Indonesia tanah airku, segalanya ada di
negeriku, kekayaan yang melimpah ruah dari hasil hutan, ikan, tambang, minyak
bumi, pariwisata, budaya dan lain sebagainya tapi terkadang bagi rakyat yang
memang menderita dan putus asa di plesetkan menjadi Indonesia Tanah Airku,
tanahnya aku numpang atau ngontrak, airnya aku beli.
Itu adalah suara rakyat, suara yang keluar dari
hati nurani rakyat. Suara dari rasa keadilan pada kondisi bangsa ini yang
sangat jelas dan terbuka jurang perbedaannya di antara rakyat jelata dengan
para penguasa dan orang-orang kaya.
Hati nurani
kita terkadang miris lihat segala berita yang ada di media, orang cari
rejeki kok sampe segitunya. Rela memperkosa harkat dan martabat rasa
kemanusiaan nya sebagai manusia.
Dapatkah kita menyalahkan Darsono, penjual
bakso yang pakai formalin dan borax di kecapnya di cerita kita. Di usianya yang
kepala empat lebih dia belum punya rumah, masih ngontrak di rumah petak yang
sempit dan pengap. Mimpi baginya untuk bisa beli rumah yang layak di Jakarta.
Air bersih susah di dapatkan sehingga harus dia beli dengan penghasilannya yang
kadang dapat dan kadang tidak. Itu kenyataannya.
Tapi Darsono cinta pada keluarga. Dia sangat
cinta pada Darmo putra semata wayangnya juga dengan Sudarmi istrinya.
Sudarmi tahu bahwa Darsono memakai fomalin dan
borax di dagangannya dan itu di lakukannya karena dendam semata sejak anak
perempuannya Lastri mati karena keracunan makanan.
Dendam, itulah alasannya. Dendam karena cinta,
dendam karena cinta pada anak perempuannya yang mati dan jadi tanah hanya
karena sebungkus nasi di hari ulang tahun anak tetangganya yang saat itu juga
mati karena keracunan makanan.
Kepada siapa dia menuntut tentang kematian
anaknya dan sahabat anaknya. Dunia tidak adil, hukum ini tidak adil. Kenapa
mereka bisa beli makanan yang layak karena mereka orang kaya sedangkan aku
tidak. Itu kata hati Darsono menentang rasa kemanusiaan nya karena rasa cinta
pada almarhum anaknya.
Sudarmi istrinya adalah orang kampung yang
terpaksa ikut ke Jakarta karena cinta pada suaminya. Orang-orang kampung
biasanya lebih peka hati nuraninya daripada orang kota yang biasanya hanya
memikirkan harta, harta dan harta.
“ Pakne…sudahlah, jangan tambahkan formalin di
baksonya bapak juga borax di kecapnya bapak “, kata Sudarmi di hari ini.
“ Kalau itu nggak kita buat bune, apa mereka
mau beli bakso kita ?, Berapa harga mie sekarang yang cepet busuk kalau nggak kita kasi
formalin ?, juga berapa harga kecap yang
asli dari kedelai hitam ? “, kata Darsono juga bertanya pada Sudarrmi istrinya.
“ Dengan harga yang kita kasi sekarang mereka
bilang sudah mahal, apalagi kalau kita jujur kasi yang baik buat mereka dengan
harga yang sama, lalu untuk kita apa ? “, tanya Darsono lagi.
Sudarmi diam dan menunduk karena dia yang
merasa betapa berat hidup di Jakarta dengan penghasilan sebagai istri dari
pedagang bakso keliling seperti Darsono suaminya.
“ Tapi hidup bukan hanya untuk uang pakne, kita
masih punya Tuhan dan Iman “, Sudarmi coba menasehati Darsono.
“ Apakah Tuhan datang waktu Lastri mati karena
keracunan makanan ?, Apakah Tuhan datang ketika kita bawa Lastri kerumah sakit
dan hanya di suruh tunggu walaupun kita punya Jamkesmas ?, aku muak bune…aku
tahu maksud pemerintah baik buat Jamkesmas tapi ingat apa yang di buat sama
petugas di rumah sakit itu, ingat bune ? “, tanya Darsono lagi emosi dengan
mata yang berkaca-kaca.
Sudarmi memperhatikan wajah Darsono yang
matanya berkaca-kaca karena dia tahu Darsono sangat cinta pada anak-anaknya dan
dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong anaknya. Lalu Sudarmi kembali
menunduk karena itulah yang orang miskin bisa, pasrah dan diam tak berdaya.
Sudarmi masih ingat ketika Darsono teriak dan
menangis menyebut nama Allah…Ya Allah ini anakku Lastri…ini anak ku Lastri,
tolong ya Allah “, kata Darsono ketika Lastri sekarat di bawanya dengan
angkutan kota yang di sewanya dari ngutang dengan tetangga lainnya ke rumah
sakit itu,
Begitu juga dengan tetangganya yang bilang
sambil memelas dan memohon “ tolong ya bu suster ini anak ku yang baru ulang
tahun namanya Ratih, tolong bu suster “, kata tetangga Darsono.
Tapi apa yang di katakan oleh petugas rumah
sakit itu “ ma’af ya bapak – bapak, para dokter jaga sedang merawat pasien anak
pejabat yang ketumpahan sop panas di restoran saat makan bareng orang tuanya “,
kata petugas administrasi di rumah sakit itu,
“ Kecuali bila bapak membayar uang muka yang
dua juta “, jawab petugas administrasi di rumah sakit itu lagi acuh tak acuh
sambil memperhatikan komputer di meja kerjanya.
“ Bune, seharusnya di pintu gerbang rumah sakit
itu tertulis besar bahwa orang-orang miskin di larang sakit karena rumah sakit
ini khusus untuk orang yang berada dan para pejabat negara, bukan kami siap
untuk melayani “, kata Darsono emosi dan kecewa.
Kembali lagi istrinya Darsono diam sambil
mengucapkan zikir di hatinya “ Allah…Allah…Allah “.
“ Aku cinta negeri ini bune, tapi aku benci
petugas rumah sakit itu “, kata Darsono lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar