Bila sudah terdesak biasanya manusia sudah tak
punya kemampuan memilih lagi, dia akan memilih apa yang paling mudah di
dapatkan. Seperti itulah yang ada dalam pemikiran Minah sekarang, di usia
kehamilannya yang semakin tua dia harus mencari laki - laki yang mau menerima
dan mau bertanggung jawab atas benih yang ada dalam rahimnya untuk menjaga nama
baik dan mengembalikan harga diri, dan yang paling mudah di dapatkan adalah
cinta dari laki – laki polos dan lugu.
Biasanya laki – laki yang polos dan lugu adalah
laki – laki yang berasal dari kampung. Laki – laki yang begitu gampang
terpesona oleh kecantikan wanita kota yang pandai bersolek, berdandan dan
bergaya aduhai.
Bujang adalah laki – laki lugu dan belum pernah
kenal dengan sepak terjang perempuan apalagi perempuan kota sehingga dia mudah
sekali tergoda hanya karena pandangan mata.
Seperti malam ini, saat dia bersama
kawan-kawannya berkumpul di pos ronda, Minah lewat di depannya dan tatapan mata
mereka beradu, dengan senyum manis dan tatapan matanya yang memang indah, Minah
mengoda Bujang dengan bahasa tubuhnya, membuat Bujang terbang ke dunia cinta
yang tak pernah di alami sebelumnya.
Bujang memperhatikan terus Minah yang sudah
lewat, matanya tak berkedip dan itu memancing perhatian Jali dan Wardillah.
Wardillah mengoyang-goyangkan tangannya ke
wajah Bujang tapi Bujang tak bergeming sedikitpun karena dia asyik pada rasa
kagumnya melihat paras cantik dan kemolekan tubuh Minah yang saat itu belum
kelihatan kehamilannya.
“ Elu naksir Minah Jang ? “, tanya Jali saat
itu.
Bujang tidak mendengar perkataan Jali.
“ Jang ”, kata Jali lagi dan Bujang tetap tidak
mendengarnya, hal ini membuat Jali kesal dan akhirnya dia teriak persis di
telinga Bujang
“ Bujangggg…”, teriakan Jali ini membuat Bujang
kaget dan tersentak
“ Kenapa
bang Jali, ada apa, ada kebakaran, di mana bang ? ”, katanya binggung.
“ Mata elu tuh yang kebakaran “, kata Jali
kemudian.
Semua kawan-kawannya tertawa melihat kejadian
ini dan Bujang jadi malu besar jadinya.
“ Elu naksir sama Minah Jang ? “, tanya Bahar
kemudian ketika suasana sudah tenang
.
“ Jadi namanya Minah bang ?, Bujang balik
bertanya dengan sangat antusias.
“ Iya, dia anak sini…elu mau ? “, Bahar
bertanya kembali ke Bujang.
“ Mau kali pun bang, tak ada perempuan yang
secantik itu di kampungku “ jawab Bujang kemudian.
“ Gampang itu kalau elu mau “ kata Bahar
kemudian.
“ Tolong ya bang, mamak ku sudah suruh aku
kawin, lebih cepat lebih baik katanya karena dia mau timang cucu dan aku di
jodohkan sama paribanku, orangnya gendut, hitam, tak ada cantiknya sama sekali
mana mungkin aku mau “, Bujang berterus terang karena dia ngebet berat sama
Minah.
Bahar tersenyum mendengar permintaan Bujang
ini.
Ketika telah sampai di rumahnya, Bujang
teringat terus pertemuannya dengan Minah, dia ingat senyuman Minah, tatapan
mata Minah dan lainnya sementara Butet terus memperhatikan keponakan yang
sangat di sayanginya ini dari depan pintu kamar yang saat itu terbuka.
Tiba-tiba HP Butet berdering dan yang menelpon
adalah mamaknya Bujang.
“ Ai, kakak…, sehat dia kak, jadi kakak mau cakap sama dia…”, kata Butet melalui HPnya.
“ Eh
Bujang, ini mamak kau mau cakap sama kau “ kata Butet sambil menyerahkan HPnya
ke Butet.
“ Sehat mak…, makin gemuk pun aku di sini….,
iya lah Mak…aku juga sayang sama bujingku ini, mana mungkin aku melawannya…oya
mak…mamak mau cepat gendong cucu kan, aku kenal perempuan cantik di sini …,
jadi mamak setuju…, mantaplah mak…Wa’alaikum salam, mamak mau cakap juga sama
Bujing…., Bujing, mamak mau cakap juga sama bujing nih.. “, kata Bujang sambil
menyerahkan kembali HPnya ke Butet
“ Iyalah kak…anak ku juga nya si Bujang
itu, iyalah…Waalaikum salam “, kata Butet sambil menutup HPnya.
“ Eh Bujang, ku dengar tadi kau udah kenal sama
perempuan sini, siapa dia ? jangan sampai kau dapat perempuan yang bukan –
bukan, awas kau, ku makan kau kalau dia perempuan yang tak benar “, Butet
mengancam Bujang karena sebenarnya dia sangat sayang pada keponakannya ini.
“ Tenang ajalah Bujing, masak Bujing tak lihat
si Bujang ini, apa kurangnya aku,
gantengkan ?, tak mungkin perempuan yang tak benar yang ku mau “, Jawab
Bujang lagi dengan gaya lucu membuat Butet tersenyum karena tingkah
keponakannya ini.
“ Terserah kaulah, makan kau sana dari tadi ku
tengok kau senyam – senyum sendiri kayak orang gila “, Butet menyuruh Bujang
makan karena Bujang lupa makan karena asyik memikirkan Minah dari tadi.
Itulah cinta dan asmara, karena cinta dan
asmara apapun kita lupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar