Sabtu, 18 Januari 2014

5. BEDA BAHASA AJA PAKE BERANTEM, ANEH KAN ?



Bahasa menunjukkan bangsa, karena memang kenyataan banyak suku bangsa yang ada di Indonesia, ada Aceh, Melayu, Batak, Karo, Minang, Jawa, Sunda, Madura,  Bugis, Toraja, Minahasa, Dayak, Banjar , Bali, Maluku, Papua dan banyak lagi suku-suku bangsa lainnya. Masing-masing suku bangsa membawa bahasa yang berbeda dan terkadang terjadi salah penafsiran hanya karena beda bahasa.

Perbedaan bahasa ini menjadi lucu kalau kita anggap sebagai lelucon dalam romantika hidup sehari - hari, tapi kalau kita anggap bahasa kita adalah kebenaran  absolut yang tidak bisa di ganggu gugat maka pertikaian dan perkelahianlah yang akan terjadi.

Hal ini terjadi pada Bujang, pemuda yang baru datang dari pedalaman Sibolga sebuah kota pelabuhan di Sumatera Utara. Dia datang ke Jakarta untuk menengok tantenya atau bujing dalam bahasa Mandailing,  suku bangsa asli di Sibolga. Tantenya si Bujang ini bernama Butet dan sudah lama menetap di Jakarta. Butet adalah janda tanpa anak  sejak suaminya meninggal sekitar tiga tahun yang lalu. Dia membuka warung kebutuhan hidup sehari - hari di Kelurahan tempat Jali tinggal karena dari usaha warung inilah dia bisa bertahan hidup dari kerasnya kehidupan ini.

Saat itu Butet sedang melayani Doel, orang betawi asli yang sedang belanja di warungnya ketika Bujang datang dan tidak memberitahu dia sebelumnya, antara percaya dan tidak percaya Butet bertanya terus pada Bujang keponakannya yang saat itu telah sampai di Jakarta.

“ Eh…Bujang kau, Bujang kau kan ? “, Butet masih saja bertanya walaupun Bujang sudah berada tepat di depan warungnya.

“ Iyalah bujing, bujang aku ini “, jawab Bujang untuk meyakinkan Butet.    

“ Kenapa kau tak bilang bujingmu ini, biar ku jemput kau “, kata Butet lagi.

“ Tak perlu bujing, aku ini laki-laki tak mungkin aku di perkosa, kecilnya Jakarta ni bujing “, kata Bujang bangga karena dia tidak perlu merepotkan Butet untuk menjemput.

“ Ah…pande kali lah kau ni becakap “, sambil memeluk keponakannya.

 “ Sudah besar kau sekarang, ganteng lagi “, Butet memuji Bujang keponakannya.

“ Kalau ganteng sudah pasti lah Bujing “, Bujang tersenyum sendiri dan bangga karena di bilang ganteng sama Butet.

 “ Aku di suruh mamak kemari untuk ngawani Bujing, kasian katanya Bujing hidup sendiri “, katanya lagi.

“ Kalau masalah hidup sendiri sudah biasanya aku, tak ada yang bisa mengantikan tulangmu itu “, kata Butet tanpa ada rasa sedih sedikitpun karena dia masih setia pada suaminya walaupun sudah wafat dan meninggalkannya tanpa anak tapi dia ikhlas karena dia yakin suatu saat dia akan menyusul suami tercintanya di alam sana.

“ Ini ada oleh – oleh dari mamak untuk Bujing “, Bujang menyerahkan bungkusan oleh-oleh yang di bawanya dari kampung.

“ Ah…terima kasihlah kalau gitu, naek apa kau kemari ? “, Butet menerima bungkusan oleh-oleh dari Bujang dan menanyakan bagaimana caranya si Bujang bisa sampai ke Jakarta.

            “ Naik motor bujing “, kata Bujang bangga karena baru kali ini dia melakukan perjalanan jauh.

Doel yang dari tadi bengong karena di lupakan sama Butet ngomong nyeletuk karena dia curiga jangan-jangan si Bujang ini penjahat.

“ Masak elu dari Sumatera ke Jakarta naek motor ? “, tanyanya.

“ Eh…namaku Bujang bukan elu dan memang aku naek motor, kau piker  naek apa ? ”, Bujang salah pengertian tentang arti dari elu dan motor karena selama ini yang ia tahu hanya bahasanya sendiri.

“ Terus motor elu mana ?, helm elu juga mana ?”, Doel bertanya penuh selidik.

“ Bah…sudah ku bilang namaku Bujang bukan elu kok kau masih merepet terus kayak inang-inang…kau dengar ya aku kemari naik motor bukan naik kereta “, kata Bujang pula. 

“ Tu kan….ketauan elu bohong, masak elu naik kereta, lewat lautnya pake apa ? ”, kata Doel lagi berusaha membuktikan Bujang sedang berbohong dan dia jadi yakin sekali kalau Bujang bermaksud jahat pada Butet dan hal inilah yang membuat Bujang bertambah marah. 

“ Woooi…enak kali kau bilang aku bohong, kau dengar ya ...namaku Bujannnng, bukan eluuuuuu “, Bujang teriak kesal sampai urat lehernya keluar semua “ 

“ Ku libas lah kau di sini “ Bujang akan memukul Doel.

Doel pasang kuda-kuda dan siap untuk berkelahi. 

“ Sudah-sudah, kalian ini sama-sama bodoh tapi keras kepala “, Butet melerai perkelahian antara Bujang dan Doel.

“ Dengar ya Bujang ! …Elu itu artinya kau di sini, dan elu juga Doel, motor artinya bis di Sumatera dan kereta artinya kereta api di Sumatera sana, kalian ini gara-gara beda bahasa aja sudah mau berkelahi apalagi beda lainnya “, Butet menjelaskan maksud dari perbedaan bahasa yang membuat Bujang dan Doel berkelahi.

“ Dan kau Bujang, jangan kau anggar jago di kampung orang, ingat kita ini pendatang kita yang harus menyesuaikan diri dengan warga asli bukan sebaliknya itu kalau kau mau menghindari masalah tapi kalau kau mau cari masalah ya terserah kau, kan kau udah besar tapi jangan bilang aku bujingmu, kau dengar pepatah orang-orang tua ya, di mana bumi di pijak di situ langit di junjung, ngerti kau Bujang ? “, kata Butet menasehati Bujang keponakannya.

Bujang hanya diam dan mukanya tertunduk tanda menyesal.

“ Sekarang kau harus minta ma’af sama Doel karena ku lihat kau yang memulainya tadi “, kata Butet lagi dan Bujang segera meminta ma’af ke Doel.

  Ma’af kan aku ya bang ! “, Bujang meminta ma’af pada Doel

“ Sama-sama Jang, seharusnya gue juga ngerti bahasa kalian “, mereka berdua saling berpelukan.

Indahnya sebuah perma’afan yang tulus dari hati bukan hanya sekedar kata pemanis bibir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar