Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk
mengambil keuntungan dari apapun, termaksud penafsiran hukum yang ada baik itu
dalam hukum agama yang tertulis dalam kitab suci atau dalam hukum buatan
manusia yang tertulis dalam pasal-pasal yang ada dalam hukum pidana atau
perdata.
Coba kita perhatikan kalau para pengacara dan
jaksa atau penuntut umum berdebat di pengadilan, mereka masing-masing membawa
pasal-pasal yang tertulis dalam hukum dan menafsirkan sendiri menurut pemahaman
mereka untuk membela klien bagi pengacara sehingga kesannya klien yang di bela
tidak bersalah dan para jaksa sebaliknya, juga atas pasal – pasal yang tertulis
dalam hukum, terkadang kita binggung mana yang benar dan mana yang salah karena
umumnya mereka pandai bersilat lidah karena memang itulah tugas pengacara dan
jaksa.
Jadi tergantung pada sang hakim, hakim yang
baik seharusnya melihat dari segala sisi dan dia harus jujur pada hati nurani
bukan hanya pada pasal – pasal yang tertulis dalam hukum juga bukti di persidangan tapi melupakan latar
belakang dan alasan seorang melakukan kesalahan atau pelanggaran hukum.
Dalam persidangan, baik pengacara, jaksa,
terdakwa dan saksi - saksi selalu mengatakan YANG MULIA kepada sang hakim,
karena yang di harapkan dalam filsafat hukum seorang hakim adalah seorang yang
mulia di mana hati nuraninya hidup bukan hanya pasal – pasal dan bukti
persidangan, karena itu hanyalah benda mati yang di tafsirkan dan di jadikan
alasan oleh pengacara dan sang jaksa.
Masih segar dalam ingatan kita ketika seorang
nenek miskin dan tak berdaya terpaksa mencuri dua buah kakau atau buah untuk
bahan pembuat coklat karena dia lapar dan itu di bawa ke pengadilan. Suara hati
nurani rakyatlah yang membelanya karena dia tak mampu membayar pengacara handal
tapi dia tetap di hukum sang hakim, karena sang jaksa memberikan bukti - bukti
di persidangan karena itu memang sah dan meyakinkan lantas menyebutkan pasal –
pasal hukum pidana yang di langgar lalu menjadi bulan-bulanan atas nama hukum.
Sambil menangis sang hakim memberikan hukuman kepada nenek miskin dan tak
berdaya. Apakah sang hakim sekarang telah berubah menjadi aktor handal yang
hanya bisa menangis dan berekspresi menunjukkan penyesalan ?, padahal dia
adalah Sarjana Hukum dan pejabat negara yang punya kuasa, sedikitnya dia tahu konstitusi negara yang
merupakan hukum tertinggi di negeri ini.
Orang-orang miskin dan anak terlantar di
pelihara oleh negara, hal itu jelas tertulis dalam konstitusi negara Indonesia
pasal 34 UUD 1945.
Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan Bhineka tunggal Ika adalah pilar bangsa. Ke empat Pilar Bangsa
ini adalah Hukum tertinggi yang ada di negara Indonesia. Segala Hukum yang ada
harus tunduk pada ke empat pilar ini yang seharusnya menjadi cara berpikir dan
bertindak bagi aparat, pejabat dan pemimpin negara.
Sekarang kita bicara dalam konteks agama Islam,
hukum yang tertinggi adalah Alqur’an kemudian Hadist kemudian Ijma ulama dalam
arti bahwa hukum yang terendah harus tunduk pada hukum yang lebih tinggi.
Itulah seharusnya yang jadi philosophy hukum di negeri ini, jadi filsafat hukum
karena kalau bicara tentang agama ujung-ujungnya adalah bicara tentang Tuhan
yang tidak mungkin datang dan bicara secara langsung kepada manusia.
Tuhan itu ada dalam diri manusia, dalam nurani
manusia, dalam hati kecil manusia yang berani jujur pada dirinya sendiri.
Karena baik atau buruk pasti manusia itu tahu karena tidak mungkin manusia bisa
membohongi dirinya sendiri kecuali dia punya kepentingan lalu membenar-benarkan
pemikiran dan tindakannya.
Coba kita dengar dan renungkan lelucon dari
almarhum KH. Abdul Rahman Wahid alias Gusdur tentang apa alasannya mengapa dia
sering berziarah ke ulama dan makam para leluhur, dan beliau menjawab dengan
gayanya yang jenaka karena orang yang sudah mati tidak mungkin punya
kepentingan lagi, katanya sambil tertawa.
Bagi yang malas untuk berpikir mungkin hanya
tertawa seperti ekspresi luar almarhum Gusdur yang terekam di kamera, tapi dari
jawaban yang nyeleneh dan lucu ini kalau kita renungkan lagi mempunyai makna
yang sangat dalam. Manusia hidup itu
pasti punya kepentingan dan demi kepentingan tersebut manusia menghalalkan
segala cara bahkan memperkosa hukum yang sudah ada baik itu hukum agama atau
hukum buatan manusia, banyak kan buktinya.
Masalah penafsiran ayat suci Alqur’an tidak
jauh berbeda dengan kondisi penafsiran hukum kita oleh para pengacara dan
jaksa, pro dan kontra, suka dan tak suka karena teks yang ada dalam kitab suci
dan hukum negara adalah benda mati yang bisa di tafsirkan oleh cara berpikir
manusia yang masih hidup dan tidak pernah lepas dari kepentingan hidup dan
cita-citanya. Apa susahnya bagi lidah manusia menyebut nama Tuhan dalam sumpahnya,
memangnya kita tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Makanya dalam menafsirkan ayat-ayat suci
Alqur’an kita perlu mengetahui Asbabun Nuzul atau latar belakang keluarnya
ayat. Asbabun Nuzul Qur’an ini tidak lepas dari konteks budaya, adat istiadat juga
keadaan Mekah dan Madinah saat Nabi Muhammad SAW itu hidup. Coba kita pikir
sedikit ketika Qur’an bicara tentang surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai….bagi negara Indonesia apakah surga jika banyak sungai – sungai
yang mengalir deras airnya, karena kenyataan di negeri ini terlalu banyak
sungai yang mengalir deras airnya dan sangat berbeda dengan kondisi Mekah dan
Madinah saat itu. Jadi Alqur’an itu adalah bahasa simbol yang berlaku sepanjang
zaman.
Hal inilah yang di tafsirkan oleh Rustam tentang
anak yatim yaitu anak perempuan yang tidak punya bapak dan budak dalam ayat
suci Qur’an surah An-Nissa ayat 3 yang di sampaikan oleh Ustad Faisal dan di
katakannya sebagai Sunnah Rasul untuk membenarkan niatnya berpoligami dengan
janda cantik keturunan Persia dan kaya raya. Menurut Rustam dari pengamatannya yang ada, banyak perempuan
- perempuan yatim dan budak-budak kehidupan yang terjadi sepanjang hidup
manusia di dunia ini. Contohnya adalah perempuan - perempuan yang terpaksa jadi
pelacur karena ketidak berdayaan atau janda – janda tua, miskin dan jelek.
Malam setelah membahas masalah poligami, Rustam dan pak Ustad Faisal
berboncengan naik sepeda motor milik Rustam. Kali ini pak Ustad Faisal tidak
memakai jubahnya tapi memakai pakaian biasa dan memakai jaket seperti janji
mereka sebelumnya dan mereka berjalan ke arah perempuan malam yang menjajakan
tubuhnya di pinggir jalan.
Di sepanjang jalan Ustad Faisal tak pernah
lepas mulutnya dari mengucapkan Kalimah Istighfar “ Astagfirullah Hal Azhim “
yang artinya Aku Mohon Ampun Pada Allah Yang Maha Agung karena melihat para
perempuan malam memamerkan aurat dan
terkadang menggoda mereka yang berjalan pelan dengan sepeda motornya.
“ Pak Ustad Faisal, wanita – wanita itu adalah
contoh perempuan - perempuan yatim atau budak-budak kehidupan di zaman sekarang
seperti yang tertulis dalam Qur’an “, kata Rustam saat itu ketika mereka
berhenti di sebuah warung rokok untuk membeli sebungkus rokok filter.
“ Bagaimana kalau kita tanya mereka, kenapa
mereka bisa menjadi begini dan apa yang
mereka inginkan biar mereka terlepas dari dunia maksiat yang sedari tadi bapak
mengucapkan Kalimah Istighfar untuk minta ampun kepada Allah ketika bapak
melihatnya “, kata Rustam kemudian.
“ Tapi itu zinah mata Rustam “, kata Ustad Faisal
yang dari masa kanak - kanak telah biasa hidup di Pesantren sehingga tidak
pernah tahu dunia luar kecuali hanya Pesantren, Mesjid dan Musholla.
“ Pak, segala sesuatu bukankah tergantung dari
niat kita ? “, jawab Rustam sambil bertanya yang membuat Ustad Faisal menyerah.
Lalu mereka mendatangi seorang perempuan malam
yang umurnya sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh tahun.
“ Mas, short time yuk !, murah kok cuma seratus
ribu, long time dua ratus lima puluh, berdua juga boleh pokoknya puas deh mas “,
kata perempuan malam tersebut menggoda Rustam dan Ustad Faisal, membuat Ustad
Faisal jantungnya berdegup kencang karena rasa berdosanya mampir di tempat
seperti ini sementara Rustam biasa saja karena dia biasa bergaul dengan segala
kalangan baik dengan para preman, pelacur, bencong atau Ustad, Pendeta, Biksu
dan pemuka-pemuka agama lainnya.
“ Kita ngobrol-ngobrol aja deh mbak “, kata
Rustam kemudian sambil menawarkan sebatang rokok filter kepada perempuan malam
tersebut.
Perempuan malam tersebut mengambil sebatang
rokok yang di tawarkan Rustam kepadanya lalu menyelipkan ke bibirnya yang
bergincu tebal, Rustam menyalakan rokok ke perempuan tersebut dengan korek
apinya.
“ Terima kasih ya “, kata perempuan malam
tersebut lalu menghisap rokoknya.
“ Namanya siapa ya mbak ? “, tanya Rustam
ramah.
“ Ratih mas, masnya siapa ? “, perempuan
tersebut balik bertanya dan tersenyum manis pada Rustam karena baru sekali ini
dia di perlakukan sangat ramah dan manusiawi oleh laki-laki di tempat pelacuran
seperti ini.
“ Apalah arti sebuah nama mbak “, kata Rustam
sambil tersenyum juga.
“ Ah, mas ini bisa aja “, kata perempuan
tersebut genit sambil menyubit pinggang Rustam.
“ Tapi
bener juga ya, apalah arti sebuah nama “, kata perempuan itu lagi.
Perlakuan ini di pandang sinis oleh Ustad
Faisal dan mata perempuan malam tersebut melihatnya sehingga ada kesan benci
pada perempuan malam tersebut pada Ustad Faisal tapi tidak untuk Rustam.
“ Mbak sudah berapa lama kerja di sini ? “,
tanya Rustam ke perempuan malam tersebut.
“ Kerja ? “, kata perempuan malam tersebut
tertawa dan kesannya balik bertanya sambil meledek lalu menghembuskan asap
rokoknya kuat - kuat, sekuat kesalnya pada diri sendiri.
“ Yang
kek gini kok di bilang kerja mas “, kata perempuan malam itu lagi.
“ Maksudnya mbak ? “, Rustam balik bertanya
untuk mengorek isi hati dari perempuan malam ini.
“ Saya terpaksa di sini sejak suami saya
meninggalkan saya dan pergi dengan perempuan lain, bekas suami saya itu tukang
pukul mas bahkan sering menyiksa saya, nih bekasnya “, kata perempuan tersebut
lagi sambil menunjukkan bekas luka sundutan rokok yang ada di lehernya.
“ Saya
punya anak tiga, semuanya ikut saya dan mantan suami saya nggak sepeserpun kasi
saya duit “, kata perempuan tersebut dan
matanya menerawang antara sedih dan kesal dengan nasibnya.
“ Kenapa nggak jadi pembantu rumah tangga aja
mbak ? “, tanya Rustam kemudian.
“ Mas-mas, saya pernah jadi pembantu rumah
tangga… eh…malah di perkosa sama anaknya, pertamanya saya marah bahkan tiga
hari saya nangis terus orang tuanya jarang di rumah sih mas, tapi lama – lama
enak juga sih, tenaganya kuat “, kata perempuan itu lagi sambil tertawa
“ Tapi
duitnya nggak ada mendingan seperti ini, sama aja kan “, kata perempuan itu
lagi.
Rustam tertawa mendengar keterus - terangan dari
perempuan malam ini.
“ Seandainya ada laki - laki yang mau mengambil
mbak sebagai istri bagaimana ? “, tanya Rustam kemudian.
Perempuan malam tersebut menatap tajam mata
Rustam, dan mata Rustam beralih ke Ustad Faisal yang ada di sebelahnya, Ustad
Faisal jadi salah tingkah karena pandangan tajam perempuan tersebut beralih
kepadanya.
“ Mas, kalau ada laki-laki baik seperti itu
saya mengabdikan seluruh hidup saya padanya “ kata perempuan malam tersebut
sambil mengisap rokoknya dalam – dalam kemudian menghembuskanya sehingga banyak
asap yang keluar lalu membuang dan menginjak puntung rokoknya.
“ Siapa
sih yang mau hidup seperti ini, capek mas…, saya di anggap sampah sama orang
kampung apalagi mantan suami padahal dia
kasi saya anak yang harus saya kasi makan “, kata perempuan itu lagi.
“ Kalau seandainya suami mbak tersebut sudah
punya istri bagaimana ?”, tanya Rustam lagi membuat Ustad Faisal menoleh
kepadanya.
“ Ya nggak papa, yang penting adil dan istri
tuanya tau biar nggak di labrak, mau saya jadi istri kedua, tiga, empat nggak jadi masalah tapi anak saya bisa makan
dan sekolah, saya nggak mau anak-anak saya seperti ibunya, anak - anak saya
harus jadi sarjana dan jadi orang bukan sampah seperti ibunya, saya buat ini karena saya cinta sama anak -
anak saya “, kata perempuan tersebut dengan mata menerawang mengharapkan laki –
laki baik itu datang seolah – olah itu adalah cita – cita terbesar dalam
hidupnya.
“ Ya udah kalau begitu “, kata Rustam kemudian
sambil menyerahkan uang seratus ribu padanya.
“ Uang apa ini mas ? “ tanya perempuan itu tak
mengerti.
“ Anggap saja short time “, kata Rustam sambil
tertawa dan berlalu bersama Ustad Faisal.
“ Terima kasih ya mas “ kata perempuan itu
lagi.
Setelah agak jauh dari perempuan itu, Rustam
bertanya kepada Ustad Faisal.
“ Bagai
mana pak, apa mau memerdekakan budak atau perempuan yatim di kehidupan zaman
sekarang seperti perempuan tadi ? “.
Ustad Faisal mengeleng-gelengkan kepala dan
menarik nafasnya dalam- dalam terus berkata
“ Aduh, bisa hancur nasab ane menikah dengan
harim begituan “,Ustad Faisal menyerah melihat kenyataan budak-budak kehidupan di zaman sekarang karena gengsinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar