Inspirasi adalah suara hati yang kita tuangkan
dalam ide dan hasilnya adalah karya. Inspirasi itu ada dalam diri kita sendiri
jika kita mau mengembangkannya karena di dalam diri setiap manusia ada sifat
Al-Khalik atau Maha Pencipta yang merupakan bagian dari Shigbhah atau
celupan-celupan sifat Allah SWT dalam Asmaul Husna.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka
(jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perinta-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran." (QS. Al Baqarah ( 2 ) ayat 186)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan menusia dan mengetahui
apa yang di bisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat
lehernya." (QS. Al Qaaf: 16)
Sebenarnya bukan hanya Sifat atau nama Al-Khaliq atau pencipta yang ada
pada diri manusia, tapi kesemua sifat-sifat Allah atau nama-nama Allah SWT yang
indah yang ada dalam Asmaul Husna ada pada diri setiap manusia tapi ingat
MANUSIA BUKAN ALLAH SWT karena ilmu manusia atau sifat manusia yang ada dalam
Asmaul Husna sangat terbatas karena dia selalu di batasi oleh ruang ,waktu dan
keadaan.
Manusia memang di suruh berdoa pada Allah SWT tapi tidak cukup dengan
berdoa tapi harus di iringi dengan usaha atau ikhtiar karena doa adalah
perencanaan atau planing pada manusia agar akal dan pikirannya bekerja dan itu
di jadikan sebagai patokan untuk meraih cita-cita manusia yang ada dalam
doanya.
Coba kita perhatikan secara seksama apa yang tertulis dalam Qur’an
Surah Al-Baqarah ayat 186 sbb : ………dan
hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran."
Jadi Allah berpesan pada manusia agar selalu
beriman dalam doa yang merupakan cita - cita atau perencanaan yang ada dalam
pikirannya agar kita selalu berada dalam kebenaran
tapi dalam kenyataan hidup kita sehari-hari kita melakukan kesalahan karena doa kita atau cita – cita kita di tujukan pada
materi bukan merupakan manifestasi ke imanan kita padaNya.
Hari ini, tokoh dalam cerita kita yaitu Jali kembali berkumpul dengan
kawan-kawannya di pos ronda, tapi Jali sudah tidak mau minum-minuman beralkohol
lagi, dan setiap azan memanggil di Musholla dia pasti melakukan sholat yang dia
bilang ke kawan-kawannya untuk men scan atau membersihkan dirinya dan akhirnya
kawan-kawannya bisa mengerti termaksud Baim yang pertama kali sudah tidak
menganggap Jali sebagai bagian dari kelompok mereka.
Itulah contoh manusia dalam kehidupannya, jika kita konsisten dengan
apa yang pertama kali kita ucapkan dan kita melaksanakannya maka orang lain
pasti menilai kita dan orang lain pasti menyadari kesalahan persepsinya atau
cara pandangnya tentang kita.
Hal inilah yang di akui Baim pada Jali di hari ini.
“ Gue salut sama elu Jal, elu sholat tapi elu tetap bergaul sama kita -
kita “, Baim mengakui kesalahannya pada Jali.
“ Elu – elu itu kan sohib gue, siapapun elu ya tetep sohib gue, iya kan
? “, tanya Jali untuk mencari tahu pendapat kawan-kawannya.
“ Elu bener Jal, siapapun kita…kita inilah adalah temen, sohib atau
sahabat baik senang atau susah kita adalah sahabat tanpa harus mencampuri
urusan pribadi kita masing-masing “, kata Bahar kemudian.
“ Iya, gue ngerti sekarang…, mau Jali minum dengan gelas kita ini atau
nggak sama sekali dia tetap temen kita “, kata Baim kemudian padahal selama ini
dia begitu mengagung-agungkan simbol persahabatan di antara mereka.
“ Ya udah deh, gue lagi binggung mo cari inspirasi nih “, kata Jali.
“ Memang inspirasi itu anak mendi Jal ?, sira di ganggu sama dia “ kata
Wardillah anak Indramayu yang terkenal temperamen dan suka membela
kawan-kawannya.
“ Ye…elu itu bawaannya emosi melulu, berantem melulu “ kata Jali kepada
Wardillah.
Wardillah garuk-garuk kepala karena di ledek sama Jali membuat Bahar
tersenyum kecil karena kelucuan dari sahabatnya ini sementara kawan-kawan
lainnya tertawa terbahak-bahak karena Wardillah yang badannya tinggi besar di
ledek sama Jali.
“ Inspirasi kata pak Darwis adalah apa yang dapat Jali gali dari diri
Jali sendiri“ kata Jali kemudian.
“ Waduh…kalau itu gue nggak ngerti deh Jal, bahasanya terlalu tinggi “
kata salah seorang di antara kawan mereka.
“ Sama, gue juga nggak ngerti “ jawab Jali spontan
Para sahabat ini kembali tertawa mendengar jawaban spontan dari Jali.
“ Gue denger elu mo merit Jang ? “, tanya Jali pada Bujang yang dari
tadi asyik memainkan gitar melodi.
“ Iya, Bujingku sudah kasi izin aku nikah sama Minah “, jawab Bujang.
“ Syukur deh kalau gitu, kata orang - orang tua dengan menikah kita
lebih dewasa, katanya lho…, gue sendiri nggak ngerti dewasa apanya “, kata Jali
lagi.
Bujang hanya tersenyum mendengar perkataan dari Jali ini.
“ Sudahlah…yang penting abang-abang ini datang waktu pesta perkawinanku
nanti ! “, seru Bujang kepada sahabat-sahabatnya.
“ Pasti dong kita datang, masak di kasi makan kita nggak datang “, kata
salah seorang di antara mereka membuat para sahabat lainnya kembali tertawa.
Memang harus kita akui, berkumpul dengan sahabat-sahabat kita kemudian
bercanda dengan mereka bisa mengurangi tingkat stress karena mustahil manusia
hidup lepas dari penyakit tekanan yang namanya stress.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar