara hatinya, dia juga di berikan kemampuan berfikir juga hawa nafsu.

Kemampuan berpikir dari manusia inilah yang memegang peranan untuk memilih suara hati atau hawa nafsunya. Hawa nafsu manusia tidak lepas dari cita-cita juga kepentingan manusia itu sendiri dan karena kemampuan berpikir dari manusia dia bisa mencari-cari alasan untuk menolak hati nuraninya hanya untuk mencari pembenaran dari apa yang di inginkan atau di cita - citakan oleh hawa nafsunya.

Itulah manusia, kemampuannya berpikir bisa menjadi sangat baik bila dia mendengar suara hatinya tapi bisa juga sangat jahat bila di kuasai oleh hawa nafsunya.

Bila manusia sudah di kuasai oleh hawa nafsu, kata dosa sudah tak ada, yang ada hanyalah kenikmatan dunia baik itu harta, tahta dan wanita bagi laki – laki juga harta, tahta, dan pria bagi kaum perempuan.

Bila manusia sudah tak perduli pada dosa maka tindak tanduknya lebih parah dari binatang, bapak memperkosa anaknya padahal binatang sendiri secara naluri pasti melindungi anaknya, sex bebas seperti binatang, mencari keuntungan dengan pengetahuan tanpa menghiraukan sesama, membunuh dengan ilmunya, memfitnah, memperkosa hukum demi uang dan lain sebagainya. 

Itulah tugas bagi kaum ulama juga ahli – ahli agama dan masyarakat untuk mencegah dosa yang teramat parah yang di lakukan oleh manusia, kita tidak bisa tinggal diam tapi bukan berarti kita mencegah dosa dengan melakukan dosa, maka lakukanlah dakwah melalui pendekatan budaya, dakwah dari hati ke hati karena pada dasarnya semua manusia itu terlahir sebagai orang baik karena itulah fitrah manusia.

Seperti Bujang contohnya, dari pandangan pertama dia sudah sangat suka pada Minah apalagi dia sudah merasakan “ sesuatu “ yang sangat enak yang di berikan Minah padanya dan membuat dia ketagihan sehingga dia tidak perduli pada masa lalu Minah juga pada kehamilan Minah yang sekarang dia tahu walaupun bukan dari benihnya. 

Bujang sudah cinta mati pada Minah dan dia akan melakukan apa saja untuk memiliki Minah seutuhnya.

Hari itu Bujang minta restu pada Butet untuk menikahi Minah.

“ Bujing, aku sudah cinta kali sama Minah, nikahkanlah aku sama dia Bujing, tolong kasi tau mamak biar cepat mamak gendong cucu “, kata Bujang di hari itu.

“ Bagai manalah kau ini Bujang, baru dua bulan kau di Jakarta, pacar kau si Minah sudah hamil lima bulan, sekarang mau kau kawin pulak dia “, jawab Butet pada Bujang.

“ Itulah sebabnya bujing, bulan pertama sampai kedua sama si Anton, bulan ke tiga sampai ke empat sama si Derri dan sekarang sama aku jadi sekarang di perutnya itu anak ku lah Bujing “, kata Bujang.

“ Alamak, bodoh kali lah kau ini jadi laki-laki, perempuan bunting yang tak jelas laki nya mau kau kawin…jangan mau kau di tipu sama perempuan Bujang “, Butet mencoba menasehati Bujang agar merubah niatnya.

“ Tipu apanya Bujing…, aku sudah di buat enak sama dia “, kata Bujang seperti tak ada kejadian.

“ Enak ?, apa maksud kau enak ? “, tanya Butet tak mengerti.

“ Pokok nya aku sudah di buat enak sama dia “, kata Bujang.

“ Apa kau bilang ?, jadi kau sudah…?, oi mak jang…dosa apa yang sudah aku buat…, ma’af kan aku nang boru, ma’af kan aku opung…aku tak bisa menjaga si bujang keponakan ku “, Butet menangis tersedu-sedu karena dia sudah tahu arah pembicaraan bujang tentang kata enak itu.  

“ Kenapa bujing nangis, aku yang enak kok bujing yang nangis ? “, tanya Bujang polos pada Butet.

“ Bujang oh Bujang…polos kali lah kau jadi laki-laki “, kata Butet menyesali keputusan keponakannya sambil menangis.

“ Kenapa bujing ?, kenapa bujing menagis karena aku pilih Minah sebagai istriku ?, aku yang menjalani bujing…, biarkan aku jadi laki-laki untuk memilih pasangan hidupku “, kata Bujang mantap dan meyakinkan.

“ Sudahlah Bujang, kau sudah besar untuk menentukan jalan hidup kau, dari pada kau buat dosa terus ku kawinkan kau sama si Minah tapi jangan harap aku suka sama binik kau “, kata Butet pasrah menanggapi keputusan keponakannya ini.


“ Tapi kau dan binik kau tetap tinggal di rumah ini dan aku harap kau secepatnya menceraikan dia, karena perempuan seperti Minah tak pantas untuk laki-laki baik seperti kau “, kata Butet lagi.

“ Kita lihat nanti Bujing, aku sayang sama bujing dan aku percaya Minah adalah perempuan yang terbaik untuk aku “, kata Bujang.

Butet memeluk keponakan yang sangat di sayanginya ini.

“ Kalau itu sudah keputusan mu, jalankanlah nak !, semoga kau segera sadar kalau apa yang di bilang bujingmu ini benar “, kata Butet.

Itulah manusia, terkadang dia suka menghakimi seseorang yang pernah berbuat dosa seolah-olah orang yang pernah berbuat dosa akan berbuat dosa selamanya.
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar