Minggu, 19 Januari 2014

12. NASIB MU MINAH



Perempuan itu indah, perempuan itu cantik dan perempuan itu sangat mempesona. Menurut kitab suci perempuan di ciptakan dari tulang rusuk laki-laki makanya di takdirkan laki-laki adalah pemimpin atau pelindung kaum perempuan yang selalu menyayangi dan mencintai kaum perempuan. Tapi tidak sedikit kaum laki-laki yang melecehkan kaum perempuan atas nama cinta dan kasih sayang.

CINTA bagi  laki – laki yang suka merendahkan martabat kaum perempuan di singkat menjadi Cuma Ingin Nikmati Tubuh Anda, karena memang kenyataan tubuh perempuan itu nikmat, dan kaum perempuan atas nama cinta dan kasih sayang pada kaum laki-laki gampang saja memberikan kehormatan dan kenikmatan tubuhnya kepada kaum laki-laki tanpa memikirkan akibatnya ke depan.

Hal ini sering terjadi di zaman sekarang, rasa kasih dan rasa sayang yang di berikan Tuhan kepada umat manusia yang berlainan jenis di bumbui oleh nafsu setan atas nama cinta dan kasih sayang, dan biasanya yang sangat di rugikan adalah kaum perempuan. Kaum yang seharusnya di sayangi dan di lindungi oleh kaum laki-laki.

Tangisan adalah tanda penyesalan dari kaum perempuan akibat pengorbanan dari cintanya yang di lecehkan. Tangisan yang sebenarnya hanya menjadi bahan tertawaan bagi laki-laki yang kehilangan hati nurani atas nama cinta dan kasih sayang.

Minah adalah contohnya, dia terlalu gampang di nina bobokan oleh cinta sehingga gampang sekali menyerahkan tubuhnya atas nama cinta dan akhirnya penyesalan lah yang ia dapatkan.

“ Kamu harus bertanggung jawab Ton “, kata Minah sambil memegang perutnya yang sedang hamil muda.

“ Enak aja, bukan hanya aku yang pernah tidur sama kamu Derri juga, iyakan ? “, tanya Anton dengan mata melotot.

“ Tapi ini anakmu Ton, darah dagingmu “, Minah memelas memohon pertanggung jawaban dari Anton.

“ Sudahlah, gugurkan saja, habis cerita “, kata Anton lagi sambil pergi meninggalkan Minah dengan sepeda motornya.

Minah menangis sejadi-jadinya seolah-olah dia sudah tidak punya harga diri lagi di hadapan orang yang pernah mengisi hatinya.

Dia teringat saat pertama kali bertemu Anton, laki - laki sederhana  yang pertama kali menyentuh hatinya. Anton yang sering memuji tatapan matanya, bibirnya juga senyumnya. Laki-laki yang rayuannya membawanya terbang jauh ke nirwana bahkan mencapai ke langit ke tujuh, rayuan laki-laki yang membuatnya merasa sebagai perempuan yang paling sempurna di muka bumi sehingga dia tidak ragu untuk menyerahkan kehormatannya pertama kali kepada laki-laki ini.

Tapi semuanya berubah ketika dia mengenal Derri, seorang laki-laki kaya yang diam-diam suka memperhatikan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Dengan kekuasaan hartanya Derri terus saja merayu dan merayu Minah sehingga kian lama rasa cintanya kepada Anton memudar karena silau kepada harta dan jabatan Derri, hingga dia juga menyerahkan kehormatannya kepada laki-laki ini akibatnya dia berbadan dua dan tidak tahu siapa bapaknya.

Masih teringat dalam ingatannya ketika dia meminta pertanggung jawaban kepada Derri. 

“ Apa ?, kamu hamil ?, itu bukan anak ku karena bukan aku pertama kali yang pernah tidur sama kamu “, kata Derri kepada Minah.

“ Der… “, air mata Minah berlinang mendengar ucapan Derri yang biasanya lembut dan penuh kasih.

“ Sudahlah, aku tidak selevel dengan kamu…nih uang…gugurkan ! “, kata Derry sambil memberinya uang yang sangat banyak untuk mengugurkan kandungannya.

“ Aku tidak perlu uangmu, nih ambil “, kata Minah menangis sambil melemparkan uang yang di berikan Derri ke wajah Derri.

Derri mengutip uang yang berserakan kemudian berlalu dengan mobil mewahnya.

Hidup Minah rasanya hancur, Derri tak mau dan Anton juga tak mengakui bahwa benih yang ada dalam kandungannya adalah anak mereka…dia memegang perutnya antara cinta dan benci pada buah cinta yang sekarang ada dalam rahimnya.

“ Aku tidak akan pernah mau mengugurkan anak yang tak berdosa ini dan aku harus mencari laki-laki yang mau mengakui anak ini sebagai anaknya, apapun caranya, kalau tak ada aku akan membesarkan dan mengurus anak ini sendiri “, kata Minah dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar