Minggu, 19 Januari 2014

44. MANUSIA, TUHAN DAN INDONESIA



Subhanallah, Allah Maha Suci, itulah arti dari kalimah Tasbih, maknanya adalah apapun yang kita buat niatkan untuk tujuan yang suci.

Alhamdullilah, Allah Maha Terpuji, itulah arti dari kalimah Tahmid, maknanya setelah kita mempunyai tujuan yang suci maka berusahalah menjadi orang yang terpuji yaitu jujur pada diri sendiri, pada hal yang kita suka dan kita rasa mampu, karena diri kita sendirilah yang tahu kelebihan apa yang kita miliki, dan apa kekurangan kita di bandingkan orang lain. 

Laa Illaha Illallah, Tiada Tuhan Selain Allah, itulah arti dari kalimah Tahlil, maknanya setelah kita jujur pada diri kita sendiri, karena diri kita sendiri yang tahu apa yang kita suka dan kita rasa mampu, maka tetaplah pada cita-cita kita itu dan jangan pernah goyah oleh apapun yang menghalangi.

Allahuakbar, Allah Maha Besar, itulah arti dari kalimah Takbir, maknanya setelah kita mempunyai cita-cita maka kerahkanlah secara total potensi yang kita punya untuk mencapai cita-cita yang kita inginkan.

Laa Haula Walla Quwata Illa Billah, Tiada Daya Upaya Kecuali Dengan Pertolongan Allah, itulah arti dari kalimah Tawakal, maknanya setelah kita kerahkan secara total potensi yang kita punya untuk mencapai cita-cita kita, serahkan hasilnya kepada Allah SWT sebagai ibadah kita, jadi kita nggak peduli cita-cita kita itu berhasil atau gagal karena sama-sama bernilai ibadah, tapi kita terus berusaha dan berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mewujudkan cita-cita kita dalam arti bila gagal kita bangkit lagi, gagal lagi kita coba lagi sampai kita berhasil mewujudkan cita-cita.

 Manajemen zikir inilah yang di ajarkan pak Darwis pada Jali, dan Jali sukses dengan prinsip manajemen zikir dalam hidupnya bahkan kesuksesan tersebut bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk sahabat-sahabatnya yang dahulu di anggap sebagai sampah oleh masyarakat sekitarnya.

Jali walaupun sekarang melaksanakan semua rukun Islam dan yakin pada rukun Iman tapi dia tetap merasa bahwa dia adalah orang Indonesia. Jali tidak pernah mempertentangkan Islam secara keseluruhan dengan pilar bangsanya yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika karena dia bisa membedakan dirinya sebagai bagian dari umat Islam dan dirinya sebagai bagian dari rakyat Indonesia.

 Jali menjadi manusia Indonesia seutuhnya, dia belajar dari cara berpikir Rustam yang masih muda belia.

Cinta dan Kasih Sayang itulah tujuan hidup Jali, sehingga dia tidak begitu perduli pada harta kekayaan atau materi lainnya karena yang di kejarnya adalah Ridha Allah semata karena dia tahu bila harta kekayaan atau materi yang menjadi tujuannya dia akan menghalalkan segala cara yang justru membuat hidupnya lebih hina dari pada binatang.

 Jali mempelajari itu dari orang-orang di Kelurahannya yaitu pak Darsono yang menambahkan formalin dan borax di dagangannya juga persahabatan antara Badrun dan Ahmad, persahabatan yang di dasari pada kepentingan dan keuntungan tapi berkelahi saat ada permasalahan dan kerugian.  

Sesungguhnya dari lingkungan di sekitarnya kita, kita dapat belajar banyak hal, seperti Jali contohnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar