Kesenian adalah bagian dari kebudayaan yang
akhirnya menuju pada sebuah peradaban. Dengan berkesenian seseorang bisa
menyalurkan emosi jiwanya dalam bentuk karya, ntah itu lagu, lukisan, patung,
puisi, film dan lain sebagainya. Sebuah karya yang baik biasanya timbul dari
hati dan perasaan bukan dari pikiran, karena dari hatilah perasaan sedih,
senang, kecewa dan lain – lainnya timbul dalam diri manusia dan bisa menjadi
karya kemudian di aspresiasi atau di hargai oleh para penikmat seni.
Pekerja seni biasanya adalah orang – orang yang
jiwanya bebas tidak terikat, karena kebebasan itulah dia bisa membuat karya
yang otentik dan asli mewakili jati
dirinya sendiri dan biasanya mereka tidak pernah memikirkan uang dalam
berkarya, itu para seniman zaman dulu.
Kalau zaman sekarang, semua di ukur dengan
uang. Kapitalis telah merambah di segala sektor kehidupan termaksud juga bidang
seni, sehingga pesan pasar yang begitu kelihatan. Jati diri para seniman sering
di gadaikan oleh selera para pemodal karena mereka yang punya uang.
Itulah hidup di zaman sekarang, karena
kebutuhan kita sering menjual harga diri kepada para pemodal atau katakanlah
para kapitalis.
Contohnya Badrun dan Ahmad, dua orang sahabat
yang sama-sama pekerja seni yang terdesak oleh kebutuhan hidup. Saat itu mereka
sedang duduk di sebuah sanggar kesenian yang di dindingnya banyak tempelan
selebaran kampanye dari seorang pensiunan jendral yang sangat ingin terjun
dalam dunia politik. Namanya Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.
“ Kita harus cari uang, tapi bagaimana caranya
ya ? “, tanya Ahmad ke Badrun yang saat itu sedang asyik memperhatikan dan
membaca selebaran kampanye dari Mayor
Jendral purnawirawan Widodo di tangannya, dia juga sedang berpikir bagaimana
caranya mencari uang dari selebaran yang di pegangnya.
Saat itu anak-anak sekolah sedang lewat dan
Badrun mendapat ide dari anak-anak sekolah yang di lihatnya.
“ Yes…, gue dapet ide”, katanya dengan wajah
berseri-seri.
“ Ide lu apa Drun ? “, tanya Ahmad penasaran.
“ Kita buat lomba baca puisi yang temanya
adalah bapak Jendral kita ini, dia kan sangat berambisi jadi anggota Dewan, ini
peluang kita Mad “, jawab Badrun berapi – api.
Ahmad mangut-mangut mendengar ide dari Badrun.
“ Lalu cara kita cari uang bagaimana ? “,
tanyanya lagi karena dia belum mengerti idenya Badrun.
“ Coba elu pikir, berapa banyak jumlah
sekolahan yang ada di sekitar kita ini mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, juga
kuliahan “, jawab Badrun.
“ Ya banyak banget “, kata Ahmad.
“ Nah, itu elu tau, sekarang elu pikir deh
misalnya tiap sekolah mengirimkan lima orang muridnya untuk ikut lomba baca
puisi yang kita adakan secara besar-besaran dengan biaya pendaftaran dua puluh
ribu perak dan kita adakan di gedung mewah dan biaya sewanya kita minta dari
Jendral pensiunan ini untuk menjadi sponsor sebagai bagian dari kampanye nya
sebagai calon anggota dewan “, Badrun menerangkan ide nya dengan mata
berbinar-binar sambil memegang selebaran kampanye dari Mayor Jendral
Purnawirawan Widodo.
“ Wah, ide gila tuh, keren abis Drun “, kata
Ahmad yang sekarang mulai nyambung dengan idenya Badrun.
“ Lalu yang buat puisinya siapa ? “, tanyanya
lagi.
“ Ya elu lah, elu kan paling jago buat puisi,
dan yang paling penting buat hati jendral kita berbunga-bunga dengan puisi yang
kita buat dan jadikan puisi itu sebagai puisi wajib buat anak sekolah yang ikut
lomba, yang penting jadi duit Mad “, kata Badrun sambil menjentikan jari
telunjuk dengan jempolnya yang artinya uang sambil tersenyum.
“ Yoi, gue ngerti sekarang, ntar malem gue buat
puisinya sekalian proporsalnya lalu kita anter ke rumah Jendral Widodo yang rumahnya masih satu
Kelurahan dengan gue “, kata Ahmad kepada Badrun.
“ Yang penting jadi duit “, katanya lagi sambil
tertawa kecil
“ Yoi Mad.. yang penting jadi duit “, kata
Badrun pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar