Kawan – kawan kita adalah bagian dari hidup
kita, terkadang kita suka pada sifat kawan - kawan kita tapi terkadang kita
juga nggak suka. Itulah romantika hidup, nggak ada kawan kita yang putih semua,
yang hitam semua, biru semua, merah semua, kuning semua, justru karena
banyaknya warna yang berbeda hidup ini terasa lebih bermakna.
Jadi kita harus memahami dan mengerti karena
manusia itu terbentuk dari caranya dia berpikir.
Ada orang yang berpikirnya duit melulu, ada
yang berpikirnya cewek melulu atau cowok melulu, ada yang cari muka sama atasan
sehingga kesannya atasannya itu adalah Tuhan, ada yang merasa dirinya paling
benar dan paling Islam walaupun hanya bermodalkan sholat tapi sering
menjatuhkan kawan…, kita mengerti ajalah sambil berusaha menghindari masalah
tapi tetap menjadi diri kita sendiri, kita harus berusaha jujur pada diri kita
sendiri karena dunia ini belum bulat dalam arti tidak semua manusia itu sesuai
dengan apa yang kita harapkan dan kita inginkan. Ingat saja hal yang pasti di
dunia ini yaitu manusia hidup pasti punya keinginan, dan hidup ini pasti punya
kenyataan jadi tergantung kepada kita untuk menyikapinya.
Seperti Jali contohnya di hari ini, kawannya
marah padanya karena dia tidak mau minum-minuman beralkohol lagi yang merupakan
simbol persahabatan di antara kawan-kawannya di pos ronda.
“ Elu tuh sejak kenal sama orang pinter yang
suka sholat tuh jadi aneh Jal, kemarin elu kesannya jijik liat gelas kita-kita
ini “ kata Baim sambil mengangkat gelas yang merupakan simbol persahatan mereka
“
Sehingga setiap elu mau minum gelasnya harus di cuci, sekarang elu udah nggak
mau minum sama sekali, mungkin elu udah merasa suci kayak Ustad Faisal kali ya
“, Baim ngomel kepada Jali.
“ Ya nggak kayak gitu dong Im…, gue cuma mau
jadi Jali yang Alhamdullilah doang kok, gue tuh sayang sama elu-elu pade”, Jali
membela diri dari tuduhan Baim dan bahasanya pelan sekali.
“ Sayang apanya ?, gue yakin kalau elu ketemu
lagi sama guru elu yang lu bilang orang pinter itu elu akan ninggalin kita –
kita “, Baim bicara berapi-api dan sedikit emosi karena Jali sahabat karibnya
dari semasa kecil sudah sangat berubah karena orang baru yang di kenalnya.
“ Gue nggak akan ninggalin elu semua “, kata
Jali dan matanya berkaca-kaca karena tidak sedikitpun niatnya untuk
meninggalkan sahabat – sahabatnya ini.
“ Sudahlah, sudah…, biarkan Jali menjadi
dirinya sendiri “ kata Bahar yang tidak tega melihat mata Jali berkaca-kaca.
“ Elu nggak akan ninggalin kita-kita kan Jal ?
“, tanya Bahar kemudian.
“ Nggak “ jawab Jali mantap lalu dia bilang
dengan sangat meyakinkan seolah-olah jiwanyalah yang bicara
“
Elu-elu itu adalah bagian hidup gue, darah gue, daging gue, sebahagian nyawa
gue ada sama elu-elu semua “, katanya dengan air mata yang berlinang.
“ Ya udah, gue percaya sama elu “, kata Bahar
sambil memeluk Jali.
Tapi tidak bagi Baim karena menurutnya Jali
bukan anggota di kelompoknya lagi karena sudah tidak perduli lagi pada simbol
persahabatan mereka yaitu minum-minuman beralkohol dalam gelas yang sama
walaupun Jali masih berkumpul di kelompok mereka.
Itulah kenyataan di zaman sekarang di mana
seorang lebih melihat simbol daripada jiwa dan cinta yang ada dalam hati kecil
manusia, dalam hati sanubari manusia.
Mungkin humor dari Gusdur ini bisa mewakili
perasaan hati dan pikiran Jali saat ini mengenai cara berpikir dari Baim dan
sahabat – sahabatnya nya yang salah pengertian.
Saat itu rombongan Jama’ah haji asal Indonesia
baru sampai di Bandara King Abdul Aziz, Jedah Arab Saudi.
Langsung saja kuli-kuli panggul dari Yaman
berebutan untuk mengangkut barang-barang yang di bawa oleh jama’ah haji
Indonesia. Akibatnya dua orang kuli tersebut terlibat percekcokan serius dalam
bahasa arab.
Melihat hal itu lalu rombongan jama’ah haji
asal Indonesia berkumpul lalu bilang amin…amin…amin di setiap kata-kata yang
keluar dari kuli tersebut.
Gus dur yang sedang berada di Bandara itu
bertanya kepada para Jama’ah haji asal Indonesia kenapa mereka selalu
mengatakan amin, amin dan amin di setiap kata-kata yang keluar dari kuli
panggul tersebut. Jama’ah haji asal Indonesia bilang bahwa dua orang itu pasti
kiai karena pakai sorban dan jubah serta sangat fasih berbahasa arab.
Gusdur
tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban dari para jama’ah haji asal
Indonesia itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar