Minggu, 19 Januari 2014

39. DULU KAWAN SEKARANG LAWAN.



           Bila mata hati manusia di butakan oleh materi, dia tidak akan pernah peduli pada saudara, anak, sahabat, masyarakat atau orang-orang lain di sekitarnya. Tidak sedikit orang yang karena materi dia tega menipu, membunuh manusia lainnya bahkan terhadap orang yang pernah di cinta. Gara-gara materi seperti uang dan harta warisan, menantu membunuh mertuanya, anak kandung membunuh orang tuanya padahal orang-orang yang di bunuh sangat cinta padanya.

              Terkadang gara-gara materi yang dulunya sahabat karib sekarang menjadi musuh, begitulah yang terjadi pada tokoh kita kali ini, Badrun dan Ahmad.

              Badrun tidak perduli pada janjinya dengan pak Widodo untuk memberikan yang terbaik bagi peserta lomba band Indie seperti alat musik dan sound system seperti yang telah di sepakati sebelumnya.

              “ Mad, sewa alat musik dan sound sistemnya yang biasa-biasa saja biar kita memperoleh banyak keuntungan, bila perlu kita cari yang termurah “, kata badrun saat itu ke Ahmad.

              “ Tapi kita kan sudah janji untuk memberikan yang terbaik bagi para peserta lomba untuk menjaga citra pak Widodo Drun “, jawab Ahmad.

              “ Alah…, ngapain elu pikirin itu, yang penting kita dapat banyak keuntungan “, kata Badrun pula.
              “ Kalau pak Widodo tahu bagaimana ? “, tanya Ahmad lagi.

              “ Nggak mungkin dia tahu, kalaupun dia tahu dia mau bilang apa ?, pesertanya hanya band Indie, bukan band professional “, kata Badrun membela pemikirannya.

              “ Iya juga ya “, kata Ahmad yang akhirnya menyetujui ide Badrun.

              Merekapun menyewa alat musik dan sound system ala kadarnya untuk lomba padahal pak Widodo mengeluarkan banyak uang untuk acara ini karena memang dia cinta pada dunia kesenian.

              Lalu lomba pun terlaksana di sebuah tempat yang mewah karena di biayai pak Widodo dan peserta di wajibkan membayar dua ratus ribu rupiah kepada panitia yaitu Ahmad dan Badrun.

              Seperti lomba baca puisi kemarin, lomba kali ini juga di hadiri oleh pak Widodo, Ketua Partai pak Widodo, Pak Walikota, Kapolda, Pangdam, Camat , Lurah, juga banyak orang-orang penting lain di daerah pemilihan Mayor Jendral Purnawirawan Widodo tapi pesertanya kali ini bukanlah anak-anak sekolah atau mahasiswa tapi orang-orang indie, orang-orang yang bebas berekspresi.

              Setelah acara sambutan dan basa-basi lainnya maka acarapun di mulai tapi alangkah kecewanya pak Widodo melihat fasilitas yang di sediakan oleh panitia dan seperti biasa orang-orang Indie adalah orang-orang yang berani bicara bila mereka tidak suka lalu mereka protes dengan suara yang lantang.

              “ Hancur lagu gue kalau alat musik dan sound systemnya seperti ini, gue bayar dua ratus ribu perak untuk ikut lomba biar orang bisa tau ekspresi gue tapi gue di perlakukan seperti kambing “, kata salah seorang dari anggota peserta.

              “ Tempatnya aja yang bagus, alat musik dan sound systemnya kayak nggak punya modal “, sambut peserta lainnya.

               “ Belum jadi anggota dewan pak Jendral udah korupsi apalagi bila dia udah jadi “, lanjut  seorang anggota peserta lainnya juga.

              Pak Widodo tidak marah oleh protes para peserta ini karena dia tahu orang-orang Indie adalah orang-orang yang bicara sesuai dengan hati nuraninya dan tidak suka berbasa-basi dan bermanis-manis muka seperti para penjilat yang suka cari muka dan dia tahu kalau orang indie yang mengatakan dia korupsi karena orang  itu tidak tahu permasalahan sebenarnya.

              Ahmad dan Badrun menjadi cecaran bagi anggota peserta yang membuat pak Widodo menjadi malu di hadapan orang-orang terhormat yang ikut menyaksikan lomba band indie tersebut.

              Ketika acara telah selesai, pak Widodo memanggil Ahmad dan Badrun.

              “ Kalian telah buat malu saya “, kata pak Widodo.

               “ Ma’af kan kami pak “, kata Badrun selanjutnya.

              “ Tidak perlu kata ma’af karena kata ma’af hanya ada di bibir saja bagi kalian berdua, dan perlu juga kalian tahu tidak masalah bagi saya untuk di pilih sebagai anggota Dewan atau tidak tapi sekarang harga diri saya telah kalian permalukan di muka orang banyak “, Mayor Jendral Purnawirawan Widodo marah besar kepada dua orang seniman di hadapannya.

              Ahmad dan Badrun mukanya tertunduk karena merasa bersalah.

              “ Sekarang kalian harus ganti kerugian saya kalau tidak kalian akan saya tuntut ke pengadilan “, lanjut pak Widodo pula.

              “ Tapi pak…” kata Ahmad.

              “ Tidak ada tapi – tapian, kalian telah mencoreng nama baik saya “, kata pak Widodo selanjutnya sambil pergi meninggalkan ke dua orang seniman ini.

              “ Waduh Mad, bagaimana ini, nggak mungkin kita bisa menganti uang yang di keluarkan pak Widodo untuk acara ini “, kata Badrun kemudian ketika pak Widodo sudah tidak ada di tempat itu lagi dengan perasaan cemas.

              “ Kalau kita nggak mampu bayar, penjara Mad…, gue nggak bisa bayangin kalau gue harus di penjara “, kata Badrun kemudian.

              “ Elu sih, kan udah gue bilang supaya kita konsekwen dengan janji kita sama pak Widodo, elu kenapa bilang dia nggak mungkin tahu ? “, tanya Ahmad menyalahkan Badrun.

              “ Tapi kenapa elu juga setuju dengan rencana gue “ kata Badrun.

              “ Apa elu bilang, sekarang elu nyalahin gue “, Ahmad bicaranya meninggi kali ini.

              Ahmad lalu melayangkan tinjunya ke muka Badrun dan Badrun melawannya,  dua orang sahabat ini berkelahi jadinya.

              Yang dahulu sahabat kental sekarang jadi musuh, yang dulu kawan sekarang jadi lawan itulah bila persahabatan di dasari oleh semangat kepentingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar