Minggu, 19 Januari 2014

18. MESRA SELALU.



Kita kembali ke tokoh utama kita, Jali yang sebelumnya telah menjadi Jali yang Subhanallah, membuat istri dan kawan-kawannya binggung dari Jali yang super jorok menjadi Jali yang super bersih dan rapi.

Masih seperti biasa Jali suka berkumpul dengan kawan - kawannya di pos ronda dan sekarang dia selalu berpakaian rapi dan wangi, dia tetap saja minum minuman beralkohol tapi gelasnya harus di cuci dulu maka nya dia selalu bawa ceret yang berisi air putih, dan setiap mau meneguk minuman ber alkohol, gelasnya pasti dia cuci dulu dengan air putih dari ceretnya dengan alasan agar jadi gelas yang Subhanallah  dan kawannya sudah maklum akan hal ini karena jika tidak di cuci Jali tidak akan mau minum minuman beralkohol tersebut.

Asal muasal Jali selalu membawa ceret setiap berkumpul dengan kawan - kawannya adalah ketika dia tersinggung dan marah besar dengan kawannya yang bernama Baim ketika saat itu dia mau minum minuman beralkohol tapi ceret yang berisi air putih tempat dia biasa mencuci yang di sediakan kawan-kawannya habis karena setiap kali dia minum maka gelasnya harus dia cuci dan lama-lama air di ceret yang di sediakan habis.

“ Pokoknya gue mau air putih di dalam ceret untuk mencuci gelas ini biar jadi Subhanallah “, kata Jali kepada kawan-kawannya sambil mengangkat gelas yang biasa jadi simbol persahabatan di antara mereka karena dia ingin minum minuman ber alkohol lagi. 

“ Tapi airnya habis Jal, kan setiap giliran elu minum elu selalu cuci gelasnya makanya airnya habis, atau elu jijik melihat gelas ini bekas kita-kita “, kata Baim yang keliatan sebel karena air putih yang di sediakan habis hanya untuk mencuci gelas ketika Jali mau meminum minuman beralkohol.

“ Enak aja elu ngomong, kalau gue jijik gue nggak mau main di mari tapi ini adalah pilihan hidup gue untuk selalu menjadi Jali yang Subhanallah, tanpa meninggalkan elu-elu pade “, katanya marah besar kepada kawan yang mengatakan dia jijik kepada bekas mulut kawan - kawannya.

“ Udah deh, kita ini kan bersahabat sejak kecil seharusnya setiap ada masalah kita cari penyelesaian “, kata Bahar bijaksana.

“ Oke, mulai saat ini setiap gue di mari gue akan selalu bawa ceret sendiri yang berisi air putih biar gue tetap menjadi Jali yang Subhanallah karena itu adalah pilihan hidup gue tanpa meninggalkan elu-elu pade “, kata Jali kemudian untuk mengakhiri polemik antara dia dengan kawan-kawannya.

“ Ya, gue rasa itu yang terbaik “, kata Bahar pula. 

“ Sebagai temen yang bersahabat sejak kecil kita harus menghargai pilihan hidup temen kita “, kata Bahar lagi karena memang dia punya jiwa pemimpin di antara kawan-kawannya.

 “ Setuju… ? “, tanya Bahar lagi ke semua kawannya. 

“ Setuju…, kata kawan-kawannya serentak.

 Jali dan Baim kemudian saling berpelukan untuk ma’af – mema’afkan.

Terdengar lagu “ KEMESRAAN “ dari almarhum Franky Sahilatua dan Iwan Fals seolah-olah jiwa di antara para sahabat-sahabat ini akan mesra selama-lamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar