Setelah kita mempunyai cita – cita maka kita harus mengoptimalkan
segala yang kita punya untuk mewujudkan cita-cita kita tersebut. Manusia di
berikan akal dan pikiran, alangkah bodohnya manusia yang tidak mau
mengoptimalkan anugerah terindah yang di berikan Allah SWT itu, apalagi membiarkannya
tumpul seperti memakai narkotika dan lain sebagainya sehingga hidup kita sangat
tergantung kepadanya.
Binatang hidup dari naluri sementara manusia selain di berikan naluri
dia juga di berikan akal dan pikiran, coba kita baca buku sejarah !, bagaimana
peradaban manusia seratus tahun yang lalu di bandingkan dengan peradaban
manusia di zaman sekarang. Ilmu pengetahuan dan tehnologi bisa berkembang
karena manusia mengunakan akal dan pikirannya sehingga hidupnya jauh lebih
mudah di bandingkan dengan kehidupannya di zaman dahulu.
Masalah bagi manusia adalah kemampuan akal dan pikirannya tidak di
gunakan untuk beribadah seperti tujuan dia di ciptakan sebagai Khalifah Allah
SWT di muka bumi tapi akal dan pikirannya di gunakan untuk mengejar nafsu
duniawi sehingga banyak manusia salah membaca Sifat-Sifat Allah yang ada dalam
dirinya sendiri.
Contoh manusia yang salah membaca sifat-sifat Allah banyak dalam
kehidupan kita sekarang ini.
Di dalam diri manusia ada sifat Al Ghaniyy atau sifat ingin kaya tapi bukan berarti kita
melupakan tujuan utama kita yaitu memberikan Rahman dan Rahim atau kasih dan
sayang pada semua mahluk ciptaan Allah SWT.
Sah-sah saja pedagang ingin kaya tapi bukan berarti dia harus membuat
orang jadi sakit karena ilmu pengetahuannya dengan menambahkan borax, formalin,
zat pewarna dan lain sebagainya yang sangat berbahaya bagi kesehatan para
pelanggannya hanya untuk keuntungan semata.
Sah – sah saja negara maju, kuat dan kaya menjadi investor dalam negara
yang berkembang atau miskin tapi bukan berarti sebahagian besar kekayaan alam
di negara berkembang atau miskin untuk negara maju, kuat dan kaya apalagi
karena kekuatan militer dan politiknya negara tersebut menekan negara
berkembang dan miskin tersebut sehingga melupakan prinsip keadilan yang di
buatnya sendiri.
Munafik berjama’ah, sadar atau tidak sadar sering kita lakukan
sekarang. Baik itu di lingkungan kerja, di pemerintahan, dunia politik dan lain
sebagainya.
Dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia punya
Pancasila yang menyatukan perbedaan kita yang beraneka ragam baik itu suku,
agama, ras dan antar golongan juga pandangan politik, tapi sudahkah kita
menjalankan nilai-nilai luhur yang ada di Pancasila dalam kehidupan kita
sehari-hari ?.
Dalam dunia kerja, kita punya perjanjian kerja dan aturan main lainnya,
mari tanyakan ke diri kita sendiri sudahkah kita sebagai pimpinan memberikan
hak bawahan kita seperti yang tertulis dalam perjanjian kerja juga
undang-undang yang di buat pemerintah ?.
Kepentingan, baik itu kepentingan politik atau ekonomi, itulah alasan
kita melanggar kesepakatan yang telah kita buat sendiri, sehingga sadar atau
tidak sadar kita telah menjadi munafik pada aturan main yang kita buat sendiri.
Karena kemunafikan atasan, bawahan juga menjalankan aturan yang berbeda dari
yang tertulis yang ada ikatan hukumnya sehingga yang di jalankan atau di
praktekkan dalam dunia kerja adalah aturan yang munafik atau munafik berjama’ah
bagi seluruh organisasi perusahaan.
Allahuakbar, Allah Maha Besar dan manusia tidak mungkin bisa besar bila
dalam pemikirannya masih ada motif kepentingan dengan mengabaikan aturan main.
Transparansi atau keterbukaan itu sakit bagi bawahan yang pernah membacanya
tapi tidak di laksanakan.
Kembali ke tokoh kita, Jali saat itu sedang berkumpul dengan
kawan-kawannya di pos ronda, dan seperti hari – hari kemarin pak Darwis ingin
melaksanakan sholat di Musholla tempat Jali tinggal bersama pak Burhan
supirnya, dan saat itu Jali juga belum melaksanakan sholat sehingga dia minta
izin kepada sahabat-sahabatnya di pos ronda untuk menscan dirinya melalui
sholat bersama pak Darwis dan pak Burhan.
Jali menjadi makmum bersama pak Burhan dan pak Darwis sebagai imamnya
dalam sholat tersebut dan di lanjutkan dengan zikir bersama.
“ Pak Darwis, bapak telah mengajarkan Jali Subhanallah, Alhamdullilah
dan Laa ilaha Illallah, ajari Jali makna dari Allahuakbar dong seperti yang
kita ucapkan bersama – sama tadi ! “, seru Jali pada pak Darwis.
“ Baiklah pak Jali, Allahuakbar adalah kalimah Takbir yang artinya
Allah Maha Besar maknanya adalah bapak harus mengeluarkan segala kemampuan yang
ada pada diri bapak secara sungguh-sungguh dengan belajar, memperhatikan dan
lain sebagainya dalam arti total untuk meraih cita – cita bapak“.
Jali mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan dari pak
Darwis.
“ Pak Jali, ini ada Alqur’an dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia,
silahkan bapak baca !, bukankah bapak ingin menjadi penyanyi dan pengarang lagu
? “, tanya pak Darwis ke Jali sambil memberikan sebuah Qur’an kepadanya yang
ada terjemahan ke bahasa Indonesia.
Jali menerima pemberian dari pak Darwis.
“ Bacalah pak Jali, kemudian bapak perhatikan tingkah laku manusia di
sekeliling bapak dan bandingkan dengan apa yang di tuliskan di Alqur’an, itulah
gudang inspirasi pak Jali “, kata pak Darwis lagi.
“ Terima kasih ya pak, bapak telah banyak mengajari Jali sehingga
sekarang Jali tahu bahwa ajaran Islam itu bukan seperti ajaran yang di ajarkan
Ustad Faisal”, kata Jali.
Pak Darwis tersenyum lebar mendengar perkataan Jali.
“ Saya sekarang jadi cinta pada ajaran Islam setelah saya belajar dari
bapak padahal dulu saya sangat benci pada ajaran Islam “, kata Jali lagi.
“ Pak Jali, manusia terbentuk dari cara dia berpikir “, kata pak Darwis
kemudian.
Jali merenungkan perkataan pak Darwis tapi dia belum mendapatkan
jawaban dari hasil perenungannya sehingga dia bertanya.
“ Manusia terbentuk dari cara berpikirnya, maksudnya pak ?“.
“ Baik atau buruk, suka atau tidak suka tergantung pada manusianya itu
sendiri, makanya bacalah Qur’an pak Jali, tapi bukan sekedar kita baca tapi
kita pergunakan juga hati nurani kita untuk membaca Qur’an karena Qur’an adalah
kalam Ilahi yang ilmunya tak terbatas sedangkan manusia penuh dengan
keterbatasan, makanya banyak bahasa simbol yang ada dalam Qur’an yang kadang
kala bertentangan dengan hati nurani kita “, kata pak Darwis lagi.
“ Qur’an bertentangan dengan hati nurani ?, maksudnya apa lagi pak ? “
tanya Jali lagi.
“ Dalam Qur’an kalau kita baca secara tulisan saja seolah-olah Islam
memperbolehkan perbudakan contohnya, bahkan bagi orang yang pikirannya ngeres
Islam memperbolehkan kita melakukan hubungan seksual dengan budak yang kita
miliki “, kata Pak Darwis.
“ Kok bisa ? “, kata Jali lagi dengan kening berkerut.
“ Padahal maksud budak di situ adalah orang-orang teraniaya yang belum
merdeka makanya seorang yang merdeka harus mengauli budak tersebut untuk
memerdekakannya bukan melakukan hubungan seksual seperti yang di tuliskan
Qur’an dalam bahasa simbol, kitab Alqur’an berlaku sepanjang zaman karena dia
adalah pesan Ilahi kepada seluruh umat manusia “, jawab pak Darwis.
“ Terima kasih ya pak, Insya Allah Jali akan selalu membaca Qur’an
dengan hati Jali, bukan dengan pikiran Jali yang kadang kala bercampur dengan
kepentingan hidup Jali “, kata Jali kemudian.
Pak Darwis kembali tersenyum dengan perkataan Jali.
Alangkah indahnya bila umat Muslim di seluruh dunia membaca Qur’an
dengan hati dan pikiran yang jernih sehingga orang-orang yang tidak suka pada
ajaran Islam menjadi diam dan malu akan indahnya ajaran Islam yang ada dalam
kitab suci Alqur’an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar