Minggu, 19 Januari 2014

15. HANCUR NASAB ANE MENIKAH DENGAN HARIM BEGITUAN.



Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mengambil keuntungan dari apapun, termaksud penafsiran hukum yang ada baik itu dalam hukum agama yang tertulis dalam kitab suci atau dalam hukum buatan manusia yang tertulis dalam pasal-pasal yang ada dalam hukum pidana atau perdata.

Coba kita perhatikan kalau para pengacara dan jaksa atau penuntut umum berdebat di pengadilan, mereka masing-masing membawa pasal-pasal yang tertulis dalam hukum dan menafsirkan sendiri menurut pemahaman mereka untuk membela klien bagi pengacara sehingga kesannya klien yang di bela tidak bersalah dan para jaksa sebaliknya, juga atas pasal – pasal yang tertulis dalam hukum, terkadang kita binggung mana yang benar dan mana yang salah karena umumnya mereka pandai bersilat lidah karena memang itulah tugas pengacara dan jaksa.

Jadi tergantung pada sang hakim, hakim yang baik seharusnya melihat dari segala sisi dan dia harus jujur pada hati nurani bukan hanya pada pasal – pasal yang tertulis dalam hukum juga  bukti di persidangan tapi melupakan latar belakang dan alasan seorang melakukan kesalahan atau pelanggaran hukum. 

Dalam persidangan, baik pengacara, jaksa, terdakwa dan saksi - saksi selalu mengatakan YANG MULIA kepada sang hakim, karena yang di harapkan dalam filsafat hukum seorang hakim adalah seorang yang mulia di mana hati nuraninya hidup bukan hanya pasal – pasal dan bukti persidangan, karena itu hanyalah benda mati yang di tafsirkan dan di jadikan alasan oleh pengacara dan sang jaksa.

Masih segar dalam ingatan kita ketika seorang nenek miskin dan tak berdaya terpaksa mencuri dua buah kakau atau buah untuk bahan pembuat coklat karena dia lapar dan itu di bawa ke pengadilan. Suara hati nurani rakyatlah yang membelanya karena dia tak mampu membayar pengacara handal tapi dia tetap di hukum sang hakim, karena sang jaksa memberikan bukti - bukti di persidangan karena itu memang sah dan meyakinkan lantas menyebutkan pasal – pasal hukum pidana yang di langgar lalu menjadi bulan-bulanan atas nama hukum. Sambil menangis sang hakim memberikan hukuman kepada nenek miskin dan tak berdaya. Apakah sang hakim sekarang telah berubah menjadi aktor handal yang hanya bisa menangis dan berekspresi menunjukkan penyesalan ?, padahal dia adalah Sarjana Hukum dan pejabat negara yang punya kuasa,  sedikitnya dia tahu konstitusi negara yang merupakan hukum tertinggi di negeri ini.

Orang-orang miskin dan anak terlantar di pelihara oleh negara, hal itu jelas tertulis dalam konstitusi negara Indonesia pasal 34 UUD 1945.

Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka tunggal Ika adalah pilar bangsa. Ke empat Pilar Bangsa ini adalah Hukum tertinggi yang ada di negara Indonesia. Segala Hukum yang ada harus tunduk pada ke empat pilar ini yang seharusnya menjadi cara berpikir dan bertindak bagi aparat, pejabat dan pemimpin negara. 

Sekarang kita bicara dalam konteks agama Islam, hukum yang tertinggi adalah Alqur’an kemudian Hadist kemudian Ijma ulama dalam arti bahwa hukum yang terendah harus tunduk pada hukum yang lebih tinggi. Itulah seharusnya yang jadi philosophy hukum di negeri ini, jadi filsafat hukum karena kalau bicara tentang agama ujung-ujungnya adalah bicara tentang Tuhan yang tidak mungkin datang dan bicara secara langsung kepada manusia.

Tuhan itu ada dalam diri manusia, dalam nurani manusia, dalam hati kecil manusia yang berani jujur pada dirinya sendiri. Karena baik atau buruk pasti manusia itu tahu karena tidak mungkin manusia bisa membohongi dirinya sendiri kecuali dia punya kepentingan lalu membenar-benarkan pemikiran dan tindakannya.

Coba kita dengar dan renungkan lelucon dari almarhum KH. Abdul Rahman Wahid alias Gusdur tentang apa alasannya mengapa dia sering berziarah ke ulama dan makam para leluhur, dan beliau menjawab dengan gayanya yang jenaka karena orang yang sudah mati tidak mungkin punya kepentingan lagi, katanya sambil tertawa.
Bagi yang malas untuk berpikir mungkin hanya tertawa seperti ekspresi luar almarhum Gusdur yang terekam di kamera, tapi dari jawaban yang nyeleneh dan lucu ini kalau kita renungkan lagi mempunyai makna yang sangat dalam.  Manusia hidup itu pasti punya kepentingan dan demi kepentingan tersebut manusia menghalalkan segala cara bahkan memperkosa hukum yang sudah ada baik itu hukum agama atau hukum buatan manusia, banyak kan buktinya.

Masalah penafsiran ayat suci Alqur’an tidak jauh berbeda dengan kondisi penafsiran hukum kita oleh para pengacara dan jaksa, pro dan kontra, suka dan tak suka karena teks yang ada dalam kitab suci dan hukum negara adalah benda mati yang bisa di tafsirkan oleh cara berpikir manusia yang masih hidup dan tidak pernah lepas dari kepentingan hidup dan cita-citanya. Apa susahnya bagi lidah manusia menyebut nama Tuhan dalam sumpahnya, memangnya kita tahu apa yang ada dalam pikirannya.

Makanya dalam menafsirkan ayat-ayat suci Alqur’an kita perlu mengetahui Asbabun Nuzul atau latar belakang keluarnya ayat. Asbabun Nuzul Qur’an ini tidak lepas dari konteks budaya, adat istiadat juga keadaan Mekah dan Madinah saat Nabi Muhammad SAW itu hidup. Coba kita pikir sedikit ketika Qur’an bicara tentang surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai….bagi negara Indonesia apakah surga jika banyak sungai – sungai yang mengalir deras airnya, karena kenyataan di negeri ini terlalu banyak sungai yang mengalir deras airnya dan sangat berbeda dengan kondisi Mekah dan Madinah saat itu. Jadi Alqur’an itu adalah bahasa simbol yang berlaku sepanjang zaman.

Hal inilah yang di tafsirkan oleh Rustam tentang anak yatim yaitu anak perempuan yang tidak punya bapak dan budak dalam ayat suci Qur’an surah An-Nissa ayat 3 yang di sampaikan oleh Ustad Faisal dan di katakannya sebagai Sunnah Rasul untuk membenarkan niatnya berpoligami dengan janda cantik keturunan Persia dan kaya raya. Menurut Rustam  dari pengamatannya yang ada, banyak perempuan - perempuan yatim dan budak-budak kehidupan yang terjadi sepanjang hidup manusia di dunia ini. Contohnya adalah perempuan - perempuan yang terpaksa jadi pelacur karena ketidak berdayaan atau janda – janda tua, miskin dan jelek.

Malam setelah membahas  masalah poligami, Rustam dan pak Ustad Faisal berboncengan naik sepeda motor milik Rustam. Kali ini pak Ustad Faisal tidak memakai jubahnya tapi memakai pakaian biasa dan memakai jaket seperti janji mereka sebelumnya dan mereka berjalan ke arah perempuan malam yang menjajakan tubuhnya di pinggir jalan.

Di sepanjang jalan Ustad Faisal tak pernah lepas mulutnya dari mengucapkan Kalimah Istighfar “ Astagfirullah Hal Azhim “ yang artinya Aku Mohon Ampun Pada Allah Yang Maha Agung karena melihat para perempuan malam memamerkan aurat  dan terkadang menggoda mereka yang berjalan pelan dengan sepeda motornya.

“ Pak Ustad Faisal, wanita – wanita itu adalah contoh perempuan - perempuan yatim atau budak-budak kehidupan di zaman sekarang seperti yang tertulis dalam Qur’an “, kata Rustam saat itu ketika mereka berhenti di sebuah warung rokok untuk membeli sebungkus rokok filter. 

“ Bagaimana kalau kita tanya mereka, kenapa mereka bisa menjadi begini dan  apa yang mereka inginkan biar mereka terlepas dari dunia maksiat yang sedari tadi bapak mengucapkan Kalimah Istighfar untuk minta ampun kepada Allah ketika bapak melihatnya “, kata Rustam kemudian.

“ Tapi itu zinah mata Rustam “, kata Ustad Faisal yang dari masa kanak - kanak telah biasa hidup di Pesantren sehingga tidak pernah tahu dunia luar kecuali hanya Pesantren, Mesjid dan Musholla.

“ Pak, segala sesuatu bukankah tergantung dari niat kita ? “, jawab Rustam sambil bertanya yang membuat Ustad Faisal menyerah.

Lalu mereka mendatangi seorang perempuan malam yang umurnya sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh tahun.

“ Mas, short time yuk !, murah kok cuma seratus ribu, long time dua ratus lima puluh, berdua juga boleh pokoknya puas deh mas “, kata perempuan malam tersebut menggoda Rustam dan Ustad Faisal, membuat Ustad Faisal jantungnya berdegup kencang karena rasa berdosanya mampir di tempat seperti ini sementara Rustam biasa saja karena dia biasa bergaul dengan segala kalangan baik dengan para preman, pelacur, bencong atau Ustad, Pendeta, Biksu dan pemuka-pemuka agama lainnya.

“ Kita ngobrol-ngobrol aja deh mbak “, kata Rustam kemudian sambil menawarkan sebatang rokok filter kepada perempuan malam tersebut.

Perempuan malam tersebut mengambil sebatang rokok yang di tawarkan Rustam kepadanya lalu menyelipkan ke bibirnya yang bergincu tebal, Rustam menyalakan rokok ke perempuan tersebut dengan korek apinya.

“ Terima kasih ya “, kata perempuan malam tersebut lalu menghisap rokoknya.

“ Namanya siapa ya mbak ? “, tanya Rustam ramah.

“ Ratih mas, masnya siapa ? “, perempuan tersebut balik bertanya dan tersenyum manis pada Rustam karena baru sekali ini dia di perlakukan sangat ramah dan manusiawi oleh laki-laki di tempat pelacuran seperti ini.

“ Apalah arti sebuah nama mbak “, kata Rustam sambil tersenyum juga.

“ Ah, mas ini bisa aja “, kata perempuan tersebut genit sambil menyubit pinggang Rustam.

 “ Tapi bener juga ya, apalah arti sebuah nama “, kata perempuan itu lagi.

Perlakuan ini di pandang sinis oleh Ustad Faisal dan mata perempuan malam tersebut melihatnya sehingga ada kesan benci pada perempuan malam tersebut pada Ustad Faisal tapi tidak untuk Rustam.

“ Mbak sudah berapa lama kerja di sini ? “, tanya Rustam ke perempuan malam tersebut.

“ Kerja ? “, kata perempuan malam tersebut tertawa dan kesannya balik bertanya sambil meledek lalu menghembuskan asap rokoknya kuat - kuat, sekuat kesalnya pada diri sendiri.

 “ Yang kek gini kok di bilang kerja mas “, kata perempuan malam itu lagi.

“ Maksudnya mbak ? “, Rustam balik bertanya untuk mengorek isi hati dari perempuan malam ini.

“ Saya terpaksa di sini sejak suami saya meninggalkan saya dan pergi dengan perempuan lain, bekas suami saya itu tukang pukul mas bahkan sering menyiksa saya, nih bekasnya “, kata perempuan tersebut lagi sambil menunjukkan bekas luka sundutan rokok yang ada di lehernya.

 “ Saya punya anak tiga, semuanya ikut saya dan mantan suami saya nggak sepeserpun kasi saya duit “,  kata perempuan tersebut dan matanya menerawang antara sedih dan kesal dengan nasibnya.

“ Kenapa nggak jadi pembantu rumah tangga aja mbak ? “, tanya Rustam kemudian.

“ Mas-mas, saya pernah jadi pembantu rumah tangga… eh…malah di perkosa sama anaknya, pertamanya saya marah bahkan tiga hari saya nangis terus orang tuanya jarang di rumah sih mas, tapi lama – lama enak juga sih, tenaganya kuat “, kata perempuan itu lagi sambil tertawa

 “ Tapi duitnya nggak ada mendingan seperti ini, sama aja kan “, kata perempuan itu lagi.

Rustam tertawa mendengar keterus - terangan dari perempuan malam ini.

“ Seandainya ada laki - laki yang mau mengambil mbak sebagai istri bagaimana ? “, tanya Rustam kemudian.

Perempuan malam tersebut menatap tajam mata Rustam, dan mata Rustam beralih ke Ustad Faisal yang ada di sebelahnya, Ustad Faisal jadi salah tingkah karena pandangan tajam perempuan tersebut beralih kepadanya.

“ Mas, kalau ada laki-laki baik seperti itu saya mengabdikan seluruh hidup saya padanya “ kata perempuan malam tersebut sambil mengisap rokoknya dalam – dalam kemudian menghembuskanya sehingga banyak asap yang keluar lalu membuang dan menginjak puntung rokoknya.

 “ Siapa sih yang mau hidup seperti ini, capek mas…, saya di anggap sampah sama orang kampung  apalagi mantan suami padahal dia kasi saya anak yang harus saya kasi makan “, kata perempuan itu lagi.
“ Kalau seandainya suami mbak tersebut sudah punya istri bagaimana ?”, tanya Rustam lagi membuat Ustad Faisal menoleh kepadanya.

“ Ya nggak papa, yang penting adil dan istri tuanya tau biar nggak di labrak, mau saya jadi istri kedua, tiga, empat  nggak jadi masalah tapi anak saya bisa makan dan sekolah, saya nggak mau anak-anak saya seperti ibunya, anak - anak saya harus jadi sarjana dan jadi orang bukan sampah seperti ibunya,  saya buat ini karena saya cinta sama anak - anak saya “, kata perempuan tersebut dengan mata menerawang mengharapkan laki – laki baik itu datang seolah – olah itu adalah cita – cita terbesar dalam hidupnya.

“ Ya udah kalau begitu “, kata Rustam kemudian sambil menyerahkan uang seratus ribu padanya.

“ Uang apa ini mas ? “ tanya perempuan itu tak mengerti.

“ Anggap saja short time “, kata Rustam sambil tertawa dan berlalu bersama Ustad Faisal.

“ Terima kasih ya mas “ kata perempuan itu lagi.

Setelah agak jauh dari perempuan itu, Rustam bertanya kepada Ustad Faisal.

 “ Bagai mana pak, apa mau memerdekakan budak atau perempuan yatim di kehidupan zaman sekarang seperti perempuan tadi ? “.

Ustad Faisal mengeleng-gelengkan kepala dan menarik nafasnya dalam- dalam terus berkata
“ Aduh, bisa hancur nasab ane menikah dengan harim begituan “,

             Ustad Faisal menyerah melihat kenyataan budak-budak kehidupan di zaman sekarang karena gengsinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar