Minggu, 19 Januari 2014

30. INSPIRASI, DI MANA KAU KU CARI ?



Inspirasi adalah suara hati yang kita tuangkan dalam ide dan hasilnya adalah karya. Inspirasi itu ada dalam diri kita sendiri jika kita mau mengembangkannya karena di dalam diri setiap manusia ada sifat Al-Khalik atau Maha Pencipta yang merupakan bagian dari Shigbhah atau celupan-celupan sifat Allah SWT dalam Asmaul Husna.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perinta-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al Baqarah ( 2 ) ayat 186)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan menusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya." (QS. Al Qaaf: 16)

Sebenarnya bukan hanya Sifat atau nama Al-Khaliq atau pencipta yang ada pada diri manusia, tapi kesemua sifat-sifat Allah atau nama-nama Allah SWT yang indah yang ada dalam Asmaul Husna ada pada diri setiap manusia tapi ingat MANUSIA BUKAN ALLAH SWT karena ilmu manusia atau sifat manusia yang ada dalam Asmaul Husna sangat terbatas karena dia selalu di batasi oleh ruang ,waktu dan keadaan.

Manusia memang di suruh berdoa pada Allah SWT tapi tidak cukup dengan berdoa tapi harus di iringi dengan usaha atau ikhtiar karena doa adalah perencanaan atau planing pada manusia agar akal dan pikirannya bekerja dan itu di jadikan sebagai patokan untuk meraih cita-cita manusia yang ada dalam doanya.

Coba kita perhatikan secara seksama apa yang tertulis dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 186 sbb : ………dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." 

Jadi Allah berpesan pada manusia agar selalu beriman dalam doa yang merupakan cita - cita atau perencanaan yang ada dalam pikirannya agar kita selalu berada dalam kebenaran tapi dalam kenyataan hidup kita sehari-hari kita melakukan kesalahan karena doa kita atau cita – cita kita di tujukan pada materi bukan merupakan manifestasi ke imanan kita padaNya.

Hari ini, tokoh dalam cerita kita yaitu Jali kembali berkumpul dengan kawan-kawannya di pos ronda, tapi Jali sudah tidak mau minum-minuman beralkohol lagi, dan setiap azan memanggil di Musholla dia pasti melakukan sholat yang dia bilang ke kawan-kawannya untuk men scan atau membersihkan dirinya dan akhirnya kawan-kawannya bisa mengerti termaksud Baim yang pertama kali sudah tidak menganggap Jali sebagai bagian dari kelompok mereka.
Itulah contoh manusia dalam kehidupannya, jika kita konsisten dengan apa yang pertama kali kita ucapkan dan kita melaksanakannya maka orang lain pasti menilai kita dan orang lain pasti menyadari kesalahan persepsinya atau cara pandangnya tentang kita.
Hal inilah yang di akui Baim pada Jali di hari ini.
“ Gue salut sama elu Jal, elu sholat tapi elu tetap bergaul sama kita - kita “, Baim mengakui kesalahannya pada Jali.
“ Elu – elu itu kan sohib gue, siapapun elu ya tetep sohib gue, iya kan ? “, tanya Jali untuk mencari tahu pendapat kawan-kawannya.
“ Elu bener Jal, siapapun kita…kita inilah adalah temen, sohib atau sahabat baik senang atau susah kita adalah sahabat tanpa harus mencampuri urusan pribadi kita masing-masing “, kata Bahar kemudian.
“ Iya, gue ngerti sekarang…, mau Jali minum dengan gelas kita ini atau nggak sama sekali dia tetap temen kita “, kata Baim kemudian padahal selama ini dia begitu mengagung-agungkan simbol persahabatan di antara mereka.
“ Ya udah deh, gue lagi binggung mo cari inspirasi nih “, kata Jali.
“ Memang inspirasi itu anak mendi Jal ?, sira di ganggu sama dia “ kata Wardillah anak Indramayu yang terkenal temperamen dan suka membela kawan-kawannya.
“ Ye…elu itu bawaannya emosi melulu, berantem melulu “ kata Jali kepada Wardillah.
Wardillah garuk-garuk kepala karena di ledek sama Jali membuat Bahar tersenyum kecil karena kelucuan dari sahabatnya ini sementara kawan-kawan lainnya tertawa terbahak-bahak karena Wardillah yang badannya tinggi besar di ledek sama Jali.
“ Inspirasi kata pak Darwis adalah apa yang dapat Jali gali dari diri Jali sendiri“ kata Jali kemudian.
“ Waduh…kalau itu gue nggak ngerti deh Jal, bahasanya terlalu tinggi “ kata salah seorang di antara kawan mereka.
“ Sama, gue juga nggak ngerti “ jawab Jali spontan
Para sahabat ini kembali tertawa mendengar jawaban spontan dari Jali.
“ Gue denger elu mo merit Jang ? “, tanya Jali pada Bujang yang dari tadi asyik memainkan gitar melodi.
“ Iya, Bujingku sudah kasi izin aku nikah sama Minah “, jawab Bujang.
“ Syukur deh kalau gitu, kata orang - orang tua dengan menikah kita lebih dewasa, katanya lho…, gue sendiri nggak ngerti dewasa apanya “, kata Jali lagi.
Bujang hanya tersenyum mendengar perkataan dari Jali ini.
“ Sudahlah…yang penting abang-abang ini datang waktu pesta perkawinanku nanti ! “, seru Bujang kepada sahabat-sahabatnya.
“ Pasti dong kita datang, masak di kasi makan kita nggak datang “, kata salah seorang di antara mereka membuat para sahabat lainnya kembali tertawa.
Memang harus kita akui, berkumpul dengan sahabat-sahabat kita kemudian bercanda dengan mereka bisa mengurangi tingkat stress karena mustahil manusia hidup lepas dari penyakit tekanan yang namanya stress.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar