Minggu, 19 Januari 2014

25. JALI INGIN MENJADI JALI YANG LAA ILAHA ILLALLAH.



Kembali lagi ke tokoh utama kita yaitu Jali yang telah menjadi Subhanallah dan Alhamdullilah yang membuat Baim sahabat dari kecilnya menjaga jarak padanya karena Baim lebih utamakan simbol-simbol daripada nilai-nilai persahabatan itu sendiri.

Saat itu Jali sedang menuju pasar untuk membeli peralatan untuk tempat kosnya seperti bak air, gayung mandi, tong sampah dan lain sebagainya karena sudah lama dia tidak mengantinya dan secara tak sengaja dia bertemu dengan pak Darwis dan supirnya yang saat itu sedang membawa CPU komputer dan itu di letakkan di jok belakang mobilnya.

“ Pak Jali mau kemana ? “, tanya pak Darwis saat itu ketika di lihat nya Jali sedang berjalan di atas trotoar pasar dan pak Darwis membuka kaca jendela mobilnya dan tersenyum ramah sebagai ciri khasnya.

“ Eh pak Darwis “, kata Jali tak menduga dan merasa terhormat karena pengusaha sukses seperti pak Darwis mau menyapanya bahkan memberhentikan mobilnya hanya karena seorang laki-laki seperti dia.

“ Ini pak, Jali mau beli perlengkapan anak kos karena para anak kos ngeluh banyak peralatan kos yang rusak jadi nggak nyaman katanya “.

“ Ooo, kalau gitu ayo bareng pak “, kata pak Darwis ramah lalu membuka pintu mobilnya dan posisi duduk pak Darwis saat itu ada di jok belakang, dia  mengharapkan Jali bisa duduk di sampingnya.

“ Nggak usah deh pak, deket kok “, kata Jali berusaha menolak.

“ Ayolah ! “, seru pak Darwis lagi.

Akhirnya Jali naik di mobil mewah pak Darwis dan duduk berdampingan dengannya.

“ Wah, enak ya pak, dingin”, kata Jali ketika dia di dalam mobil pak Darwis.

“ Sama aja pak, itu karena pak Jali belum terbiasa, ntar kalau udah terbiasa nggak terasa lagi enaknya “, kata pak Darwis kemudian.

“ Gitu ya pak “, tanya Jali.

“ Iyalah pak Jali masak iya dong “, kata pak Darwis bercanda.

“ Ah, bapak ini ternyata suka bercanda juga “, kata Jali sambil tersenyum.

“ Bercanda itu bikin awet muda dan pikiran kita juga lebih tenang pak Jali, saya nggak pernah membawa ke hati masalah kehidupan ini, karena dunia ini nggak nyata “, pak Darwis coba memancing rasa ingin tahu Jali.

“ Nggak nyata ? “, tanya Jali nggak mengerti.

“ Iya… nggak nyata “, kata pak Darwis lagi.

Jali merenung dan mikir tapi dia tidak menemukan jawaban dari apa yang di katakan pak Darwis ini, lalu dia melihat CPU komputer yang ada di samping tempat duduknya.

“ Apa ini pak ?”, tanya Jali pada pak Darwis.

“ Oh…itu namanya CPU komputer, gampangnya otak komputer deh…saya mau memperbaikinya karena rusak “, jawab pak Darwis.

“ Kok rusak sih pak, orang kelihatannya bagus-bagus aja tuh “, kata Jali lagi karena dia hanya melihat casing dari CPU komputernya pak Darwis.

“ Dalamnya yang rusak pak Jali “, kata pak Darwis lagi.

“ Oh…, di dekat rumah saya ada tuh pak tukang service komputer “, kata Jali.

“ Oh ya…syukurlah kalau begitu, bagaimana kalau pak Jali saya suruh untuk memperbaiki CPU saya di tempat service komputer yang dekat rumah bapak, ini uang servicenya dan ini alamat kantor saya juga ada alamat rumah saya di situ”, pak Darwis memberikan uang juga kartu namanya dan Jali menerimanya.

 “ Dan pak Jali saya antar untuk membeli perlengkapan kos, bagaimana pak Jali ? “, pak Darwis menawarkan diri ke Jali.

“ Nggak usah repot-repot deh pak “, kata Jali lagi malu-malu.

“ Justru saya yang merepotin pak Jali, orang saya cuma duduk manis di sini dan di antar sama pak Burhan kok “, kata pak Darwis.

Pak Burhan supir pak Darwis cuma tersenyum karena dia sudah tahu sekali tentang majikan nya yang sangat di kaguminya ini.

“ Iya kan pak Burhan ? “, tanya pak Darwis lagi ke supirnya. 

“ Jadi kita kemana nih pak ? “, tanya pak Burhan tersenyum sambil mengendalikan stir mobil majikannya.

“ Ke pasar tradisional aja, sudah lama saya nggak lihat keadaan pasar tradisional di Jakarta ini “, jawab pak Darwis.

“ Oke deh pak “, kata pak Burhan lagi.

Lalu mobil meluncur ke sebuah pasar rakyat di Jakarta.

Setelah berbelanja segala macam kebutuhan tempat kos di pasar rakyat Jakarta, Jali di antar pak Burhan dan pak Darwis kerumahnya dan Jali menawarkan kedua orang ini untuk singgah di rumahnya, pak Darwis beserta pak Burhan bersedia untuk mampir ke rumah Jali sambil membawa CPU komputer yang akan di perbaiki.

“ Pak Darwis, ini istri saya namanya Juleha “, Jali memperkenalkan Juleha ke pak Darwis dan pak Burhan.

Juleha menyalami kedua orang tamu terhormat ini yang telah banyak merubah hidup Jali sesuai dengan mimpi-mimpinya selama ini.

Saat itu mereka duduk di kursi tamu dengan di hidangkan teh manis dan kue kecil ala kadarnya oleh Juleha dan dia duduk di samping Jali suaminya.

 “ Pak Darwis kan sudah mengajarkan Jali menjadi Jali yang Subhanallah dan Jali yang Alhamdullilah, ajari Jali dong pak ! “, pinta Jali di sela-sela pembicaraan mereka yang ngalor ngidul sebelumnya.

“Baiklah kalau begitu “, kata pak Darwis. 

“ Sekarang pak Jali harus harus belajar kalimah Tahlil yaitu Laa Ilaha Illallah artinya Tiada Tuhan Selain Allah, maknanya mulai sekarang pak Jali harus punya cita – cita atau tujuan dalam hidup pak Jali “, kata pak Darwis.

“ Memang cita-cita pak Jali apa ? “, tanya pak Darwis lagi.

“ Jali pingin jadi pengarang lagu sekaligus penyanyinya pak “ jawab Jali.

“ Alah, lagu apa… orang satupun nggak pernah jadi pak, paling genjrang-genjreng nggak karuan “ kata Juleha menimpali jawaban Jali sambil tertawa.

“ Weee, tapi itu kan gue, terserah gue dong…lagu-lagu gue ini “ kata Jali lagi sambil mencubit lengan Juleha dan mereka berdua tertawa.

Pak Darwis dan pak Burhan tersenyum melihat kedua orang pasangan ini.

“ Pak Jali dan Bu Juleha ini mesra banget ya ”, kata pak Darwis.

“ Iya dong pak, biar bagaimanapun Jali ini adalah pasangan hidup saya “, kata Juleha.

“ Dia beruntung dapet gue pak “ kata Jali lagi sambil melirik istrinya.

“ Nggak musibah ? “, tanya istrinya pula sambil tertawa dan mereka semua tertawa oleh banyolan kedua orang suami istri ini seperti anak remaja.

“ Kembali ke topik kita tentang Kalimah Tahlil yang berbunyi Laa Illaha Illallah yang artinya Tiada Tuhan Selain Allah, maknanya pak Jali harus punya cita-cita atau tujuan hidup karena mustahil manusia bisa tahu segalanya karena kemampuan manusia sangat terbatas…, kalau pak Jali ingin jadi pengarang lagu dan penyanyi pak Jali harus mencari inspirasi “ kata pak Darwis kemudian.

“ Baiklah pak, mulai sekarang Jali akan berusaha menjadi Jali yang Laa Illaha Illallah tapi Jali belum tahu Inspirasi, memang inspirasi itu apa pak ? “, tanya Jali.

“ Inspirasi itu adalah hal yang bisa bapak gali dari diri bapak sendiri “, kata pak Darwis kemudian.
Jali mengangguk-anggukan kepalanya dan coba mencari tahu apa arti inspirasi itu.

“ Oya, berhubung sudah sore, kami permisi ya pak, sekalian titip CPU komputer saya untuk bapak perbaiki di toko service komputer di dekat rumah bapak ini dan jangan lupa main kerumah atau kantor saya“, pak Darwis permisi pulang dan menawarkan pertemuan lebih lanjut dengan Jali dan keluarganya.

“ Okelah pak, saya pasti perbaiki CPU bapak karena uangnya udah bapak kasih sekalian mau mampir ke kantor atau rumah bapak “, kata Jali kemudian.

Pak Darwis dan pak Burhan lalu pulang dengan di antar sampai depan rumah oleh Jali dan Juleha istrinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar