Dunia politik adalah dunia intrik yang penuh
aksi tipu-tipu. Tidak ada kawan abadi dalam dunia politik karena yang ada
hanyalah kepentingan yang abadi. Tujuan akhir dari politik adalah kekuasaan
yang biasanya menghalalkan segala cara bila perlu korupsi atas nama kepentingan
bangsa dan negara padahal sebenarnya hanya untuk kepentingan pribadi dan
partainya.
Itulah kenyataan, kepentingan bangsa dan negara
sering di jadikan alasan untuk memuaskan nafsu kekuasaan dan uang.
Dapatkah kita percaya bahwa para politikus
mencintai bangsa dan negara atau mereka lebih cinta pada kepentingan partai dan
organisasinya ?, sebuah pertanyaan besar yang hanya bisa di jawab oleh diri
mereka sendiri dan Tuhan.
Atas nama kepentingan politik rakyat di nina
bobokan dengan janji-janji muluk yang kadang tidak masuk akal tapi rakyat
terhipnotis oleh gaya bicara dan penampilan mereka seolah-olah mereka adalah
dewa penyelamat dari masalah bangsa dan negara.
Politik oh politik, tanpa pemikiran tentang
politik bisakah sebuah negara berdiri tegak ?, dapatkah sebuah kebijakan yang
strategis dapat di jalankan ?, betapa mulia sebenarnya ide yang di tanamkan
tapi kenapa begitu sulit di laksanakan.
Kenapa begitu sulit di laksanakan ?, masalahnya
negara ini terlalu banyak politikus tapi tak punya negarawan. Seorang negarawan
yang lebih mementingan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan
pribadi atau partainya. Itu yang negeri ini tidak punya. Seorang negarawan yang
tidak peduli pada citra dan penampilan juga keluarga karena di hati dan
pikirannya hanya tertanam cinta pada bangsa dan negaranya.
Mayor Jendral Purnawiran Widodo adalah seorang
anak bangsa yang sangat cinta pada negerinya, makanya dia ingin terjun dalam
dunia politik di hari tuanya karena dari jalur itulah dia bisa menyampaikan
gagasan-gagasannya untuk bangsa dan negara tapi dia sadar karena terlalu banyak
politikus dan partai di negeri ini sangat sulit baginya untuk menerapkan sistem
komando yang ada dalam pikirannya seperti saat dia aktif di militer dulu karena
di zaman reformasi yang kebablasan ini parlemen di isi oleh para
politikus-politikus kacangan yang terlalu banyak bicara tapi miskin kebijakan.
Politikus-politikus yang tidur saat sidang tentang kepentingan bangsa dan
negara tapi bernafsu saat sidang dalam internal partainya, karena menurut
mereka bangsa dan negara adalah internal partainya.
Badrun dan Ahmad melihat peluang ini, mereka
sadar kalau Mayor Jenderal Purnawirawan Widodo butuh suara rakyat untuk
mewujudkan ide-ide nya tentang bangsa dan negara, maka mereka datang ke rumah
Mayor Jendral Purnawirawan ini yang sangat sederhana bila di bandingkan dengan
pangkat militernya yang bintang dua.
“ Kami sangat mengerti dengan bapak, karena
bapak adalah warga sini dan bapak sangat peduli pada dunia kesenian dan
pendidikan yang bapak bilang adalah sumber dari budaya yang menuju pada
peradaban bangsa Indonesia kedepan “, kata Ahmad menjelaskan ke Mayor Jendral Purnawirawan Widodo.
Mayor
Jendral Purnawirawan Widodo tersenyum mendengar penjelasan Ahmad.
“ Makanya kami sangat mendukung agar bapak bisa
duduk di senayan sebagai anggota dewan, untuk itu kami buat puisi supaya di
lombakan oleh para generasi bangsa dari tingkat SD sampai universitas agar nama
bapak bisa di kenal masyarakat “, kata Badrun pula.
“ Pada prinsipnya saya sangat setuju dengan ide
bapak berdua, apalagi melibatkan generasi muda, saya mau terjun ke politik
karena saya cinta pada negara Indonesia “, kata Mayor Jenderal Purnawirawan
Widodo kemudian
“ Bapak ingin terjun dalam dunia politik karena
bapak cinta pada negara Indonesia, caranya bagai mana pak ? “, tanya Ahmad
ingin tahu cara berpikir Jendral Purnawirawan ini.
“ Saya dari muda telah menjadi anggota militer
makanya saya ingin ada sistem komando milter dalam penerapan di negara
Indonesia ini dalam arti ada sistem komando dari atas ke bawah, semua kebijakan
pimpinan harus di patuhi sampai tingkat bawah. Philosophinya sama seperti orang
sholat berjamaah , ketika Imam sujud maka makmum harus sujud tidak boleh yang
lain. Semuanya, baik itu Imam atau makmum harus tunduk pada aturan – aturan
sholat yang sudah di tetapkan, itulah pengambaran hukum yang di ajarkan oleh
Ilahi kepada manusia kalau manusia mau berpikir “, kata Jenderal Purnawirawan
Widodo dengan semangat menjelaskan apa yang sangat di inginkannya bagi negara
yang sangat di cintainya ini.
“ Sistem komando, wah ide yang sangat brilliant
tu pak “, kata Badrun.
“ Itu yang negara kita tidak punya selama zaman
reformasi ini ”, lanjut Badrun pula.
Mayor Jendral Purnawirawan Widodo tersenyum
karena idenya di terima oleh Badrun yang dia tahu adalah orang cerdas karena
sebelumnya pensiunan Jendral ini kalau ada waktu sering ngobrol dengan para
seniman di sanggar kesenian.
“ Jadi bapak setuju dengan proporsal kami ini ?
“, tanya Badrun pula untuk mempertanyakan tujuan awalnya.
“ Ya”, kata Mayor Jendral Purnawirawan Widodo kemudian.
Badrun dan Ahmad tersenyum puas mendengar
persetujuan dari Jendral purnawirawan ini dan mereka langsung menyalami pak
Widodo.
“ Terima kasih pak “, kata Ahmad yang di ikuti
oleh Badrun.
“ Sama – sama, bapak - bapak berdua ini masih
muda dan saya mendukung segala kegiatan positif untuk generasi muda karena
kalian inilah yang akan menjadi penerus dari cita-cita para pendahulu kita, dan
saya sekarang sudah tua, tidak aktif lagi di dunia militer makanya di sisa hidup
saya, saya ingin berbuat sesuatu untuk negara Indonesia yang sangat saya cintai
ini “, pak Widodo berbicara dengan penuh penghayatan dan dari kata-kata yang ia
keluarkan bersumber dari suara hati nuraninya yang sangat cinta pada bangsa dan
negaranya.
Badrun dan Ahmad tersenyum mendengar penjelasan
dari Jendral pensiunan ini.
“ Kalau begitu kami permisi ya pak “, kata
Ahmad.
“ Silahkan”, kata pak Widodo pula.
Ahmad dan Badrun meninggalkan rumah pak Widodo.
Ketika mereka telah di luar Ahmad bicara ke Badrun
“, salut gue dengan pemikiran dan cita-cita pak Widodo “, katanya.
“ Alah…elu kayak nggak tahu orang yang mau
terjun ke dunia politik aja, mereka itu sebelumnya punya cita – cita dan
idealisme kayak pak Jendral kita itu, tapi setelah masuk di dalam mereka tidak
akan bisa berbuat apa-apa, politik itu tarik - menarik kepentingan karena di
sana banyak kepala dan tidak sedikit pula yang tidak cinta pada negeri ini tapi
mereka membawa ideologi yang lain atas nama kebebasan mengeluarkan pendapat,
sistem komando yang ada dalam pemikiran pak Widodo akan berbenturan dengan
kebebasan mengeluarkan pendapat yang ujung-ujungnya mentok atau deadlock “,
kata Badrun pula.
Ahmad mengangguk-anggukan kepalanya walau
sebenarnya dia tidak mengerti apa yang di katakan Badrun.
“ Lalu untuk apa dong kita buat lomba puisi ini
dan kita minta dana penyelenggaraanya ke pak Widodo ? “, tanya Ahmad pula.
“ Yah seperti tujuan awal kita, cari duit, yang
penting jadi duit karena keuntungan di depan mata kita “, kata Badrun kemudian
Ahmad tersenyum mendengar penjelasan dari
Badrun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar