Bila mata hati manusia di butakan oleh materi,
dia tidak akan pernah peduli pada saudara, anak, sahabat, masyarakat atau
orang-orang lain di sekitarnya. Tidak sedikit orang yang karena materi dia tega
menipu, membunuh manusia lainnya bahkan terhadap orang yang pernah di cinta.
Gara-gara materi seperti uang dan harta warisan, menantu membunuh mertuanya,
anak kandung membunuh orang tuanya padahal orang-orang yang di bunuh sangat
cinta padanya.
Terkadang
gara-gara materi yang dulunya sahabat karib sekarang menjadi musuh, begitulah
yang terjadi pada tokoh kita kali ini, Badrun dan Ahmad.
Badrun
tidak perduli pada janjinya dengan pak Widodo untuk memberikan yang terbaik
bagi peserta lomba band Indie seperti alat musik dan sound system seperti yang
telah di sepakati sebelumnya.
“
Mad, sewa alat musik dan sound sistemnya yang biasa-biasa saja biar kita
memperoleh banyak keuntungan, bila perlu kita cari yang termurah “, kata badrun
saat itu ke Ahmad.
“
Tapi kita kan sudah janji untuk memberikan yang terbaik bagi para peserta lomba
untuk menjaga citra pak Widodo Drun “, jawab Ahmad.
“
Alah…, ngapain elu pikirin itu, yang penting kita dapat banyak keuntungan “,
kata Badrun pula.
“
Kalau pak Widodo tahu bagaimana ? “, tanya Ahmad lagi.
“
Nggak mungkin dia tahu, kalaupun dia tahu dia mau bilang apa ?, pesertanya
hanya band Indie, bukan band professional “, kata Badrun membela pemikirannya.
“
Iya juga ya “, kata Ahmad yang akhirnya menyetujui ide Badrun.
Merekapun
menyewa alat musik dan sound system ala kadarnya untuk lomba padahal pak Widodo
mengeluarkan banyak uang untuk acara ini karena memang dia cinta pada dunia
kesenian.
Lalu
lomba pun terlaksana di sebuah tempat yang mewah karena di biayai pak Widodo
dan peserta di wajibkan membayar dua ratus ribu rupiah kepada panitia yaitu
Ahmad dan Badrun.
Seperti
lomba baca puisi kemarin, lomba kali ini juga di hadiri oleh pak Widodo, Ketua
Partai pak Widodo, Pak Walikota, Kapolda, Pangdam, Camat , Lurah, juga banyak
orang-orang penting lain di daerah pemilihan Mayor Jendral Purnawirawan Widodo
tapi pesertanya kali ini bukanlah anak-anak sekolah atau mahasiswa tapi
orang-orang indie, orang-orang yang bebas berekspresi.
Setelah
acara sambutan dan basa-basi lainnya maka acarapun di mulai tapi alangkah
kecewanya pak Widodo melihat fasilitas yang di sediakan oleh panitia dan
seperti biasa orang-orang Indie adalah orang-orang yang berani bicara bila
mereka tidak suka lalu mereka protes dengan suara yang lantang.
“
Hancur lagu gue kalau alat musik dan sound systemnya seperti ini, gue bayar dua
ratus ribu perak untuk ikut lomba biar orang bisa tau ekspresi gue tapi gue di
perlakukan seperti kambing “, kata salah seorang dari anggota peserta.
“
Tempatnya aja yang bagus, alat musik dan sound systemnya kayak nggak punya
modal “, sambut peserta lainnya.
“ Belum jadi anggota dewan pak Jendral udah
korupsi apalagi bila dia udah jadi “, lanjut
seorang anggota peserta lainnya juga.
Pak
Widodo tidak marah oleh protes para peserta ini karena dia tahu orang-orang
Indie adalah orang-orang yang bicara sesuai dengan hati nuraninya dan tidak
suka berbasa-basi dan bermanis-manis muka seperti para penjilat yang suka cari
muka dan dia tahu kalau orang indie yang mengatakan dia korupsi karena orang itu tidak tahu permasalahan sebenarnya.
Ahmad
dan Badrun menjadi cecaran bagi anggota peserta yang membuat pak Widodo menjadi
malu di hadapan orang-orang terhormat yang ikut menyaksikan lomba band indie
tersebut.
Ketika
acara telah selesai, pak Widodo memanggil Ahmad dan Badrun.
“
Kalian telah buat malu saya “, kata pak Widodo.
“
Ma’af kan kami pak “, kata Badrun selanjutnya.
“
Tidak perlu kata ma’af karena kata ma’af hanya ada di bibir saja bagi kalian
berdua, dan perlu juga kalian tahu tidak masalah bagi saya untuk di pilih
sebagai anggota Dewan atau tidak tapi sekarang harga diri saya telah kalian
permalukan di muka orang banyak “, Mayor Jendral Purnawirawan Widodo marah
besar kepada dua orang seniman di hadapannya.
Ahmad
dan Badrun mukanya tertunduk karena merasa bersalah.
“
Sekarang kalian harus ganti kerugian saya kalau tidak kalian akan saya tuntut
ke pengadilan “, lanjut pak Widodo pula.
“
Tapi pak…” kata Ahmad.
“
Tidak ada tapi – tapian, kalian telah mencoreng nama baik saya “, kata pak
Widodo selanjutnya sambil pergi meninggalkan ke dua orang seniman ini.
“
Waduh Mad, bagaimana ini, nggak mungkin kita bisa menganti uang yang di
keluarkan pak Widodo untuk acara ini “, kata Badrun kemudian ketika pak Widodo
sudah tidak ada di tempat itu lagi dengan perasaan cemas.
“
Kalau kita nggak mampu bayar, penjara Mad…, gue nggak bisa bayangin kalau gue
harus di penjara “, kata Badrun kemudian.
“
Elu sih, kan udah gue bilang supaya kita konsekwen dengan janji kita sama pak
Widodo, elu kenapa bilang dia nggak mungkin tahu ? “, tanya Ahmad menyalahkan
Badrun.
“
Tapi kenapa elu juga setuju dengan rencana gue “ kata Badrun.
“
Apa elu bilang, sekarang elu nyalahin gue “, Ahmad bicaranya meninggi kali ini.
Ahmad
lalu melayangkan tinjunya ke muka Badrun dan Badrun melawannya, dua orang sahabat ini berkelahi jadinya.
Yang
dahulu sahabat kental sekarang jadi musuh, yang dulu kawan sekarang jadi lawan
itulah bila persahabatan di dasari oleh semangat kepentingan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar