Sabtu, 18 Januari 2014

3. JANGAN BILANG ORANG KAFIR DONG PAK !



Musholla atau Mesjid selain tempat beribadah bagi umat Islam juga merupakan  tempat syiar, pendidikan atau dakwah tentang keIslaman, karena itulah fungsi tempat ibadah sebenarnya. Disini bercampur segala macam pemikiran tentang Islam di masyarakat tapi yang penting jangan menabrak Alqur’an dan Al-Hadist. 

Jangan seperti pemikiran Islam liberal kebangetan yang sudah berani mempertanyakan masalah homoseksual dan lesbianisme padahal masalah tersebut sudah nyata-nyata di larang dalam Alqur’an . Dalam kitab Injil pun homoseksual dan lesbianisme di larang dalam kisah kota Sodom dan Gomora tapi atas nama kebebasan berpikir mereka melampaui batas bahkan memuja-muja tokoh yang membela mati-matian lesbianisme tersebut dan pakai nama Islam pula.

Inilah sifat dasar manusia, karena di beri kebebasan mereka menabrak aturan-aturan dan berpikir sebebas-bebasnya sehingga tak jelas lagi mana aturan dan mana pemikiran.

Kebebasan dalam berpikir itu sah-sah saja selama masih dalam koridornya, hal ini seperti derasnya aliran minyak di dalam pipa, selama minyak masih mengalir  di dalam pipa  dia tidak akan pernah jadi masalah karena masih bisa di kendalikan tapi dia akan jadi masalah bila pipa minyak tersebut bocor dan minyaknya mengalir keluar dari pipa maka dia akan menjadi limbah yang sangat berbahaya karena gampang  tersulut api dan mengakibatkan bencana.

Bicara tentang Islam dan masyarakat sebenarnya kita bicara tentang tafsir dari keIslaman itu sendiri karena pemikiran masyarakat berkembang sesuai dengan zaman, itulah yang di sebut dengan budaya dan menuju pada sebuah peradaban.

Saat itu sedang terjadi ceramah di Musholla Kelurahan tempat Jali tinggal, penceramahnya adalah Ustad yang sangat di benci Jali yaitu Ustad Faisal, seorang Ustad terpandang di Kelurahannya yang beraliran keras dan sok suci menurut Jali sehingga Jali dan kawan-kawannya malas bahkan eneg belajar tentang Islam karena pengaruh gaya dakwah Ustad Faisal ini.

“ Saudara-saudara sekalian, Islam adalah Islam dan kafir adalah kafir jangan di campur aduk, kita harus tegas menunjukkan Jati diri keIslaman kita kepada orang-orang kafir itu, mengerti… ? “, kata Ustad Faisal dalam ceramahnya yang berapi-api.

“ Mengertiiii… “, kata sebahagian dari jama’ah yang terbakar semangatnya karena ceramah dari Ustad Faisal.

“ Sekarang ada yang bertanya atau tidak ? “, Ustad Faisal mempersilahkan jamaahnya untuk bertanya.

Seorang anak muda yang terhipnotis gaya ceramah Ustad Faisal mengacungkan tangan untuk bertanya.

“ Silahkan nak “, kata Ustad Faisal sambil tersenyum karena dia tahu anak muda ini sangat antusias bila mendengar ceramahnya.

“ Saya sangat setuju dengan bapak, kita harus menunjukkan jati diri ke Islaman kita kepada orang-orang kafir itu, bila perlu kita enyahkan mereka dari muka bumi Allah SWT ini “, kata anak muda tersebut berapi – api.

Ustad Faisal mengangguk - anggukan kepalanya sambil tersenyum dan memegang jenggotnya karena dia telah berhasil membakar semangat anak muda ini, sambil tersenyum dia bilang 

“ Lalu apa yang mau kamu tanya nak ? “, tanyanya lagi.

“ Apa hukumnya kita memberi donor darah ? “, tanya anak muda tersebut.

“ Selama darahnya di berikan kepada sesama umat muslim itu sangat baik, tapi jangan sekali-kali darah kita di berikan kepada orang-orang kafir karena darah kita akan menangis di bawa ke gereja, kuil, pura atau tempat-tempat ibadah orang kafir lainnya “, kata Ustad Faisal berapi-api.

Anak muda tersebut mengangguk – anggukan kepalanya karena dia mendapatkan pemahaman baru dari Ustad Faisal yang sangat di kaguminya.

Tapi tidak bagi Rustam, anak mahasiswa dari Sumatera yang tinggal di rumah kos Jali, dia mengacungkan tangan untuk membantah jawaban Ustad Faisal tadi.

“ Kenapa kamu mengacungkan tangan nak ? “, tanya Ustad Faisal kepada Rustam.

“ Saya tidak setuju dengan jawaban bapak “, kata Rustam mantap karena dia punya pemikiran sendiri.

“ Kenapa ? “, Ustad Faisal menatap tajam mata Rustam.

“ Islam itu adalah Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi seluruh alam dan Islam juga mengajarkan Hablum Minnallah dan Hablum Minannash, hubungan vertikal dengan Allah SWT dan hubungan horizontal dengan sesama manusia bukan Hablum Minnal Muslimin atau hubungan baik sesama muslim saja “, kata Rustam lagi.

Ustad Faisal marah dengan jawaban Rustam ini lalu dia mengeluarkan statement pamungkasnya.

“ Kafir ente “, suaranya keras membentak Rustam.

Darah muda Rustam timbul karena statement dan gaya bahasa dari Ustad Faisal ini.

  Bapak lah yang kafir, enak aja bilang orang kafir “, mata Rustam juga menatap tajam mata Ustad Faisal karena dia tidak mau kalah dengan Ustad Faisal ini.

Jama’ah – jama’ah yang lain membiarkan saja adu argumentasi antara Ustad Faisal dengan Rustam  karena baru sekali ini ada yang berani membantah perkataan Ustad Faisal, tontonan gratis pikir mereka semua.

“ Kalau bukan kafir, kamu itu JIL atau Jaringan Islam Liberal alias Jaringan Iblis Laknatullah “, Ustad Faisal suaranya makin meninggi.

“ Liberal ?, Islam liberal ?, jangan – jangan bapak tidak tau apa itu liberal, coba apa sih liberal itu ? “, Rustam mencari tahu wawasan Ustad Faisal yang menuduhnya sebagai Islam liberal.

“ Pokoknya kamu Islam liberal “, Ustad Faisal suaranya meninggi.

“ Iya…Liberal itu apa ? “, suara Rustam merendah tapi justru menjatuhkan Ustad Faisal.

“ Ya liberal “,  jawab Ustad Faisal sekenanya tapi matanya tidak fokus karena dia tidak tahu apa liberal itu.

“ Makanya pak…kalau ngomong itu seharusnya bapak tau apa yang bapak omongkan…orang-orang seperti bapaklah yang membuat orang di luar Islam jadi benci pada islam, jadi phobia atau takut pada Islam “, kata Rustam menasehati Ustad Faisal.

“ Kalau takut pada Islam justru bagus…biar orang-orang kafir itu jadi gentar pada semangat Islam ? “, kata Ustad Faisal tak mau kalah.

“ Kalau begitu untuk apa bapak berdakwah ? “, Rustam mempertanyakan motivasi Ustad Faisal berdakwah.

                  Ustad Faisal diam karena pertanyaan Rustam ini.

“ Pak…hanya orang buta yang butuh tongkat, hanya orang pincang yang butuh tongkat bukan mereka-mereka yang sehat “, Rustam bicara dalam bahasa kiasan agar membuka cara berpikir Ustad Faisal.

Ustad Faisal merenung dengan memegang – megang jenggotnya.

“ Lalu apa mau kamu ? “, Ustad Faisal bertanya pada Rustam.

“ Jangan gampang bilang orang kafir dong pak  hanya karena beda pendapat, beda pendapat itu Sunatullah “, Rustam memberi nasehat lagi pada Ustad Faisal.

Ustad Faisal tersenyum kecut dan dongkol mendengar nasehat dari Rustam yang menurutnya hanya anak kemarin sore yang umurnya sebaya dengan anaknya dan dia merasa bahwa ilmu agamanya jauh lebih tinggi dari ilmu agama Rustam.

Itulah yang namanya kesombongan, kesombongan karena lebih tua, kesombongan karena ilmu pengetahuan dan yang lebih parah karena cara berpikir seseorang lalu membawa-bawa agama karena kebetulan dia seorang dai atau penceramah dan dia tidak tau kepada siapa dia bicara karena apapun yang manusia dengar , cium, rasa, lihat dan manusia baca akan di tafsir oleh kemampuan daya pikirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar