Kita kembali ke tokoh utama kita, Jali yang
sebelumnya telah menjadi Jali yang Subhanallah, membuat istri dan
kawan-kawannya binggung dari Jali yang super jorok menjadi Jali yang super
bersih dan rapi.
Masih seperti biasa Jali suka berkumpul dengan
kawan - kawannya di pos ronda dan sekarang dia selalu berpakaian rapi dan
wangi, dia tetap saja minum minuman beralkohol tapi gelasnya harus di cuci dulu
maka nya dia selalu bawa ceret yang berisi air putih, dan setiap mau meneguk
minuman ber alkohol, gelasnya pasti dia cuci dulu dengan air putih dari
ceretnya dengan alasan agar jadi gelas yang Subhanallah dan kawannya sudah maklum akan hal ini karena
jika tidak di cuci Jali tidak akan mau minum minuman beralkohol tersebut.
Asal muasal Jali selalu membawa ceret setiap
berkumpul dengan kawan - kawannya adalah ketika dia tersinggung dan marah besar
dengan kawannya yang bernama Baim ketika saat itu dia mau minum minuman
beralkohol tapi ceret yang berisi air putih tempat dia biasa mencuci yang di
sediakan kawan-kawannya habis karena setiap kali dia minum maka gelasnya harus
dia cuci dan lama-lama air di ceret yang di sediakan habis.
“ Pokoknya gue mau air putih di dalam ceret
untuk mencuci gelas ini biar jadi Subhanallah “, kata Jali kepada
kawan-kawannya sambil mengangkat gelas yang biasa jadi simbol persahabatan di
antara mereka karena dia ingin minum minuman ber alkohol lagi.
“ Tapi airnya habis Jal, kan setiap giliran elu
minum elu selalu cuci gelasnya makanya airnya habis, atau elu jijik melihat
gelas ini bekas kita-kita “, kata Baim yang keliatan sebel karena air putih
yang di sediakan habis hanya untuk mencuci gelas ketika Jali mau meminum
minuman beralkohol.
“ Enak aja elu ngomong, kalau gue jijik gue
nggak mau main di mari tapi ini adalah pilihan hidup gue untuk selalu menjadi
Jali yang Subhanallah, tanpa meninggalkan elu-elu pade “, katanya marah besar
kepada kawan yang mengatakan dia jijik kepada bekas mulut kawan - kawannya.
“ Udah deh, kita ini kan bersahabat sejak kecil
seharusnya setiap ada masalah kita cari penyelesaian “, kata Bahar bijaksana.
“ Oke, mulai saat ini setiap gue di mari gue
akan selalu bawa ceret sendiri yang berisi air putih biar gue tetap menjadi
Jali yang Subhanallah karena itu adalah pilihan hidup gue tanpa meninggalkan
elu-elu pade “, kata Jali kemudian untuk mengakhiri polemik antara dia dengan
kawan-kawannya.
“ Ya, gue rasa itu yang terbaik “, kata Bahar
pula.
“ Sebagai temen yang bersahabat sejak kecil
kita harus menghargai pilihan hidup temen kita “, kata Bahar lagi karena memang
dia punya jiwa pemimpin di antara kawan-kawannya.
“
Setuju… ? “, tanya Bahar lagi ke semua kawannya.
“ Setuju…, kata kawan-kawannya serentak.
Jali dan
Baim kemudian saling berpelukan untuk ma’af – mema’afkan.
Terdengar lagu “ KEMESRAAN “ dari almarhum
Franky Sahilatua dan Iwan Fals seolah-olah jiwa di antara para sahabat-sahabat
ini akan mesra selama-lamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar