Minggu, 19 Januari 2014

11. GELASNYA UDAH SUBHANALLAH APA BELUM ?



Menjelang sore Bahar dan genknya biasa berkumpul di pos ronda seperti biasanya, main gitar di lanjutkan dengan ngobrol ngalur ngidul dan minum-minuman beralkohol tapi bukan untuk mabuk, hanya untuk bahasa pergaulan mereka.

Saat itu Bujang keponakan Butet yang baru datang dari pedalaman Sibolga lewat di depan mereka lalu di panggil Bahar.

“ Eh…elu keponakan tante Butet ya ? “, tanya Bahar sama Bujang.

“ Iya bang, kenapa rupanya ?” Bujang kembali bertanya dengan logat sumateranya.

“ Duduklah sini sebentar ! “ Bahar berbicara dengan ramah kepada Bujang.

Bujang menghampiri Bahar dan kawan-kawannya dan duduk di antara mereka.

Bahar memberikan minuman beralkohol ke Bujang “ minumlah dulu “, kata Bahar kemudian.

“ Apa ini bang ? “, tanya Bujang. 

“ Masak elu orang sumatera nggak tau “, kata Bahar lagi.

Bujang mencium gelas yang di berikan Bahar “ oo…ini nya, biasalah ini di kampungku sana “, kata Bujang kemudian meminum minuman beralkohol yang di tawarkan Bahar.

Bahar tersenyum “ mau lagi ? “, tawarnya.

“ Nanti aku mabuk bang, merepet bujingku”, kata Bujang kemudian.

Bahar tertawa kecil mendengar jawaban polos dari Bujang.

“ Nama elu siapa “, tanya Bahar lagi.

“ Bujang bang “, kata Bujang lagi sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Bahar.

 “ Lengkapnya Bujang Nasution ”, lanjutnya pula.

Bahar memperkenalkan namanya di ikuti oleh persatu kawan – kawannya untuk berkenalan dengan Bujang yang mereka anggap anggota baru dari kelompok mereka.

“ Udah lama elu di sini ? “, tanya Bahar kemudian.

“ Sudah seminggu lah bang, mamak ku suruh aku kemari “, kata Bujang terus terang.

“ Ooo,  elu orang sumatera, bisa main gitar kagak ? “, tanya nya lagi.

“ Sikit-sikit bisalah bang “ jawab Bujang pula.

“ Nih main “, kata Bahar yang sebelumnya mengambil gitar yang di mainkan oleh salah seorang di antara mereka.

“ Lagu apa nih bang ? “, tanya Bujang pula setelah memegang gitar.

“ Terserah elu “, jawab Bahar pula.

Bujang memainkan gitar dan suaranya bagus sekali membuat beberapa orang terkesima oleh permainan gitar Bujang juga suaranya.

Tidak lama setelah itu Jali berjalan ke arah mereka dengan pakaian yang rapi tidak seperti biasanya, dan itu memancing perhatian Wardillah yang dari tadi asyik dengan tugasnya menuang-nuangkan minuman beralkohol yang di bagi – bagikan kepada kawan-kawannya.

  Eh…, deleng tu Jali, rapi pisan euy “, katanya sambil menunjuk ke arah Jali.

Seluruh kawan-kawannya melihat ke arah Jali yang di tunjuk oleh Wardillah.

“ Mimpi apa dia semalam ? “, tanya salah seorang di antara mereka.  

          Ketika Jali telah sampai di pos ronda, dia bersalaman dengan kawan – kawannya dengan ciri khas mereka yang merupakan simbol persahabatan di antara mereka. 

“ Tumben elu rapi dan wangi Jal “, kata Bahar mengoda Jali. 

“ Ye…emang nggak boleh “, jawab Jali dengan gaya kocaknya.

Semua kawan-kawannya tertawa mendengar jawaban Jali yang memang terkenal kocak dan suka humor.

“ Oya, perkenalkan ini Bujang, kawan baru kita “, kata Bahar memperkenalkan Bujang ke Jali.
Jali berjabat tangan dengan Bujang.

“ Sekarang elu punya saingan main gitar, mainnya bagus lho “, kata salah seorang di antara mereka dan membuat Bujang bangga yang dapat terlihat dari roman mukanya.

“ Syukur deh kalo gitu, tangan gue nggak kapalan karena elu suruh main gitar melulu “, jawab jali sekenanya membuat kawannya mati kutu dan di tertawai oleh kawan-kawan lainnya.

“ Ini elu minum dulu deh “, tawar salah seorang di antara mereka kepada Jali untuk meminum minuman keras yang di tuangkan oleh Wardillah sebelumnya.

“ Gelasnya udah Subhanallah apa belum ? “, tanya Jali polos.

“ Kalau belum Subhanallah gue nggak mau minum “, lanjutnya kemudian.

“ Emang Subhanallah tu apaan ? “, tanya kawannya lagi.

“ Subhanallah tu artinya suci atau bersih “, jawab Jali pula.

“ Ya udah, kalau gitu gelasnya gue cuci dulu ye “, kata kawannya lagi sambil menaruh kembali minuman beralkohol ke teko mereka yang berisi minuman keras dan mencuci gelasnya dengan air putih yang ada dalam teko lainnya yang berisi air putih, setelah selesai dia kembali menuangkan minuman ber alkohol ke gelas tersebut, lalu memberikan lagi ke Jali dan Jali menerimanya dengan tersenyum.

“ Nah…ginikan sudah jadi Subhanallah, jadi gue minum “, kata Jali kemudian sambil meminum minuman beralkohol di gelas tersebut.

Bahar tersenyum melihat tingkah polah Jali karena hanya dia yang tahu apa arti Subhanallah itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar