Minggu, 19 Januari 2014

34. TAK SESUAI HARAPAN.



Selama manusia hidup pasti punya harapan, begitu juga dengan Jali dan sahabat-sahabatnya. Mereka berharap banyak pada lagu PREMAN DAN USTAD, karena lagu itulah mereka mau sholat dan orang-orang di Kelurahan mereka juga suka dengan lagu itu.
Dengan semangat empat lima juga dengan keyakinan yang kuat Jali dan Bahar mendatangi produser rekaman untuk menjual lagu PREMAN DAN USTAD.
“ Perkenalkan pak, nama saya Bahar dan ini Jali, Jali inilah yang mengarang lagu ini “, kata Bahar ke produser rekaman ketika mereka bertemu muka di studio rekaman milik produser tersebut.
Produser rekaman lalu menyalami Jali dan Bahar untuk berkenalan.
            “ Coba saya dengar dulu lagu dan syairnya ya mas “, kata produser rekaman kemudian memutar CD rekaman yang di bawa Jali dan Bahar.
Produser tersebut lantas mendengarkan lagu PREMAN DAN USTAD dengan seksama.
            “ Jujur ya mas, lagu ini enak di dengar di telingga karena sederhana dan gampang di hapal tapi saya takut dengan syairnya karena bisa menyinggung para Ustad dan Kiai “, kata produser rekaman.
“ Kok bisa pak ? “, tanya Jali.
“ Ini Indonesia pak Jali, orang Indonesia itu lebih suka di sanjung dan di puja-puja dari pada di kritik apalagi ini membawa nama Ustad dan Kiai, bukankah Ustad dan Kiai adalah orang-orang yang sangat di hormati di negeri ini “, kata produser rekaman.
“ Tapi apakah mungkin ada mantan Ustad dan bekas kiai pak, memangnya Ustad dan kiai itu sebuah jabatan ?“, tanya Bahar.
“ Saya ini orang bisnis pak Bahar, saya tidak mau berhadapan dengan kritik apalagi kritik dari para Ustad dan kiai…lagu ini sudah membawa jabatan tokoh agama “, kata produser rekaman itu lagi.
Jali mengangguk-anggukan kepalanya.
“ Jadi kesimpulannya bagai mana pak ? “, tanya Bahar penasaran.
“ Dengan berat hati saya tidak bisa menerima lagu ini, ma’afkan saya tapi saya membuka pintu bagi mas-mas berdua jika ada lagu yang lainnya “, jawab produser rekaman tersebut.
“ Ya udah deh pak, nggak apa – apa “, kata Jali dengan senyum yang di paksakan.
Sedangkan Bahar wajahnya kecewa sekali kemudian mereka berdua menyalami kembali produser rekaman tersebut.
“ Elu dengar dan lihat sendiri kan Jal, apa kata produser rekaman tadi “, kata Bahar ketika mereka telah di luar ruangan.
“ Mau di bilang apalagi, udah nasib kita kali “, kata Jali cuek.
“ Elu jangan gampang bilang nasib dong Jal, yang harus di rubah adalah mental kita semua, mental yang harus tahan pada kritik seperti kata produser tadi “, kata Bahar.
“ Tapi kan yang di bilang tadi hanya untuk Ustad dan kiai, bukan kita semua ? “ balas Jali.
“ Yang di bilang produser tadi adalah kenyataan kita semua, makanya negara kita susah untuk maju karena alergi pada kritik tapi lebih suka untuk di sanjung dan di puja-puja, kalau orang luar negeri sana bila mereka di kritik mereka akan instropeksi dan merubah diri, kalau kita justru marah-marah, itu perbedaan kita dengan orang luar negeri sana “, kata Bahar.
“ Udah deh, nggak usah bicara orang luar negeri, nasib kita sekarang bagaimana ? “, tanya Jali ke Bahar.
“ Bagaimana ya ?, jujur gue kecewa pada kapitalis yang nggak berani menghadapi resiko seperti produser tadi “, kata Bahar selanjutnya.
“ Kapitalis ?, maksud elu apa Har ? “, tanya Jali tak mengerti dengan bahasa Bahar.
“ Kapitalis itu artinya orang yang selalu menilai dengan harta dan keuntungan tapi sangat takut dengan resiko, kalau elu berhadapan dengan kapitalis sejati  elu akan di puja-puja sama dia kalau elu bisa menghasilkan banyak uang, tapi kalau elu udah nggak bisa menghasilkan uang lagi, maka elu akan di buang, ngerti ? “, kata bahar.
“ Jahat banget ya kapitalis itu “, jawab Jali.
“ Padahal dengan lagu yang elu buat semua temen kita mau sholat dan ngaji  bukan dari ceramah Ustad Faisal yang justru membuat kita - kita eneg dengan ajaran Islam “, kata Bahar selanjutnya.
“ Ya udah deh, kok gue jadi inget kata-kata bini gue yang di dengernya dari si Putri anak kuliahan yang kos di tempat gue “, kata Jali.
“ Memang katanya apa Jal ? “, tanya Bahar.
“ Manusia hidup itu pasti punya keinginan, lalu hidup ini punya kenyataan, jadi terserah kita untuk menyikapinya “, kata Jali menjelaskan ke Bahar.
Bahar mikir dan mengangguk-anggukan kepala sambil memegang pipinya.
“ Gue kecewa banget lagu gue nggak di terima tapi kita mau bilang apa, udah deh kita lupain aja sambil buat lagu lagi yang bisa kita jual “, kata Jali dengan bijaksana
“ Oke deh, gue salut sama elu sekarang Jal, elu jauh lebih dewasa dari pada Jali yang gue kenal dulu “, Bahar memuji Jali.
“ Iya dong, kan gue muridnya pak Darwis “, kata Jali sambil tersenyum.
“ Iya juga ya, kalau gue perhatiin antara pak Darwis dan Ustad Faisal jauh banget, pak Darwis nggak pernah tuh pake jubah kemana-mana tapi dia selalu tersenyum dan ramah banget, kalau Ustad Faisal seperti orang suci yang kesannya nggak punya dosa sehingga benci banget dengan kita-kita dulu, bahkan mengkompori orang-orang untuk membenci kita “.
“ Udah deh, nggak baek banding-bandingin orang tapi yang pasti agama Islam itu bukan jubah dan jenggot seperti Ustad Faisal “, kata Jali sambil tertawa.
Bahar juga tertawa mendengar penjelasan Jali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar