Kembali lagi ke tokoh utama kita yaitu Jali
yang telah menjadi Subhanallah dan Alhamdullilah yang membuat Baim sahabat dari
kecilnya menjaga jarak padanya karena Baim lebih utamakan simbol-simbol
daripada nilai-nilai persahabatan itu sendiri.
Saat itu Jali sedang menuju pasar untuk membeli
peralatan untuk tempat kosnya seperti bak air, gayung mandi, tong sampah dan
lain sebagainya karena sudah lama dia tidak mengantinya dan secara tak sengaja
dia bertemu dengan pak Darwis dan supirnya yang saat itu sedang membawa CPU
komputer dan itu di letakkan di jok belakang mobilnya.
“ Pak Jali mau kemana ? “, tanya pak Darwis
saat itu ketika di lihat nya Jali sedang berjalan di atas trotoar pasar dan pak
Darwis membuka kaca jendela mobilnya dan tersenyum ramah sebagai ciri khasnya.
“ Eh pak Darwis “, kata Jali tak menduga dan
merasa terhormat karena pengusaha sukses seperti pak Darwis mau menyapanya
bahkan memberhentikan mobilnya hanya karena seorang laki-laki seperti dia.
“ Ini pak, Jali mau beli perlengkapan anak kos
karena para anak kos ngeluh banyak peralatan kos yang rusak jadi nggak nyaman
katanya “.
“ Ooo, kalau gitu ayo bareng pak “, kata pak
Darwis ramah lalu membuka pintu mobilnya dan posisi duduk pak Darwis saat itu
ada di jok belakang, dia mengharapkan
Jali bisa duduk di sampingnya.
“ Nggak usah deh pak, deket kok “, kata Jali
berusaha menolak.
“ Ayolah ! “, seru pak Darwis lagi.
Akhirnya Jali naik di mobil mewah pak Darwis
dan duduk berdampingan dengannya.
“ Wah, enak ya pak, dingin”, kata Jali ketika
dia di dalam mobil pak Darwis.
“ Sama aja pak, itu karena pak Jali belum
terbiasa, ntar kalau udah terbiasa nggak terasa lagi enaknya “, kata pak Darwis
kemudian.
“ Gitu ya pak “, tanya Jali.
“ Iyalah pak Jali masak iya dong “, kata pak
Darwis bercanda.
“ Ah, bapak ini ternyata suka bercanda juga “,
kata Jali sambil tersenyum.
“ Bercanda itu bikin awet muda dan pikiran kita
juga lebih tenang pak Jali, saya nggak pernah membawa ke hati masalah kehidupan
ini, karena dunia ini nggak nyata “, pak Darwis coba memancing rasa ingin tahu
Jali.
“ Nggak nyata ? “, tanya Jali nggak mengerti.
“ Iya… nggak nyata “, kata pak Darwis lagi.
Jali merenung dan mikir tapi dia tidak
menemukan jawaban dari apa yang di katakan pak Darwis ini, lalu dia melihat CPU
komputer yang ada di samping tempat duduknya.
“ Apa ini pak ?”, tanya Jali pada pak Darwis.
“ Oh…itu namanya CPU komputer, gampangnya otak
komputer deh…saya mau memperbaikinya karena rusak “, jawab pak Darwis.
“ Kok rusak sih pak, orang kelihatannya
bagus-bagus aja tuh “, kata Jali lagi karena dia hanya melihat casing dari CPU
komputernya pak Darwis.
“ Dalamnya yang rusak pak Jali “, kata pak
Darwis lagi.
“ Oh…, di dekat rumah saya ada tuh pak tukang
service komputer “, kata Jali.
“ Oh ya…syukurlah kalau begitu, bagaimana kalau
pak Jali saya suruh untuk memperbaiki CPU saya di tempat service komputer yang
dekat rumah bapak, ini uang servicenya dan ini alamat kantor saya juga ada
alamat rumah saya di situ”, pak Darwis memberikan uang juga kartu namanya dan
Jali menerimanya.
“ Dan
pak Jali saya antar untuk membeli perlengkapan kos, bagaimana pak Jali ? “, pak
Darwis menawarkan diri ke Jali.
“ Nggak usah repot-repot deh pak “, kata Jali
lagi malu-malu.
“ Justru saya yang merepotin pak Jali, orang
saya cuma duduk manis di sini dan di antar sama pak Burhan kok “, kata pak
Darwis.
Pak Burhan supir pak Darwis cuma tersenyum
karena dia sudah tahu sekali tentang majikan nya yang sangat di kaguminya ini.
“ Iya kan pak Burhan ? “, tanya pak Darwis lagi
ke supirnya.
“ Jadi kita kemana nih pak ? “, tanya pak
Burhan tersenyum sambil mengendalikan stir mobil majikannya.
“ Ke pasar tradisional aja, sudah lama saya
nggak lihat keadaan pasar tradisional di Jakarta ini “, jawab pak Darwis.
“ Oke deh pak “, kata pak Burhan lagi.
Lalu mobil meluncur ke sebuah pasar rakyat di
Jakarta.
Setelah berbelanja segala macam kebutuhan
tempat kos di pasar rakyat Jakarta, Jali di antar pak Burhan dan pak Darwis
kerumahnya dan Jali menawarkan kedua orang ini untuk singgah di rumahnya, pak
Darwis beserta pak Burhan bersedia untuk mampir ke rumah Jali sambil membawa
CPU komputer yang akan di perbaiki.
“ Pak Darwis, ini istri saya namanya Juleha “,
Jali memperkenalkan Juleha ke pak Darwis dan pak Burhan.
Juleha menyalami kedua orang tamu terhormat ini
yang telah banyak merubah hidup Jali sesuai dengan mimpi-mimpinya selama ini.
Saat itu mereka duduk di kursi tamu dengan di
hidangkan teh manis dan kue kecil ala kadarnya oleh Juleha dan dia duduk di samping
Jali suaminya.
“ Pak
Darwis kan sudah mengajarkan Jali menjadi Jali yang Subhanallah dan Jali yang
Alhamdullilah, ajari Jali dong pak ! “, pinta Jali di sela-sela pembicaraan
mereka yang ngalor ngidul sebelumnya.
“Baiklah kalau begitu “, kata pak Darwis.
“ Sekarang pak Jali harus harus belajar kalimah
Tahlil yaitu Laa Ilaha Illallah artinya Tiada Tuhan Selain Allah, maknanya
mulai sekarang pak Jali harus punya cita – cita atau tujuan dalam hidup pak
Jali “, kata pak Darwis.
“ Memang cita-cita pak Jali apa ? “, tanya pak
Darwis lagi.
“ Jali pingin jadi pengarang lagu sekaligus
penyanyinya pak “ jawab Jali.
“ Alah, lagu apa… orang satupun nggak pernah
jadi pak, paling genjrang-genjreng nggak karuan “ kata Juleha menimpali jawaban
Jali sambil tertawa.
“ Weee, tapi itu kan gue, terserah gue
dong…lagu-lagu gue ini “ kata Jali lagi sambil mencubit lengan Juleha dan
mereka berdua tertawa.
Pak Darwis dan pak Burhan tersenyum melihat
kedua orang pasangan ini.
“ Pak Jali dan Bu Juleha ini mesra banget ya ”,
kata pak Darwis.
“ Iya dong pak, biar bagaimanapun Jali ini
adalah pasangan hidup saya “, kata Juleha.
“ Dia beruntung dapet gue pak “ kata Jali lagi
sambil melirik istrinya.
“ Nggak musibah ? “, tanya istrinya pula sambil
tertawa dan mereka semua tertawa oleh banyolan kedua orang suami istri ini
seperti anak remaja.
“ Kembali ke topik kita tentang Kalimah Tahlil
yang berbunyi Laa Illaha Illallah yang artinya Tiada Tuhan Selain Allah,
maknanya pak Jali harus punya cita-cita atau tujuan hidup karena mustahil manusia
bisa tahu segalanya karena kemampuan manusia sangat terbatas…, kalau pak Jali
ingin jadi pengarang lagu dan penyanyi pak Jali harus mencari inspirasi “ kata
pak Darwis kemudian.
“ Baiklah pak, mulai sekarang Jali akan
berusaha menjadi Jali yang Laa Illaha Illallah tapi Jali belum tahu Inspirasi,
memang inspirasi itu apa pak ? “, tanya Jali.
“ Inspirasi itu adalah hal yang bisa bapak gali
dari diri bapak sendiri “, kata pak Darwis kemudian.
Jali mengangguk-anggukan kepalanya dan coba
mencari tahu apa arti inspirasi itu.
“ Oya, berhubung sudah sore, kami permisi ya
pak, sekalian titip CPU komputer saya untuk bapak perbaiki di toko service
komputer di dekat rumah bapak ini dan jangan lupa main kerumah atau kantor
saya“, pak Darwis permisi pulang dan menawarkan pertemuan lebih lanjut dengan
Jali dan keluarganya.
“ Okelah pak, saya pasti perbaiki CPU bapak
karena uangnya udah bapak kasih sekalian mau mampir ke kantor atau rumah bapak
“, kata Jali kemudian.
Pak Darwis dan pak Burhan lalu pulang dengan di
antar sampai depan rumah oleh Jali dan Juleha istrinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar