Minggu, 19 Januari 2014

13. DARI MATA TURUN KE HATI.



Bila sudah terdesak biasanya manusia sudah tak punya kemampuan memilih lagi, dia akan memilih apa yang paling mudah di dapatkan. Seperti itulah yang ada dalam pemikiran Minah sekarang, di usia kehamilannya yang semakin tua dia harus mencari laki - laki yang mau menerima dan mau bertanggung jawab atas benih yang ada dalam rahimnya untuk menjaga nama baik dan mengembalikan harga diri, dan yang paling mudah di dapatkan adalah cinta dari laki – laki polos dan lugu. 

Biasanya laki – laki yang polos dan lugu adalah laki – laki yang berasal dari kampung. Laki – laki yang begitu gampang terpesona oleh kecantikan wanita kota yang pandai bersolek, berdandan dan bergaya aduhai.

Bujang adalah laki – laki lugu dan belum pernah kenal dengan sepak terjang perempuan apalagi perempuan kota sehingga dia mudah sekali tergoda hanya karena pandangan mata.

Seperti malam ini, saat dia bersama kawan-kawannya berkumpul di pos ronda, Minah lewat di depannya dan tatapan mata mereka beradu, dengan senyum manis dan tatapan matanya yang memang indah, Minah mengoda Bujang dengan bahasa tubuhnya, membuat Bujang terbang ke dunia cinta yang  tak pernah di alami sebelumnya.

Bujang memperhatikan terus Minah yang sudah lewat, matanya tak berkedip dan itu memancing perhatian Jali dan Wardillah.

Wardillah mengoyang-goyangkan tangannya ke wajah Bujang tapi Bujang tak bergeming sedikitpun karena dia asyik pada rasa kagumnya melihat paras cantik dan kemolekan tubuh Minah yang saat itu belum kelihatan kehamilannya.

“ Elu naksir Minah Jang ? “, tanya Jali saat itu.

Bujang tidak mendengar perkataan Jali.

“ Jang ”, kata Jali lagi dan Bujang tetap tidak mendengarnya, hal ini membuat Jali kesal dan akhirnya dia teriak persis di telinga Bujang

“ Bujangggg…”, teriakan Jali ini membuat Bujang kaget dan tersentak

 “ Kenapa bang Jali, ada apa, ada kebakaran, di mana bang ? ”, katanya binggung.

“ Mata elu tuh yang kebakaran “, kata Jali kemudian.

Semua kawan-kawannya tertawa melihat kejadian ini dan Bujang jadi malu besar jadinya.

“ Elu naksir sama Minah Jang ? “, tanya Bahar kemudian ketika suasana sudah tenang
.
“ Jadi namanya Minah bang ?, Bujang balik bertanya dengan sangat antusias.

“ Iya, dia anak sini…elu mau ? “, Bahar bertanya kembali ke Bujang.

“ Mau kali pun bang, tak ada perempuan yang secantik itu di kampungku “ jawab Bujang kemudian.

“ Gampang itu kalau elu mau “ kata Bahar kemudian.

“ Tolong ya bang, mamak ku sudah suruh aku kawin, lebih cepat lebih baik katanya karena dia mau timang cucu dan aku di jodohkan sama paribanku, orangnya gendut, hitam, tak ada cantiknya sama sekali mana mungkin aku mau “, Bujang berterus terang karena dia ngebet berat sama Minah.

Bahar tersenyum mendengar permintaan Bujang ini.

Ketika telah sampai di rumahnya, Bujang teringat terus pertemuannya dengan Minah, dia ingat senyuman Minah, tatapan mata Minah dan lainnya sementara Butet terus memperhatikan keponakan yang sangat di sayanginya ini dari depan pintu kamar yang saat itu terbuka.

Tiba-tiba HP Butet berdering dan yang menelpon adalah mamaknya Bujang.

“ Ai, kakak…, sehat dia kak, jadi kakak mau cakap sama dia…”, kata Butet melalui HPnya.

 “ Eh Bujang, ini mamak kau mau cakap sama kau “ kata Butet sambil menyerahkan HPnya ke Butet.
“ Sehat mak…, makin gemuk pun aku di sini…., iya lah Mak…aku juga sayang sama bujingku ini, mana mungkin aku melawannya…oya mak…mamak mau cepat gendong cucu kan, aku kenal perempuan cantik di sini …, jadi mamak setuju…, mantaplah mak…Wa’alaikum salam, mamak mau cakap juga sama Bujing…., Bujing, mamak mau cakap juga sama bujing nih.. “, kata Bujang sambil menyerahkan kembali HPnya ke Butet

“ Iyalah kak…anak ku juga nya si Bujang itu, iyalah…Waalaikum salam “, kata Butet sambil menutup HPnya.

“ Eh Bujang, ku dengar tadi kau udah kenal sama perempuan sini, siapa dia ? jangan sampai kau dapat perempuan yang bukan – bukan, awas kau, ku makan kau kalau dia perempuan yang tak benar “, Butet mengancam Bujang karena sebenarnya dia sangat sayang pada keponakannya ini.

“ Tenang ajalah Bujing, masak Bujing tak lihat si Bujang ini, apa kurangnya aku,  gantengkan ?, tak mungkin perempuan yang tak benar yang ku mau “, Jawab Bujang lagi dengan gaya lucu membuat Butet tersenyum karena tingkah keponakannya ini.

“ Terserah kaulah, makan kau sana dari tadi ku tengok kau senyam – senyum sendiri kayak orang gila “, Butet menyuruh Bujang makan karena Bujang lupa makan karena asyik memikirkan Minah dari tadi.
Itulah cinta dan asmara, karena cinta dan asmara apapun kita lupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar