Sudah lama kita tidak membicarakan Jali,
laki-laki pemimpi yang suka mengamati.
Saat itu Jali dan kawan-kawannya seperti
biasa berkumpul di markas besar mereka yaitu pos ronda di waktu sholat Isya .
Tidak ada yang berubah dengan Jali, pakaian kumal dan lusuh juga jarang mandi
tapi banyak mengamati.
Perhatian Jali tertuju pada sebuah mobil yang
berhenti tidak jauh dari pos ronda tempatnya berkumpul bersama kawan-kawannya.
Saat itu pak Darwis seorang pengusaha yang mempunyai wajah sangat cerah dan
mempunyai senyum yang sangat indah menarik perhatian Jali. Seumur hidupnya Jali
belum pernah melihat wajah secerah dan seindah senyuman pak Darwis yang baru di
lihatnya. Pak Darwis turun dari mobil bersama supirnya untuk melaksanakan
sholat Isya di Musholla tempat Jali berada.
Jali terus mengamati setiap langkah demi
langkah pak Darwis yang sedang berjalan menuju Musholla bersama supirnya.
“ Permisi ya pak “, kata pak Darwis ramah
ketika melewati Jali dan kawan-kawannya.
“ Oya, silahkan pak “, kata Bahar.
Jali terus saja memperhatikan punggung pak
Darwis yang telah lewat dari pos ronda, dia sangat penasaran dengan orang yang
baru pertama kali di lihatnya ini.
Ketika punggung pak Darwis sudah tidak
kelihatan lagi, Jali merasa kurang puas dan dia ingin melihatnya lagi maka dia
nyelonong saja berdiri dan melangkah kearah Musholla.
“ Elu mau kemana Jal ? “, tanya Bahar.
“ Gue mau ke belakang sebentar “, jawab Jali.
“ Ya udah deh, nih elu minum dikit biar badan
elu hangat “, kata Bahar sambil menawarkan gelas yang berisi minuman beralkohol
ke Jali.
Jali mengambil gelas tersebut dan meminumnya
kemudian melangkah ke arah Musholla.
Ketika sampai di pelataran Musholla, Jali
memperhatikan pak Darwis yang sedang sholat menjadi imam dan makmumnya adalah
supirnya sendiri karena sudah tidak ada lagi orang yang sholat kecuali pak
Darwis dan supirnya. Selesai sholat pak Darwis dan supirnya melanjutkan dengan
zikir bersama, Jali terus saja mengamati mereka dari pelataran Musholla, dia
tidak mau pandangannya lepas dari pak Darwis dan dia ingin mengenal orang asing
ini lebih jauh lagi.
Setelah selesai dari zikirnya pak Darwis dan
supirnya melangkah keluar dari Musholla dan Jali menghampiri mereka.
“ Assalamualaikum pak “, kata Jali memberi
salam.
“ Waalaikum salam warahmatullahiwabarakatuh “,
jawab pak Darwis.
“ Perkenalkan pak, nama saya Jali dan saya asli
orang sini “, Jali memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk berjabat
tangan.
Pak Darwis tersenyum dan menjabat tangan Jali.
“ Saya Darwis dari Samarinda Kalimantan Timur
dan ini pak Burhan “, kata pak Darwis memperkenalkan supirnya. Pak Burhan juga
menjabat tangan Jali.
“ Ma’af ya pak, bapak ini kan kelihatannya
orang yang terpelajar kok masih mau sholat dan berzikir ? “, Jali bertanya
sambil berusaha menyopan-nyopankan diri karena menurutnya selama ini sholat dan
zikir itu tidak ada gunanya.
Pak Darwis tersenyum mendengar pertanyaan Jali
dan senyum itulah yang membuat Jali semakin penasaran.
“ Kok bapak jadi tersenyum ? “, tanya Jali
pula.
“ Senyum itukan ibadah pak “, jawab pak Darwis.
“ Kok senyum bisa jadi ibadah ?, bukankah
ibadah itu hanyalah sholat dan lain sebagainya ?, jujur ya pak, Jali ikuti
bapak dari tadi karena Jali tertarik melihat wajah bapak yang berseri-seri
seperti orang yang nggak punya masalah “ kata Jali berterus terang.
“ Semua orang hidup pasti punya masalah pak
Jali, tapi tergantung bagaimana kita menyikapinya “, kata pak Darwis sambil
tersenyum.
Jali mengangguk-anggukan kepalanya.
“ Kembali lagi ke yang tadi pak, bapak inikan
orang yang terpelajar dan pintar kenapa masih mau sholat dan berzikir ? ”, Jali
mengulangi pertanyaan yang belum di jawab pak Darwis.
“ Pak
Jali, sholat dan zikir adalah manajemen hidup saya “, jawab pak Darwis sambil
tersenyum.
“ Manajemen hidup ?”, Jali berpikir sebentar
kemudian dia ingat buku manajemen yang sangat
tebal yang sering di bawa oleh Andi mahasiswa jurusan manajemen yang kos
di tempat kosnya.
“ Bukankah buku manajemen itu tebal-tebal
seperti yang di bawa sama Andi anak dari Sulawesi yang kos di tempat saya, Jali
jadi ingin belajar sama bapak “, Jali berterus terang karena dia semakin
tertarik dengan pak Darwis ini.
“ Pak, ajari saya tentang manajemen hidup dong
! “, katanya lagi.
Pak Darwis tersenyum melihat permintaan dari
Jali ini kemudian berkata.
“ Pak Jali, bapak adalah Tuhan tapi bapak bukan
Tuhan “.
Jali marah mendengar perkataan pak Darwis.
“ Bapak jangan ngomong macem-macem pak, ntar
kalau kedengeran Ustad Faisal bisa panjang urusannya, masak manusia di samain
dengan Tuhan “, katanya pula.
Pak Darwis kembali tersenyum mendengar jawaban
ini.
“ Kalau begitu bahasanya saya rubah, Tuhan itu
tergantung dari cara manusia memikirkanNya “, lanjut pak Darwis kemudian.
“ Aduh pak, kok bahasanya tinggi banget sih,
Jali nggak ngerti “, kata Jali lagi.
Pak Darwis kembali tersenyum mendengar
pengakuan polos dari Jali.
“ Ya udah kalau begitu, pak Jali serius mau
belajar manajemen hidup dari zikir ? “, tanya pak Darwis kepada Jali.
“ Ya pak, Jali ingin belajar dari bapak “, Jali
menjawab dengan mantap dan matanya berbinar-binar karena dia sangat tertarik
dengan pembicaraan ini.
“ Kalau begitu kita mulai dari Kalimah Tasbih
yaitu Subhanallah artinya Allah Maha Suci maknanya mulai sekarang bapak harus
suci atau bersih baik dalam cara berpikir, cara berpakaian dan lain sebagainya,
pak Jali siap mengamalkan itu ? “, Pak Darwis menerangkan ke Jali dan
mempertanyakan kesiapan Jali dengan sangat berwibawa dan tak lupa tersenyum
sebagai ciri khasnya.
Jali kemudian memperhatikan dirinya sendiri
lama sekali, dia memperhatikan pakaiannya yang kumal dan dekil karena dia
menganggap dirinya belum Subhanallah karena makna dari Subhanallah artinya suci
dan bersih pikirnya.
Pak Darwis melihat Jali yang lama sekali
memperhatikan dirinya sendiri sambil tersenyum
tapi dia membiarkan saja karena itulah proses pembelajaran dari Jali
agar dia mengerti akan jati dirinya sendiri walaupun bukan itu maksudnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar