Sabtu, 18 Januari 2014

8. POLITIK OH POLITIK.



Dunia politik adalah dunia intrik yang penuh aksi tipu-tipu. Tidak ada kawan abadi dalam dunia politik karena yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Tujuan akhir dari politik adalah kekuasaan yang biasanya menghalalkan segala cara bila perlu korupsi atas nama kepentingan bangsa dan negara padahal sebenarnya hanya untuk kepentingan pribadi dan partainya.

Itulah kenyataan, kepentingan bangsa dan negara sering di jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kekuasaan dan uang. 

Dapatkah kita percaya bahwa para politikus mencintai bangsa dan negara atau mereka lebih cinta pada kepentingan partai dan organisasinya ?, sebuah pertanyaan besar yang hanya bisa di jawab oleh diri mereka sendiri dan Tuhan.

Atas nama kepentingan politik rakyat di nina bobokan dengan janji-janji muluk yang kadang tidak masuk akal tapi rakyat terhipnotis oleh gaya bicara dan penampilan mereka seolah-olah mereka adalah dewa penyelamat dari masalah bangsa dan negara.

Politik oh politik, tanpa pemikiran tentang politik bisakah sebuah negara berdiri tegak ?, dapatkah sebuah kebijakan yang strategis dapat di jalankan ?, betapa mulia sebenarnya ide yang di tanamkan tapi kenapa begitu sulit di laksanakan. 

Kenapa begitu sulit di laksanakan ?, masalahnya negara ini terlalu banyak politikus tapi tak punya negarawan. Seorang negarawan yang lebih mementingan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau partainya. Itu yang negeri ini tidak punya. Seorang negarawan yang tidak peduli pada citra dan penampilan juga keluarga karena di hati dan pikirannya hanya tertanam cinta pada bangsa dan negaranya.

Mayor Jendral Purnawiran Widodo adalah seorang anak bangsa yang sangat cinta pada negerinya, makanya dia ingin terjun dalam dunia politik di hari tuanya karena dari jalur itulah dia bisa menyampaikan gagasan-gagasannya untuk bangsa dan negara tapi dia sadar karena terlalu banyak politikus dan partai di negeri ini sangat sulit baginya untuk menerapkan sistem komando yang ada dalam pikirannya seperti saat dia aktif di militer dulu karena di zaman reformasi yang kebablasan ini parlemen di isi oleh para politikus-politikus kacangan yang terlalu banyak bicara tapi miskin kebijakan. Politikus-politikus yang tidur saat sidang tentang kepentingan bangsa dan negara tapi bernafsu saat sidang dalam internal partainya, karena menurut mereka bangsa dan negara adalah internal partainya.

Badrun dan Ahmad melihat peluang ini, mereka sadar kalau Mayor Jenderal Purnawirawan Widodo butuh suara rakyat untuk mewujudkan ide-ide nya tentang bangsa dan negara, maka mereka datang ke rumah Mayor Jendral Purnawirawan ini yang sangat sederhana bila di bandingkan dengan pangkat militernya yang bintang dua.

“ Kami sangat mengerti dengan bapak, karena bapak adalah warga sini dan bapak sangat peduli pada dunia kesenian dan pendidikan yang bapak bilang adalah sumber dari budaya yang menuju pada peradaban bangsa Indonesia kedepan “, kata Ahmad menjelaskan ke  Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.

 Mayor Jendral Purnawirawan Widodo tersenyum mendengar penjelasan Ahmad.

“ Makanya kami sangat mendukung agar bapak bisa duduk di senayan sebagai anggota dewan, untuk itu kami buat puisi supaya di lombakan oleh para generasi bangsa dari tingkat SD sampai universitas agar nama bapak bisa di kenal masyarakat “, kata Badrun pula.

“ Pada prinsipnya saya sangat setuju dengan ide bapak berdua, apalagi melibatkan generasi muda, saya mau terjun ke politik karena saya cinta pada negara Indonesia “, kata Mayor Jenderal Purnawirawan Widodo kemudian

“ Bapak ingin terjun dalam dunia politik karena bapak cinta pada negara Indonesia, caranya bagai mana pak ? “, tanya Ahmad ingin tahu cara berpikir Jendral Purnawirawan ini.

“ Saya dari muda telah menjadi anggota militer makanya saya ingin ada sistem komando milter dalam penerapan di negara Indonesia ini dalam arti ada sistem komando dari atas ke bawah, semua kebijakan pimpinan harus di patuhi sampai tingkat bawah. Philosophinya sama seperti orang sholat berjamaah , ketika Imam sujud maka makmum harus sujud tidak boleh yang lain. Semuanya, baik itu Imam atau makmum harus tunduk pada aturan – aturan sholat yang sudah di tetapkan, itulah pengambaran hukum yang di ajarkan oleh Ilahi kepada manusia kalau manusia mau berpikir “, kata Jenderal Purnawirawan Widodo dengan semangat menjelaskan apa yang sangat di inginkannya bagi negara yang sangat di cintainya ini.

“ Sistem komando, wah ide yang sangat brilliant tu pak “, kata Badrun.

“ Itu yang negara kita tidak punya selama zaman reformasi ini ”, lanjut Badrun pula.

Mayor Jendral Purnawirawan Widodo tersenyum karena idenya di terima oleh Badrun yang dia tahu adalah orang cerdas karena sebelumnya pensiunan Jendral ini kalau ada waktu sering ngobrol dengan para seniman di sanggar kesenian.

“ Jadi bapak setuju dengan proporsal kami ini ? “, tanya Badrun pula untuk mempertanyakan tujuan awalnya.

“ Ya”, kata Mayor  Jendral Purnawirawan Widodo kemudian.

Badrun dan Ahmad tersenyum puas mendengar persetujuan dari Jendral purnawirawan ini dan mereka langsung menyalami pak Widodo.

“ Terima kasih pak “, kata Ahmad yang di ikuti oleh Badrun.

“ Sama – sama, bapak - bapak berdua ini masih muda dan saya mendukung segala kegiatan positif untuk generasi muda karena kalian inilah yang akan menjadi penerus dari cita-cita para pendahulu kita, dan saya sekarang sudah tua, tidak aktif lagi di dunia militer makanya di sisa hidup saya, saya ingin berbuat sesuatu untuk negara Indonesia yang sangat saya cintai ini “, pak Widodo berbicara dengan penuh penghayatan dan dari kata-kata yang ia keluarkan bersumber dari suara hati nuraninya yang sangat cinta pada bangsa dan negaranya.

Badrun dan Ahmad tersenyum mendengar penjelasan dari Jendral pensiunan ini.

“ Kalau begitu kami permisi ya pak “, kata Ahmad.

“ Silahkan”, kata pak Widodo pula.

Ahmad dan Badrun meninggalkan rumah pak Widodo.

Ketika mereka telah di luar Ahmad bicara ke Badrun “, salut gue dengan pemikiran dan cita-cita pak Widodo “, katanya.

“ Alah…elu kayak nggak tahu orang yang mau terjun ke dunia politik aja, mereka itu sebelumnya punya cita – cita dan idealisme kayak pak Jendral kita itu, tapi setelah masuk di dalam mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa, politik itu tarik - menarik kepentingan karena di sana banyak kepala dan tidak sedikit pula yang tidak cinta pada negeri ini tapi mereka membawa ideologi yang lain atas nama kebebasan mengeluarkan pendapat, sistem komando yang ada dalam pemikiran pak Widodo akan berbenturan dengan kebebasan mengeluarkan pendapat yang ujung-ujungnya mentok atau deadlock “, kata Badrun pula.

Ahmad mengangguk-anggukan kepalanya walau sebenarnya dia tidak mengerti apa yang di katakan Badrun.

“ Lalu untuk apa dong kita buat lomba puisi ini dan kita minta dana penyelenggaraanya ke pak Widodo ? “, tanya Ahmad pula.

“ Yah seperti tujuan awal kita, cari duit, yang penting jadi duit karena keuntungan di depan mata kita “, kata Badrun kemudian

Ahmad tersenyum mendengar penjelasan dari Badrun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar