Badrun dan Ahmad saat itu senang sekali dan
tersenyum lebar karena mereka sukses sebagai penyelenggara even organizer yang
melaksanakan lomba baca puisi untuk anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA
sampai Universitas.
Dalam lomba ini peserta di wajibkan membawa
puisi karangan Ahmad yang tema nya memuja – muja Mayor Jendral Purnawirawan
Widodo secara berlebihan seolah – olah Jendral Purnawirawan ini seperti dewa
dan satu lagi puisi bebas dari para penyair terkenal.
Para jurinya adalah dosen-dosen sastra
Indonesia dari universitas ternama dan dari syair puisi karangan Ahmad yang
merupakan puisi wajib dalam lomba ini
mereka tahu bahwa puisi wajib ini di buat asal-asalan dan tak mempunyai
jiwa dan makna, tapi hanya mereka yang tahu karena rasa dalam jiwa para juri
ini lebih terlatih dan mereka tidak protes sama sama sekali karena alasan
etika.
Saat itu Mayor Jendral Purnawirawan Widodo
duduk di tengah deretan bangku paling depan di dampingi Ketua Partainya, Pak
Walikota, Kapolda, Pangdam, Camat , Lurah, juga banyak orang-orang penting lain
di daerah pemilihannya. Sementara di deretan belakang hadir para kepala sekolah
dan para guru juga para dosen untuk melihat murid-murid dan para mahasiswa terbaik mereka berlomba
untuk membawa harum nama sekolah dan universitas tempat mereka mengabdi.
“ Sekarang kita dengar kata sambutan dari pak
Jendral kita yang sangat sederhana dan bersahaja bila di bandingkan dengan dua
bintang di pundaknya dan akrab dengan dunia pendidikan, kesenian dan kebudayaan
di daerah kita, inilah dia Mayor Jendral Purnawirawan Widodo “, kata Badrun
yang saat itu jadi MC di acara lomba baca puisi ini bersemangat.
Para hadirin bertepuk tangan, Pak Widodo
bangkit dari tempat duduknya sambil permisi terlebih dahulu dengan menyatukan
kedua telapak tangannya ke dada secara tertutup yang berarti hormat kepada para
pejabat di deretan bangku paling depan sebelah kanan, sebelah kiri dan ke
belakang untuk para pendidik yang duduk di bangku belakang kemudian dia
berjalan ke panggung tempat acara lomba di adakan.
“ Assalamualaikum Warahmatulahiwabarakatuh “,
Pak Widodo memulai dengan salam dalam agama Islam sesuai agamanya.
“ Waalaikum Salam Warahmatulahiwabarakatuh “,
jawab sebahagian besar undangan dan peserta lomba baca puisi di gedung yang
cukup mewah tempat di adakan lomba ini.
“ Salam sejahtera untuk kita semua “, kata pak
Widodo untuk memberikan salam kepada mereka-mereka yang non muslim.
Setelah mengucapkan kata sambutan yang penuh
basa – basi untuk para pejabat dan para pendidik, lalu pak Widodo mengucapkan
apa yang ada dalam isi hatinya tentang para generasi dan harapannya tentang
negara ini.
“ Ketika melihat anak-anak sekolah yang
berseragam dan rapi seperti ini saya sangat senang dan berharap banyak karena
merekalah yang nantinya akan melanjutkan apa yang di cita-citakan oleh para pendahulu
kita, karena jujur saya sudah tua mungkin nggak lama lagi saya sudah game over
“, kata Pak Widodo bercanda membuat para peserta dan tamu undangan tertawa.
“ Tapi kita harus jujur bahwa negeri kita ini
punya banyak masalah sekarang, terkadang melihat anak-anak yang memakai pakaian
sekolah yang berkerumun dalam bis kota dan pinggir jalan raya saya agak takut
juga karena seragam ini sudah seperti seragam perang militer untuk tawuran
antar pelajar “, lanjutnya pula.
Para hadirin kembali tertawa terbahak-bahak
mendengar kata sambutan yang penuh lelucon dari pensiunan Jendral ini tapi
penuh dengan makna karena itulah kenyataannya.
“ Itulah tugas kita semua untuk mengembalikan
pendidikan seperti cita – cita dari Ki Hajar Dewantara yang bukan hanya sekedar
mengajar dan memberi ilmu pengetahuan tapi juga mengajarkan ahklak, budi
pekerti dan semangat rela berkorban bagi bangsa dan negara dan itulah
tugas para guru, orang tua terutama pada
para pengiat kesenian seperti pak Ahmad dan pak Badrun yang telah sukses
mengadakan acara ini “, kata pak Widodo yang membuat hidung Ahmad dan Badrun
kembang kempis jadinya sambil tersenyum karena di puji oleh Jendral Purnawiran
ini, saat itu mereka berada di belakang pak Widodo karena mereka berdua adalah
MC di acara ini.
“ Karena
kesenian adalah salah satu cara untuk mengolah rasa yang menuju pada peradaban
bangsa Indonesia ke depan “, lanjut pak Widodo pula.
“ Tapi jujur saya akui bahwa puisi wajib yang
temanya tentang saya kok melebih-lebihkan saya, padahal saya hanya manusia
biasa “, Mayor Jendral Purnawirawan Widodo berterus terang karena dari muda
beliau sangat suka pada dunia seni sehingga ada sedikit rasa dari seni bahasa
dalam dirinya membuat Ahmad jadi ciut hidungnya yang kembang kempis karena
sebelumnya di puji oleh Jendral Purnawirawan ini.
“ Tapi
biar bagaimanapun saya harus memberi aspresiasi pada pembuatnya yaitu pak Ahmad
“, kata pak Widodo.
Ahmad jadi tersenyum kembali dengan melambaikan
tangannya ke para penonton.
“ Semoga jiwa-jiwa para penyair seperti Chairil
Anwar, WS Rendra , Sutan Takdir Alisyahbana, Sutardji Chaldun Bahri dan lain
sebagainya hadir di sini untuk membangkitkan kembali semangat patriotisme para
pemuda yang hampir mati saat ini “, kata pak Widodo pula.
“ Saya nggak perlu panjang lebar, saya hanya
mau Indonesia tetap Jaya dengan Pancasila sebagai Palsafah Negara, Bersatu di
bawah Sang Saka Merah Putih dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang Ber Bhineka Tunggal Ika, dengan UUD 1945 menjadi cara berpikir dan
bertindak bagi kita semua “, kata Jendral Purnawirawan ini berapi-api karena
itulah isi hatinya kepada bangsa dan Negara yang sangat di cintainya.
“ Akhir kata saya ucapkan selamat berlomba
kepada para generasi muda, para generasi harapan bangsa, Assalamualaikum
Warahmatulahi wabarakatuh “, pak Widodo mengakhiri kata sambutannya.
Para hadirin bertepuk tangan karena apa yang di
sampaikan Mayor Jendral Purnawirawan Widodo ini sangat bermakna baik isi maupun
jiwa dari kata - kata sambutannya.
Lalu acara di mulai, satu persatu anak-anak
sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas berlomba dan ada satu anak
SMP yang sangat bagus membawakan puisi pilihan yang berjudul “ Diponegoro “
Karya Chairil Anwar karena dia membawakannya dengan penuh jiwa seperti saat
Chairil Anwar menuliskannya yang membakar semangat pemuda – pemuda angkatan 45
melawan penjajah “ Sekali berarti, sudah
itu mati “ dan anak tersebut menjadi juara pertama untuk tingkat SMP.
Ketika lomba telah selesai, Ahmad dan Badrun
menghitung uang keuntungan dari hasil mereka melakukan even organizer sambil
tersenyum puas di rumah Ahmad.
“ Waduh,
kalau ngitung begini tiap hari enak kali ya Drun “ kata Ahmad yang saat itu
sedang menghitung uang hasil keuntungan mereka melakukan lomba baca puisi
dengan Badrun.
“ Ya
iyalah, elu kan sahabat gue dalam suka dan duka “ kata Badrun kemudian
“ Drun..., gue inget anak SMP yang jadi juara
pertama…penghayatannya, artikulasinya, iramanya gue sampai merinding waktu dia
baca puisi Diponegoro semangat gue terbakar saat dia baca syair dari
puisi itu… Sekali Berarti Sudah Itu
Mati… kayak Chairil Anwar hidup lagi di gedung tadi “, kata Ahmad yang
begitu terpesona pada anak SMP yang membaca puisi sangat baik karena syair yang
ia ucapkan keluar dari jiwanya, sehingga anak tersebut jadi juara pertama dan
terbaik saat lomba itu.
“ Lalu kenapa ? “, tanya Badrun
“ Kapan ya, pejabat pemerintah mau peduli pada
dunia kesenian dan sastra, sehingga anak itu bisa di bina, bukan menang lomba
lalu di lepas begitu aja ? “, tanya Ahmad yang masih mempunyai rasa sedikit
peduli pada dunia kesenian dan sastra
“ O alah Mad, mana mau pejabat pikirin itu,
nggak ada uangnya jadi nggak ada yang bisa di korupsi “, kata Badrun.
”
Sudahlah, mari kita pikir diri kita sendiri, nggak usah orang lain atau
idealisme, basi itu “, kata Badrun kemudian.
“ Lalu yang kita pikirin apa ? “, tanya Ahmad.
“ Duit “, jawab Badrun sambil mengangkat uang
yang di pegangnya.
“ Iya ya…, duit, elu memang sahabat gue “ kata
Ahmad kemudian membenarkan pemikiran Badrun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar