Matahari pagi telah tinggi, sinarnya tak pernah
lupa memberikan secara gratis vitamin D untuk penyerapan kalsium di dalam tubuh
yang merupakan solusi dalam pembentukan dan perbaikan tulang manusia. Selain
itu sinar matahari pagi juga mengandung sinar ultraviolet yang mampu membunuh
bakteri, virus juga jamur, begitu teori kesehatan mengatakannya.
Tapi hanya sedikit manusia yang peduli pada itu
dan kalaupun peduli di lakukan karena terpaksa, terpaksa karena rutinitas kerja
untuk mencari nafkah semata. Yang
lainnya masih asyik bermimpi, karena mimpi masih gratis di negeri ini.
Seperti Jali, pemuda betawi yang telah menikah
dengan Juleha dan di beri warisan tempat kos oleh orang tuanya untuk para
mahasiswa di sekitar tempat tinggalnya, dari usaha tempat kos inilah Jali menafkahi
Juleha istrinya. Jali bercita-bercita menjadi penulis lagu dan penyanyi karena
hobinya main gitar walau nggak ada satupun lagu yang benar-benar jadi dia buat.
Jali bermimpi lagunya ngetop dan di nyanyikan
oleh penyanyi sexy yang melenggak-lenggokan pingulnya untuk memancing birahi
laki-laki dengan pakaian super ketat dan memamerkan aurat padahal suaranya
pas-pasan, tak ada nilai seni sama sekali kecuali syahwat.
“Bangun… !” teriak Juleha membangunkan Jali dari mimpinya
“ gue udah selesai nyuci elo masih tidur pegimane bisa dapet rejeki, jam segini
masih molor “.
“ Ah elu, gue lagi enak-enak ngimpi elu
bangunin, gue ngimpi lagu gue laku dan gue jadi terkenal “, Jali protes karena
di bangunkan Juleha di saat dia lagi asyik menikmati mimpinya.
“ Ngimpi melulu, elu itu hidup di dunia nyata
bukan di dunia mimpi …tau ? “, Juleha protes karena Jali lebih menikmati mimpi
dari pada suaranya untuk membangunkannya.
“ Seharusnya elu bersyukur gue masih bisa mimpi
karena mimpi itu gratis dan bisa meningkatkan gairah hidup gue “ Jali melakukan
pembelaan pada mimpinya.
“ Gairah hidup…gairah hidup….gairah hidup apaan
?, emang elu punya gairah dalam hidup, orang kerjaannya cuma nongkrong di pos
ronda dengan temen – temen elu aja pake gairah hidup “, Juleha protes lagi
karena memang saban hari Jali berkumpul dengan temen-temennya di pos ronda.
“ Emang kalau gue nggak ada gairah hidup elu
masih mau sama gue ?”, Jali bertanya pura – pura bodoh sambil memperhatikan
dada Juleha dan menjulur-julurkan mulutnya seperti orang ngenyot.
“ Tu kan…kalau yang jorok-jorok aja elu cepet
nyambung”, kata Juleha sambil tertawa.
“ Udah
bangun sana dan mandi ! “, seru Juleha lagi karena Jali malas mandi dan
lebih suka cuci muka.
“ Iya deh, Iya deh istriku tersayang…suamimu
tercinta ini akan segera bangun dan cuci muka “, Jali memang suka mencandai
Juleha soal mandi dan cuci muka.
“ Mandi dong ! “, pinta Juleha lagi.
“ Ogah… dingin “, Jali memberikan alasan malas
mandinya.
“ Aer panas udah gue siapin “, jawab Juleha
karena dia memang mengharapkan agar Jali mandi dan berpakaian rapi.
“ Ntar gue sakit kalau mandi jam segini “, kata
Jali lagi membuat Juleha menyerah.
“ Ya udah deh terserah elu yang penting elu
bangun “.
Jali bangun dari tempat tidur dan memonyongkan
mulutnya.
“ Sun dong yang ! “, Jali minta di cium sama
Juleha.
“ Ogah, bau jigong “.
“ Tapi sukakan ? “, kata Jali mencandai Juleha.
“ Siapa bilang, gue kawin sama elu aja karena
terpaksa kok “, kali ini Juleha yang buat Jali penasaran.
“ Di paksa siapa ?”, Jali bener-bener penasaran
dengan jawaban Juleha.
“ Di paksa cinta gue ame elu “, jawab Juleha
sambil tersenyum.
Jali mencubit pinggang Juleha karena dia merasa
di kerjain dan mereka berdua tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar