Minggu, 19 Januari 2014

22. INDONESIA TANAH AIR KU



Indonesia tanah airku, segalanya ada di negeriku, kekayaan yang melimpah ruah dari hasil hutan, ikan, tambang, minyak bumi, pariwisata, budaya dan lain sebagainya tapi terkadang bagi rakyat yang memang menderita dan putus asa di plesetkan menjadi Indonesia Tanah Airku, tanahnya aku numpang atau ngontrak, airnya aku beli. 

Itu adalah suara rakyat, suara yang keluar dari hati nurani rakyat. Suara dari rasa keadilan pada kondisi bangsa ini yang sangat jelas dan terbuka jurang perbedaannya di antara rakyat jelata dengan para penguasa dan orang-orang kaya.

Hati nurani  kita terkadang miris lihat segala berita yang ada di media, orang cari rejeki kok sampe segitunya. Rela memperkosa harkat dan martabat rasa kemanusiaan nya sebagai manusia.

Dapatkah kita menyalahkan Darsono, penjual bakso yang pakai formalin dan borax di kecapnya di cerita kita. Di usianya yang kepala empat lebih dia belum punya rumah, masih ngontrak di rumah petak yang sempit dan pengap. Mimpi baginya untuk bisa beli rumah yang layak di Jakarta. Air bersih susah di dapatkan sehingga harus dia beli dengan penghasilannya yang kadang dapat dan kadang tidak. Itu kenyataannya.

Tapi Darsono cinta pada keluarga. Dia sangat cinta pada Darmo putra semata wayangnya juga dengan Sudarmi istrinya.

Sudarmi tahu bahwa Darsono memakai fomalin dan borax di dagangannya dan itu di lakukannya karena dendam semata sejak anak perempuannya Lastri mati karena keracunan makanan.

Dendam, itulah alasannya. Dendam karena cinta, dendam karena cinta pada anak perempuannya yang mati dan jadi tanah hanya karena sebungkus nasi di hari ulang tahun anak tetangganya yang saat itu juga mati karena keracunan makanan.

Kepada siapa dia menuntut tentang kematian anaknya dan sahabat anaknya. Dunia tidak adil, hukum ini tidak adil. Kenapa mereka bisa beli makanan yang layak karena mereka orang kaya sedangkan aku tidak. Itu kata hati Darsono menentang rasa kemanusiaan nya karena rasa cinta pada almarhum anaknya.

Sudarmi istrinya adalah orang kampung yang terpaksa ikut ke Jakarta karena cinta pada suaminya. Orang-orang kampung biasanya lebih peka hati nuraninya daripada orang kota yang biasanya hanya memikirkan harta, harta dan harta.

“ Pakne…sudahlah, jangan tambahkan formalin di baksonya bapak juga borax di kecapnya bapak “, kata Sudarmi di hari ini.

“ Kalau itu nggak kita buat bune, apa mereka mau beli bakso kita ?, Berapa harga mie sekarang  yang cepet busuk kalau nggak kita kasi formalin ?, juga berapa harga kecap  yang asli dari kedelai hitam ? “, kata Darsono juga bertanya pada Sudarrmi istrinya.

“ Dengan harga yang kita kasi sekarang mereka bilang sudah mahal, apalagi kalau kita jujur kasi yang baik buat mereka dengan harga yang sama, lalu untuk kita apa ? “, tanya Darsono lagi. 

Sudarmi diam dan menunduk karena dia yang merasa betapa berat hidup di Jakarta dengan penghasilan sebagai istri dari pedagang bakso keliling seperti Darsono suaminya.

“ Tapi hidup bukan hanya untuk uang pakne, kita masih punya Tuhan dan Iman “, Sudarmi coba menasehati Darsono.

“ Apakah Tuhan datang waktu Lastri mati karena keracunan makanan ?, Apakah Tuhan datang ketika kita bawa Lastri kerumah sakit dan hanya di suruh tunggu walaupun kita punya Jamkesmas ?, aku muak bune…aku tahu maksud pemerintah baik buat Jamkesmas tapi ingat apa yang di buat sama petugas di rumah sakit itu, ingat bune ? “, tanya Darsono lagi emosi dengan mata yang berkaca-kaca.

Sudarmi memperhatikan wajah Darsono yang matanya berkaca-kaca karena dia tahu Darsono sangat cinta pada anak-anaknya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong anaknya. Lalu Sudarmi kembali menunduk karena itulah yang orang miskin bisa, pasrah dan diam tak berdaya.

Sudarmi masih ingat ketika Darsono teriak dan menangis menyebut nama Allah…Ya Allah ini anakku Lastri…ini anak ku Lastri, tolong ya Allah “, kata Darsono ketika Lastri sekarat di bawanya dengan angkutan kota yang di sewanya dari ngutang dengan tetangga lainnya ke rumah sakit itu, 

Begitu juga dengan tetangganya yang bilang sambil memelas dan memohon “ tolong ya bu suster ini anak ku yang baru ulang tahun namanya Ratih, tolong bu suster “, kata tetangga Darsono.

Tapi apa yang di katakan oleh petugas rumah sakit itu “ ma’af ya bapak – bapak, para dokter jaga sedang merawat pasien anak pejabat yang ketumpahan sop panas di restoran saat makan bareng orang tuanya “, kata petugas administrasi di rumah sakit itu, 

“ Kecuali bila bapak membayar uang muka yang dua juta “, jawab petugas administrasi di rumah sakit itu lagi acuh tak acuh sambil memperhatikan komputer di meja kerjanya.

“ Bune, seharusnya di pintu gerbang rumah sakit itu tertulis besar bahwa orang-orang miskin di larang sakit karena rumah sakit ini khusus untuk orang yang berada dan para pejabat negara, bukan kami siap untuk melayani “, kata Darsono emosi dan kecewa.

Kembali lagi istrinya Darsono diam sambil mengucapkan zikir di hatinya “ Allah…Allah…Allah “.

“ Aku cinta negeri ini bune, tapi aku benci petugas rumah sakit itu “, kata Darsono lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar