Sabtu, 18 Januari 2014

7. YANG PENTING JADI DUIT.



Kesenian adalah bagian dari kebudayaan yang akhirnya menuju pada sebuah peradaban. Dengan berkesenian seseorang bisa menyalurkan emosi jiwanya dalam bentuk karya, ntah itu lagu, lukisan, patung, puisi, film dan lain sebagainya. Sebuah karya yang baik biasanya timbul dari hati dan perasaan bukan dari pikiran, karena dari hatilah perasaan sedih, senang, kecewa dan lain – lainnya timbul dalam diri manusia dan bisa menjadi karya kemudian di aspresiasi atau di hargai oleh para penikmat seni.

Pekerja seni biasanya adalah orang – orang yang jiwanya bebas tidak terikat, karena kebebasan itulah dia bisa membuat karya yang  otentik dan asli mewakili jati dirinya sendiri dan biasanya mereka tidak pernah memikirkan uang dalam berkarya, itu para seniman zaman dulu.

Kalau zaman sekarang, semua di ukur dengan uang. Kapitalis telah merambah di segala sektor kehidupan termaksud juga bidang seni, sehingga pesan pasar yang begitu kelihatan. Jati diri para seniman sering di gadaikan oleh selera para pemodal karena mereka yang punya uang.

Itulah hidup di zaman sekarang, karena kebutuhan kita sering menjual harga diri kepada para pemodal atau katakanlah para kapitalis.

Contohnya Badrun dan Ahmad, dua orang sahabat yang sama-sama pekerja seni yang terdesak oleh kebutuhan hidup. Saat itu mereka sedang duduk di sebuah sanggar kesenian yang di dindingnya banyak tempelan selebaran kampanye dari seorang pensiunan jendral yang sangat ingin terjun dalam dunia politik. Namanya Mayor Jendral Purnawirawan Widodo. 

“ Kita harus cari uang, tapi bagaimana caranya ya ? “, tanya Ahmad ke Badrun yang saat itu sedang asyik memperhatikan dan membaca selebaran kampanye dari  Mayor Jendral purnawirawan Widodo di tangannya, dia juga sedang berpikir bagaimana caranya mencari uang dari selebaran yang di pegangnya.

Saat itu anak-anak sekolah sedang lewat dan Badrun mendapat ide dari anak-anak sekolah yang di lihatnya.

“ Yes…, gue dapet ide”, katanya dengan wajah berseri-seri.

“ Ide lu apa Drun ? “, tanya Ahmad penasaran.

“ Kita buat lomba baca puisi yang temanya adalah bapak Jendral kita ini, dia kan sangat berambisi jadi anggota Dewan, ini peluang kita Mad “, jawab Badrun berapi – api.

Ahmad mangut-mangut mendengar ide dari Badrun. 

“ Lalu cara kita cari uang bagaimana ? “, tanyanya lagi karena dia belum mengerti idenya Badrun.

“ Coba elu pikir, berapa banyak jumlah sekolahan yang ada di sekitar kita ini mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, juga kuliahan “, jawab Badrun.

“ Ya banyak banget “, kata Ahmad.

“ Nah, itu elu tau, sekarang elu pikir deh misalnya tiap sekolah mengirimkan lima orang muridnya untuk ikut lomba baca puisi yang kita adakan secara besar-besaran dengan biaya pendaftaran dua puluh ribu perak dan kita adakan di gedung mewah dan biaya sewanya kita minta dari Jendral pensiunan ini untuk menjadi sponsor sebagai bagian dari kampanye nya sebagai calon anggota dewan “, Badrun menerangkan ide nya dengan mata berbinar-binar sambil memegang selebaran kampanye dari Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.

“ Wah, ide gila tuh, keren abis Drun “, kata Ahmad yang sekarang mulai nyambung dengan idenya Badrun. 

“ Lalu yang buat puisinya siapa ? “, tanyanya lagi.

“ Ya elu lah, elu kan paling jago buat puisi, dan yang paling penting buat hati jendral kita berbunga-bunga dengan puisi yang kita buat dan jadikan puisi itu sebagai puisi wajib buat anak sekolah yang ikut lomba, yang penting jadi duit Mad “, kata Badrun sambil menjentikan jari telunjuk dengan jempolnya yang artinya uang sambil tersenyum.

“ Yoi, gue ngerti sekarang, ntar malem gue buat puisinya sekalian proporsalnya lalu kita anter ke rumah  Jendral Widodo yang rumahnya masih satu Kelurahan dengan gue “, kata Ahmad kepada Badrun. 

“ Yang penting jadi duit “, katanya lagi sambil tertawa kecil

“ Yoi Mad.. yang penting jadi duit “, kata Badrun pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar