Sehari setelah terjadi perdebatan yang tajam
antara Rustam dan Ustad Faisal yang membuat jema’ah pengajian menjadi dua kubu
antara yang pro dengan Khilafah Islamiyah dan pro NKRI, Mayor Jendral
Purnawirawan Widodo merasa perlu untuk berbicara langsung dengan Rustam maka
dia mendatangi Jali yang saat itu sedang duduk di pos ronda dengan
sahabat-sahabatnya tapi kali ini Jali dan sahabat-sahabatnya sudah tidak
minum-minuman keras lagi karena mereka sudah tersentuh siraman rohani agama
Islam.\
“
Wah, tumben nih pak Widodo mau main kemari, kami semua merasa tersanjung “,
kata Bahar.
“ Jendral juga manusia mas, nyantai aja “, kata
pak Widodo sambil tersenyum.
Saya mau bicara pada anak muda yang kemarin,
kamu kenal dia ? “, tanya pak Widodo selanjutnya.
“
Maksud bapak…Rustam ?, yang kemarin beradu argumentasi dengan Ustad Faisal ? “,
kata Bahar balik bertanya.
“
Iya “, kata pak Widodo.
“
Dia kos di rumah saya pak “, kata Jali sopan karena dia bicara dengan orang
yang sangat di hormati di kelurahan mereka.
“
Bapak mau nggak mengantarkan saya ke tempat kosnya, saya merasa perlu untuk
mendengarkan pemikiran anak muda itu “, kata sang Jendral Purnawirawan
selanjutnya.
“
Wah, dengan senang hati pak “, kata Jali dengan muka yang berseri-seri.
“
Saya juga mau ikut pak “, kata Bahar selanjutnya.
“
Baiklah, kalau begitu kita berangkat bertiga ke tempat kosnya “, usul pak
Widodo.
Pak Widodo, Jali dan Bahar lantas bersama-sama
pergi untuk menemui Rustam di tempat kosnya.
Saat
itu Rustam sedang mengetik di meja belajar dengan laptop di kamar kosnya yang
tertata rapi ketika pintu di ketuk.
“
Assalamualaikum “, kata Jali sambil mengetuk pintu kamar kos Rustam.
“
Waalaikum Salam Warahmatullahiwabarakatuh “, jawab Rustam sambil melangkahkan
kakinya untuk membuka pintu.
“
Ada apa bang Jali, eh…ada pak widodo, ada apa ya ? “, kata Rustam ketika
menyadari ada orang penting yang datang ke kamar kosnya.
“
Nggak, saya cuma main dan mau ngobrol sebentar dengan kamu “, kata pak Widodo
sambil masuk ke kamar Rustam.
“
Kita ngobrol di teras aja ya pak, kamarnya terlalu kecil untuk kita berempat “,
kata Rustam selanjutnya nggak enak hati.
“
Jal, ini kritik buat elu, besok lu harus besarin kamar Rustam “, kata Bahar
ngeledek Jali.
Jali
jadi cengar-cengir karena ledekan Rustam yang buat pak widodo tersenyum dan
membuat Rustam salah tingkah.
“
Kecil juga kamarnya nyaman kok “, kata Rustam membesarkan hati Jali membuat
Jali jadi bangga karena hal tersebut di omongkan di depan pak Widodo.
Lalu
mereka duduk di teras tempat kost Jali yang sangat asri dengan di hidangkan
minuman dan kue oleh Juleha istri Jali, lalu Juleha masuk kembali ke rumah
utamanya tanpa ikut nimbrung di pembicaraan empat laki-laki ini.
“
Begini Rustam, saya ingin tahu pemikiran kamu tentang bangsa ini karena saya
bangga pada keberanian kamu mengeluarkan pendapat kemarin”, kata pak Widodo
sambil menyeruput minuman yang di hidangkan Juleha.
“
Karena pemikiran seperti Ustad Faisal berkembang sekarang ini dan jujur itu
jadi pemikiran saya ke depan terhadap ideologi bangsa “, kata pak Widodo
selanjutnya untuk mengemukakan maksud kedatangannya.
“
Ini semua adalah buah dari reformasi pak Widodo “, kata Rustam.
“
Apa kamu benci pada kondisi bangsa ini sejak reformasi tahun 1998 ? “, tanya
pak Widodo.
“
Tujuan reformasi itu baik, tapi sekarang sudah ke bablasan “, jawab Rustam.
“
Kebablasan gimana sih maksud elu Tam ? “, tanya Jali yang juga ikut nimbrung
karena dia juga ingin tahu isi kepala Rustam.
“
Negara ini sudah tidak punya
identitas Indonesia seperti yang
di tunjukkan oleh bung Karno dan
ketegasan zaman pak Harto sejak zaman reformasi karena takut pada barat dengan
slogan Pelanggaran Hak azasi manusia “, kata Rustam berapi-api.
“
Lanjutkan nak !“, seru Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.
" Padahal baratlah sebenarnya pelanggar HAM itu sendiri seperti di Iraq,
Afganistan, Palestina, Libya,
Suriah dan lain sebagainya sehingga
identitas Islam yang di korbankan melalui orang-orang yang menganggap dirinya
suci dan bersih atas nama Islam padahal mereka-mereka yang sok suci itu sangat
benci pada barat dan sekutunya tapi mereka tidak sadar bahwa mereka hanya di
jadikan sebagai kacung yang disuruh mencari kakus, dan salah satunya adalah
pemikiran dari Ustad Faisal “, lanjut Rustam kemudian.
“
Sebentar...! “, seru Jali yang mulai tertarik dengan kata-kata Rustam.
“
Tadi elu bilang identitas Islam yang di korbankan melalui orang-orang yang menganggap
dirinya suci dan bersih atas nama Islam, maksudnya apa ?”, tanya Jali kemudian.
“
Bang Jali, karena ketakutan aparat di negeri ini sebagai pelanggar Hak Azasi
Manusia maka aparat di negeri ini menjadi lebay dan banci maka tugasnya di
serahkan kepada mereka-mereka yang suka memakai identitas Islam “, jawab
Rustam.
Bahar
memperhatikan wajah pak Widodo yang mukanya merah karena menahan amarah karena
di bilang aparat sekarang di bilang lebay dan banci oleh Rustam.
Jali juga melihat wajah pak Widodo
yang merah padam sambil menarik nafas dalam-dalam, kemudian dia bertanya
kembali ke Rustam.
“
Lalu apa maksud elu bilang bahwa mereka tidak sadar kalau mereka hanya di
jadikan sebagai kacung yang disuruh mencari kakus ?, bukankah maksud elu mereka
di sini adalah mereka-mereka yang suka memakai identitas Islam dalam aksi
mereka kan ? “, tanya Jali lagi.
“
Iya, merekalah maksud saya bang Jali “, kata Rustam selanjutnya.
“
Mereka di jadikan kacung atau tameng oleh aparat negara yang takut pada Hak
Azasi manusia yang justru di gembar-gemborkan oleh barat, padahal mereka
sendiri sangat benci pada barat “, kata Rustam.
“
Lanjutkan lagi nak ! “, seru pak Widodo sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
“
Ma’af pak Widodo, saya bicara karena saya cinta pada negeri ini, pada aturan
main yang seharusnya di terapkan di negeri ini, pada aparat negara yang
seharusnya punya kekuatan memaksa pada rakyatnya, bukan rakyat yang di adu
dengan rakyat yang terjadi di zaman reformasi yang kebablasan ini “, kata
Rustam selanjutnya.
“
Saya mengerti maksud kamu nak “, kata Mayor Jendral Purnawirawan Widodo dan
tanpa di sadarinya dia menangis mendengar pembicaraan Rustam.
“
Sejak zaman reformasi, TNI di perintahkan untuk kembali ke barak sesuai
fungsinya sebagai fungsi pertahanan negara dan fungsi ketertiban dan keamanan
masyarakat di serahkan ke kepolisian negara, sangat berbeda dengan zaman orde
baru dulu yang ada dwi fungsi ABRI sebagai kekuatan politik dan sosial “, kata
pak widodo selanjutnya.
“
Tapi polisi kita tidak professional karena terlalu takut pada slogan Hak Azasi
Manusia yang di gembar-gemborkan negara-negara barat, sehingga tugasnya merazia
dan menertibkan tempat-tempat maksiat yang jelas-jelas melanggar hukum negara
dan agama di serahkan pada organisasi massa yang memakai simbol-simbol Islam “,
kata pak Widodo lagi.
“
Bapak benar, itulah yang ingin saya sampaikan “, kata Rustam.
“
Masalah utamanya adalah tidak ada pembelaan dari pimpinan kepolisian bila
anggotanya bertindak tegas, karena karier pimpinan dan anggotanya akan mati
bila melanggar Hak Azasi Manusia “, kata Rustam selanjutnya.
“
Makanya lebih gampang bila aparat kepolisian cuci tangan dengan menyerahkan
tugasnya ke organisasi massa untuk melawan rakyat yang melawan hukum dan bila
berbenturan dengan Hak Azasi Manusia yang membahayakan kariernya dengan gampang
dia bilang itu bukan kami yang buat tapi mereka-mereka yang pakai identitas
Islam, begitu kan pak ? “, tanya Rustam
lagi.
“
Akibatnya Islam yang di benci rakyat lainnya yang tidak tahu tentang kebaikan
ajaran Islam, itu pernah gue alami sebelum gue kenal pak Darwis “, kata Jali.
“
Apalagi bagi mereka yang dari dulu benci pada Islam “, kata Rustam kemudian.
“
Rustam, Jali dan Bahar…, masalah bagi bangsa ini adalah karena aparat-aparat
kita sudah tidak peduli pada janjinya sendiri sebagai abdi negara, mereka lebih
mementingkan karier juga ideologi partai politik mereka dari pada negeri ini,
mereka kehilangan cinta dan bangga pada negerinya, itu masalahnya “, kata Mayor
Jendral Purnawirawan Widodo karena dia sudah tahu permasalahan bangsa ini dari
hasil pengamatannya sendiri sejak di mulainya reformasi tahun 1998.
“
Mengapa bisa begitu pak ? “, tanya Rustam ke pak Widodo.
“
Negeri ini terlalu banyak politikus tapi tidak punya negarawan, apa kalian percaya
bahwa para politikus di senayan itu cinta pada bangsa dan negara Indonesia ini
? “ tanya pak Widodo ke pada tiga orang laki-laki ini.
“
Tidak pak “, jawab Bahar.
“
Gue juga nggak percaya, orang kenyataan banyak orang politik yang korupsi yang
mungkin untuk kepentingan partainya, kita lihat aja hasil KPK nanti untuk
membuktikannya, kalau dia cinta pada bangsa dan negara juga rakyat yang di
wakilinya, nggak mungkin dong mereka mau korupsi “, kata Jali lagi yang tahu
banyak karena hobinya nonton berita di TV.
“
Kalau pendapat saya mungkin mereka cinta pak, tapi menurut pemikiran partainya
“, kata Rustam.
“
Ya…mungkin mereka cinta pada Indonesia tapi menurut pemikiran partainya “, kata
pak Widodo selanjutnya.
“
Makanya pak, multi partai seperti yang sekarang terjadi di Indonesia ini nggak
bagus karena terlalu banyak pemikiran tentang bangsa yang kadang kala
berbenturan, lagi pula tidak semua partai di Indonesia ini cinta pada ideologi
negara bahkan ada yang cita-citanya ingin merubah dasar negara “, kata Rustam
kemudian.
“
Kamu satu pemikiran dengan saya Rustam, sama dengan satu orang supervisor
mencari satu tempat tinggal bagi lima puluh orang pekerjanya, mustahil
supervisor tersebut bisa menyenangkan semua pekerjanya karena para pekerja
tersebut mempunyai kesukaan yang berbeda-beda, ada yang suka tempat tinggalnya
dekat rumah ibadah, ada yang suka tempat tinggalnya dekat dengan hiburan malam,
ada yang suka suasana pedesaan, ada yang suka suasana perkotaan dan lain
sebagainya, kalau supervisor tersebut ingin menyenangkan semua pekerjanya maka
mustahil tempat tinggal ke lima puluh orang tersebut di dapatkan karena
keinginan dari lima puluh orang pasti berbeda-beda, makanya dia harus berani
memilih sesuai dengan jabatannya sebagai supervisor “, kata pak Widodo ber
analogi.
“
Tepat sekali, seorang pemimpin harus berani memilih dan dia tidak ragu pada
pilihannya, karena manusia di berikan oleh Allah SWT celupan atau ShigbhahNya
yang ada dalam gudang suara hati manusia yaitu di dirinya sendiri dan Allah SWT
membebaskan itu untuk memberikan kasih dan sayang, jadi tergantung kepada
manusia itu sendiri, sudut pandang mana yang terbaik menurutnya untuk
mewujudkan Rahman dan Rahim atau Kasih dan Sayang sesuai fungsi manusia di
ciptakan di muka bumi ini “, kata Rustam.
“
Tapi ingat, yang di berikan oleh Allah SWT akan kita pertanggung jawabkan di
hari nanti “, kata pak Widodo.
“
Ya pak, saya tahu itu “ kata Rustam kemudian.
“
Prinsip Bismillah, itulah yang penting di lakukan dengan petunjuk dari Allah
SWT melalui Alqur’an dan Hadist, dan untuk memahami Alqur’an dan Hadist manusia
harus mengunakan akal dan pikirannya juga dengan hati yang jernih.…manusia di
berikan celupan 99 Sifat Allah SWT yang ada dalam gudang hati manusia itu
sendiri yang ada dalam Asmaul Husna, makanya pilih yang terbaik untuk mencapai
Rahman dan Rahim “ kata Rustam selanjutnya.
“
Tapi ingat juga, jangan pernah manusia itu merasa dirinya paling benar, karena
kebenaran hanya milik Allah SWT, bukan pada manusia yang berhak mengambil
kesimpulan tentang pendapat dan pemikiran manusia lainnya, karena manusia
siapapun manusianya terbentuk dari cara
dia berpikir dalam memandang sebuah persoalan hidup, tapi manusia itu harus
tetap berpegang teguh pada Alqur’an dan Al-Hadist “, kata pak Widodo.
Jali
sangat tertarik dengan prinsip Bismillah seperti yang di katakan oleh Rustam
karena sebelumnya dia pernah di beri buku Asmaul Husna yang merupakan sumber
suara hati manusia oleh pak Darwis dan dia tahu bahwa sifat-sifat itu ada dalam
dirinya sendiri dan Jali ingin mempelajari Islam lebih dalam lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar