Minggu, 19 Januari 2014

42. JALI INGIN JADI JALI YANG LAA HAULA WALLA QUAWATA ILLA BILLAH



Jali sangat tertarik untuk mempelajari Islam lebih lanjut dan lebih dalam lagi. Sekarang dia tahu dan mengerti bahwa manusia tidak pernah lepas dari kepentingan hidupnya. Suka atau tidak suka, itulah kenyataannya…, selama manusia hidup dia tidak akan pernah lepas dari kepentingan hidup dan cita-citanya.

Sebagai manusia biasa Jali merasa sedikit kecewa karena lagunya yang berjudul PREMAN DAN USTAD tidak dapat di terima oleh produser rekaman karena alasan takut menyinggung para Ustad dan Kiai. Itulah kenyataan pemikiran sebahagian besar manusia Indonesia yang sangat alergi pada kritik tapi sangat suka pada puja dan puji, sering Jali bertanya pada dirinya sendiri…, Apakah Ustad dan Kiai itu sebuah jabatan atau sebuah instansi sehingga sang produser takut para pemuka agama tersebut tersinggung dengan alasan nama baik ?.

Hari ini Jali merenung seorang diri di Musholla Kelurahannya. Dia berpikir kembali apakah syair lagu “ PRINSIP BISMILLAH “ yang baru di tulisnya bisa menyinggung orang lain atau tidak, padahal syair lagu itu adalah suara isi hatinya tentang Islam yang baru dia pelajari. Kembali dia memikirkan dirinya dan pemikirannya sendiri, alangkah susahnya jadi manusia yang harus bermanis-manis muka dan tidak jujur pada dirinya sendiri melihat kenyataan yang ada.

Tanpa di sadari oleh Jali, pak Darwis masuk seorang diri di Musholla itu. Pak Darwis membiarkan saja Jali yang seolah-olah bicara pada dirinya sendiri karena pak Darwis tahu, itulah proses Jali mencari tahu hakikat kehidupan yang dia jalani.

Pak Darwis lalu melaksanakan sholat Sunnah di Musholla itu, ketika telah selesai dia melaksanakan zikir dengan mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha Illallah, Allahuakbar, Laa Haula Walla Quwata Illa Billah “.

Jali sadar ternyata ada orang yang sholat di Musholla itu dan alangkah senangnya ketika dia lihat yang sholat adalah pak Darwis, orang yang telah membuka hatinya tentang Islam, orang yang telah merubah cara berpikirnya.

Dia menunggu sampai pak Darwis selesai melaksanakan zikirnya.

Ketika pak Darwis telah selesai dari zikirnya, Jali mendatangi pak Darwis untuk bertanya tentang permasalahannya.

    “ Pak Darwis, terima kasih karena bapak telah membuka cara berpikir saya tentang Islam “, kata Jali setelah dia menyalami pak Darwis saat bertemu.

Pak Darwis hanya tersenyum sebagai ciri khasnya setelah menyalami Jali.
     “ Tapi Jali ingin bertanya pak, Jali sudah mendapatkan inspirasi dengan membuat lagu dari suara hati Jali sendiri, tapi kenapa produser tidak suka dengan alasan bisa menyinggung orang lain seperti Ustad dan Kiai, saya putus asa pak “, kata Jali.

     “ Pak Jali, itulah kehidupan, menurut kita apa yang kita lakukan baik tapi belum tentu buat orang lain “, jawab pak Darwis.

     “ Tapi pak Jali tidak boleh berputus asa “, kata pak Darwis selanjutnya.

      “ Kenapa pak ? “, tanya Jali.

     “ Pak Jali sudah tahu makna dari kalimah Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbirkan ? “, pak Darwis balik bertanya ke Jali.

        “ Sudah pak, dan makna dari kalimah itu sangat berarti bagi kehidupan Jali “.

      “ Sekarang pak Jali harus belajar dan mempraktekkan kalimah Tawakal yaitu Laa Haula Walla Quwata Illa Billah dalam kehidupan pak Jali “, kata pak Darwis. 

         “ Kalimah Tawakal itu artinya Tiada Daya dan Upaya Selain Dengan Pertolongan Allah maknanya apapun yang pak Jali lakukan niatkan untuk ibadah bapak, mau gagal atau berhasil itulah ibadah bapak kepada Allah SWT yang telah menciptakan bapak sebagai manusia, jangan pernah berhenti untuk bekarya “, kata pak Darwis selanjutnya. 

         “ Bacalah Qur’an pak Jali sebagai petunjuk hidup karena Alqur’an adalah petunjuk hidup manusia dalam suka dan duka di sepanjang masa “, kata pak Darwis lagi.

Jali menatap wajah pak Darwis dan pak Darwis tersenyum teduh menatap tatapan Jali.

           “ Bacalah Qur’an dan terus bekarya, mau gagal atau berhasil itu nggak penting yang penting Jali telah berusaha , begitu pak ?”, tanya Jali.

Pak Darwis menganggukan wajahnya dan tersenyum.

            Senyum dari pak Darwislah yang membuat Jali selalu termotivasi untuk melakukan apa yang di katakannya.

Alangkah indahnya bila apapun yang di lakukan manusia di niatkan untuk ibadah kepada Allah SWT dengan berpedoman kepada Al’Qur’an dan Hadist Rasullulah tanpa pernah berusaha untuk mempertentangkannya dengan ideologi negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar