Walaupun Jali telah rapi dan wangi, sesuai
dengan keinginan Juleha istrinya dan membuat dia terasa berbeda oleh
kawan-kawannya dari Jali yang terdahulu, tapi Jali masih merasa kurang dan dia
ingin belajar, juga bertemu kembali dengan pak Darwis yang sekian lama tidak
datang ke Musholla Kelurahannya untuk sholat.
Nasib baik bagi Jali hari ini, Pak Darwis dan
supirnya singgah di Musholla Kelurahan Jali, masih di saat yang sama yaitu saat
sholat Isya di mana tidak ada orang lagi yang sholat di Musholla di Kelurahan
Jali.
Ketika mobil pak Darwis berhenti tidak jauh
dari pos ronda, dia tersenyum lega dan langsung berdiri dari tempat
duduknya, pak Darwis beserta pak Burhan
supirnya turun dari mobil dan Jali
buru-buru ingin menemui mereka.
“ Elu mau ke mana Jal ? “, tanya Bahar saat
Jali buru-buru melangkah.
“ Gue mau nemuin guru gue “, katanya cuek pada
Bahar dan segera melangkah ke arah pak Darwis dan supirnya.
“ Kenapa sih Jali itu ? “, tanya salah orang
temannya di pos ronda.
“ Elu kayak nggak tahu Jali aja, kalau lagi mau
belajar, biar bom meledak dia akan cuek apalagi cuma level kita-kita, di anggap
angin bro “, kata Bahar.
Kawan-kawan Jali jadi tertawa karena mereka sudah hapal betul
tindak – tanduk dan tingkah laku Jali karena dari kecil mereka sudah bersahabat
dan tinggal di Kelurahan ini.
“ Permisi ya mas “, kata pak Darwis ketika
melewati Bahar dan kawan-kawannya.
“ Ya pak, silahkan “, kata Bahar sementara Jali
mengangkat tangannya sebelah kanan seperti pejabat yang tersenyum lebar dan
jaim saat de ville ketika lewat di depan kawan-kawannya sambil bilang
“ Gue
mau belajar dulu ya bro “.
“ Terserah elu “ kata Bahar.
Pak Darwis membuka sepatunya ketika mau masuk
Musholla, begitu juga dengan pak Burhan supirnya.
“ Pak Jali mau sholat juga ? “, tanya pak
Darwis pada Jali yang ikut terus dari belakang kemanapun pak Darwis melangkah.
“ Sudah pernah pak, setahun yang lalu “, kata
Jali membuat pak Darwis tersenyum lebar dan hampir tertawa karena jawaban
konyol ini.
“ Tapi
nggak ngaruh dengan hidup Jali “, lanjutnya pula.
Pak Darwis tersenyum kembali dengan jawaban
Jali ini, “ kalau begitu kami sholat dulu ya “, kata pak Darwis kemudian.
“ Silahkan “, kata Jali lagi.
Pak Darwis dan Burhan supirnya sholat di
Musholla tersebut dan di lanjutkan dengan zikir bersama sementara Jali menunggu
mereka di pelataran Musholla sambil terus memperhatikan pak Darwis yang sedang
sholat di lanjutkan dengan zikir.
Ketika pak Darwis dan Burhan supirnya telah
selesai dari sholat dan zikirnya Jali menghampiri mereka.
“ Pak Darwis “, sapanya kepada orang yang
sangat di kaguminya ini.
“ Ada apa pak Jali “, kata pak Darwis sambil
tersenyum ramah pada Jali.
Senyuman inilah yang sekali lagi membuat Jali
tergila-gila dan ingin belajar lebih banyak dengan pak Darwis.
“ Waktu kita ketemu dulu, bapak sudah
mengajarkan Subhanallah ke Jali, ajarin Jali lagi dong pak ! “, pintanya penuh
harap dan itu kelihatan dari matanya.
“ Oya, baiklah kalau begitu “, kata pak Darwis
yang tahu bahwa Jali telah sedikit berubah dari Jali yang pertama kali di
kenalnya yaitu Jali yang lecek dan kumal menjadi Jali yang rapi dan wangi.
“ Pak Jali, kali ini kita belajar Kalimah
Tahmid yaitu Alhamdulillah artinya Segala Puji bagi Allah, maknanya mulai
sekarang pak Jali harus berusaha jadi orang terpuji dan jujur pada diri pak
Jali sendiri “, kata pak Darwis.
“ Sekarang saya mau tahu kejujuran pak Jali “,
kata pak Darwis lagi.
“
Menurut pak Jali apa yang baik bagi diri pak Jali sekarang ? “, tanya pak
Darwis .
Jali mikir dari pertanyaan pak Darwis ini.
“ Jali orangnya setia pak, Jali nggak mau
menduakan istri Jali kecuali istri Jali
telah meninggal dunia “, Jali menjawab pertanyaan pak Darwis.
“ Wah…bagus itu, itu namanya baru laki-laki “,
kata pak Darwis memuji Jali dan Jali semakin suka pada pak Darwis ini karena
menurutnya sangat berbeda dengan Ustad Faisal.
“ Lalu yang terbaik dari pak Jali apalagi ? “,
tanya pak Darwis.
“ Apa ya ?, o…Jali suka nonton berita, biar
Jali tahu perkembangan Indonesia dan dunia terus Jali nggak suka memaksa orang
lain dalam hidup Jali karena orang lain tentu sangat berbeda dengan Jali, dan
Jali sangat sayang sama kawan-kawan Jali di pos ronda, itu lho pak…kawan-kawan
Jali yang suka ngumpul dan suka minum-minuman keras “, jawab Jali dari pertanyaan pak Darwis.
“ Wah, bagus sekali itu, tahu perkembangan
zaman, nggak suka memaksa dan setia kawan “, kata pak Darwis lagi karena ada
sisi yang baik dari Jali selain ada sisi jeleknya yaitu suka minuman-minuman
keras.
Jali semakin bertambah sukanya pada pak Darwis
ini.
“ Lalu apa yang orang lain nggak suka pada diri
pak Jali ? “, tanya pak Darwis.
“ Apa ya ?”, katanya sambil mikir sedikit.
” oh ini, Kalau istri Jali, dia sering ngomel
supaya Jali selalu bangun pagi “, jawabnya terus terang.
“ Lalu ? “, tanya pak Darwis lagi
“ Orang-orang kampung nggak suka kalau Jali dan
kawan-kawan Jali suka minum-minuman keras “, jawab Jali kemudian.
“ Menurut pak Jali sendiri kira-kira bangun
siang dan suka minum-minuman keras itu bagus atau nggak ? “, tanya pak Darwis
sekali lagi menguji kejujuran Jali.
“ Sebenarnya sih nggak bagus pak “, jawab Jali
sejujurnya karena itu adalah jawaban dari hati nuraninya yang murni.
“ Kalau nggak bagus kenapa nggak pak Jali
tinggalkan misalnya mulai sekarang berusaha bangun pagi dan nggak minum-minum
keras lagi “, pak Darwis ngomong dari hati ke hati tanpa ada kesan memaksa tapi
memotivasi Jali menanyakan pada hati kecilnya sendiri.
“ Tapi tunggu dulu pak, Jali puyeng kalau
bangun pagi soalnya Jali sering begadang sama kawan – kawan Jali dan banyak
kawan-kawan Jali yang baik walaupun suka minum-minuman keras misalnya Bahar
sahabat Jali dari kecil dan pikirannya terkadang kayak orang tua, terus
Wardilah yang sering membela, Baim yang kadang berantem sama Jali tapi Jali
suka karena dia nggak pendendam dan banyak kawan-kawan Jali yang lainnya, jujur
Jali nggak bisa hidup tanpa mereka “, kata Jali jujur membela alasan nya bangun
siang dan berkumpul untuk minum-minuman keras dengan kawan nya.
Pak Darwis tersenyum dengan tatapan mata
bersahabat mendengarkan pembelaan Jali tentang alasannya bangun siang juga
alasan minum-minuman keras karena rasa solider pada kawan-kawannya.
“ Kalau menurut saya itu karena pak Jali belum
terbiasa bangun pagi dan kurangi dong begadangnya, misalnya biasa pulang jam
dua belas malam sekarang jam sebelas malam udah pulang untuk istri, kasihan kan
istri di rumah di tinggal sendiri “, pak Darwis coba memotivasi Jali untuk
mengikuti suara hati nuraninya sendiri karena dia tahu ada kontradiksi di hati
Jali antara cinta pada sahabat-sahabatnya dan istrinya tercinta, tidak ada yang
salah dengan keduanya.
“ Iya ya pak, kumpul sama temen tetap
ya kumpul sama istri juga tetap , kalau gitu mulai besok Jali kurangi begadang
deh biar bisa bangun pagi “, katanya kemudian dan itu sudah merupakan tekad
dari Jali karena dia ingin bangun pagi seperti yang di motivasi oleh pak
Darwis.
“ Kalau
masalah kawan-kawan pak Jali, saya nggak suruh bapak meninggalkan mereka, orang
nyatanya kawan-kawan bapak orang baik jadi apa salahnya bapak tetap bergaul
tapi nggak minum-minuman keras lagi, iya kan ?, biarkan saja mereka minum tapi
bapak tidak ? “, tanya pak Darwis lagi dan itu masuk akal oleh Jali karena
secara tak langsung pak Darwis menyuruh Jali berpikir dan jujur pada suara hati
Jali sendiri.
“ Iya ya pak, mulai besok Jali nggak mau
minum-minuman keras lagi tapi Jali akan tetap berkumpul dengan temen-temen Jali
karena Jali sangat sayang sama mereka “, kata Jali lagi dan itu sudah tekadnya
juga.
“ Pak, apakah itu maknanya Alhamdullilah
seperti yang bapak bilang tadi ? “, tanya Jali lagi karena dia sangat tertarik
ketika di bilang Alhamdullilah.
“ Sebahagian nya iya pak Jali tapi bukan hanya
itu, pak Jali harus melakukan apa yang di bisikan oleh suara hati pak Jali ! “,
kata pak Darwis
“ Suara hati ? “ tanya Jali tak mengerti.
“ Iya, suara kebaikan yang ada di dalam diri
pak Jali sendiri, dan bapak pasti tahu itu karena pak Jali adalah orang yang
sangat baik dan kritis “, pak Darwis memuji Jali karena dia sudah dapat menilai
bahwa Jali adalah seorang laki – laki yang kritis dan baik.
“ Okelah
pak Darwis, mulai sekarang Jali akan menjadi Jali yang Alhamdulillah, yang
mengikuti apa yang di bisikkan oleh suara hati Jali sendiri “, katanya mantap dan dia berjanji akan
melakukan itu.
Pak Darwis tersenyum mendengar tekad dari Jali
yang ingin menjadi Jali yang Alhamdullilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar