Minggu, 19 Januari 2014

23. CARI DUIT LAGI YOK !



“ Duit lagi, duit lagi…bosen ah..”, itu kata orang-orang yang sinis dengan yang namanya duit.

“ Memang elu udah nggak mau dengan yang namanya duit “, kata kawannya lagi.

Memang yang namanya duit bikin orang gelap mata, kalau punya duit kita ini seperti raja yang maunya di layani melulu bahkan kalau ada yang mau, cebok pun kita minta di layani agar kita di cebokin sama orang gara-gara kita punya duit.

Duit itu bermuka dua, kadang dia jadi malaikat dan kadang dia juga bisa jadi setan dan iblis jadi tergantung pada manusia yang memegangnya. Gara-gara kita punya duit, gampang bagi kita cari kawan tapi jangan harap kalau kita nggak punya duit paling hanya satu dua kawan kita yang mau berkawan dengan kita, itu kenyataan lho coba aja kalian pura-pura kere dan bergaul dengan orang kaya atau orang yang pura – pura kaya, kalian pasti akan merasakannya.

“ Ngapain sih berteman sama orang susah atau miskin, banyak nyusahin “, itu kata sebahagian besar dari kawan kita yang materialitis.

Duit atau materi itu sejatinya sebagai alat bukan sebagai tujuan karena kalau duit atau materi sebagai tujuan maka kita akan melawan suara hati lalu mencari pembenaran atas nama kepentingan kita untuk melawan suara hati seolah-olah itulah yang paling benar.

Jadi duit atau materi ini sangat erat sekali dengan kepentingan, misalnya seorang politikus yang begitu cinta pada partainya menganggap bahwa korupsi untuk kepentingan partai nggak jadi masalah padahal itukan uang rakyat, uang yang kita wakili jadi nggak papa dong kita tilep duitnya…itu pemikiran para politikus bajingan yang memperkosa hak rakyat yang seharusnya dia bela. 

Memang semakin banyak partai semakin pusing karena terlalu banyak lubang-lubang korupsi untuk kepentingan partai atas nama kepentingan rakyat, ujung-ujungnya rakyat lagi yang jadi korban karena biasanya rakyat Indonesia yang memang rata-rata malas membaca hanya akan tergoda pada jargon-jargon partai juga tokoh idola partai yang ganteng atau cantik padahal berhati penipu. Penipu berwajah malaikat yang jual tampang dan senyum mengoda.

Kita sering sekali benci pada pelacur padahal kita sendiri secara tak sadar sering melacurkan diri karena pura-pura manis di depan orang atau atasan padahal tujuan kita untuk mengambil keuntungan dari senyum yang kita tawarkan. Apa bedanya kita dengan pelacur yang menghias wajah dan bibir juga parfum biar tercium wangi tapi kemaluan kita yang di ciptakan Tuhan sebagai simbol dari harga diri gampang sekali di beli orang hanya karena uang. Kalau tidak mau di bilang pelacur berikan senyum yang tulus, jangan pikirkan uang tapi layani mereka sebagai pengabdian kita sebagai sesama mahluk Tuhan.

 Kalau kita suka bilang suka kalau tidak bilang tidak, jangan karena dia atasan atau pejabat negara kita bermanis-manis bibir yang membuat mereka tidak akan pernah tahu suara hati kita, karena biasanya manusia karena jabatan akan lebih cepat tuli dan pekak hati nuraninya, makanya jangan mau jadi pejabat, jauh lebih enak jadi rakyat karena suara hati rakyat lebih jernih karena suara kepentingan rakyat jauh lebih sedikit dari pada pejabat apalagi pejabat negara.

Bagaimana kalau kita tela’ah sebuah puisi sekarang .

BIARKAN AKU JADI RAKYAT
Biarkan aku jadi rakyat
rakyat yang bebas bicara
rakyat yang mulut nya bauk
dan tajam seperti ular berbisa.

Biarkan aku jadi rakyat
yang setia membayar pajak
tapi jangan kau bodohi aku
dengan sumpah dan janji palsu.

Biarkan aku jadi rakyat
orang yang kau wakili
tapi jangan kau kira aku mati
karena aku hidup
dengan mulutku yang bauk.

Biarkan aku jadi rakyat
orang yang bisa kau hukum
tapi jangan kau perkosa hukum
dengan uang dan politikmu.

Enak kan jadi rakyat, karena kita bebas ngomong di internet, facebook, twitter, koran, majalah, buku dan lain sebagainya di negara yang baru belajar ber demokrasi seperti Indonesia, kita bisa kritik habis itu para pejabat negara mulai dari Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif yang memang brengsek di negeri ini.

Tapi tetap ingat kita adalah WARGA NEGARA INDONESIA yang cinta pada 4 pilar bangsa yaitu : PANCASILA, UUD 1945, NKRI dan BHINEKA TUNGGALIKA. 

Pertanyaan terbesarnya adalah sampai kapan pejabat kita ntah itu pejabat perusahaan negara atau pejabat negara sembuh dari penyakit BUDEK, PEKAK dan TULINYA untuk mendengar suara hati nurani kita.

Kita kembali ke cerita tentang para seniman kita yaitu Badrun dan Ahmad yang lagi mikirin  bagaimana caranya supaya mereka bisa dapat duit lagi dari kampanye politiknya Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.

Setelah mereka mendapatkan banyak keuntungan dari lomba baca puisi mereka mikir bagaimana caranya supaya dapat duit lagi dari kesenian, lalu tercetuslah ide mereka untuk membuat lomba band Indie. Indie itu adalah orang - orang bebas yang bicara apa adanya karena itulah dia. Sukak atiku dalam istilah sumatera dan biasanya terlepas dari pakem-pakem atau aturan yang sudah ada.

            Orang-orang Indie itu punya istilah, kalau dia suka buat film Indie dia bilang film aing kumaha aing, kamu mau nonton atau tidak aku nggak peduli karena inilah aku, begitu juga dengan musik, lukisan, patung, puisi dan lain sebagainya. 

Dalam berkesenian mereka ingin menunjukkan jati dirinya. Itulah orang-orang Indie. Duit bagi mereka adalah nomor dua ribu tiga ratus tujuh puluh sembilan, jadi mereka juga butuh duit, nggak bohongkan ?, tapi nggak begitu penting  karena mereka juga punya penghasilan lain, itu idealnya jadi mereka nggak di anggap remeh sama para kapitalis yang kadang suka memaksa keinginan dan pola pikirnya kepada para seniman atau budayawan yang ada sekarang karena nggak ada sumber penghasilan lain.

Seperti cerita kita terdahulu, orang yang di minta sebagai donator oleh Ahmad dan Badrun adalah Mayor Jendral Purnawirawan Widodo yang sangat cinta pada negara Indonesia dan akhirnya ingin terjun dalam dunia politik di hari tuanya.

Mayor Jendral Purnawirawan Widodo yang dasarnya adalah Jendral yang baik dan punya jiwa seni sangat setuju dengan ide dari Badrun dan Ahmad soal rencana lomba band Indie yang akan di ikuti oleh anak-anak muda dari berbagai kalangan dan berbagai macam latar belakang yang mencerminkan jiwa masyarakat Indonesia muda sebenarnya.

“ Wah, ini ide sangat yang bagus…sudah lama saya mengharapkan ini, jiwa bebas seperti mereka-mereka yang berjiwa indie, karena mereka adalah orang-orang cerdas yang tidak mau terikat pada aturan yang biasanya mengekang kreatifitas, dari pada tawuran dan berkelahi antar kampung dan pelajar “, kata Mayor Jendral Purnawirawan  Widodo kepada Badrun dan Ahmad.

Badrun dan Ahmad tersenyum puas mendengar perkataan Purnawirawan Jendral yang sangat baik hati ini.

“ Jadi bapak setuju ? “, kata Ahmad spontan.

“ Ya…tapi ada syaratnya “, kata Mayor Jenderal Purnawirawan Widodo.

  Syaratnya apa pak  ? “, tanya Badrun tak mengerti.

“ Kalian harus berikan yang terbaik buat peserta, sound systemnya, alat musiknya dan lain sebagainya karena ini melambangkan citra saya sebagai calon anggota Dewan “, kata Mayor Jenderal Purnawirawan Widodo.

“ Kalau itu bereslah pak, tidak mungkin kami mengecewakan bapak “, kata Badrun kemudian.

“ Kalau tidak, kalian yang bayar semuanya “, kata pak Widodo tegas dan hal ini di sebabkan karena isi lomba puisi kemarin yang kesannya menjilat makanya pak Widodo menguji kejujuran kedua orang seniman ini.

“ Ahmad memandangi wajah Badrun karena was – was dengan perkataan pak Widodo tapi Badrun cuek lalu dia berkata

“ Deal pak, kami siap berikan yang terbaik buat bapak “, sambil menyalami pak Widodo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar