Minggu, 19 Januari 2014

35. BUKTIKAN BAHWA BAPAK TELAH ISLAM ?



Hari ini sedang terjadi ceramah di Musholla tempat Jali tinggal dan seperti biasa penceramahnya adalah Ustad Faisal.
Tidak seperti biasanya dalam pengajian yang di isi dengan ceramah agama, semua teman-teman Jali datang ke Musholla karena mereka semua telah bertobat karena pengaruh lagu PREMAN DAN USTAD dari Jali.
Dalam pengajian yang di isi dengan ceramah hari ini juga di hadiri oleh Mayor Jendral Purnawirawan Widodo karena rumah Jendral kita ini masih satu kelurahan dengan Jali.
Karena banyaknya orang yang hadir dalam ceramah agamanya hari ini, Ustad Faisal jadi gede rasa alias GR dan menyampaikan apa yang di cita-citakannya selama ini.
“ Bapak – bapak dan anak-anak ku sekalian, kita lihat negeri kita…Indonesia…korupsi bertambah banyak, kemaksiatan merajarela dan di biarkan oleh pemimpin-pemimpin negara, hukum tak jelas karena tajam ke rakyat jelata tapi tumpul ketika berhubungan dengan penguasa karena bisa dibeli, itulah hukum buatan manusia oleh karena itu sudah waktunya kita rubah dasar negara kita menjadi Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah “.

            Ketika di katakan  ingin merubah dasar negara, Rustam mahasiswa yang nasionalis religius berdiri dan berbicara dengan mantap sambil memegang Qur’an.

              Ustad Faisal yang saya hormati, apa bapak yakin bapak sudah Islam ?”, tanya Rustam dengan suara mengelegar.

“ Ya…pasti”, jawab Ustad Faisal mantap.

            “ Apa buktinya ? “, tanya Rustam lagi.

            Ustad Faisal menatap tajam Rustam karena dia tidak mengerti dengan pertanyaan itu.

            “ Pak Ustad, di tangan kanan saya ada Qur’an, dan Alqur’an ini adalah pegangan hidup
 saya, tolong tunjukkan di surah apa dan ayat berapa yang mengatakan bapak telah Islam ?”, tanya Rustam lagi.
            “ Gila kamu … tidak mungkin Qur’an menyebutkan saya “, kata Ustad Faisal.

            “ Organisasi bapak, pandangan politik bapak, cara berpikir bapak ?, tapi jelas tertulis di situ bukan atas penafsiran si anu dan si ini, kalau bapak bisa menunjukkan, saya akan bergabung ke bapak ”, kata Rustam mantap.

            Ustad Faisal tertunduk.

            Rustam memberikan Qur’an ke Jali yang duduk di sebelahnya dan Jali menerimanya.

            “ Ustad Faisal, seorang yang mengaku islam sejati hanya ada dalam pikirannya sendiri dan itu belum tentu benar, begitu juga dengan ke Islaman saya, karena kebenaran hanya milik ALLAH SWT bukan bapak dan saya, tapi ketika bapak ingin merubah dasar negara, bapak berhadapan dengan saya, pemuda Indonesia, ini dada saya “, Rustam menyobek bajunya dan suaranya mengelegar membangunkan ibu pertiwi yang sedang tidur karena suaranya terdengar dari sabang sampai merauke.

            “ Saya juga “, kata Bahar dengan tak ragu bangun dan berdiri tegab begitu juga Wardilla, Jali, Baim dan kawan-kawannya kemudian di ikuti oleh jama’ah-jama’ah lainnya.

            Sementara ada beberapa orang pemuda yang dari dulu alim dengan memakai identitas Islam hanya melihat-lihat sebentar kearah Rustam dan sebentar kearah Ustad Faisal mereka binggung menentukan pilihan mau ikut siapa. 

            Sementara Mayor Jendral Purnawirawan Widodo, dia diam dan tertunduk sambil menangis kemudian dia bangkit dan memeluk Rustam.

            “ Ini salah bapak nak, ini tugas bapak bukan kalian.., kalian bersaudara nak”, katanya kemudian.

            Ustad Faisal tertunduk sambil mengucap Istigfar.

            “ Astrafirullah Hal-Azhim “.

Hal inilah yang menjadi fenomena di Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini karena ada segelintir orang yang merasa diri paling benar dan paling Islam telah memaksakan agama masuk dalam ranah ideologi negara. Masalah bagi mereka adalah mereka tidak bisa membedakan dirinya sebagai bagian dari umat Islam dengan dirinya sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia.

Pancasila adalah pemersatu bangsa, pemersatu dari berbagai macam perbedaan yang ada. Sebuah kenyataan Indonesia merdeka ini bukan hanya di perjuangkan oleh umat Muslim saja tapi oleh juga umat Kristiani, Hindu, Budha dan lain sebagainya.

Pancasila bukanlah agama, banyak orang yang salah tafsir dengan mengatakan Pancasila adalah agama, pancasila bukanlah agama tapi dia adalah falsapah bangsa, falsapah yang di gali dari kehidupan rakyat Indonesia yang majemuk, majemuk dalam suku bangsa dan adat istiadat, majemuk dalam agama dan keyakinan, majemuk dalam ras dan warna kulit, dan majemuk juga dalam pemikiran dan isi kepala rakyatnya.

Sebuah kenyataan juga bahwa di belahan timur Indonesia, Islam hanyalah minoritas apakah kita ingin membawa embel-embel Islam dalam ideologi kita berbangsa dan bernegara, apakah kita mau negara Indonesia ini hancur hanya karena pemikiran dari segelintir orang yang menamakan diri sebagai umat Islam yang paling benar padahal hanya ada dalam pemikirannya saja yang tidak bisa dia buktikan.

Tidak ada salahnya bagi umat Islam melaksanakan Syariah Islam karena hal tersebut juga di lindungi oleh Undang-Undang yang ada tapi jangan pernah mengatakan bahwa Syariah yang di buat pemerintah itu salah karena Syariah kamilah yang benar, tanyakan ke mereka apa bukti kebenaran yang ada dalam pemikiran mereka.

Manusia hidup tidak akan pernah lepas dari cara berpikirnya, karena cara berpikirnya ini dia mencari-cari alasan bahwa pemikirannyalah yang paling benar seolah-olah dia adalah ALLAH SWT dan secara tidak sadar dia telah sombong dan takabur di mana penyakit sombong dan takabur adalah kawannya setan dan iblis laknatullah.

Jangan benturkan antara Pancasila dan Islam karena organisasi Islam terbesar di Indonesia baik itu NU dan Muhammadiyah telah menerima Pancasila sebagai pemersatu bangsa.

Sebagai tambahan mari kita baca maklumat Nahdatul Ulama sebagai berikut :

Maklumat Nahdlatul Ulama untuk Dukung Pancasila dan UUD 1945
Maklumat Nahdlatul Ulama

Bahwa sepanjang sejarah Republik Indonesia, setiap upaya mempersoalkan Pancasila sebagai ideologi negara apalagi upaya untuk menggantikannya, terbukti senantiasa menimbulkan perpecahan di kalangan bangsa dan secara realistis tidak menguntungkan umat Islam sebagai mayoritas bangsa.Hingga kini, Pancasila sebagai ideologi negara masih tetap merupakan satu-satunya ideologi yang secara dinamis dan harmonis dapat menampung nilai-nilai keanekaragaman agama maupun budaya, sehingga Indonesia kokoh dan utuh tidak terjebak menjadi negara agama (teokrasi) maupun menjadi negara sekuler yang mengabaikan nilai-nilai agama.
Dewasa ini, mulai terasa upaya menarik Pancasila ke kiri dan ke kanan, yang apabila tidak diwaspadai oleh seluruh komponen bangsa dan membahayakan dan menggoyahkan eksistensi dan posisi Pancasila itu sendiri.

Gerakan reformasi yang melahirkan amandemen terhadap UUD 1945, diakui telah banyak menyumbangkan demokrasi dan kebebasan hak asasi, namun dirasakan pula bahwa reformasi juga melahirkan problem-problem tertentu, maka wajar kalau reformasi direnungkan kembali.
Pancasila sebagai landasan yang berkerangka UUD 1945 melahirkan ketatanegaraan yang diwadahi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), oleh karenanya maka sistem otonomi daerah dan otonomi khusus sama sekali tidak boleh menjurus kepada disintegrasi bangsa, apalagi pemisahan kewilayahan.

Perjuangan menegakkan agama dalam Negara Pancasila haruslah ditata dengan prinsip kearifan, tidak boleh menghadapkan agama terhadap negara atau sebaliknya, tetapi dengan meletakkan agama sebagai sumber aspirasi serta menyumbangkan tata nilai agama yang kemudian diproses melalui prinsip demokrasi dan perlindungan terhadap seluruh kepentingan bangsa. Sedangkan masing-masing agama di Indonesia dapat melakukan kegiatannya dengan leluasa dalam dimensi kemasyarakatan (civil society)

Maka dengan ini, Nahdlatul Ulama :
MENEGUHKAN KEMBALI KOMITMEN
KEBANGSAANNYA UNTUK MEMPERTAHANKKAN
DAN MENGEMBANGKAN PANCASILA DAN
UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA (NKRI)
Peneguhan ini dilakukan karena menurut NU, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa.
Ditetapkan dalam Munas dan Konbes NU di Surabaya, 30 Juli 2006
Rais Aam PBNU, Ketua Umum PBNU
Dr. KH. A.M. Sahal Mahfudh, H.A. Hasyim Muzadi

Begitu juga dengan ‘ Hasil Tanwir Muhammadiyah bertema 'Untuk Pencerahan Dan Solusi Permasalahan Bangsa' di Bandung, 21-24 Juni 2012, salah satunya menghasilkan rekomendasi agar nilai-nilai Pancasila diimplementasikan secara sungguh-sungguh.

"Nilai-nilai Pancasila belum diimplementasikan secara sungguh-sungguh dalam penyelenggaraan negara dan bermasyarakat," papar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Agung Danarto, saat membacakan Pokok Pikiran Tanwir Muhammadiyah 2012 di Hotel Horison, Bandung, Ahad (24 - 6- 2012).
Hal ini terlihat dari maraknya praktek-praktek korupsi, friksi-friksi dalam masyarakat, belum terwujudnya pemerataan atas hasil pembangunan nasional, serta tingginya angka kemiskinan.
"Pancasila bukan agama, akan tetapi substansinya mengandung dan   sejalan dengan nilai-nilai Islam. Pancasila merupakan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia yang merdeka dan berkemajuan," kata Agung.
Muhammadiyah, kata Agung, menegaskan sikap dan pandangan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional terbaik untuk mencapai cita-cita nasional.
"Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah negara perjanjian atau kesepakatan (Darul 'Ahdi), negara kesaksian dan pembuktian (Darus Syahadah), dan negara yang aman dan damai (Darussalam). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar