Minggu, 19 Januari 2014

36. KALIAN PERCAYA PARA POLITIKUS CINTA INDONESIA ?



            Sehari setelah terjadi perdebatan yang tajam antara Rustam dan Ustad Faisal yang membuat jema’ah pengajian menjadi dua kubu antara yang pro dengan Khilafah Islamiyah dan pro NKRI, Mayor Jendral Purnawirawan Widodo merasa perlu untuk berbicara langsung dengan Rustam maka dia mendatangi Jali yang saat itu sedang duduk di pos ronda dengan sahabat-sahabatnya tapi kali ini Jali dan sahabat-sahabatnya sudah tidak minum-minuman keras lagi karena mereka sudah tersentuh siraman rohani agama Islam.\

            “ Wah, tumben nih pak Widodo mau main kemari, kami semua merasa tersanjung “, kata Bahar.

“ Jendral juga manusia mas, nyantai aja “, kata pak Widodo sambil tersenyum.

            Saya mau bicara pada anak muda yang kemarin, kamu kenal dia ? “, tanya pak Widodo selanjutnya.

            “ Maksud bapak…Rustam ?, yang kemarin beradu argumentasi dengan Ustad Faisal ? “, kata Bahar balik bertanya.

              “ Iya “, kata pak Widodo.

            “ Dia kos di rumah saya pak “, kata Jali sopan karena dia bicara dengan orang yang sangat di hormati di kelurahan mereka.

              “ Bapak mau nggak mengantarkan saya ke tempat kosnya, saya merasa perlu untuk mendengarkan pemikiran anak muda itu “, kata sang Jendral Purnawirawan selanjutnya.

              “ Wah, dengan senang hati pak “, kata Jali dengan muka yang berseri-seri.

              “ Saya juga mau ikut pak “, kata Bahar selanjutnya.

              “ Baiklah, kalau begitu kita berangkat bertiga ke tempat kosnya “, usul pak Widodo.

Pak Widodo, Jali dan Bahar lantas bersama-sama pergi untuk menemui Rustam di tempat kosnya.

             Saat itu Rustam sedang mengetik di meja belajar dengan laptop di kamar kosnya yang tertata rapi ketika pintu di ketuk.

              “ Assalamualaikum “, kata Jali sambil mengetuk pintu kamar kos Rustam.

              “ Waalaikum Salam Warahmatullahiwabarakatuh “, jawab Rustam sambil melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.

              “ Ada apa bang Jali, eh…ada pak widodo, ada apa ya ? “, kata Rustam ketika menyadari ada orang penting yang datang ke kamar kosnya.

              “ Nggak, saya cuma main dan mau ngobrol sebentar dengan kamu “, kata pak Widodo sambil masuk ke kamar Rustam.

              “ Kita ngobrol di teras aja ya pak, kamarnya terlalu kecil untuk kita berempat “, kata Rustam selanjutnya nggak enak hati.

              “ Jal, ini kritik buat elu, besok lu harus besarin kamar Rustam “, kata Bahar ngeledek Jali.

              Jali jadi cengar-cengir karena ledekan Rustam yang buat pak widodo tersenyum dan membuat Rustam salah tingkah.

              “ Kecil juga kamarnya nyaman kok “, kata Rustam membesarkan hati Jali membuat Jali jadi bangga karena hal tersebut di omongkan di depan pak Widodo.

              Lalu mereka duduk di teras tempat kost Jali yang sangat asri dengan di hidangkan minuman dan kue oleh Juleha istri Jali, lalu Juleha masuk kembali ke rumah utamanya tanpa ikut nimbrung di pembicaraan empat laki-laki ini.

              “ Begini Rustam, saya ingin tahu pemikiran kamu tentang bangsa ini karena saya bangga pada keberanian kamu mengeluarkan pendapat kemarin”, kata pak Widodo sambil menyeruput minuman yang di hidangkan Juleha.

              “ Karena pemikiran seperti Ustad Faisal berkembang sekarang ini dan jujur itu jadi pemikiran saya ke depan terhadap ideologi bangsa “, kata pak Widodo selanjutnya untuk mengemukakan maksud kedatangannya.

              “ Ini semua adalah buah dari reformasi pak Widodo “, kata Rustam.

              “ Apa kamu benci pada kondisi bangsa ini sejak reformasi tahun 1998 ? “, tanya pak Widodo. 

              “ Tujuan reformasi itu baik, tapi sekarang sudah ke bablasan “, jawab Rustam.

              “ Kebablasan gimana sih maksud elu Tam ? “, tanya Jali yang juga ikut nimbrung karena dia juga ingin tahu isi kepala Rustam.

              “ Negara ini sudah tidak punya  identitas  Indonesia seperti yang di tunjukkan oleh bung Karno  dan ketegasan zaman pak Harto sejak zaman reformasi karena takut pada barat dengan slogan Pelanggaran Hak azasi manusia “, kata Rustam berapi-api.

              “ Lanjutkan nak !“, seru Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.

             " Padahal baratlah sebenarnya pelanggar HAM itu sendiri seperti di Iraq, Afganistan, Palestina,  Libya, Suriah  dan lain sebagainya sehingga identitas Islam yang di korbankan melalui orang-orang yang menganggap dirinya suci dan bersih atas nama Islam padahal mereka-mereka yang sok suci itu sangat benci pada barat dan sekutunya tapi mereka tidak sadar bahwa mereka hanya di jadikan sebagai kacung yang disuruh mencari kakus, dan salah satunya adalah pemikiran dari Ustad Faisal “, lanjut Rustam kemudian.

              “ Sebentar...! “, seru Jali yang mulai tertarik dengan kata-kata Rustam.

              “ Tadi elu bilang identitas Islam yang di korbankan melalui orang-orang yang menganggap dirinya suci dan bersih atas nama Islam, maksudnya apa ?”, tanya Jali kemudian.

              “ Bang Jali, karena ketakutan aparat di negeri ini sebagai pelanggar Hak Azasi Manusia maka aparat di negeri ini menjadi lebay dan banci maka tugasnya di serahkan kepada mereka-mereka yang suka memakai identitas Islam “, jawab Rustam.

              Bahar memperhatikan wajah pak Widodo yang mukanya merah karena menahan amarah karena di bilang aparat sekarang di bilang lebay dan banci oleh Rustam. 

              Jali juga melihat wajah pak Widodo yang merah padam sambil menarik nafas dalam-dalam, kemudian dia bertanya kembali ke Rustam.

              “ Lalu apa maksud elu bilang bahwa mereka tidak sadar kalau mereka hanya di jadikan sebagai kacung yang disuruh mencari kakus ?, bukankah maksud elu mereka di sini adalah mereka-mereka yang suka memakai identitas Islam dalam aksi mereka kan ? “, tanya Jali lagi.

              “ Iya, merekalah maksud saya bang Jali “, kata Rustam selanjutnya.

              “ Mereka di jadikan kacung atau tameng oleh aparat negara yang takut pada Hak Azasi manusia yang justru di gembar-gemborkan oleh barat, padahal mereka sendiri sangat benci pada barat “, kata Rustam.

              “ Lanjutkan lagi nak ! “, seru pak Widodo sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

          “ Ma’af pak Widodo, saya bicara karena saya cinta pada negeri ini, pada aturan main yang seharusnya di terapkan di negeri ini, pada aparat negara yang seharusnya punya kekuatan memaksa pada rakyatnya, bukan rakyat yang di adu dengan rakyat yang terjadi di zaman reformasi yang kebablasan ini “, kata Rustam selanjutnya.

              “ Saya mengerti maksud kamu nak “, kata Mayor Jendral Purnawirawan Widodo dan tanpa di sadarinya dia menangis mendengar pembicaraan Rustam.

              “ Sejak zaman reformasi, TNI di perintahkan untuk kembali ke barak sesuai fungsinya sebagai fungsi pertahanan negara dan fungsi ketertiban dan keamanan masyarakat di serahkan ke kepolisian negara, sangat berbeda dengan zaman orde baru dulu yang ada dwi fungsi ABRI sebagai kekuatan politik dan sosial “, kata pak widodo selanjutnya.

              “ Tapi polisi kita tidak professional karena terlalu takut pada slogan Hak Azasi Manusia yang di gembar-gemborkan negara-negara barat, sehingga tugasnya merazia dan menertibkan tempat-tempat maksiat yang jelas-jelas melanggar hukum negara dan agama di serahkan pada organisasi massa yang memakai simbol-simbol Islam “, kata pak Widodo lagi.

              “ Bapak benar, itulah yang ingin saya sampaikan “, kata Rustam.

             “ Masalah utamanya adalah tidak ada pembelaan dari pimpinan kepolisian bila anggotanya bertindak tegas, karena karier pimpinan dan anggotanya akan mati bila melanggar Hak Azasi Manusia “, kata Rustam selanjutnya.

              “ Makanya lebih gampang bila aparat kepolisian cuci tangan dengan menyerahkan tugasnya ke organisasi massa untuk melawan rakyat yang melawan hukum dan bila berbenturan dengan Hak Azasi Manusia yang membahayakan kariernya dengan gampang dia bilang itu bukan kami yang buat tapi mereka-mereka yang pakai identitas Islam, begitu kan pak ?  “, tanya Rustam lagi.

              “ Akibatnya Islam yang di benci rakyat lainnya yang tidak tahu tentang kebaikan ajaran Islam, itu pernah gue alami sebelum gue kenal pak Darwis “, kata Jali.

              “ Apalagi bagi mereka yang dari dulu benci pada Islam “, kata Rustam kemudian.

              “ Rustam, Jali dan Bahar…, masalah bagi bangsa ini adalah karena aparat-aparat kita sudah tidak peduli pada janjinya sendiri sebagai abdi negara, mereka lebih mementingkan karier juga ideologi partai politik mereka dari pada negeri ini, mereka kehilangan cinta dan bangga pada negerinya, itu masalahnya “, kata Mayor Jendral Purnawirawan Widodo karena dia sudah tahu permasalahan bangsa ini dari hasil pengamatannya sendiri sejak di mulainya reformasi tahun 1998.

              “ Mengapa bisa begitu pak ? “, tanya Rustam ke pak Widodo.

             “ Negeri ini terlalu banyak politikus tapi tidak punya negarawan, apa kalian percaya bahwa para politikus di senayan itu cinta pada bangsa dan negara Indonesia ini ? “ tanya pak Widodo ke pada tiga orang laki-laki ini.

              “ Tidak pak “, jawab Bahar.

              “ Gue juga nggak percaya, orang kenyataan banyak orang politik yang korupsi yang mungkin untuk kepentingan partainya, kita lihat aja hasil KPK nanti untuk membuktikannya, kalau dia cinta pada bangsa dan negara juga rakyat yang di wakilinya, nggak mungkin dong mereka mau korupsi “, kata Jali lagi yang tahu banyak karena hobinya nonton berita di TV.

              “ Kalau pendapat saya mungkin mereka cinta pak, tapi menurut pemikiran partainya “, kata Rustam.

              “ Ya…mungkin mereka cinta pada Indonesia tapi menurut pemikiran partainya “, kata pak Widodo selanjutnya.

              “ Makanya pak, multi partai seperti yang sekarang terjadi di Indonesia ini nggak bagus karena terlalu banyak pemikiran tentang bangsa yang kadang kala berbenturan, lagi pula tidak semua partai di Indonesia ini cinta pada ideologi negara bahkan ada yang cita-citanya ingin merubah dasar negara “, kata Rustam kemudian.

              “ Kamu satu pemikiran dengan saya Rustam, sama dengan satu orang supervisor mencari satu tempat tinggal bagi lima puluh orang pekerjanya, mustahil supervisor tersebut bisa menyenangkan semua pekerjanya karena para pekerja tersebut mempunyai kesukaan yang berbeda-beda, ada yang suka tempat tinggalnya dekat rumah ibadah, ada yang suka tempat tinggalnya dekat dengan hiburan malam, ada yang suka suasana pedesaan, ada yang suka suasana perkotaan dan lain sebagainya, kalau supervisor tersebut ingin menyenangkan semua pekerjanya maka mustahil tempat tinggal ke lima puluh orang tersebut di dapatkan karena keinginan dari lima puluh orang pasti berbeda-beda, makanya dia harus berani memilih sesuai dengan jabatannya sebagai supervisor “, kata pak Widodo ber analogi.

              “ Tepat sekali, seorang pemimpin harus berani memilih dan dia tidak ragu pada pilihannya, karena manusia di berikan oleh Allah SWT celupan atau ShigbhahNya yang ada dalam gudang suara hati manusia yaitu di dirinya sendiri dan Allah SWT membebaskan itu untuk memberikan kasih dan sayang, jadi tergantung kepada manusia itu sendiri, sudut pandang mana yang terbaik menurutnya untuk mewujudkan Rahman dan Rahim atau Kasih dan Sayang sesuai fungsi manusia di ciptakan di muka bumi ini “, kata Rustam.

              “ Tapi ingat, yang di berikan oleh Allah SWT akan kita pertanggung jawabkan di hari nanti “, kata pak Widodo.

              “ Ya pak, saya tahu itu “ kata Rustam kemudian. 

              “ Prinsip Bismillah, itulah yang penting di lakukan dengan petunjuk dari Allah SWT melalui Alqur’an dan Hadist, dan untuk memahami Alqur’an dan Hadist manusia harus mengunakan akal dan pikirannya juga dengan hati yang jernih.…manusia di berikan celupan 99 Sifat Allah SWT yang ada dalam gudang hati manusia itu sendiri yang ada dalam Asmaul Husna, makanya pilih yang terbaik untuk mencapai Rahman dan Rahim “ kata Rustam selanjutnya.

              “ Tapi ingat juga, jangan pernah manusia itu merasa dirinya paling benar, karena kebenaran hanya milik Allah SWT, bukan pada manusia yang berhak mengambil kesimpulan tentang pendapat dan pemikiran manusia lainnya, karena manusia siapapun manusianya terbentuk dari cara dia berpikir dalam memandang sebuah persoalan hidup, tapi manusia itu harus tetap berpegang teguh pada Alqur’an dan Al-Hadist “, kata pak Widodo.

              Jali sangat tertarik dengan prinsip Bismillah seperti yang di katakan oleh Rustam karena sebelumnya dia pernah di beri buku Asmaul Husna yang merupakan sumber suara hati manusia oleh pak Darwis dan dia tahu bahwa sifat-sifat itu ada dalam dirinya sendiri dan Jali ingin mempelajari Islam lebih dalam lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar