Ketika tekad sudah kuat lantas merasuk ke hati
maka jiwa dan raga akan mengikuti. Begitulah manusia karena dia di buat sebagai
mahluk paling sempurna dan di ciptakan oleh Sang Maha Sempurna. Manusia di
sebut mahluk paling sempurna karena dia beri akal dan hati juga celupan-celupan
Sifat Tuhan Yang Maha Sempurna atau Shighbah Allah yang ada dalam diri setiap
manusia.
Banyak di antara manusia yang bingung untuk
membedakan antara suara hati dan celupan sifat-sifat Tuhan atau Shigbhah Allah
itu.
Mungkin suara hati adalah sesuatu yang timbul
sesuai dengan keadaan yang kita hadapi sedangkan celupan sifat - sifat Tuhan
atau Shigbhah Allah itu adalah stock-stock sifat luhur manusia yang ada.
Mungkin dalam istilah Manajemen Suara hati itu
adalah sesuatu barang atau sesuatu hal yang tepat kita gunakan pada tempatnya
atau katakanlah tepat guna, sementara celupan sifat – sifat Tuhan itu adalah
stock-stock barang atau sesuatu hal yang ada dalam gudang diri manusia itu
sendiri.
Kalau kita analogikan suara hati manusia itu
dalam bidang tehnik pertukangan atau mekanik, kunci ring pas itu tepat di
gunakan untuk membuka baut atau mengencangkan baut bukan untuk memukul seperti
palu, sedangkan celupan sifat-sifat Tuhan atau Shigbhah Allah itu adalah “
gudang nya” yang di dalam nya ada kunci ring pas dan palu, jadi terserah pada
diri si tukang atau mekanik, karena dialah yang memilih sesuai dengan ilmunya
mau memakai kunci ring pas untuk membuka atau mengencangkan baut atau membuka
dan mengencangkan baut dengan palu.
Di dalam diri si tukang atau mekanik ada tangan
yang bekerja dengan memutar kunci ring pas ke kiri untuk membuka baut atau
memutar ke kanan untuk mengencangkan baut ATAU memukulnya keras-keras dengan
palu dan itu semua di kendalikan oleh akal pikirannya.
Jadi kalau kita mau sedikit berpikir ada proses
di sini yaitu SHIGBHAH ALLAH SWT atau Celupan Sifat-Sifat Tuhan Yang Maha Agung
yang ada dalam diri setiap manusia ( Gudang Suara hati Manusia ) KEMUDIAN di
pilih yang manakah yang sesuai dengan SUARA HATI MANUSIA ( Pilih Salah satu
dari gudang Suara Hati yang paling baik agar tepat guna ) dengan kenyataan atau permasalahan yang ada,
lalu TANGAN MANUSIA itu sendiri yang bekerja dan DI KENDALIKAN oleh AKAL DAN
PIKIRANNYA.
Akal dan pikiran manusia terkadang di penuhi
oleh nafsu syahwat yang bernama materi atau kepentingan dunia, inilah yang
membuat manusia melupakan jati diri dan fitrahnya sebagai mahluk paling
sempurna lalu dia mencari-cari alasan dan pembenaran dari apa yang di pikirkan
dan yang di lakukannya.
Shigbhah Allah atau celupan Sifat-Sifat Tuhan
yang Agung itu dalam Islam di sebut dengan Asmaul Husna atau Nama - Nama Allah
Yang Indah dan Baik yang Jali belum tahu, walaupun Jali belum tahu tapi
Sifat-Sifat Asmaul Husna itu selalu ada dalam diri Jali sendiri, selalu
mengikuti kemanapun Jali pergi karena dia lebih dekat dari urat lehernya
sendiri.
Makanya pak Darwis memotivasi Jali untuk
mendengarkan suara hati sendiri karena dia tahu, di samping ada sifat buruk
dari Jali maka ada sifat-sifat baik dari Jali karena itu adalah sifat dasar
manusia siapapun dia, baik itu pejabat, rakyat, seniman, tukang becak, pelacur,
Ustad, pendeta, biksu pokoknya semua manusia keturunan nabi Adam dan Siti Hawa
atau Eva, tanpa memandang bangsa, negara,
suku, agama, ras, golongan atau apapun itu.
Sifat-sifat baik dari Jali yang setia kepada
istrinya, ingin tahu perkembangan zaman, nggak suka memaksa dan setia kawan di
samping ada sifat buruknya yaitu selalu bangun siang dan suka minum-minuman
keras bercampur jadi satu lalu menjadi budaya dalam hidupnya dan menjadi cara
berpikirnya pula dan dia menganggap itu tidak ada salahnya karena kebiasaan.
Makanya pak Darwis tidak pernah menyalahkan
secara langsung Jali yang suka minum – minuman keras dan bangun siang karena
mungkin dia capek begadang atau ketika pak Darwis menawarkan Jali untuk sholat
tapi Jali tidak mau karena menurutnya tidak ada gunanya walaupun dari pertama
dia mengikuti pak Darwis dari belakang.
Pak Darwis yakin bahwa suatu hari nanti Jali
akan menjadi manusia yang paripurna, manusia yang bertaqwa dengan apa yang dia yakini
sebagai sumber kebenaran dari yang Maha Benar. Karena kebenaran adalah produk
pemikiran manusia yang sangat terbatas dari Sang Maha Benar itu sendiri,
sementara Sang Maha Maha Benar tak mungkin terjangkau oleh akal pikiran manusia
yang sangat terbatas, itulah Iman karena Iman tak mungkin bisa di logikakan
oleh akal manusia karena dasarnya adalah yakin seyakin-yakinnya tanpa logika.
Hari ini Jali bangun pagi sekali dan Juleha
istrinya kaget ketika dia ingin memeluk suaminya di pagi hari di antara alam
sadar dan bawah sadar karena baru bangun dari tidurnya, suaminya tidak ada
karena Jali telah bangun. Juleha terus meraba kasur yang kosong kemudian dia
bangun dan duduk.
“ Kemana Jali ni ya ?, ngelayap ke mana tu
bocah ? “, katanya lagi dengan memperhatikan seluruh isi kamar sambil
mengucek-ngucek matanya, kemudian dia keluar dari kamar dan memperhatikan Jali
sedang asyik di ruang TV sambil mendengar berita pagi.
“ Tumben elu udah bangun Jal “, kata Juleha
sambil menguap.
“ Kan gue udah jadi Jali yang Alhamdullilah “,
jawab Jali sambil asyik mendengarkan berita.
“ Jali yang Alhamdullilah ? “, tanya Juleha tak
mengerti.
“ Iya, Alhamdulilah “, jawabnya lagi.
“ Apaan tuh ? “, tanya Juleha penasaran.
“ Alhamdullilah tu artinya Allah Maha Terpuji,
makanya Jali mau jadi orang terpuji ya seperti bangun pagi inilah contoh orang
terpuji “, jawabnya lagi sambil asyik mendengarkan berita pagi yang saat itu
beritanya adalah seorang anak yang membunuh orang tuanya hanya karena berebut
harta warisan dengan saudara-kandungnya.
“ Heran ya manusia itu, masak gara – gara harta
warisan sampai membunuh orang tuanya, kapan bisa jadi Alhamdullilah kalau hanya
mikirin harta ? “, tanya Jali mengomentari isi berita pagi di hari ini.
“ Gue binggung ni Jal, elu dari tadi ngomong
Alhamdullilah melulu, elu bangun pagi katanya Elu udah jadi Jali yang
Alhamdulilah, liat berita orang yang membunuh orang tuanya lu bilang kapan bisa
jadi Alhamdullilah ?, emang Alhamdullilah itu apaan sih ? “ tanya Juleha kali
ini dengan wajah serius walaupun dia baru bangun tidur.
“ Kata pak Darwis guru Jali yang sangat pinter
dan baik itu, kalau mau jadi Alhamdullilah kita harus mau dengerin suara hati
yaitu suara kebaikan yang ada dalam diri kita, menurut elu apa baek gue bangun
siang melulu atau orang yang membunuh orang tuanya hanya karena harta warisan ?
“, Jali menjelaskan kemudian memberikan pertanyaan kepada Juleha istrinya.
“ Ya kagak “, jawab Juleha pula.
“ Nah , suara itu yang Alhamdullilah “, kata
Jali sambil tersenyum puas karena dia sudah berhasil memberikan pengertian
tentang Alhamdullilah kepada Juleha.
“ Ooo “, kata Juleha pula, kemudian dia
berangkat ke dapur lalu membuatkan secangkir kopi untuk Jali.
“ Tumben elu buatin kopi gue tanpa
gue suruh ? “, tanya Jali pada Juleha.
“ Gue kan udah jadi istri yang Alhamdullilah “,
kata Juleha sambil tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar