“ Duit lagi, duit lagi…bosen ah..”, itu kata
orang-orang yang sinis dengan yang namanya duit.
“ Memang elu udah nggak mau dengan yang namanya
duit “, kata kawannya lagi.
Memang yang namanya duit bikin orang gelap
mata, kalau punya duit kita ini seperti raja yang maunya di layani melulu
bahkan kalau ada yang mau, cebok pun kita minta di layani agar kita di cebokin
sama orang gara-gara kita punya duit.
Duit itu bermuka dua, kadang dia jadi malaikat
dan kadang dia juga bisa jadi setan dan iblis jadi tergantung pada manusia yang
memegangnya. Gara-gara kita punya duit, gampang bagi kita cari kawan tapi
jangan harap kalau kita nggak punya duit paling hanya satu dua kawan kita yang
mau berkawan dengan kita, itu kenyataan lho coba aja kalian pura-pura kere dan
bergaul dengan orang kaya atau orang yang pura – pura kaya, kalian pasti akan
merasakannya.
“ Ngapain sih berteman sama orang susah atau
miskin, banyak nyusahin “, itu kata sebahagian besar dari kawan kita yang
materialitis.
Duit atau materi itu sejatinya sebagai alat
bukan sebagai tujuan karena kalau duit atau materi sebagai tujuan maka kita
akan melawan suara hati lalu mencari pembenaran atas nama kepentingan kita
untuk melawan suara hati seolah-olah itulah yang paling benar.
Jadi duit atau materi ini sangat erat sekali
dengan kepentingan, misalnya seorang politikus yang begitu cinta pada partainya
menganggap bahwa korupsi untuk kepentingan partai nggak jadi masalah padahal
itukan uang rakyat, uang yang kita wakili jadi nggak papa dong kita tilep duitnya…itu
pemikiran para politikus bajingan yang memperkosa hak rakyat yang seharusnya
dia bela.
Memang semakin banyak partai semakin pusing
karena terlalu banyak lubang-lubang korupsi untuk kepentingan partai atas nama
kepentingan rakyat, ujung-ujungnya rakyat lagi yang jadi korban karena biasanya
rakyat Indonesia yang memang rata-rata malas membaca hanya akan tergoda pada
jargon-jargon partai juga tokoh idola partai yang ganteng atau cantik padahal
berhati penipu. Penipu berwajah malaikat yang jual tampang dan senyum mengoda.
Kita sering sekali benci pada pelacur padahal
kita sendiri secara tak sadar sering melacurkan diri karena pura-pura manis di
depan orang atau atasan padahal tujuan kita untuk mengambil keuntungan dari
senyum yang kita tawarkan. Apa bedanya kita dengan pelacur yang menghias wajah
dan bibir juga parfum biar tercium wangi tapi kemaluan kita yang di ciptakan
Tuhan sebagai simbol dari harga diri gampang sekali di beli orang hanya karena
uang. Kalau tidak mau di bilang pelacur berikan senyum yang tulus, jangan
pikirkan uang tapi layani mereka sebagai pengabdian kita sebagai sesama mahluk
Tuhan.
Kalau
kita suka bilang suka kalau tidak bilang tidak, jangan karena dia atasan atau
pejabat negara kita bermanis-manis bibir yang membuat mereka tidak akan pernah
tahu suara hati kita, karena biasanya manusia karena jabatan akan lebih cepat
tuli dan pekak hati nuraninya, makanya jangan mau jadi pejabat, jauh lebih enak
jadi rakyat karena suara hati rakyat lebih jernih karena suara kepentingan
rakyat jauh lebih sedikit dari pada pejabat apalagi pejabat negara.
Bagaimana kalau kita tela’ah sebuah puisi
sekarang .
BIARKAN AKU JADI RAKYAT
Biarkan aku jadi rakyat
rakyat yang bebas bicara
rakyat yang mulut nya bauk
dan tajam seperti ular berbisa.
Biarkan aku jadi rakyat
yang setia membayar pajak
tapi jangan kau bodohi aku
dengan sumpah dan janji palsu.
Biarkan aku jadi rakyat
orang yang kau wakili
tapi jangan kau kira aku mati
karena aku hidup
dengan mulutku yang bauk.
Biarkan aku jadi rakyat
orang yang bisa kau hukum
tapi jangan kau perkosa hukum
dengan uang dan politikmu.
Enak kan jadi rakyat, karena kita bebas ngomong
di internet, facebook, twitter, koran, majalah, buku dan lain sebagainya di
negara yang baru belajar ber demokrasi seperti Indonesia, kita bisa kritik
habis itu para pejabat negara mulai dari Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif
yang memang brengsek di negeri ini.
Tapi
tetap ingat kita adalah WARGA NEGARA INDONESIA yang cinta pada 4 pilar bangsa
yaitu : PANCASILA, UUD 1945, NKRI dan BHINEKA TUNGGALIKA.
Pertanyaan terbesarnya adalah sampai kapan
pejabat kita ntah itu pejabat perusahaan negara atau pejabat negara sembuh dari
penyakit BUDEK, PEKAK dan TULINYA untuk mendengar suara hati nurani kita.
Kita kembali ke cerita tentang para seniman
kita yaitu Badrun dan Ahmad yang lagi mikirin
bagaimana caranya supaya mereka bisa dapat duit lagi dari kampanye
politiknya Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.
Setelah mereka mendapatkan banyak keuntungan
dari lomba baca puisi mereka mikir bagaimana caranya supaya dapat duit lagi
dari kesenian, lalu tercetuslah ide mereka untuk membuat lomba band Indie.
Indie itu adalah orang - orang bebas yang bicara apa adanya karena itulah dia.
Sukak atiku dalam istilah sumatera dan biasanya terlepas dari pakem-pakem atau
aturan yang sudah ada.
Orang-orang Indie itu punya istilah,
kalau dia suka buat film Indie dia bilang film aing kumaha aing, kamu mau
nonton atau tidak aku nggak peduli karena inilah aku, begitu juga dengan musik,
lukisan, patung, puisi dan lain sebagainya.
Dalam berkesenian mereka ingin menunjukkan jati
dirinya. Itulah orang-orang Indie. Duit bagi mereka adalah nomor dua ribu tiga
ratus tujuh puluh sembilan, jadi mereka juga butuh duit, nggak bohongkan ?,
tapi nggak begitu penting karena mereka
juga punya penghasilan lain, itu idealnya jadi mereka nggak di anggap remeh
sama para kapitalis yang kadang suka memaksa keinginan dan pola pikirnya kepada
para seniman atau budayawan yang ada sekarang karena nggak ada sumber
penghasilan lain.
Seperti cerita kita terdahulu, orang yang di
minta sebagai donator oleh Ahmad dan Badrun adalah Mayor Jendral Purnawirawan
Widodo yang sangat cinta pada negara Indonesia dan akhirnya ingin terjun dalam
dunia politik di hari tuanya.
Mayor Jendral Purnawirawan Widodo yang dasarnya
adalah Jendral yang baik dan punya jiwa seni sangat setuju dengan ide dari
Badrun dan Ahmad soal rencana lomba band Indie yang akan di ikuti oleh
anak-anak muda dari berbagai kalangan dan berbagai macam latar belakang yang
mencerminkan jiwa masyarakat Indonesia muda sebenarnya.
“ Wah, ini ide sangat yang bagus…sudah lama
saya mengharapkan ini, jiwa bebas seperti mereka-mereka yang berjiwa indie,
karena mereka adalah orang-orang cerdas yang tidak mau terikat pada aturan yang
biasanya mengekang kreatifitas, dari pada tawuran dan berkelahi antar kampung
dan pelajar “, kata Mayor Jendral Purnawirawan
Widodo kepada Badrun dan Ahmad.
Badrun dan Ahmad tersenyum puas mendengar
perkataan Purnawirawan Jendral yang sangat baik hati ini.
“ Jadi bapak setuju ? “, kata Ahmad spontan.
“ Ya…tapi ada syaratnya “, kata Mayor Jenderal
Purnawirawan Widodo.
“
Syaratnya apa pak ? “, tanya
Badrun tak mengerti.
“ Kalian harus berikan yang terbaik buat
peserta, sound systemnya, alat musiknya dan lain sebagainya karena ini melambangkan
citra saya sebagai calon anggota Dewan “, kata Mayor Jenderal Purnawirawan
Widodo.
“ Kalau itu bereslah pak, tidak mungkin kami
mengecewakan bapak “, kata Badrun kemudian.
“ Kalau tidak, kalian yang bayar semuanya “,
kata pak Widodo tegas dan hal ini di sebabkan karena isi lomba puisi kemarin
yang kesannya menjilat makanya pak Widodo menguji kejujuran kedua orang seniman
ini.
“ Ahmad memandangi wajah Badrun karena was –
was dengan perkataan pak Widodo tapi Badrun cuek lalu dia berkata
“ Deal pak, kami siap berikan yang terbaik buat
bapak “, sambil menyalami pak Widodo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar