Minggu, 19 Januari 2014

16. SEANDAINYA ENGKAU ANAK KU ?



Kita kembali ke Darsono, pedagang bakso yang memakai Formalin di bakso dan borax di kecapnya. Darsono saat itu sedang menjual bakso di sebuah Sekolah Dasar tempat Jali tinggal. Banyak sekali pelanggan yang membeli baksonya kemudian datang Intan, seorang anak perempuan kelas 1 SD yang sangat cantik

“ Pak Darsono, baksonya satu lagi dong, enak banget baksonya bapak, Intan ketagihan nih “, Intan memesan satu mangkuk lagi Baksonya Darsono setelah sebelumnya dia memakan semangkuk bakso dari Darsono juga.

“ Apa nggak cukup satu mangkuk bakso neng Intan “, kata Darsono lagi. 

“ Nggak “, jawab Intan polos. 

Darsono tersenyum melihat Intan begitu suka pada baksonya karena memang setiap hari Intan membeli baksonya Darsono.

“ Iya nih pak Darsono, Intan di rumah nggak mau makan, makan nya bakso melulu “, kata Ibunya Intan yang hari itu menemani anaknya ke sekolah.

“ Ooo, gitu ya bu “, kata Darsono pula.

“ Memang pak Darsono kasi apa sih baksonya bapak kok Intan lahap sekali kalau makan baksonya bapak ? “, tanya ibu Intan.

“ Yah seperti bakso biasalah bu, mie dan baksonya saya kasi tepung terigu dan potongan telur “, jawab Darsono.

“ Pak Darsono sudah punya anak berapa sekarang ? “, tanya ibunya Intan kembali.

“ Saya punya anak satu orang bu, laki-laki yang sekarang kelas 3 SD “, kata Darsono.

“ Nggak punya anak perempuan ? “, tanya ibu Intan lagi.

Ntah kenapa ada kesedihan dari roman muka Darsono ketika ibunya Intan menanyakan anak perempuan kepadanya karena memorinya teringat peristiwa dua tahun yang lalu ketika anak perempuannya yang berumur lima tahun meninggal dunia karena keracunan makanan.

“ Pak ?,  kok diem ?“ tanya ibu Intan kemudian.

“ Eh…”, kata Darsono ketika telah sadar pada lamunannya.

 “ Ma’af bu saya jadi ingat Lastri anak saya yang meninggal dunia dua tahun yang lalu “, katanya pula.

“ Oh ma’af kalau begitu “ kata ibunya Intan menyesal tapi dia juga ingin tahu alasan kenapa anaknya pak Darsono bisa meninggal dunia dan umurnya berapa saat itu.

“ Kalau boleh tahu anak perempuan bapak meninggal karena apa dan umurnya berapa ? “, tanya ibu Intan lagi. 

“ Dia keracunan makanan bu setelah pulang dari pesta ulang tahun anak tetangga saya, umurnya lima tahun “, kata Darsono dengan menarik nafasnya dalam - dalam dan wajahnya kelihatan sedih sekali.

“ Kalau hidup berarti seumuran dengan Intan ya pak “, kata Ibunya Intan.

Perkataan dari ibu Intan tadi membuat Darsono tambah sedih dan ntah dorongan dari mana dia memperhatikan Intan yang saat itu sedang lahap memakan bakso yang di jualnya. Dia berbicara dalam hatinya sendiri.

“ Seandainya engkau Lastri anak perempuanku, sudah ku larang kamu makan bakso ku nak, Lastri – Lastri, kenapa engkau meninggalkan bapak, kalau seandainya hari ini kamu masih hidup, kamu seumuran Intan dan kamu pasti lebih cantik dari Intan “.

“ Pak Darsono, baksonya tiga mangkuk dong untuk ibu-ibu yang duduk di situ “, kata salah seorang ibu sambil menunjuk dua orang temannya yang sedang duduk di ruang tunggu murid.

Darsono masih saja hanyut dalam lamunannya tentang almarhum Lastri sambil melihat Intan.

“ Pak…”, kata ibu itu lagi sambil memegang pundak Darsono.

“ Oh…ya, berapa mangkuk bu “, tanya Darsono ketika telah sadar dari lamunannya.

“ Lagi ngelamunin rejeki yang banyak ya pak, kan hari ini banyak sekali bakso yang laku ? “, kata ibu itu lagi membuat Darsono tersenyum kecut mendengarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar