Hari ini sedang terjadi ceramah di Musholla tempat Jali tinggal dan
seperti biasa penceramahnya adalah Ustad Faisal.
Tidak seperti biasanya dalam pengajian yang di isi dengan ceramah
agama, semua teman-teman Jali datang ke Musholla karena mereka semua telah
bertobat karena pengaruh lagu PREMAN DAN USTAD dari Jali.
Dalam pengajian yang di isi dengan ceramah hari ini juga di hadiri oleh
Mayor Jendral Purnawirawan Widodo karena rumah Jendral kita ini masih satu
kelurahan dengan Jali.
Karena banyaknya orang yang hadir dalam ceramah agamanya hari ini,
Ustad Faisal jadi gede rasa alias GR dan menyampaikan apa yang di
cita-citakannya selama ini.
“ Bapak – bapak dan anak-anak ku sekalian, kita
lihat negeri kita…Indonesia…korupsi bertambah banyak, kemaksiatan merajarela
dan di biarkan oleh pemimpin-pemimpin negara, hukum tak jelas karena tajam ke
rakyat jelata tapi tumpul ketika berhubungan dengan penguasa karena bisa
dibeli, itulah hukum buatan manusia oleh karena itu sudah waktunya kita rubah
dasar negara kita menjadi Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah “.
Ketika
di katakan ingin merubah dasar negara,
Rustam mahasiswa yang nasionalis religius berdiri dan berbicara dengan mantap
sambil memegang Qur’an.
“ Ustad Faisal yang saya hormati, apa bapak
yakin bapak sudah Islam ?”, tanya Rustam dengan suara mengelegar.
“ Ya…pasti”, jawab Ustad Faisal mantap.
“
Apa buktinya ? “, tanya Rustam lagi.
Ustad
Faisal menatap tajam Rustam karena dia tidak mengerti dengan pertanyaan itu.
“
Pak Ustad, di tangan kanan saya ada Qur’an, dan Alqur’an ini adalah pegangan
hidup
saya, tolong tunjukkan di surah apa dan ayat berapa yang mengatakan bapak
telah Islam ?”, tanya Rustam lagi.
“
Gila kamu … tidak mungkin Qur’an menyebutkan saya “, kata Ustad Faisal.
“
Organisasi bapak, pandangan politik bapak, cara berpikir bapak ?, tapi jelas
tertulis di situ bukan atas penafsiran si anu dan si ini, kalau bapak bisa
menunjukkan, saya akan bergabung ke bapak ”, kata Rustam mantap.
Ustad
Faisal tertunduk.
Rustam
memberikan Qur’an ke Jali yang duduk di sebelahnya dan Jali menerimanya.
“
Ustad Faisal, seorang yang mengaku islam sejati hanya ada dalam pikirannya
sendiri dan itu belum tentu benar, begitu juga dengan ke Islaman saya, karena
kebenaran hanya milik ALLAH SWT bukan bapak dan saya, tapi ketika bapak ingin
merubah dasar negara, bapak berhadapan dengan saya, pemuda Indonesia, ini dada
saya “, Rustam menyobek bajunya dan suaranya mengelegar membangunkan ibu
pertiwi yang sedang tidur karena suaranya terdengar dari sabang sampai merauke.
“
Saya juga “, kata Bahar dengan tak ragu bangun dan berdiri tegab begitu juga
Wardilla, Jali, Baim dan kawan-kawannya kemudian di ikuti oleh jama’ah-jama’ah
lainnya.
Sementara
ada beberapa orang pemuda yang dari dulu alim dengan memakai identitas Islam
hanya melihat-lihat sebentar kearah Rustam dan sebentar kearah Ustad Faisal
mereka binggung menentukan pilihan mau ikut siapa.
Sementara
Mayor Jendral Purnawirawan Widodo, dia diam dan tertunduk sambil menangis
kemudian dia bangkit dan memeluk Rustam.
“
Ini salah bapak nak, ini tugas bapak bukan kalian.., kalian bersaudara nak”,
katanya kemudian.
Ustad
Faisal tertunduk sambil mengucap Istigfar.
“
Astrafirullah Hal-Azhim “.
Hal inilah yang menjadi fenomena di Negara
Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini karena ada segelintir orang yang
merasa diri paling benar dan paling Islam telah memaksakan agama masuk dalam
ranah ideologi negara. Masalah bagi mereka adalah mereka tidak bisa membedakan
dirinya sebagai bagian dari umat Islam dengan dirinya sebagai bagian dari
bangsa dan negara Indonesia.
Pancasila adalah pemersatu bangsa, pemersatu
dari berbagai macam perbedaan yang ada. Sebuah kenyataan Indonesia merdeka ini
bukan hanya di perjuangkan oleh umat Muslim saja tapi oleh juga umat Kristiani,
Hindu, Budha dan lain sebagainya.
Pancasila bukanlah agama, banyak orang yang
salah tafsir dengan mengatakan Pancasila adalah agama, pancasila bukanlah agama
tapi dia adalah falsapah bangsa, falsapah yang di gali dari kehidupan rakyat
Indonesia yang majemuk, majemuk dalam suku bangsa dan adat istiadat, majemuk
dalam agama dan keyakinan, majemuk dalam ras dan warna kulit, dan majemuk juga
dalam pemikiran dan isi kepala rakyatnya.
Sebuah kenyataan juga bahwa di belahan timur
Indonesia, Islam hanyalah minoritas apakah kita ingin membawa embel-embel Islam
dalam ideologi kita berbangsa dan bernegara, apakah kita mau negara Indonesia
ini hancur hanya karena pemikiran dari segelintir orang yang menamakan diri
sebagai umat Islam yang paling benar padahal hanya ada dalam pemikirannya saja
yang tidak bisa dia buktikan.
Tidak ada salahnya bagi umat Islam melaksanakan
Syariah Islam karena hal tersebut juga di lindungi oleh Undang-Undang yang ada
tapi jangan pernah mengatakan bahwa Syariah yang di buat pemerintah itu salah
karena Syariah kamilah yang benar, tanyakan ke mereka apa bukti kebenaran yang
ada dalam pemikiran mereka.
Manusia hidup tidak akan pernah lepas dari cara
berpikirnya, karena cara berpikirnya ini dia mencari-cari alasan bahwa
pemikirannyalah yang paling benar seolah-olah dia adalah ALLAH SWT dan secara
tidak sadar dia telah sombong dan takabur di mana penyakit sombong dan takabur
adalah kawannya setan dan iblis laknatullah.
Jangan benturkan antara Pancasila dan Islam
karena organisasi Islam terbesar di Indonesia baik itu NU dan Muhammadiyah
telah menerima Pancasila sebagai pemersatu bangsa.
Sebagai tambahan mari kita baca maklumat
Nahdatul Ulama sebagai berikut :
Maklumat Nahdlatul Ulama untuk Dukung Pancasila
dan UUD 1945
Maklumat Nahdlatul Ulama
Bahwa sepanjang sejarah Republik Indonesia,
setiap upaya mempersoalkan Pancasila sebagai ideologi negara apalagi upaya
untuk menggantikannya, terbukti senantiasa menimbulkan perpecahan di kalangan
bangsa dan secara realistis tidak menguntungkan umat Islam sebagai mayoritas
bangsa.Hingga kini, Pancasila sebagai ideologi negara masih tetap merupakan
satu-satunya ideologi yang secara dinamis dan harmonis dapat menampung
nilai-nilai keanekaragaman agama maupun budaya, sehingga Indonesia kokoh dan
utuh tidak terjebak menjadi negara agama (teokrasi) maupun menjadi negara
sekuler yang mengabaikan nilai-nilai agama.
Dewasa ini, mulai terasa upaya menarik Pancasila
ke kiri dan ke kanan, yang apabila tidak diwaspadai oleh seluruh komponen
bangsa dan membahayakan dan menggoyahkan eksistensi dan posisi Pancasila itu
sendiri.
Gerakan reformasi yang melahirkan amandemen
terhadap UUD 1945, diakui telah banyak menyumbangkan demokrasi dan kebebasan
hak asasi, namun dirasakan pula bahwa reformasi juga melahirkan problem-problem
tertentu, maka wajar kalau reformasi direnungkan kembali.
Pancasila sebagai landasan yang berkerangka UUD
1945 melahirkan ketatanegaraan yang diwadahi dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI), oleh karenanya maka sistem otonomi daerah dan otonomi khusus
sama sekali tidak boleh menjurus kepada disintegrasi bangsa, apalagi pemisahan
kewilayahan.
Perjuangan menegakkan agama dalam Negara
Pancasila haruslah ditata dengan prinsip kearifan, tidak boleh menghadapkan
agama terhadap negara atau sebaliknya, tetapi dengan meletakkan agama sebagai
sumber aspirasi serta menyumbangkan tata nilai agama yang kemudian diproses
melalui prinsip demokrasi dan perlindungan terhadap seluruh kepentingan bangsa.
Sedangkan masing-masing agama di Indonesia dapat melakukan kegiatannya dengan
leluasa dalam dimensi kemasyarakatan (civil society)
Maka dengan ini, Nahdlatul Ulama :
MENEGUHKAN KEMBALI KOMITMEN
KEBANGSAANNYA UNTUK MEMPERTAHANKKAN
DAN MENGEMBANGKAN PANCASILA DAN
UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA (NKRI)
KEBANGSAANNYA UNTUK MEMPERTAHANKKAN
DAN MENGEMBANGKAN PANCASILA DAN
UUD 1945 DALAM WADAH NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA (NKRI)
Peneguhan ini dilakukan karena menurut NU,
Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah upaya final umat Islam dan seluruh bangsa.
Ditetapkan dalam Munas dan Konbes NU di
Surabaya, 30 Juli 2006
Rais Aam PBNU, Ketua Umum PBNU
Dr. KH. A.M. Sahal Mahfudh, H.A. Hasyim Muzadi
Begitu juga dengan ‘ Hasil Tanwir
Muhammadiyah bertema 'Untuk Pencerahan Dan Solusi Permasalahan Bangsa' di
Bandung, 21-24 Juni 2012, salah satunya menghasilkan rekomendasi agar
nilai-nilai Pancasila diimplementasikan secara sungguh-sungguh.
"Nilai-nilai Pancasila belum diimplementasikan secara
sungguh-sungguh dalam penyelenggaraan negara dan bermasyarakat," papar
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Agung Danarto, saat membacakan Pokok Pikiran
Tanwir Muhammadiyah 2012 di Hotel Horison, Bandung, Ahad (24 - 6- 2012).
Hal ini terlihat dari maraknya praktek-praktek korupsi, friksi-friksi
dalam masyarakat, belum terwujudnya pemerataan atas hasil pembangunan nasional,
serta tingginya angka kemiskinan.
"Pancasila bukan agama, akan tetapi substansinya mengandung
dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Pancasila merupakan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia yang merdeka dan
berkemajuan," kata Agung.
Muhammadiyah, kata Agung, menegaskan sikap dan pandangan bahwa
Pancasila merupakan konsensus nasional terbaik untuk mencapai cita-cita
nasional.
"Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah negara perjanjian
atau kesepakatan (Darul 'Ahdi), negara kesaksian dan pembuktian (Darus
Syahadah), dan negara yang aman dan damai (Darussalam).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar