Tidak ada seorangpun manusia di muka bumi ini
yang luput dari dosa dan kesalahan karena selain dia di berikan celupan dari
Sifat-Sifat Allah SWT yang ada dalam suara hatinya, dia juga di berikan
kemampuan berfikir juga hawa nafsu.
Kemampuan berpikir dari manusia inilah yang
memegang peranan untuk memilih suara hati atau hawa nafsunya. Hawa nafsu
manusia tidak lepas dari cita-cita juga kepentingan manusia itu sendiri dan
karena kemampuan berpikir dari manusia dia bisa mencari-cari alasan untuk
menolak hati nuraninya hanya untuk mencari pembenaran dari apa yang di inginkan
atau di cita - citakan oleh hawa nafsunya.
Itulah manusia, kemampuannya berpikir bisa
menjadi sangat baik bila dia mendengar suara hatinya tapi bisa juga sangat
jahat bila di kuasai oleh hawa nafsunya.
Bila manusia sudah di kuasai oleh hawa nafsu,
kata dosa sudah tak ada, yang ada hanyalah kenikmatan dunia baik itu harta,
tahta dan wanita bagi laki – laki juga harta, tahta, dan pria bagi kaum
perempuan.
Bila manusia sudah tak perduli pada dosa maka
tindak tanduknya lebih parah dari binatang, bapak memperkosa anaknya padahal
binatang sendiri secara naluri pasti melindungi anaknya, sex bebas seperti
binatang, mencari keuntungan dengan pengetahuan tanpa menghiraukan sesama,
membunuh dengan ilmunya, memfitnah, memperkosa hukum demi uang dan lain
sebagainya.
Itulah tugas bagi kaum ulama juga ahli – ahli
agama dan masyarakat untuk mencegah dosa yang teramat parah yang di lakukan
oleh manusia, kita tidak bisa tinggal diam tapi bukan berarti kita mencegah
dosa dengan melakukan dosa, maka lakukanlah dakwah melalui pendekatan budaya,
dakwah dari hati ke hati karena pada dasarnya semua manusia itu terlahir
sebagai orang baik karena itulah fitrah manusia.
Seperti Bujang contohnya, dari pandangan
pertama dia sudah sangat suka pada Minah apalagi dia sudah merasakan “ sesuatu
“ yang sangat enak yang di berikan Minah padanya dan membuat dia ketagihan
sehingga dia tidak perduli pada masa lalu Minah juga pada kehamilan Minah yang
sekarang dia tahu walaupun bukan dari benihnya.
Bujang sudah cinta mati pada Minah dan dia akan
melakukan apa saja untuk memiliki Minah seutuhnya.
Hari itu Bujang minta restu pada Butet untuk
menikahi Minah.
“ Bujing, aku sudah cinta kali sama Minah,
nikahkanlah aku sama dia Bujing, tolong kasi tau mamak biar cepat mamak gendong
cucu “, kata Bujang di hari itu.
“ Bagai manalah kau ini Bujang, baru dua bulan
kau di Jakarta, pacar kau si Minah sudah hamil lima bulan, sekarang mau kau
kawin pulak dia “, jawab Butet pada Bujang.
“ Itulah sebabnya bujing, bulan pertama sampai
kedua sama si Anton, bulan ke tiga sampai ke empat sama si Derri dan sekarang
sama aku jadi sekarang di perutnya itu anak ku lah Bujing “, kata Bujang.
“ Alamak, bodoh kali lah kau ini jadi
laki-laki, perempuan bunting yang tak jelas laki nya mau kau kawin…jangan mau
kau di tipu sama perempuan Bujang “, Butet mencoba menasehati Bujang agar
merubah niatnya.
“ Tipu apanya Bujing…, aku sudah di buat enak
sama dia “, kata Bujang seperti tak ada kejadian.
“ Enak ?, apa maksud kau enak ? “, tanya Butet
tak mengerti.
“ Pokok nya aku sudah di buat enak sama dia “,
kata Bujang.
“ Apa kau bilang ?, jadi kau sudah…?, oi mak
jang…dosa apa yang sudah aku buat…, ma’af kan aku nang boru, ma’af kan aku
opung…aku tak bisa menjaga si bujang keponakan ku “, Butet menangis
tersedu-sedu karena dia sudah tahu arah pembicaraan bujang tentang kata enak
itu.
“ Kenapa bujing nangis, aku yang enak kok
bujing yang nangis ? “, tanya Bujang polos pada Butet.
“ Bujang oh Bujang…polos kali lah kau jadi
laki-laki “, kata Butet menyesali keputusan keponakannya sambil menangis.
“ Kenapa bujing ?, kenapa bujing menagis karena
aku pilih Minah sebagai istriku ?, aku yang menjalani bujing…, biarkan aku jadi
laki-laki untuk memilih pasangan hidupku “, kata Bujang mantap dan meyakinkan.
“ Sudahlah Bujang, kau sudah besar untuk
menentukan jalan hidup kau, dari pada kau buat dosa terus ku kawinkan kau sama
si Minah tapi jangan harap aku suka sama binik kau “, kata Butet pasrah
menanggapi keputusan keponakannya ini.
“ Tapi kau dan binik kau tetap tinggal di rumah
ini dan aku harap kau secepatnya menceraikan dia, karena perempuan seperti
Minah tak pantas untuk laki-laki baik seperti kau “, kata Butet lagi.
“ Kita lihat nanti Bujing, aku sayang sama
bujing dan aku percaya Minah adalah perempuan yang terbaik untuk aku “, kata
Bujang.
Butet memeluk keponakan yang sangat di
sayanginya ini.
“ Kalau itu sudah keputusan mu, jalankanlah nak
!, semoga kau segera sadar kalau apa yang di bilang bujingmu ini benar “, kata
Butet.
Itulah manusia, terkadang dia suka menghakimi
seseorang yang pernah berbuat dosa seolah-olah orang yang pernah berbuat dosa
akan berbuat dosa selamanya.
“
Tidak ada komentar:
Posting Komentar