Jali adalah laki – laki yang kritis dan sangat
ingin tahu pada apa di balik semua pembicaraannya dengan petugas service
komputer, lalu dia buru – buru mendatangi kantor pak Darwis dengan membawa CPU
komputer yang di titipkan pak Darwis padanya lalu dia mencari alamat yang
tertera di kartu nama pak Darwis.
“ Bagus ya pak kantor bapak “, kata Jali
setelah dia di terima dengan sangat baik oleh pak Darwis di kantornya.
“ Biasa aja pak Jali, banyak orang yang punya
kantor jauh lebih bagus dari punya saya “, kata pak Darwis kemudian.
“ Oya, komputer bapak udah Jali kasi sama cewek
yang di depan “, kata Jali lagi.
“ Iya, saya tahu “, kata pak Darwis tersenyum
ramah karena sebelumnya dia sudah berpesan kepada stafnya untuk menemui Jali
yang membawa komputer dan agar di terima dan suruh dia masuk ke ruangannya
kalau Jali mau menemuinya.
“ Pak Darwis, bapak sudah mengajarkan Jali
tentang Subhananallah, Alhamdullilah dan Laa Ilaha Illalah dan bapak suruh Jali
supaya Jali mencari inspirasi dari diri Jali sendiri, begitukan pak ? “, tanya
Jali ke pak Darwis.
“ Iya, manusia hidup seharusnya suci dalam niat
jadi bukan hanya cara berpakaian ya pak Jali, kemudian jujur pada diri sendiri
dan harus punya cita – cita “, kata pak Darwis kemudian.
“ Bener pak, sekarang Jali ngerti bahwa
Subhanallah itu bukan hanya cara berpakaian yang rapi dan bersih tapi jauh dari
itu, terima kasih ya pak sudah ngajarin Jali “, kata Jali lagi.
Pak Darwis kembali tersenyum ramah dan senyum
inilah yang membuat Jali semakin suka pada pak Darwis.
“ Tapi gini pak, kemarin kan bapak nyuruh Jali
memperbaiki CPU komputer dan tadi sudah selesai di perbaiki, Jali mau tanya ada
apa di balik semua itu ? “, Jali mengutarakan tujuannya mendatangi pak Darwis
sesegera mungkin.
“ Maksud pak Jali apa ya ? “, tanya pak Darwis
sambil tersenyum.
Kenapa sih data – data di CPU komputer tidak
kelihatan di monitor atau di TV komputer ini ? “, tanya Jali sambil menunjuk
monitor di meja kerja pak Darwis karena dia penasaran dari pembicaraannya
dengan petugas service komputer sebelumnya.
“ Memang begitulah adanya pak Jali “, kata pak
Darwis kembali tersenyum sebagai ciri khasnya.
“ Tapi artinya itu apa pak ? “, Jali mencecar
pertanyaan ke pak Darwis karena dia yakin ada hikmah di balik semua itu.
“ Baiklah pak Jali, saya kan sudah bilang ke
bapak bahwa CPU komputer adalah otak dari komputer, iya kan ? “, tanya pak
Darwis ke Jali untuk memancing rasa ingin tahu yang lebih dalam dari Jali.
“ Bener pak, bapak bilang ke Jali waktu di
mobil “, kata Jali bersemangat dan matanya berbinar-binar karena rasa ingin
tahunya yang bergelora.
“ Pak Jali, manusia terbentuk dari cara dia
berpikir dan itu ada dalam CPU manusia yaitu otaknya, di sini…“, kata pak
Darwis menjelaskan sambil memegang bagian belakang kepalanya tempat otak
manusia berada.
“ Di dalam otak kita itu gelap pak Jali karena
nggak ada lampu, bener nggak ? “, tanya pak Darwis sambil tersenyum.
“ Ya iya dong pak, nggak mungkin di dalam
kepala ada lampu “, jawab Jali sambil tertawa.
“ Nah…tapi semua bermula dari sana pak, semua
panca indra kita yang kita gunakan baik
itu mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah
untuk merasa juga kulit untuk meraba di kirim informasinya ke CPU kita yaitu
otak “, kata pak Darwis menerangkan.
“ Maksudnya pak ? “ tanya Jali tidak mengerti
“ Coba pak Jali di samping saya sekarang ! “,
seru pak Darwis.
Jali berdiri dari tempat duduknya dan berdiri
di samping pak Darwis yang memegang komputer lalu mengetik kata Jali.
“ Coba perhatikan ini “, kata pak
Darwis sambil mengetik di keyboard komputernya.
“ Kata Jali
ini adalah perintah dari keyboard ketika saya ketik kemudian di alirkan ke CPU
dan menjadi tulisan Jali di monitor
ini, iyakan ? “, tanya pak Darwis ke Jali
“ Ya…justru itu yang saya mau tanya karena
kenyataannya di dalam CPU ini tidak ada kata Jali yang kelihatan seperti di monitor ini “, kata Jali sambil
menunjuk CPU lalu monitor komputer karena memang inilah hal yang ingin dia
tanyakan.
“ Cara kerja komputer ini sama dengan cara
kerja atau sistem yang Maha sempurna yang di buat Allah SWT “, kata pak Darwis.
“ Kok bisa ? “, tanya Jali dengan kening
berkerut
.
“ Keyboard ini sama cara kerjanya dengan panca
indra kita yaitu perintah untuk
mengunakan mata, hidung, telinga, lidah dan kulit untuk sesuatu hal yang
kita ingin lihat, cium, dengar, rasa dan raba “, pak Darwis menerangkan ke
Jali.
“ Lalu ? “, tanya Jali lagi untuk meraba-raba
pengertian dari apa yang di katakan pak Darwis.
“ Semuanya di komunikasikan atau di alirkan ke
otak kita seperti kegunaan dari CPU komputer “, kata pak Darwis lagi.
Lalu ? “ tanya Jali kemudian.
Hasil dari komunikasi panca indra atau aliran
panca indra kita dengan otak kitalah yang menghasilkan kita bisa melihat,
mencium, mendengar, merasa dan meraba “ kata pak Darwis selanjutnya.
Jali termenung sebentar mendengar perkataan
yang rumit dari pak Darwis dan pak Darwis tahu bahwa Jali belum mengerti.
“ Begini pak Jali, apa bapak bisa mendengarkan
saya bicara ketika bapak tidur nyenyak ? “, tanya pak Darwis.
“ Ya nggak dong pak “, jawab Jali.
“ Karena apa ? “, tanya pak Darwis lagi.
“ Karena saya nggak sadar ? “, jawab Jali.
“ Tepat sekali, jadi yang penting bagi manusia
adalah dia sadar dan sehat sehingga bisa memfungsikan segala organ panca
indranya dengan baik dan gampang berkomunikasi dengan CPU manusia yaitu
otaknya, atau istilah kerennya terkoneksi atau nyambung “, kata pak Darwis.
Jawaban dari pak Darwis ini masuk akal bagi
Jali.
“ Jadi harus nyambung ya pak dan bisa nyambung
itu kalau manusianya sadar ? “, tanya Jali kemudian.
Pak Darwis mengangguk dan tersenyum menjawab
pertanyaan dari Jali.
Jali sangat puas dengan jawaban dari pak Darwis
kemudian dia bertanya lagi.
“ Jali mau tanya lagi dong pak “, kata Jali.
“ Silahkan !“, kata pak Darwis dengan senyum
khasnya.
“ Komputer bapak kemarin rusak karena banyak
virus dan jadi ngeblank makanya sering-sering di scan dengan anti virus, itu
kata tukang service komputer kemarin, maknanya dalam kehidupan apa sih pak ? “,
Jali bertanya kembali kepada pak Darwis dengan raut muka yang sangat serius.
Pak Darwis memperbaiki posisi tempat duduknya
karena jawaban inilah yang teramat penting untuk merubah cara berpikir Jali
yang kritis dan tidak mau sholat karena sholat menurut Jali tidak penting.
“ Pak Jali, virus pemikiran di dalam CPU kita
atau otak kita terlalu banyak sekarang ini yang membuat cara berpikir kita
blank atau kosong karena kita tidak bersih dan jujur pada hati nurani kita,
makanya kita perlu sholat dan berzikir bagi kita umat muslim agar kita kembali
fitrah atau bersih seperti bayi yang baru lahir, itulah Scan dalam kehidupan
dan anti virusnya adalah Iman kita kepada Allah SWT atau Tuhan Yang Maha Esa “,
jawab pak Darwis.
Jadi kalau Jali sholat Jali men scan diri Jali
ya pak ? “, tanya Jali karena dia sangat tertarik dengan jawaban pak Darwis.
“ Iya, tapi bukan sekedar sholat tapi pak Jali
juga harus jujur pada diri pak Jali sendiri dengan mendengarkan suara hati pak
Jali, tanya ke diri pak Jali sendiri dan koreksi di setiap habis sholat apa
yang telah bapak buat di hari kemarin, hari ini dan apa yang akan bapak buat
untuk memberikan kasih sayang kepada ciptaan Allah SWT di hari yang akan
datang, itulah Scan dalam sholat pak Jali, pergunakan akal, hati dan celupan
sifat-sifat Tuhan dalam diri pak Jali sendiri “, kata pak Darwis ke Jali.
Celupan Sifat-Sifat Tuhan ?, apalagi tuh pak ?
“ tanya jali lagi.
“ Pak Jali, ini saya kasi buku Asmaul Husna,
nanti bapak baca dan tanyakan ke diri bapak sendiri adakah sifat-sifat itu
dalam diri bapak “,
Pak Darwis memberikan buku Asmaul Husna ke Jali
dan Jali menerimanya dengan senang hati dan dia berjanji akan men scan dirinya
dengan sholat seperti apa yang di ajarkan pak Darwis kepadanya di hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar