Bahasa menunjukkan bangsa, karena memang
kenyataan banyak suku bangsa yang ada di Indonesia, ada Aceh, Melayu, Batak,
Karo, Minang, Jawa, Sunda, Madura,
Bugis, Toraja, Minahasa, Dayak, Banjar , Bali, Maluku, Papua dan banyak
lagi suku-suku bangsa lainnya. Masing-masing suku bangsa membawa bahasa yang
berbeda dan terkadang terjadi salah penafsiran hanya karena beda bahasa.
Perbedaan bahasa ini menjadi lucu kalau kita
anggap sebagai lelucon dalam romantika hidup sehari - hari, tapi kalau kita
anggap bahasa kita adalah kebenaran
absolut yang tidak bisa di ganggu gugat maka pertikaian dan
perkelahianlah yang akan terjadi.
Hal ini terjadi pada Bujang, pemuda yang baru
datang dari pedalaman Sibolga sebuah kota pelabuhan di Sumatera Utara. Dia
datang ke Jakarta untuk menengok tantenya atau bujing dalam bahasa
Mandailing, suku bangsa asli di Sibolga.
Tantenya si Bujang ini bernama Butet dan sudah lama menetap di Jakarta. Butet
adalah janda tanpa anak sejak suaminya
meninggal sekitar tiga tahun yang lalu. Dia membuka warung kebutuhan hidup
sehari - hari di Kelurahan tempat Jali tinggal karena dari usaha warung inilah
dia bisa bertahan hidup dari kerasnya kehidupan ini.
Saat itu Butet sedang melayani Doel, orang
betawi asli yang sedang belanja di warungnya ketika Bujang datang dan tidak
memberitahu dia sebelumnya, antara percaya dan tidak percaya Butet bertanya
terus pada Bujang keponakannya yang saat itu telah sampai di Jakarta.
“ Eh…Bujang kau, Bujang kau kan ? “, Butet
masih saja bertanya walaupun Bujang sudah berada tepat di depan warungnya.
“ Iyalah bujing, bujang aku ini “, jawab Bujang
untuk meyakinkan Butet.
“ Kenapa kau tak bilang bujingmu ini, biar ku
jemput kau “, kata Butet lagi.
“ Tak perlu bujing, aku ini laki-laki tak
mungkin aku di perkosa, kecilnya Jakarta ni bujing “, kata Bujang bangga karena
dia tidak perlu merepotkan Butet untuk menjemput.
“ Ah…pande kali lah kau ni becakap “, sambil
memeluk keponakannya.
“ Sudah
besar kau sekarang, ganteng lagi “, Butet memuji Bujang keponakannya.
“ Kalau ganteng sudah pasti lah Bujing “,
Bujang tersenyum sendiri dan bangga karena di bilang ganteng sama Butet.
“ Aku di
suruh mamak kemari untuk ngawani Bujing, kasian katanya Bujing hidup sendiri “,
katanya lagi.
“ Kalau masalah hidup sendiri sudah biasanya
aku, tak ada yang bisa mengantikan tulangmu itu “, kata Butet tanpa ada rasa
sedih sedikitpun karena dia masih setia pada suaminya walaupun sudah wafat dan
meninggalkannya tanpa anak tapi dia ikhlas karena dia yakin suatu saat dia akan
menyusul suami tercintanya di alam sana.
“ Ini ada oleh – oleh dari mamak untuk Bujing
“, Bujang menyerahkan bungkusan oleh-oleh yang di bawanya dari kampung.
“ Ah…terima kasihlah kalau gitu, naek apa kau
kemari ? “, Butet menerima bungkusan oleh-oleh dari Bujang dan menanyakan
bagaimana caranya si Bujang bisa sampai ke Jakarta.
“ Naik motor bujing “, kata Bujang
bangga karena baru kali ini dia melakukan perjalanan jauh.
Doel yang dari tadi bengong karena di lupakan
sama Butet ngomong nyeletuk karena dia curiga jangan-jangan si Bujang ini
penjahat.
“ Masak elu dari Sumatera ke Jakarta naek motor
? “, tanyanya.
“ Eh…namaku Bujang bukan elu dan memang aku
naek motor, kau piker naek apa ? ”,
Bujang salah pengertian tentang arti dari elu dan motor karena selama ini yang
ia tahu hanya bahasanya sendiri.
“ Terus motor elu mana ?, helm elu juga mana
?”, Doel bertanya penuh selidik.
“ Bah…sudah ku bilang namaku Bujang bukan elu
kok kau masih merepet terus kayak inang-inang…kau dengar ya aku kemari naik
motor bukan naik kereta “, kata Bujang pula.
“ Tu kan….ketauan elu bohong, masak elu naik
kereta, lewat lautnya pake apa ? ”, kata Doel lagi berusaha membuktikan Bujang
sedang berbohong dan dia jadi yakin sekali kalau Bujang bermaksud jahat pada
Butet dan hal inilah yang membuat Bujang bertambah marah.
“ Woooi…enak kali kau bilang aku bohong, kau
dengar ya ...namaku Bujannnng, bukan eluuuuuu “, Bujang teriak kesal sampai
urat lehernya keluar semua “
“ Ku libas lah kau di sini “ Bujang akan
memukul Doel.
Doel pasang kuda-kuda dan siap untuk berkelahi.
“ Sudah-sudah, kalian ini sama-sama bodoh tapi
keras kepala “, Butet melerai perkelahian antara Bujang dan Doel.
“ Dengar ya Bujang ! …Elu itu artinya kau di
sini, dan elu juga Doel, motor artinya bis di Sumatera dan kereta artinya
kereta api di Sumatera sana, kalian ini gara-gara beda bahasa aja sudah mau
berkelahi apalagi beda lainnya “, Butet menjelaskan maksud dari perbedaan
bahasa yang membuat Bujang dan Doel berkelahi.
“ Dan kau Bujang, jangan kau anggar jago di
kampung orang, ingat kita ini pendatang kita yang harus menyesuaikan diri
dengan warga asli bukan sebaliknya itu kalau kau mau menghindari masalah tapi
kalau kau mau cari masalah ya terserah kau, kan kau udah besar tapi jangan
bilang aku bujingmu, kau dengar pepatah orang-orang tua ya, di mana bumi di
pijak di situ langit di junjung, ngerti kau Bujang ? “, kata Butet menasehati
Bujang keponakannya.
Bujang hanya diam dan mukanya tertunduk tanda
menyesal.
“ Sekarang kau harus minta ma’af sama Doel
karena ku lihat kau yang memulainya tadi “, kata Butet lagi dan Bujang segera
meminta ma’af ke Doel.
“ Ma’af
kan aku ya bang ! “, Bujang meminta ma’af pada Doel
“ Sama-sama Jang, seharusnya gue juga ngerti
bahasa kalian “, mereka berdua saling berpelukan.
Indahnya sebuah perma’afan yang tulus dari hati
bukan hanya sekedar kata pemanis bibir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar