Minggu, 19 Januari 2014

19. JALI INGIN JADI JALI YANG ALHAMDULLILAH



        Walaupun Jali telah rapi dan wangi, sesuai dengan keinginan Juleha istrinya dan membuat dia terasa berbeda oleh kawan-kawannya dari Jali yang terdahulu, tapi Jali masih merasa kurang dan dia ingin belajar, juga bertemu kembali dengan pak Darwis yang sekian lama tidak datang ke Musholla Kelurahannya untuk sholat.

Nasib baik bagi Jali hari ini, Pak Darwis dan supirnya singgah di Musholla Kelurahan Jali, masih di saat yang sama yaitu saat sholat Isya di mana tidak ada orang lagi yang sholat di Musholla di Kelurahan Jali.

Ketika mobil pak Darwis berhenti tidak jauh dari pos ronda, dia tersenyum lega dan langsung berdiri dari tempat duduknya,  pak Darwis beserta pak Burhan supirnya turun dari mobil dan Jali  buru-buru ingin menemui mereka.

“ Elu mau ke mana Jal ? “, tanya Bahar saat Jali buru-buru melangkah.

“ Gue mau nemuin guru gue “, katanya cuek pada Bahar dan segera melangkah ke arah pak Darwis dan supirnya.

“ Kenapa sih Jali itu ? “, tanya salah orang temannya di pos ronda.

“ Elu kayak nggak tahu Jali aja, kalau lagi mau belajar, biar bom meledak dia akan cuek apalagi cuma level kita-kita, di anggap angin bro “, kata Bahar.

Kawan-kawan Jali jadi  tertawa karena mereka sudah hapal betul tindak – tanduk dan tingkah laku Jali karena dari kecil mereka sudah bersahabat dan tinggal di Kelurahan ini.

“ Permisi ya mas “, kata pak Darwis ketika melewati Bahar dan kawan-kawannya.

“ Ya pak, silahkan “, kata Bahar sementara Jali mengangkat tangannya sebelah kanan seperti pejabat yang tersenyum lebar dan jaim saat de ville ketika lewat di depan kawan-kawannya sambil bilang

 “ Gue mau belajar dulu ya bro “.

“ Terserah elu “ kata Bahar.

Pak Darwis membuka sepatunya ketika mau masuk Musholla, begitu juga dengan pak Burhan supirnya.

“ Pak Jali mau sholat juga ? “, tanya pak Darwis pada Jali yang ikut terus dari belakang kemanapun pak Darwis melangkah.

“ Sudah pernah pak, setahun yang lalu “, kata Jali membuat pak Darwis tersenyum lebar dan hampir tertawa karena jawaban konyol ini.

 “ Tapi nggak ngaruh dengan hidup Jali “, lanjutnya pula.

Pak Darwis tersenyum kembali dengan jawaban Jali ini, “ kalau begitu kami sholat dulu ya “, kata pak Darwis kemudian.

“ Silahkan “, kata Jali lagi.

Pak Darwis dan Burhan supirnya sholat di Musholla tersebut dan di lanjutkan dengan zikir bersama sementara Jali menunggu mereka di pelataran Musholla sambil terus memperhatikan pak Darwis yang sedang sholat di lanjutkan dengan zikir.

Ketika pak Darwis dan Burhan supirnya telah selesai dari sholat dan zikirnya Jali menghampiri mereka.

“ Pak Darwis “, sapanya kepada orang yang sangat di kaguminya ini.

“ Ada apa pak Jali “, kata pak Darwis sambil tersenyum ramah pada Jali.

Senyuman inilah yang sekali lagi membuat Jali tergila-gila dan ingin belajar lebih banyak dengan pak Darwis.

“ Waktu kita ketemu dulu, bapak sudah mengajarkan Subhanallah ke Jali, ajarin Jali lagi dong pak ! “, pintanya penuh harap dan itu kelihatan dari matanya.

“ Oya, baiklah kalau begitu “, kata pak Darwis yang tahu bahwa Jali telah sedikit berubah dari Jali yang pertama kali di kenalnya yaitu Jali yang lecek dan kumal menjadi Jali yang rapi dan wangi. 

“ Pak Jali, kali ini kita belajar Kalimah Tahmid yaitu Alhamdulillah artinya Segala Puji bagi Allah, maknanya mulai sekarang pak Jali harus berusaha jadi orang terpuji dan jujur pada diri pak Jali sendiri “, kata pak Darwis.

“ Sekarang saya mau tahu kejujuran pak Jali “, kata pak Darwis lagi.

 “ Menurut pak Jali apa yang baik bagi diri pak Jali sekarang ? “, tanya pak Darwis .

Jali mikir dari pertanyaan pak Darwis ini.

“ Jali orangnya setia pak, Jali nggak mau menduakan istri Jali kecuali  istri Jali telah meninggal dunia “, Jali menjawab pertanyaan pak Darwis.

“ Wah…bagus itu, itu namanya baru laki-laki “, kata pak Darwis memuji Jali dan Jali semakin suka pada pak Darwis ini karena menurutnya sangat berbeda dengan Ustad Faisal.

“ Lalu yang terbaik dari pak Jali apalagi ? “, tanya pak Darwis.

“ Apa ya ?, o…Jali suka nonton berita, biar Jali tahu perkembangan Indonesia dan dunia terus Jali nggak suka memaksa orang lain dalam hidup Jali karena orang lain tentu sangat berbeda dengan Jali, dan Jali sangat sayang sama kawan-kawan Jali di pos ronda, itu lho pak…kawan-kawan Jali yang suka ngumpul dan suka minum-minuman keras  “, jawab Jali dari pertanyaan pak Darwis. 

“ Wah, bagus sekali itu, tahu perkembangan zaman, nggak suka memaksa dan setia kawan “, kata pak Darwis lagi karena ada sisi yang baik dari Jali selain ada sisi jeleknya yaitu suka minuman-minuman keras.

Jali semakin bertambah sukanya pada pak Darwis ini.

“ Lalu apa yang orang lain nggak suka pada diri pak Jali ? “, tanya pak Darwis.

“ Apa ya ?”, katanya sambil mikir sedikit.

” oh ini, Kalau istri Jali, dia sering ngomel supaya Jali selalu bangun pagi “, jawabnya terus terang.

“ Lalu ? “, tanya pak Darwis lagi

“ Orang-orang kampung nggak suka kalau Jali dan kawan-kawan Jali suka minum-minuman keras “, jawab Jali kemudian.

“ Menurut pak Jali sendiri kira-kira bangun siang dan suka minum-minuman keras itu bagus atau nggak ? “, tanya pak Darwis sekali lagi menguji kejujuran Jali.

“ Sebenarnya sih nggak bagus pak “, jawab Jali sejujurnya karena itu adalah jawaban dari hati nuraninya yang murni.

“ Kalau nggak bagus kenapa nggak pak Jali tinggalkan misalnya mulai sekarang berusaha bangun pagi dan nggak minum-minum keras lagi “, pak Darwis ngomong dari hati ke hati tanpa ada kesan memaksa tapi memotivasi Jali menanyakan pada hati kecilnya sendiri.

“ Tapi tunggu dulu pak, Jali puyeng kalau bangun pagi soalnya Jali sering begadang sama kawan – kawan Jali dan banyak kawan-kawan Jali yang baik walaupun suka minum-minuman keras misalnya Bahar sahabat Jali dari kecil dan pikirannya terkadang kayak orang tua, terus Wardilah yang sering membela, Baim yang kadang berantem sama Jali tapi Jali suka karena dia nggak pendendam dan banyak kawan-kawan Jali yang lainnya, jujur Jali nggak bisa hidup tanpa mereka “, kata Jali jujur membela alasan nya bangun siang dan berkumpul untuk minum-minuman keras dengan kawan nya.

Pak Darwis tersenyum dengan tatapan mata bersahabat mendengarkan pembelaan Jali tentang alasannya bangun siang juga alasan minum-minuman keras karena rasa solider pada kawan-kawannya.

“ Kalau menurut saya itu karena pak Jali belum terbiasa bangun pagi dan kurangi dong begadangnya, misalnya biasa pulang jam dua belas malam sekarang jam sebelas malam udah pulang untuk istri, kasihan kan istri di rumah di tinggal sendiri “, pak Darwis coba memotivasi Jali untuk mengikuti suara hati nuraninya sendiri karena dia tahu ada kontradiksi di hati Jali antara cinta pada sahabat-sahabatnya dan istrinya tercinta, tidak ada yang salah dengan keduanya.

            “ Iya ya pak, kumpul sama temen tetap ya kumpul sama istri juga tetap , kalau gitu mulai besok Jali kurangi begadang deh biar bisa bangun pagi “, katanya kemudian dan itu sudah merupakan tekad dari Jali karena dia ingin bangun pagi seperti yang di motivasi oleh pak Darwis.

 “ Kalau masalah kawan-kawan pak Jali, saya nggak suruh bapak meninggalkan mereka, orang nyatanya kawan-kawan bapak orang baik jadi apa salahnya bapak tetap bergaul tapi nggak minum-minuman keras lagi, iya kan ?, biarkan saja mereka minum tapi bapak tidak ? “, tanya pak Darwis lagi dan itu masuk akal oleh Jali karena secara tak langsung pak Darwis menyuruh Jali berpikir dan jujur pada suara hati Jali sendiri.

“ Iya ya pak, mulai besok Jali nggak mau minum-minuman keras lagi tapi Jali akan tetap berkumpul dengan temen-temen Jali karena Jali sangat sayang sama mereka “, kata Jali lagi dan itu sudah tekadnya juga.

“ Pak, apakah itu maknanya Alhamdullilah seperti yang bapak bilang tadi ? “, tanya Jali lagi karena dia sangat tertarik ketika di bilang Alhamdullilah.

“ Sebahagian nya iya pak Jali tapi bukan hanya itu, pak Jali harus melakukan apa yang di bisikan oleh suara hati pak Jali ! “, kata pak Darwis

“ Suara hati ? “ tanya Jali tak mengerti.

“ Iya, suara kebaikan yang ada di dalam diri pak Jali sendiri, dan bapak pasti tahu itu karena pak Jali adalah orang yang sangat baik dan kritis “, pak Darwis memuji Jali karena dia sudah dapat menilai bahwa Jali adalah seorang laki – laki yang kritis dan baik.

 “ Okelah pak Darwis, mulai sekarang Jali akan menjadi Jali yang Alhamdulillah, yang mengikuti apa yang di bisikkan oleh suara hati Jali sendiri “,  katanya mantap dan dia berjanji akan melakukan itu.

Pak Darwis tersenyum mendengar tekad dari Jali yang ingin menjadi Jali yang Alhamdullilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar