Musholla atau Mesjid selain tempat beribadah
bagi umat Islam juga merupakan tempat
syiar, pendidikan atau dakwah tentang keIslaman, karena itulah fungsi tempat
ibadah sebenarnya. Disini bercampur segala macam pemikiran tentang Islam di
masyarakat tapi yang penting jangan menabrak Alqur’an dan Al-Hadist.
Jangan seperti pemikiran Islam liberal
kebangetan yang sudah berani mempertanyakan masalah homoseksual dan lesbianisme
padahal masalah tersebut sudah nyata-nyata di larang dalam Alqur’an . Dalam
kitab Injil pun homoseksual dan lesbianisme di larang dalam kisah kota Sodom
dan Gomora tapi atas nama kebebasan berpikir mereka melampaui batas bahkan memuja-muja
tokoh yang membela mati-matian lesbianisme tersebut dan pakai nama Islam pula.
Inilah sifat dasar manusia, karena di beri
kebebasan mereka menabrak aturan-aturan dan berpikir sebebas-bebasnya sehingga
tak jelas lagi mana aturan dan mana pemikiran.
Kebebasan dalam berpikir itu sah-sah saja
selama masih dalam koridornya, hal ini seperti derasnya aliran minyak di dalam
pipa, selama minyak masih mengalir di
dalam pipa dia tidak akan pernah jadi
masalah karena masih bisa di kendalikan tapi dia akan jadi masalah bila pipa
minyak tersebut bocor dan minyaknya mengalir keluar dari pipa maka dia akan
menjadi limbah yang sangat berbahaya karena gampang tersulut api dan mengakibatkan bencana.
Bicara tentang Islam dan masyarakat sebenarnya
kita bicara tentang tafsir dari keIslaman itu sendiri karena pemikiran
masyarakat berkembang sesuai dengan zaman, itulah yang di sebut dengan budaya
dan menuju pada sebuah peradaban.
Saat itu sedang terjadi ceramah di Musholla
Kelurahan tempat Jali tinggal, penceramahnya adalah Ustad yang sangat di benci
Jali yaitu Ustad Faisal, seorang Ustad terpandang di Kelurahannya yang
beraliran keras dan sok suci menurut Jali sehingga Jali dan kawan-kawannya
malas bahkan eneg belajar tentang Islam karena pengaruh gaya dakwah Ustad Faisal
ini.
“ Saudara-saudara sekalian, Islam adalah Islam
dan kafir adalah kafir jangan di campur aduk, kita harus tegas menunjukkan Jati
diri keIslaman kita kepada orang-orang kafir itu, mengerti… ? “, kata Ustad
Faisal dalam ceramahnya yang berapi-api.
“ Mengertiiii… “, kata sebahagian dari jama’ah
yang terbakar semangatnya karena ceramah dari Ustad Faisal.
“ Sekarang ada yang bertanya atau tidak ? “,
Ustad Faisal mempersilahkan jamaahnya untuk bertanya.
Seorang anak muda yang terhipnotis gaya ceramah
Ustad Faisal mengacungkan tangan untuk bertanya.
“ Silahkan nak “, kata Ustad Faisal sambil
tersenyum karena dia tahu anak muda ini sangat antusias bila mendengar
ceramahnya.
“ Saya sangat setuju dengan bapak, kita harus
menunjukkan jati diri ke Islaman kita kepada orang-orang kafir itu, bila perlu
kita enyahkan mereka dari muka bumi Allah SWT ini “, kata anak muda tersebut
berapi – api.
Ustad Faisal mengangguk - anggukan kepalanya
sambil tersenyum dan memegang jenggotnya karena dia telah berhasil membakar
semangat anak muda ini, sambil tersenyum dia bilang
“ Lalu apa yang mau kamu tanya nak ? “,
tanyanya lagi.
“ Apa hukumnya kita memberi donor darah ? “,
tanya anak muda tersebut.
“ Selama darahnya di berikan kepada sesama umat
muslim itu sangat baik, tapi jangan sekali-kali darah kita di berikan kepada
orang-orang kafir karena darah kita akan menangis di bawa ke gereja, kuil, pura
atau tempat-tempat ibadah orang kafir lainnya “, kata Ustad Faisal berapi-api.
Anak muda tersebut mengangguk – anggukan
kepalanya karena dia mendapatkan pemahaman baru dari Ustad Faisal yang sangat
di kaguminya.
Tapi tidak bagi Rustam, anak mahasiswa dari
Sumatera yang tinggal di rumah kos Jali, dia mengacungkan tangan untuk
membantah jawaban Ustad Faisal tadi.
“ Kenapa kamu mengacungkan tangan nak ? “,
tanya Ustad Faisal kepada Rustam.
“ Saya tidak setuju dengan jawaban bapak “,
kata Rustam mantap karena dia punya pemikiran sendiri.
“ Kenapa ? “, Ustad Faisal menatap tajam mata
Rustam.
“ Islam itu adalah Rahmatan Lil Alamin, rahmat
bagi seluruh alam dan Islam juga mengajarkan Hablum Minnallah dan Hablum
Minannash, hubungan vertikal dengan Allah SWT dan hubungan horizontal dengan
sesama manusia bukan Hablum Minnal Muslimin atau hubungan baik sesama muslim
saja “, kata Rustam lagi.
Ustad Faisal marah dengan jawaban Rustam ini
lalu dia mengeluarkan statement pamungkasnya.
“ Kafir ente “, suaranya keras membentak
Rustam.
Darah muda Rustam timbul karena statement dan
gaya bahasa dari Ustad Faisal ini.
“ Bapak
lah yang kafir, enak aja bilang orang kafir “, mata Rustam juga menatap tajam
mata Ustad Faisal karena dia tidak mau kalah dengan Ustad Faisal ini.
Jama’ah – jama’ah yang lain membiarkan saja adu
argumentasi antara Ustad Faisal dengan Rustam
karena baru sekali ini ada yang berani membantah perkataan Ustad Faisal,
tontonan gratis pikir mereka semua.
“ Kalau bukan kafir, kamu itu JIL atau Jaringan
Islam Liberal alias Jaringan Iblis Laknatullah “, Ustad Faisal suaranya makin
meninggi.
“ Liberal ?, Islam liberal ?, jangan – jangan
bapak tidak tau apa itu liberal, coba apa sih liberal itu ? “, Rustam mencari
tahu wawasan Ustad Faisal yang menuduhnya sebagai Islam liberal.
“ Pokoknya kamu Islam liberal “, Ustad Faisal
suaranya meninggi.
“ Iya…Liberal itu apa ? “, suara Rustam
merendah tapi justru menjatuhkan Ustad Faisal.
“ Ya liberal “,
jawab Ustad Faisal sekenanya tapi matanya tidak fokus karena dia tidak
tahu apa liberal itu.
“ Makanya pak…kalau ngomong itu seharusnya
bapak tau apa yang bapak omongkan…orang-orang seperti bapaklah yang membuat orang
di luar Islam jadi benci pada islam, jadi phobia atau takut pada Islam “, kata
Rustam menasehati Ustad Faisal.
“ Kalau takut pada Islam justru bagus…biar
orang-orang kafir itu jadi gentar pada semangat Islam ? “, kata Ustad Faisal
tak mau kalah.
“ Kalau begitu untuk apa bapak berdakwah ? “,
Rustam mempertanyakan motivasi Ustad Faisal berdakwah.
Ustad Faisal diam karena pertanyaan Rustam
ini.
“ Pak…hanya orang buta yang butuh tongkat,
hanya orang pincang yang butuh tongkat bukan mereka-mereka yang sehat “, Rustam
bicara dalam bahasa kiasan agar membuka cara berpikir Ustad Faisal.
Ustad Faisal merenung dengan memegang – megang
jenggotnya.
“ Lalu apa mau kamu ? “, Ustad Faisal bertanya
pada Rustam.
“ Jangan gampang bilang orang kafir dong
pak hanya karena beda pendapat, beda
pendapat itu Sunatullah “, Rustam memberi nasehat lagi pada Ustad Faisal.
Ustad Faisal tersenyum kecut dan dongkol
mendengar nasehat dari Rustam yang menurutnya hanya anak kemarin sore yang
umurnya sebaya dengan anaknya dan dia merasa bahwa ilmu agamanya jauh lebih
tinggi dari ilmu agama Rustam.
Itulah yang namanya kesombongan, kesombongan
karena lebih tua, kesombongan karena ilmu pengetahuan dan yang lebih parah
karena cara berpikir seseorang lalu membawa-bawa agama karena kebetulan dia
seorang dai atau penceramah dan dia tidak tau kepada siapa dia bicara karena
apapun yang manusia dengar , cium, rasa, lihat dan manusia baca akan di tafsir
oleh kemampuan daya pikirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar