Sabtu, 18 Januari 2014

1. MIMPI DI SIANG HARI



Matahari pagi telah tinggi, sinarnya tak pernah lupa memberikan secara gratis vitamin D untuk penyerapan kalsium di dalam tubuh yang merupakan solusi dalam pembentukan dan perbaikan tulang manusia. Selain itu sinar matahari pagi juga mengandung sinar ultraviolet yang mampu membunuh bakteri, virus juga jamur, begitu teori kesehatan mengatakannya.

Tapi hanya sedikit manusia yang peduli pada itu dan kalaupun peduli di lakukan karena terpaksa, terpaksa karena rutinitas kerja untuk mencari nafkah semata. Yang lainnya masih asyik bermimpi, karena mimpi masih gratis di negeri ini.
 
Seperti Jali, pemuda betawi yang telah menikah dengan Juleha dan di beri warisan tempat kos oleh orang tuanya untuk para mahasiswa di sekitar tempat tinggalnya, dari usaha tempat kos inilah Jali menafkahi Juleha istrinya. Jali bercita-bercita menjadi penulis lagu dan penyanyi karena hobinya main gitar walau nggak ada satupun lagu yang benar-benar jadi dia buat.

Jali bermimpi lagunya ngetop dan di nyanyikan oleh penyanyi sexy yang melenggak-lenggokan pingulnya untuk memancing birahi laki-laki dengan pakaian super ketat dan memamerkan aurat padahal suaranya pas-pasan, tak ada nilai seni sama sekali kecuali syahwat.

            “Bangun… !”  teriak Juleha membangunkan Jali dari mimpinya “ gue udah selesai nyuci elo masih tidur pegimane bisa dapet rejeki, jam segini masih molor “.

“ Ah elu, gue lagi enak-enak ngimpi elu bangunin, gue ngimpi lagu gue laku dan gue jadi terkenal “, Jali protes karena di bangunkan Juleha di saat dia lagi asyik menikmati mimpinya.

“ Ngimpi melulu, elu itu hidup di dunia nyata bukan di dunia mimpi …tau ? “, Juleha protes karena Jali lebih menikmati mimpi dari pada suaranya untuk membangunkannya.

“ Seharusnya elu bersyukur gue masih bisa mimpi karena mimpi itu gratis dan bisa meningkatkan gairah hidup gue “ Jali melakukan pembelaan pada mimpinya.

“ Gairah hidup…gairah hidup….gairah hidup apaan ?, emang elu punya gairah dalam hidup, orang kerjaannya cuma nongkrong di pos ronda dengan temen – temen elu aja pake gairah hidup “, Juleha protes lagi karena memang saban hari Jali berkumpul dengan temen-temennya di pos ronda.

“ Emang kalau gue nggak ada gairah hidup elu masih mau sama gue ?”, Jali bertanya pura – pura bodoh sambil memperhatikan dada Juleha dan menjulur-julurkan mulutnya seperti orang ngenyot.

“ Tu kan…kalau yang jorok-jorok aja elu cepet nyambung”, kata Juleha  sambil tertawa.

“ Udah  bangun sana dan mandi ! “, seru Juleha lagi karena Jali malas mandi dan lebih suka cuci muka.

“ Iya deh, Iya deh istriku tersayang…suamimu tercinta ini akan segera bangun dan cuci muka “, Jali memang suka mencandai Juleha soal mandi dan cuci muka. 

“ Mandi dong ! “, pinta  Juleha lagi.

“ Ogah… dingin “, Jali memberikan alasan malas mandinya.

“ Aer panas udah gue siapin “, jawab Juleha karena dia memang mengharapkan agar Jali mandi dan berpakaian rapi.

“ Ntar gue sakit kalau mandi jam segini “, kata Jali lagi membuat Juleha menyerah.

“ Ya udah deh terserah elu yang penting elu bangun “.

Jali bangun dari tempat tidur dan memonyongkan mulutnya.

“ Sun dong yang ! “, Jali minta di cium sama Juleha.

“ Ogah, bau jigong “.

“ Tapi sukakan ? “, kata Jali mencandai Juleha.

“ Siapa bilang, gue kawin sama elu aja karena terpaksa kok “, kali ini Juleha yang buat Jali penasaran.

“ Di paksa siapa ?”, Jali bener-bener penasaran dengan jawaban Juleha.

“ Di paksa cinta gue ame elu “, jawab Juleha sambil tersenyum.

Jali mencubit pinggang Juleha karena dia merasa di kerjain dan mereka berdua tertawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar