Sabtu, 18 Januari 2014

4. BERKUMPUL ITU ASYIK, TAPI JANGAN DI PAKSA YA !.



Manusia adalah mahluk sosial begitu kata ahli sosiologi karena memang dasarnya manusia itu senang berkumpul apalagi dengan orang yang se ide dan sepemahaman.

Begitulah yang terjadi dengan Jali dan kawan-kawannya yang biasa berkumpul di pos ronda di Kelurahan mereka, main gitar, bernyanyi, joget di pinggir jalan dan minum minuman beralkohol walaupun bukan untuk mabuk tapi hanya untuk menghangatkan tubuh, itulah bahasa pergaulan mereka dengan minum beralkohol bersama sambil ngobrol ngalor ngidul entah kemana.

Dalam berkumpul biasanya ada pemimpin atau orang yang di dengar suaranya, untuk di kelompok ini Baharlah yang mereka anggap sebagai pemimpin bukan karena dia jago berkelahi atau apa tapi karena dialah yang punya  jiwa pemimpin di kelompok ini apalagi dia adalah satu-satunya sarjana yang terpaksa nganggur karena kalah dalam persaingan untuk mendapatkan pekerjaan.

Wardillah juga salah satu anggota di kelompok ini, dia orang Indramayu yang tinggal di Jakarta,  badannya tinggi besar dan kekar dan kerjaannya jadi kuli bangunan itupun kalau ada proyek kalau tidak ya nganggur. Itulah nasib Wardillah yang hanya tamatan SMP,  jangankan hanya tamatan SMP yang sarjana saja banyak yang jadi pengangguran di negeri ini. Tugas Wardillah di kelompok ini adalah jadi tukang pukul bagi musuh – musuh mereka dan merangkap sebagai tukang bagi – bagi minuman beralkohol ke gelas mereka yang hanya satu dan mereka jadikan wadah sebagai simbol persahabatan di kelompok mereka.

Baim, juga anggota di kelompok ini, orangnya jarang bicara tapi sekali bicara pedes. Dia sangat fanatik pada simbol-simbol persahabatan di kelompok ini. Dalam satu hal dia masih bisa menerima saran atau pendapat sahabatnya tapi kalau sudah bicara masalah simbol-simbol persahabatan mereka dia akan lawan dan keras pada prinsip yang di pegangnya.

Sementara Jali tugasnya adalah sebagai penghibur karena dia mempunyai selera humor yang tinggi atau ngocol dalam istilah betawi selain itu dia juga sebagai pemain gitar tetap, karena di kelompok ini dialah yang paling mahir memainkan alat musik ini. Seperti hari inilah contohnya,  Jali yang memainkan gitar saat kawan-kawannya berjoget menyanyikan lagu SUKA-SUKA dari Jamal Mirdad yang di populerkan kembali oleh Maya mantan istri Ahmad Dhani pentolan band Dewa, mungkin lagu SUKA-SUKA ini mewakili suasana hati mereka saat ini.

“ Suka-suka…joget di pinggir Jalan, suka – suka…goyang di pinggir jalan..bernyanyi walau bukan dangdut asli yang penting goyangnya asyik….asyik…, bergoyang walau bukan dangdut asli yang penting kita bisa heppi “.

Begitulah suara mereka bersama seolah dunia milik mereka untuk melepaskan beban hidup mereka yang rata-rata adalah orang kalah.

Sebagai sebuah kelompok mereka juga ingin agar kelompoknya bisa besar dengan banyaknya orang yang menghabiskan waktu dengan mereka dan salah satu orang yang sangat ingin mereka ajak bergabung adalah Rustam, anak mahasiswa yang kemarin beradu argumen dengan musuh abadi mereka yaitu Ustad Faisal. Mereka sangat benci pada Ustad Faisal karena Ustad Faisallah yang sering membakar jama’ahnya dan warga untuk membenci mereka, oleh karena itu ketika ada yang berani membantah perkataan Ustad Faisal seperti Rustam tempo hari mereka anggap sebagai kawan dan pahlawan mereka yang merupakan bentuk perlawanan kepada orang yang usil atas kesenangan orang dengan dalil agama, itu menurut mereka.

Saat itu Rustam dan kawan-kawannya akan ke Musholla untuk melaksanakan sholat yang jalannya  melewati pos ronda dan merupakan markas Jali dan kawan-kawannya.

“ Eh…siraku ke Musholla mau apa…ayo gabung di sini, kita nikmati dunia sampai mati…ntar mati kita sogok malaikat pake ini ”, kata Wardillah sambil menunjukkan gelas yang berisi alkohol ke arah Rustam dan kawan-kawannya”

“ Dapet surga sira-sira kabeh….iya ble ? ”, lanjut Wardillah dengan bahasa Indramayunya yang totok.

Kawan-kawan Wardilah tertawa dengan gaya bahasa Wardillah ini.

“ Ma’af bang kami ke Musholla mau sholat dan di lanjutkan dengan zikir bersama “, kata Rustam.

“ Eh, elu Rustam yang kemarin debat sama Ustad Faisal ya ? “, tanya Bahar.

“ Ya bang…saya Rustam, saya dengan Ustad Faisal tidak berdebat hanya berbeda pemikiran dan itu biasa “, jawab Rustam.

  Yah…apapun itu namanya menurut gue nggak penting, yang penting elu udah berani membantah ucapan Ustad yang sok suci itu “, kata Bahar pula.

Rustam tersenyum mendengar perkataan Bahar.

“ Elu gabung aja deh dengan kita di sini, ngapain elu sholat dan berzikir tapi elu masih saja di anggap kafir sama Ustad kita itu “, Bahar mencoba merayu Rustam karena dia mendengar Rustam di katakan kafir oleh Ustad Faisal.

              Rustam kembali tersenyum mendengar ocehan dari Bahar ini kemudian dia berkata
 
“ Kalau orang menjadi kambing bukan berarti kita harus jadi kambing juga kan bang, sama juga kalau orang mau menjadi banci kita juga jangan mau menjadi banci “.

Bahar marah dengan bahasa Rustam ini “ Maksud elu apa, mau ngatain gue kambing dan banci gitu ? “, kata Bahar meninggi.

Wardillah bangkit dari tempat duduknya mau menghajar Rustam saat itu juga.

“ Udah deh- udah deh, elu ini kok bawaannya emosi aja sih, maksud si Rustam ini biarin elu jadi diri elu sendiri…kalau elu mau jadi kambing silahkan, mau jadi banci silahkan nggak ada paksaan yang penting jangan saling ganggu “ begitu kan maksud elu Tam ?, tanya Jali menduga-duga maksud Rustam karena dia sudah tahu siapa Rustam ini yang merupakan anak kos  di tempat kosnya dan sering bicara pakai bahasa kiasan yang kadang-kadang orang salah tafsir dari apa yang dia omongkan.

“ Iya bang, yang penting kita jangan saling ganggu, aku aja belum tentu benar bisa jadi abang lebih benar dari aku “, jawab Rustam.

“ ooo… gitu maksud elu “, Bahar bahasanya melunak saat ini yang membuat emosi Wardillah juga menurun.
“ Ya udah…kalau gitu kita nongkrong aja disini, ngobrol kek atau apa kek tapi elu nggak jijik melihat kami kan ? “, tanya Bahar.

“ Ya enggak lah bang, kita ini masih sama-sama manusia kok yang punya kelebihan dan kekurangan, tapi saya sholat dulu ya bang “, jawab Rustam selanjutnya.

“ Ya deh…terserah elu !, tapi gue heran liat elu…elu kan anak kuliahan kenapa masih mau sholat dan berzikir kayak orang kampung yang nggak pernah sekolah ? “, Bahar mencoba memancing ego Rustam sebagai intelektual muda, siapa tahu egonya terpancing dengan omongan seperti ini.

Rustam tersenyum mendengar Bahar bicara kemudian dia berlalu dari tempat itu sambil mengucapkan salam

“ Assalamualaikum bang “.

“ Waalaikum Salam “, jawab Bahar dan kawan-kawannya.

“ Gue salut sama anak itu, dia punya sikap dalam hidup “, Bahar memuji Rustam dan itu di katakannya ke Jali. 

“ Iya… gue tau, diakan kos di tempat kos gue “, kata Jali pula.

“ Eh, ngomong-ngomong elu pernah sekolah Har kok elu bilang tadi hanya orang-orang kampung dan tidak pernah sekolah yang mau sholat dan berzikir “, Jali bertanya ke Bahar karena dia tidak tahu bahwa Bahar tersebut adalah seorang sarjana.

“ Iya, gue sarjana, S1 tapi pengangguran “, kata Bahar sambil menghembuskan nafasnya dalam seolah dia kecewa pada dirinya sendiri.

“ Kok bisa ?, elu kan pinter “, tanya Jali

“ Pinter apanya, pinter ngibul iya “, Bahar mencoba bercanda untuk mengobati kekecewaan pada dirinya dan itu terpancar dari matanya

Jali tersenyum walaupun dia tahu sahabatnya ini kecewa dan hal ini terasa karena seringnya dia mengamati orang-orang yang dia lihat.

“ Elu itu seharusnya beruntung Har, banyak orang yang ingin sekolah tapi karena terbentur biaya akhirnya dia jadi putus asa dan menyerah “, Jali coba membesarkan hati Rustam.

Wardillah dan kawan-kawannya serius mendengar pembicaraan ini karena di lubuk hati mereka sebenarnya mereka juga ingin sekolah biar bisa di hargai  orang lain.

“ Zaman sekarang ini sarjana dan tidak sarjana itu tidak penting Jal, yang penting ini nya “, Bahar menjentikan jari telunjuk dan jempolnya yang artinya uang.

“ Sudahlah…mari kita lanjutkan pesta kita, elu yang main gitar Jal..bosen gue dari tadi cuma dengerin melodi doang “, kata Bahar sambil mengambil gelas yang berisi minuman keras dan meminumnya. 

Jali mengambil gitar dari seorang kawan mereka yang dari tadi asyik main gitar melodi dan mereka kembali kepada kesenangan mereka menyanyikan lagu – lagu yang sesuai dengan suasana hati mereka saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar