Manusia adalah mahluk sosial begitu kata ahli
sosiologi karena memang dasarnya manusia itu senang berkumpul apalagi dengan
orang yang se ide dan sepemahaman.
Begitulah yang terjadi dengan Jali dan
kawan-kawannya yang biasa berkumpul di pos ronda di Kelurahan mereka, main
gitar, bernyanyi, joget di pinggir jalan dan minum minuman beralkohol walaupun
bukan untuk mabuk tapi hanya untuk menghangatkan tubuh, itulah bahasa pergaulan
mereka dengan minum beralkohol bersama sambil ngobrol ngalor ngidul entah
kemana.
Dalam berkumpul biasanya ada pemimpin atau
orang yang di dengar suaranya, untuk di kelompok ini Baharlah yang mereka
anggap sebagai pemimpin bukan karena dia jago berkelahi atau apa tapi karena
dialah yang punya jiwa pemimpin di
kelompok ini apalagi dia adalah satu-satunya sarjana yang terpaksa nganggur
karena kalah dalam persaingan untuk mendapatkan pekerjaan.
Wardillah juga salah satu anggota di kelompok
ini, dia orang Indramayu yang tinggal di Jakarta, badannya tinggi besar dan kekar dan
kerjaannya jadi kuli bangunan itupun kalau ada proyek kalau tidak ya nganggur.
Itulah nasib Wardillah yang hanya tamatan SMP,
jangankan hanya tamatan SMP yang sarjana saja banyak yang jadi
pengangguran di negeri ini. Tugas Wardillah di kelompok ini adalah jadi tukang
pukul bagi musuh – musuh mereka dan merangkap sebagai tukang bagi – bagi
minuman beralkohol ke gelas mereka yang hanya satu dan mereka jadikan wadah
sebagai simbol persahabatan di kelompok mereka.
Baim, juga anggota di kelompok ini, orangnya
jarang bicara tapi sekali bicara pedes. Dia sangat fanatik pada simbol-simbol
persahabatan di kelompok ini. Dalam satu hal dia masih bisa menerima saran atau
pendapat sahabatnya tapi kalau sudah bicara masalah simbol-simbol persahabatan
mereka dia akan lawan dan keras pada prinsip yang di pegangnya.
Sementara Jali tugasnya adalah sebagai
penghibur karena dia mempunyai selera humor yang tinggi atau ngocol dalam
istilah betawi selain itu dia juga sebagai pemain gitar tetap, karena di
kelompok ini dialah yang paling mahir memainkan alat musik ini. Seperti hari
inilah contohnya, Jali yang memainkan
gitar saat kawan-kawannya berjoget menyanyikan lagu SUKA-SUKA dari Jamal Mirdad
yang di populerkan kembali oleh Maya mantan istri Ahmad Dhani pentolan band
Dewa, mungkin lagu SUKA-SUKA ini mewakili suasana hati mereka saat ini.
“ Suka-suka…joget di
pinggir Jalan, suka – suka…goyang di pinggir jalan..bernyanyi walau bukan
dangdut asli yang penting goyangnya asyik….asyik…, bergoyang walau bukan
dangdut asli yang penting kita bisa heppi “.
Begitulah suara mereka bersama seolah dunia
milik mereka untuk melepaskan beban hidup mereka yang rata-rata adalah orang
kalah.
Sebagai sebuah kelompok mereka juga ingin agar
kelompoknya bisa besar dengan banyaknya orang yang menghabiskan waktu dengan
mereka dan salah satu orang yang sangat ingin mereka ajak bergabung adalah
Rustam, anak mahasiswa yang kemarin beradu argumen dengan musuh abadi mereka
yaitu Ustad Faisal. Mereka sangat benci pada Ustad Faisal karena Ustad
Faisallah yang sering membakar jama’ahnya dan warga untuk membenci mereka, oleh
karena itu ketika ada yang berani membantah perkataan Ustad Faisal seperti
Rustam tempo hari mereka anggap sebagai kawan dan pahlawan mereka yang
merupakan bentuk perlawanan kepada orang yang usil atas kesenangan orang dengan
dalil agama, itu menurut mereka.
Saat itu Rustam dan kawan-kawannya akan ke
Musholla untuk melaksanakan sholat yang jalannya melewati pos ronda dan merupakan markas Jali
dan kawan-kawannya.
“ Eh…siraku ke Musholla mau apa…ayo gabung di
sini, kita nikmati dunia sampai mati…ntar mati kita sogok malaikat pake ini ”,
kata Wardillah sambil menunjukkan gelas yang berisi alkohol ke arah Rustam dan
kawan-kawannya”
“ Dapet surga sira-sira kabeh….iya ble ? ”,
lanjut Wardillah dengan bahasa Indramayunya yang totok.
Kawan-kawan Wardilah tertawa dengan gaya bahasa
Wardillah ini.
“ Ma’af bang kami ke Musholla mau sholat dan di
lanjutkan dengan zikir bersama “, kata Rustam.
“ Eh, elu Rustam yang kemarin debat sama Ustad
Faisal ya ? “, tanya Bahar.
“ Ya bang…saya Rustam, saya dengan Ustad Faisal
tidak berdebat hanya berbeda pemikiran dan itu biasa “, jawab Rustam.
“
Yah…apapun itu namanya menurut gue nggak penting, yang penting elu udah
berani membantah ucapan Ustad yang sok suci itu “, kata Bahar pula.
Rustam tersenyum mendengar perkataan Bahar.
“ Elu gabung aja deh dengan kita di sini,
ngapain elu sholat dan berzikir tapi elu masih saja di anggap kafir sama Ustad
kita itu “, Bahar mencoba merayu Rustam karena dia mendengar Rustam di katakan
kafir oleh Ustad Faisal.
Rustam kembali tersenyum mendengar ocehan dari
Bahar ini kemudian dia berkata
“ Kalau orang menjadi kambing bukan berarti
kita harus jadi kambing juga kan bang, sama juga kalau orang mau menjadi banci
kita juga jangan mau menjadi banci “.
Bahar marah dengan bahasa Rustam ini “ Maksud
elu apa, mau ngatain gue kambing dan banci gitu ? “, kata Bahar meninggi.
Wardillah bangkit dari tempat duduknya mau
menghajar Rustam saat itu juga.
“ Udah deh- udah deh, elu ini kok bawaannya
emosi aja sih, maksud si Rustam ini biarin elu jadi diri elu sendiri…kalau elu
mau jadi kambing silahkan, mau jadi banci silahkan nggak ada paksaan yang
penting jangan saling ganggu “ begitu kan maksud elu Tam ?, tanya Jali
menduga-duga maksud Rustam karena dia sudah tahu siapa Rustam ini yang
merupakan anak kos di tempat kosnya dan
sering bicara pakai bahasa kiasan yang kadang-kadang orang salah tafsir dari
apa yang dia omongkan.
“ Iya bang, yang penting kita jangan saling
ganggu, aku aja belum tentu benar bisa jadi abang lebih benar dari aku “, jawab
Rustam.
“ ooo… gitu maksud elu “, Bahar bahasanya
melunak saat ini yang membuat emosi Wardillah juga menurun.
“ Ya udah…kalau gitu kita nongkrong aja disini,
ngobrol kek atau apa kek tapi elu nggak jijik melihat kami kan ? “, tanya
Bahar.
“ Ya enggak lah bang, kita ini masih sama-sama
manusia kok yang punya kelebihan dan kekurangan, tapi saya sholat dulu ya bang
“, jawab Rustam selanjutnya.
“ Ya deh…terserah elu !, tapi gue heran liat
elu…elu kan anak kuliahan kenapa masih mau sholat dan berzikir kayak orang
kampung yang nggak pernah sekolah ? “, Bahar mencoba memancing ego Rustam
sebagai intelektual muda, siapa tahu egonya terpancing dengan omongan seperti
ini.
Rustam tersenyum mendengar Bahar bicara
kemudian dia berlalu dari tempat itu sambil mengucapkan salam
“ Assalamualaikum bang “.
“ Waalaikum Salam “, jawab Bahar dan
kawan-kawannya.
“ Gue salut sama anak itu, dia punya sikap
dalam hidup “, Bahar memuji Rustam dan itu di katakannya ke Jali.
“ Iya… gue tau, diakan kos di tempat kos gue “,
kata Jali pula.
“ Eh, ngomong-ngomong elu pernah sekolah Har
kok elu bilang tadi hanya orang-orang kampung dan tidak pernah sekolah yang mau
sholat dan berzikir “, Jali bertanya ke Bahar karena dia tidak tahu bahwa Bahar
tersebut adalah seorang sarjana.
“ Iya, gue sarjana, S1 tapi pengangguran “,
kata Bahar sambil menghembuskan nafasnya dalam seolah dia kecewa pada dirinya
sendiri.
“ Kok bisa ?, elu kan pinter “, tanya Jali
“ Pinter apanya, pinter ngibul iya “, Bahar
mencoba bercanda untuk mengobati kekecewaan pada dirinya dan itu terpancar dari
matanya
Jali tersenyum walaupun dia tahu sahabatnya ini
kecewa dan hal ini terasa karena seringnya dia mengamati orang-orang yang dia
lihat.
“ Elu itu seharusnya beruntung Har, banyak
orang yang ingin sekolah tapi karena terbentur biaya akhirnya dia jadi putus
asa dan menyerah “, Jali coba membesarkan hati Rustam.
Wardillah dan kawan-kawannya serius mendengar
pembicaraan ini karena di lubuk hati mereka sebenarnya mereka juga ingin
sekolah biar bisa di hargai orang lain.
“ Zaman sekarang ini sarjana dan tidak sarjana
itu tidak penting Jal, yang penting ini nya “, Bahar menjentikan jari telunjuk
dan jempolnya yang artinya uang.
“ Sudahlah…mari kita lanjutkan pesta kita, elu
yang main gitar Jal..bosen gue dari tadi cuma dengerin melodi doang “, kata
Bahar sambil mengambil gelas yang berisi minuman keras dan meminumnya.
Jali mengambil gitar dari seorang kawan mereka
yang dari tadi asyik main gitar melodi dan mereka kembali kepada kesenangan
mereka menyanyikan lagu – lagu yang sesuai dengan suasana hati mereka saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar