Minggu, 19 Januari 2014

17. LU MEMANG SAHABAT GUE



Badrun dan Ahmad saat itu senang sekali dan tersenyum lebar karena mereka sukses sebagai penyelenggara even organizer yang melaksanakan lomba baca puisi untuk anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA sampai Universitas.

Dalam lomba ini peserta di wajibkan membawa puisi karangan Ahmad yang tema nya memuja – muja Mayor Jendral Purnawirawan Widodo secara berlebihan seolah – olah Jendral Purnawirawan ini seperti dewa dan satu lagi puisi bebas dari para penyair terkenal.

Para jurinya adalah dosen-dosen sastra Indonesia dari universitas ternama dan dari syair puisi karangan Ahmad yang merupakan puisi wajib dalam lomba ini  mereka tahu bahwa puisi wajib ini di buat asal-asalan dan tak mempunyai jiwa dan makna, tapi hanya mereka yang tahu karena rasa dalam jiwa para juri ini lebih terlatih dan mereka tidak protes sama sama sekali karena alasan etika.

Saat itu Mayor Jendral Purnawirawan Widodo duduk di tengah deretan bangku paling depan di dampingi Ketua Partainya, Pak Walikota, Kapolda, Pangdam, Camat , Lurah, juga banyak orang-orang penting lain di daerah pemilihannya. Sementara di deretan belakang hadir para kepala sekolah dan para guru juga para dosen untuk melihat murid-murid  dan para mahasiswa terbaik mereka berlomba untuk membawa harum nama sekolah dan universitas tempat mereka mengabdi.

“ Sekarang kita dengar kata sambutan dari pak Jendral kita yang sangat sederhana dan bersahaja bila di bandingkan dengan dua bintang di pundaknya dan akrab dengan dunia pendidikan, kesenian dan kebudayaan di daerah kita, inilah dia Mayor Jendral Purnawirawan Widodo “, kata Badrun yang saat itu jadi MC di acara lomba baca puisi ini bersemangat.

Para hadirin bertepuk tangan, Pak Widodo bangkit dari tempat duduknya sambil permisi terlebih dahulu dengan menyatukan kedua telapak tangannya ke dada secara tertutup yang berarti hormat kepada para pejabat di deretan bangku paling depan sebelah kanan, sebelah kiri dan ke belakang untuk para pendidik yang duduk di bangku belakang kemudian dia berjalan ke panggung tempat acara lomba di adakan.

“ Assalamualaikum Warahmatulahiwabarakatuh “, Pak Widodo memulai dengan salam dalam agama Islam sesuai agamanya.

“ Waalaikum Salam Warahmatulahiwabarakatuh “, jawab sebahagian besar undangan dan peserta lomba baca puisi di gedung yang cukup mewah tempat di adakan lomba ini.

“ Salam sejahtera untuk kita semua “, kata pak Widodo untuk memberikan salam kepada mereka-mereka yang non muslim.

Setelah mengucapkan kata sambutan yang penuh basa – basi untuk para pejabat dan para pendidik, lalu pak Widodo mengucapkan apa yang ada dalam isi hatinya tentang para generasi dan harapannya tentang negara ini.

“ Ketika melihat anak-anak sekolah yang berseragam dan rapi seperti ini saya sangat senang dan berharap banyak karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan apa yang di cita-citakan oleh para pendahulu kita, karena jujur saya sudah tua mungkin nggak lama lagi saya sudah game over “, kata Pak Widodo bercanda membuat para peserta dan tamu undangan tertawa.

“ Tapi kita harus jujur bahwa negeri kita ini punya banyak masalah sekarang, terkadang melihat anak-anak yang memakai pakaian sekolah yang berkerumun dalam bis kota dan pinggir jalan raya saya agak takut juga karena seragam ini sudah seperti seragam perang militer untuk tawuran antar pelajar “, lanjutnya pula.

Para hadirin kembali tertawa terbahak-bahak mendengar kata sambutan yang penuh lelucon dari pensiunan Jendral ini tapi penuh dengan makna karena itulah kenyataannya.

“ Itulah tugas kita semua untuk mengembalikan pendidikan seperti cita – cita dari Ki Hajar Dewantara yang bukan hanya sekedar mengajar dan memberi ilmu pengetahuan tapi juga mengajarkan ahklak, budi pekerti dan semangat rela berkorban bagi bangsa dan negara dan itulah tugas  para guru, orang tua terutama pada para pengiat kesenian seperti pak Ahmad dan pak Badrun yang telah sukses mengadakan acara ini “, kata pak Widodo yang membuat hidung Ahmad dan Badrun kembang kempis jadinya sambil tersenyum karena di puji oleh Jendral Purnawiran ini, saat itu mereka berada di belakang pak Widodo karena mereka berdua adalah MC di acara ini.

 “ Karena kesenian adalah salah satu cara untuk mengolah rasa yang menuju pada peradaban bangsa Indonesia ke depan “, lanjut pak Widodo pula.

“ Tapi jujur saya akui bahwa puisi wajib yang temanya tentang saya kok melebih-lebihkan saya, padahal saya hanya manusia biasa “, Mayor Jendral Purnawirawan Widodo berterus terang karena dari muda beliau sangat suka pada dunia seni sehingga ada sedikit rasa dari seni bahasa dalam dirinya membuat Ahmad jadi ciut hidungnya yang kembang kempis karena sebelumnya di puji oleh Jendral Purnawirawan ini.

 “ Tapi biar bagaimanapun saya harus memberi aspresiasi pada pembuatnya yaitu pak Ahmad “, kata pak Widodo.

Ahmad jadi tersenyum kembali dengan melambaikan tangannya ke para penonton. 

“ Semoga jiwa-jiwa para penyair seperti Chairil Anwar, WS Rendra , Sutan Takdir Alisyahbana, Sutardji Chaldun Bahri dan lain sebagainya hadir di sini untuk membangkitkan kembali semangat patriotisme para pemuda yang hampir mati saat ini “, kata pak Widodo pula. 

“ Saya nggak perlu panjang lebar, saya hanya mau Indonesia tetap Jaya dengan Pancasila sebagai Palsafah Negara, Bersatu di bawah Sang Saka Merah Putih dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Ber Bhineka Tunggal Ika, dengan UUD 1945 menjadi cara berpikir dan bertindak bagi kita semua “, kata Jendral Purnawirawan ini berapi-api karena itulah isi hatinya kepada bangsa dan Negara yang sangat di cintainya.

“ Akhir kata saya ucapkan selamat berlomba kepada para generasi muda, para generasi harapan bangsa, Assalamualaikum Warahmatulahi wabarakatuh “, pak Widodo mengakhiri kata sambutannya.

Para hadirin bertepuk tangan karena apa yang di sampaikan Mayor Jendral Purnawirawan Widodo ini sangat bermakna baik isi maupun jiwa dari kata - kata sambutannya.

Lalu acara di mulai, satu persatu anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas berlomba dan ada satu anak SMP yang sangat bagus membawakan puisi pilihan yang berjudul “ Diponegoro “ Karya Chairil Anwar karena dia membawakannya dengan penuh jiwa seperti saat Chairil Anwar menuliskannya yang membakar semangat pemuda – pemuda angkatan 45 melawan penjajah “ Sekali berarti, sudah itu mati “ dan anak tersebut menjadi juara pertama untuk tingkat SMP.

Ketika lomba telah selesai, Ahmad dan Badrun menghitung uang keuntungan dari hasil mereka melakukan even organizer sambil tersenyum puas di rumah Ahmad.

 “ Waduh, kalau ngitung begini tiap hari enak kali ya Drun “ kata Ahmad yang saat itu sedang menghitung uang hasil keuntungan mereka melakukan lomba baca puisi dengan Badrun.

“ Ya  iyalah, elu kan sahabat gue dalam suka dan duka “ kata Badrun kemudian

“ Drun..., gue inget anak SMP yang jadi juara pertama…penghayatannya, artikulasinya, iramanya gue sampai merinding waktu dia baca puisi Diponegoro   semangat gue terbakar saat dia baca syair dari puisi itu… Sekali Berarti Sudah Itu Mati… kayak Chairil Anwar hidup lagi di gedung tadi “, kata Ahmad yang begitu terpesona pada anak SMP yang membaca puisi sangat baik karena syair yang ia ucapkan keluar dari jiwanya, sehingga anak tersebut jadi juara pertama dan terbaik saat lomba itu.

“ Lalu kenapa ? “, tanya Badrun 

“ Kapan ya, pejabat pemerintah mau peduli pada dunia kesenian dan sastra, sehingga anak itu bisa di bina, bukan menang lomba lalu di lepas begitu aja ? “, tanya Ahmad yang masih mempunyai rasa sedikit peduli pada dunia kesenian dan sastra

“ O alah Mad, mana mau pejabat pikirin itu, nggak ada uangnya jadi nggak ada yang bisa di korupsi “, kata Badrun.

 ” Sudahlah, mari kita pikir diri kita sendiri, nggak usah orang lain atau idealisme, basi itu “, kata Badrun kemudian.

“ Lalu yang kita pikirin apa ? “, tanya Ahmad.

“ Duit “, jawab Badrun sambil mengangkat uang yang di pegangnya. 

“ Iya ya…, duit, elu memang sahabat gue “ kata Ahmad kemudian membenarkan pemikiran Badrun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar