Subhanallah, Allah Maha Suci, itulah arti dari
kalimah Tasbih, maknanya adalah apapun yang kita buat niatkan untuk tujuan yang
suci.
Alhamdullilah,
Allah Maha Terpuji, itulah arti dari kalimah Tahmid, maknanya setelah kita
mempunyai tujuan yang suci maka berusahalah menjadi orang yang terpuji yaitu
jujur pada diri sendiri, pada hal yang kita suka dan kita rasa mampu, karena
diri kita sendirilah yang tahu kelebihan apa yang kita miliki, dan apa
kekurangan kita di bandingkan orang lain.
Laa Illaha Illallah, Tiada Tuhan Selain Allah, itulah arti dari kalimah Tahlil, maknanya setelah kita jujur pada diri kita sendiri, karena diri kita sendiri yang tahu apa yang kita suka dan kita rasa mampu, maka tetaplah pada cita-cita kita itu dan jangan pernah goyah oleh apapun yang menghalangi.
Allahuakbar,
Allah Maha Besar, itulah arti dari kalimah Takbir, maknanya setelah kita
mempunyai cita-cita maka kerahkanlah secara total potensi yang kita punya untuk
mencapai cita-cita yang kita inginkan.
Laa
Haula Walla Quwata Illa Billah, Tiada Daya Upaya Kecuali Dengan Pertolongan
Allah, itulah arti dari kalimah Tawakal, maknanya setelah kita kerahkan secara
total potensi yang kita punya untuk mencapai cita-cita kita, serahkan hasilnya
kepada Allah SWT sebagai ibadah kita, jadi kita nggak peduli cita-cita kita itu
berhasil atau gagal karena sama-sama bernilai ibadah, tapi kita terus berusaha
dan berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mewujudkan cita-cita kita
dalam arti bila gagal kita bangkit lagi, gagal lagi kita coba lagi sampai kita
berhasil mewujudkan cita-cita.
Manajemen
zikir inilah yang di ajarkan pak Darwis pada Jali, dan Jali sukses dengan
prinsip manajemen zikir dalam hidupnya bahkan kesuksesan tersebut bukan hanya
untuk dirinya sendiri tapi juga untuk sahabat-sahabatnya yang dahulu di anggap
sebagai sampah oleh masyarakat sekitarnya.
Jali
walaupun sekarang melaksanakan semua rukun Islam dan yakin pada rukun Iman tapi
dia tetap merasa bahwa dia adalah orang Indonesia. Jali tidak pernah
mempertentangkan Islam secara keseluruhan dengan pilar bangsanya yaitu
Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika
karena dia bisa membedakan dirinya sebagai bagian dari umat Islam dan dirinya
sebagai bagian dari rakyat Indonesia.
Jali
menjadi manusia Indonesia seutuhnya, dia belajar dari cara berpikir Rustam yang
masih muda belia.
Cinta
dan Kasih Sayang itulah tujuan hidup Jali, sehingga dia tidak begitu perduli
pada harta kekayaan atau materi lainnya karena yang di kejarnya adalah Ridha
Allah semata karena dia tahu bila harta kekayaan atau materi yang menjadi
tujuannya dia akan menghalalkan segala cara yang justru membuat hidupnya lebih
hina dari pada binatang.
Jali
mempelajari itu dari orang-orang di Kelurahannya yaitu pak Darsono yang
menambahkan formalin dan borax di dagangannya juga persahabatan antara Badrun
dan Ahmad, persahabatan yang di dasari pada kepentingan dan keuntungan tapi
berkelahi saat ada permasalahan dan kerugian.
Sesungguhnya
dari lingkungan di sekitarnya kita, kita dapat belajar banyak hal, seperti Jali
contohnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar