Minggu, 19 Januari 2014

20. KELUARGA KECIL YANG ALHAMDULLILAH.



Ketika tekad sudah kuat lantas merasuk ke hati maka jiwa dan raga akan mengikuti. Begitulah manusia karena dia di buat sebagai mahluk paling sempurna dan di ciptakan oleh Sang Maha Sempurna. Manusia di sebut mahluk paling sempurna karena dia beri akal dan hati juga celupan-celupan Sifat Tuhan Yang Maha Sempurna atau Shighbah Allah yang ada dalam diri setiap manusia.

Banyak di antara manusia yang bingung untuk membedakan antara suara hati dan celupan sifat-sifat Tuhan atau Shigbhah Allah itu.

Mungkin suara hati adalah sesuatu yang timbul sesuai dengan keadaan yang kita hadapi sedangkan celupan sifat - sifat Tuhan atau Shigbhah Allah itu adalah stock-stock sifat luhur manusia yang ada.

Mungkin dalam istilah Manajemen Suara hati itu adalah sesuatu barang atau sesuatu hal yang tepat kita gunakan pada tempatnya atau katakanlah tepat guna, sementara celupan sifat – sifat Tuhan itu adalah stock-stock barang atau sesuatu hal yang ada dalam gudang diri manusia itu sendiri.

Kalau kita analogikan suara hati manusia itu dalam bidang tehnik pertukangan atau mekanik, kunci ring pas itu tepat di gunakan untuk membuka baut atau mengencangkan baut bukan untuk memukul seperti palu, sedangkan celupan sifat-sifat Tuhan atau Shigbhah Allah itu adalah “ gudang nya” yang di dalam nya ada kunci ring pas dan palu, jadi terserah pada diri si tukang atau mekanik, karena dialah yang memilih sesuai dengan ilmunya mau memakai kunci ring pas untuk membuka atau mengencangkan baut atau membuka dan mengencangkan baut dengan palu.

Di dalam diri si tukang atau mekanik ada tangan yang bekerja dengan memutar kunci ring pas ke kiri untuk membuka baut atau memutar ke kanan untuk mengencangkan baut ATAU memukulnya keras-keras dengan palu dan itu semua di kendalikan oleh akal pikirannya.

Jadi kalau kita mau sedikit berpikir ada proses di sini yaitu SHIGBHAH ALLAH SWT atau Celupan Sifat-Sifat Tuhan Yang Maha Agung yang ada dalam diri setiap manusia ( Gudang Suara hati Manusia ) KEMUDIAN di pilih yang manakah yang sesuai dengan SUARA HATI MANUSIA ( Pilih Salah satu dari gudang Suara Hati yang paling baik agar tepat guna )  dengan kenyataan atau permasalahan yang ada, lalu TANGAN MANUSIA itu sendiri yang bekerja dan DI KENDALIKAN oleh AKAL DAN PIKIRANNYA.

Akal dan pikiran manusia terkadang di penuhi oleh nafsu syahwat yang bernama materi atau kepentingan dunia, inilah yang membuat manusia melupakan jati diri dan fitrahnya sebagai mahluk paling sempurna lalu dia mencari-cari alasan dan pembenaran dari apa yang di pikirkan dan yang di lakukannya. 

Shigbhah Allah atau celupan Sifat-Sifat Tuhan yang Agung itu dalam Islam di sebut dengan Asmaul Husna atau Nama - Nama Allah Yang Indah dan Baik yang Jali belum tahu, walaupun Jali belum tahu tapi Sifat-Sifat Asmaul Husna itu selalu ada dalam diri Jali sendiri, selalu mengikuti kemanapun Jali pergi karena dia lebih dekat dari urat lehernya sendiri.

Makanya pak Darwis memotivasi Jali untuk mendengarkan suara hati sendiri karena dia tahu, di samping ada sifat buruk dari Jali maka ada sifat-sifat baik dari Jali karena itu adalah sifat dasar manusia siapapun dia, baik itu pejabat, rakyat, seniman, tukang becak, pelacur, Ustad, pendeta, biksu pokoknya semua manusia keturunan nabi Adam dan Siti Hawa atau Eva, tanpa memandang bangsa, negara,  suku, agama, ras, golongan atau apapun itu.

Sifat-sifat baik dari Jali yang setia kepada istrinya, ingin tahu perkembangan zaman, nggak suka memaksa dan setia kawan di samping ada sifat buruknya yaitu selalu bangun siang dan suka minum-minuman keras bercampur jadi satu lalu menjadi budaya dalam hidupnya dan menjadi cara berpikirnya pula dan dia menganggap itu tidak ada salahnya karena kebiasaan.

Makanya pak Darwis tidak pernah menyalahkan secara langsung Jali yang suka minum – minuman keras dan bangun siang karena mungkin dia capek begadang atau ketika pak Darwis menawarkan Jali untuk sholat tapi Jali tidak mau karena menurutnya tidak ada gunanya walaupun dari pertama dia mengikuti pak Darwis dari belakang.

Pak Darwis yakin bahwa suatu hari nanti Jali akan menjadi manusia yang paripurna, manusia yang bertaqwa dengan apa yang dia yakini sebagai sumber kebenaran dari yang Maha Benar. Karena kebenaran adalah produk pemikiran manusia yang sangat terbatas dari Sang Maha Benar itu sendiri, sementara Sang Maha Maha Benar tak mungkin terjangkau oleh akal pikiran manusia yang sangat terbatas, itulah Iman karena Iman tak mungkin bisa di logikakan oleh akal manusia karena dasarnya adalah yakin seyakin-yakinnya tanpa logika.

Hari ini Jali bangun pagi sekali dan Juleha istrinya kaget ketika dia ingin memeluk suaminya di pagi hari di antara alam sadar dan bawah sadar karena baru bangun dari tidurnya, suaminya tidak ada karena Jali telah bangun. Juleha terus meraba kasur yang kosong kemudian dia bangun dan duduk.

“ Kemana Jali ni ya ?, ngelayap ke mana tu bocah ? “, katanya lagi dengan memperhatikan seluruh isi kamar sambil mengucek-ngucek matanya, kemudian dia keluar dari kamar dan memperhatikan Jali sedang asyik di ruang TV sambil mendengar berita pagi.

“ Tumben elu udah bangun Jal “, kata Juleha sambil menguap.

“ Kan gue udah jadi Jali yang Alhamdullilah “, jawab Jali sambil asyik mendengarkan berita.

“ Jali yang Alhamdullilah ? “, tanya Juleha tak mengerti.

“ Iya, Alhamdulilah “, jawabnya lagi.

“ Apaan tuh ? “, tanya Juleha penasaran.

“ Alhamdullilah tu artinya Allah Maha Terpuji, makanya Jali mau jadi orang terpuji ya seperti bangun pagi inilah contoh orang terpuji “, jawabnya lagi sambil asyik mendengarkan berita pagi yang saat itu beritanya adalah seorang anak yang membunuh orang tuanya hanya karena berebut harta warisan dengan saudara-kandungnya.

“ Heran ya manusia itu, masak gara – gara harta warisan sampai membunuh orang tuanya, kapan bisa jadi Alhamdullilah kalau hanya mikirin harta ? “, tanya Jali mengomentari isi berita pagi di hari ini.

“ Gue binggung ni Jal, elu dari tadi ngomong Alhamdullilah melulu, elu bangun pagi katanya Elu udah jadi Jali yang Alhamdulilah, liat berita orang yang membunuh orang tuanya lu bilang kapan bisa jadi Alhamdullilah ?, emang Alhamdullilah itu apaan sih ? “ tanya Juleha kali ini dengan wajah serius walaupun dia baru bangun tidur.

“ Kata pak Darwis guru Jali yang sangat pinter dan baik itu, kalau mau jadi Alhamdullilah kita harus mau dengerin suara hati yaitu suara kebaikan yang ada dalam diri kita, menurut elu apa baek gue bangun siang melulu atau orang yang membunuh orang tuanya hanya karena harta warisan ? “, Jali menjelaskan kemudian memberikan pertanyaan kepada Juleha istrinya.

“ Ya kagak “, jawab Juleha pula.

“ Nah , suara itu yang Alhamdullilah “, kata Jali sambil tersenyum puas karena dia sudah berhasil memberikan pengertian tentang Alhamdullilah kepada Juleha.

“ Ooo “, kata Juleha pula, kemudian dia berangkat ke dapur lalu membuatkan secangkir kopi untuk Jali.

            “ Tumben elu buatin kopi gue tanpa gue suruh ? “, tanya Jali pada Juleha.

“ Gue kan udah jadi istri yang Alhamdullilah “, kata Juleha sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar